Selasa, 05 Agustus 2008   Bohong itu manusiawi? Mungkin sekali.
Kita bisa menandainya dengan terang, karena dalam berpendapat dan berpendirian, manusia itu mengenal kata benar dan salah. Hampir semua orang,  makhluk bernama manusia itu menyukai kalau dia benar dan orang lain salah. Bahkan hanya demi untuk mengatakan bahwa dirinya itu orang yang menganut paham yang benar, dia akan tega menciptakan satu kebohongan ialah kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Dua tahun yang lalu saya diberi tau oleh seorang asal India di Toronto, Kanada dengan kata-kata: "Do not ever believe that you are one hundred percent right, because what you believe is right today, could turn out to be wrong tomorrow."  (Jangan pernah percaya bahwa anda itu benar seratus persen, karena apa yang anda percayai sebagai benar pada hari ini, bisa saja ternyata salah pada keesokan harinya.") Dalam kaitan ini saya juga menyimak kata-kata bijak orang beragama, bahwa kebenaran hakiki (esensial, prisipil, vital, mendasar, penting) dan mutlak (definit, absolut) itu  hanyalah ada pada  Allah atau Tuhan semata! Semua makhluk ciptaannya di seluruh muka bumi ini cenderung error prone (melakukan kesalahan).

Sikap mau benar sendiri yang dipunyai oleh seseorang seperti itulah yang memicu segala kecenderungan perpecahan sosial dalam berpendapat dan dalam berideologi serta dalam cara-cara  melaksanakan kepercayaannya masing-masing di dalam kehidupan manusia di dunia.

Karena manusia itu memang dilahirkan berlainan dalam bentuk fisiknya maka kita juga seharusnya menerima kalau ada orang lain juga berlaianan dalam cara berpikir dan bentuk pola pikirnya. Dengan demikian maka secara alamiah manusia itu memang beragam, bukan seragam.

Janganlah sekali-kali menyeragamkan manusia lain menjadi seperti diri anda sendiri, apalagi pikirannya serta kepercayaannya, karena itu adalah upaya yang tidak akan pernah berhasil, sia sia!!

Yang jarang diketaui orang adalah bahwa kita ini masing-masing, secara mental mungkin tidak utuh dalam satu kesatuan. Ada sesuatu yang lain di dalam tubuh kita, di dalam badan kita.

Seperti halnya di dalam masalah yang menyangkut perangkat sebuah komputer, selain perangkat keras (hardware) terdapat yang disebut dengan istilah perangkat lunak (software). Software di dalam tubuh kita itu bentuknya baru dalam lingkup yang amat terbatas yang telah kita ketaui dan akui keberadaannya. Orang memang sudah mengenali kemampuan the five senses (lima indra atau panca indra) yang ada di dalam tubuh kita. Pikiran itu ternyata mempunyai kuasa yang tidak terkira besarannya, sehingga  pada suatu saat bisa saja kita akan dikendalikan oleh pikiran, dan seakan-akan meninggalkan tubuh, dan tidak berada dimana tubuhnya yang asli sedang berada, keluar ke arah lain dan bersikap lain, dari kalau sedang menyatu tubuh dan pikiran kita. Tubuh dan pikiran yang sedang bersatu secara utuh, pada waktu mana kita adalah manusia seperti sehari-harinya kita alami, kita lihat dan kita kenali. Tetapi bisa saja seseorang berada ditengah-tengah sebuah      kerumunan orang banyak, bahkan teramat banyak sekalipun, bisa saja tidak sadar bahwa dia sedang secara fisik berada disana, di mana  "dia" dalam keadaan kebersamaannya dengan pikirannya itu, "dia" mengembara kemana-mana jauh ke tempat yang lain.  Lalu siapa "dia" itu? "Dia" adalah belahan jiwa dan tubuh yang  sebelumnya, yang asli. Mungkin itulah yang disebut dengan istilah kepribadian yang lain dari manusia yang memiliki sebuah atau bahkan lebih dari apa yang disebut dengan istilah split personality (kepribadian yang terbelah). Kalau si"dia" ini lebih kuat dan lebih perkasa, maka kemungkinan kepribadian dia yang asli, akan kalah dan dia bisa saja bersifat dan bersikap lain dari aslinya. Dia bisa mengatakan sesuatu yang bukan mewakili maksudnya yang benar,  utamanya karena tubuh aslinya sedang dikendalikan oleh hal lain, yakni pikirannya.

Dia bisa saja mengatakan sesuatu yang mengandung kebohongan, sehingga kebohongan ini seakan-akan diucapkan oleh tubuh asli.

Bagaimana menyikapi kebohongan yang tidak disadari seperti ini?

Pasti akan diperlukan seorang ahli kejiwaan, seorang yang ahli psikologi. Analisa bisa saja akan dikeluarkan berupa pernyataan  dengan menggunakan istilah sebagai bohong secara tidak sadar.

Ada sesuatu yang amat berlainan dengan hal tadi, ialah adanya penguasaan pikiran oleh tubuh asli sehingga pikiran ini pada kali ini mampu dikendalikan dengan sadar dan digunakan untuk kepentingan sesaat, untuk mendapatkan keuntungan.

Orang seperti ini dapat saja berbohong dengan sadar dan menggunakan kepandaiannya berbohong itu untuk mengelabui seorang lain atau masyarakat sekitarnya. Biasanya memang dengan terencana sebelumnya, dia berbohong untuk sesuatu keperluan.

Dalam praktek, yang seperti ini bisa saja berwujud sebagai seorang anak di sebuah Sekolah Dasar sampai pejabat tingkat Kelurahan, bahkan sampai ke tingkat yang paling tinggi sekalipun di dalam sebuah negara. Bisa terjadi kepada diri semua manusia.

Yang mencelakakan adalah hal seperti ini dimiliki oleh seseorang yang berkuasa dan memiliki status yang amat terhormat di dalam masyarakat. Dapat terjadi juga, sikapnya yang di dasari dengan kebohongan menjadi dipercayai sebagai kebenaran oleh dia sendiri yang orang awal asal telah berbohong. Saya pernah menjumpai seseorang yang amat teguh berbohong, sehingga dia amat percaya diri, bahwa dia itu berkata dengan jujur. Dia mengeluarkan semua kepandaiannya untuk memberikan klarifikasi apapun asal orang mau mengikuti arah arus kebohongannya. Dia ini, kenalan saya tersebut, mengaku sebagai anggota BAKIN (sekarang BIN). Dalam sehari-harinya dia  bertindak dan berakting di depan umum seperti apa katanya. Oleh karena saya mempunyai cara untuk melakukan penyelidikan gaya saya sendiri, maka saya bisa diyakinkan oleh sumber saya, bahwa pengakuan kenalan saya itu tidak benar adanya. Dia seorang pengusaha dan juga memang bermaksud untuk menaikkan status dirinya kearah tertentu.

Yang ditujunya tidak lain adalah kemudahan-kemudahan tertentu, agar lebih lancar mendapatkan sesuatu yang menguntungkan bagi  usaha-usahanya itu. Untuk menjaga image(citra)nya dia "menggunakan" seorang ajudan Aggota Angkatan Darat berpangkat Kapten. Dia juga mengenakan pakaian sehari-hari yang satu stelnya bernilai jutaan Rupiah pada sekitar lebih dari 20 tahun yang lalu. Tetapi seperti biasanya, sebuah kebohongan kecil selalu harus ditutupi dengan sebuah kebohongan kecil yang lain, sehingga akhirnya menjadi sebuah kebohongan yang besar, besar sekali. Tejadilah sebuah bongkahan kebohongan seperti bola salju yang berguling-guling (snowballing) sehingga akhirnya menumbuk sesuatu, pecah kembali menjadi kristal kristal es/salju kecil lagi.

Pentingnya manusia agar dapat menguasai pikirannya dengan positip, tanpa merugikan orang lain, adalah amat tinggi sekali  prioritasnya. Adalah positip kalau diceritakan bagaimana Bung Karno dulu, sewaktu berada di dalam selnya yang kecil di penjara Banceui di Bandung, mengikuti pikirannya keluar dari sel. Menembus dinding selnya, menembus pagar tembok-tembok penjara pergi melanglang buana untuk bisa mengatur serta menata pikirannya dengan lebih baik. Cerita selanjutnya adalah bagaimana beliau ini mulai menuliskan diatas kertas yang menggunakan sebuah "meja" dari sebuah kaleng, yang setiap harinya digunakan untuk menampung air kencingnya. Kertas-kertas berisi tulisannya inilah yang akhirnya dikumpulkan dan bisa diterbitkan sebagai sebuah buku bernama DIBAWAH BENDERA REVOLUSI. Memang tidak banyak orang yang bisa berbuat seperti itu, dalam menyelia pikirannya sendiri sehingga menghasilkan sesuatu yang positip. Ayah saya sendiri, Doel Arnowo, tiga kali dipenjara oleh penjajah belanda sebelum perang Dunia Kedua berakhir, akan tetapi beliau tidak dapat mengarang buku sperti Bung Karno, meskipun mereka berdua bersahabat sejak belia. Ayah saya malah dimasukkan kedalam penjara justru karena menulis sebuah buku yang diberi judul: KAMOES MARHAEN. Dua tahun lebih beliau membayar dengan masa penjara di Kalisosok Surabaya.

Seorang Ulama pada waktu itu, mencela ayah saya, karena dia mengatakan: salahnya sendiri, belanda kok dilawan …

Bahwa manusia itu mempunyai sifat umum yang intinya "gemar"   berbohong dapat digolongkan karena disebabkan oleh yang sudah disebutkan di atas, berbohong dengan kurang kesadaran dan berbohong dengan sadar. Keduanya dibuat, karena dalam upaya  mempertahankan pendapat yang menurutnya benar atau mungkin dia tidak tahu bahwa kebenaran yang dianutnya sebenarnya adalah salah alias tidak benar adanya.

Itulah sebabnya tidak ada gunanya kita menganut kebenaran yang menurut kita benar, tetapi masih menimbulkan perbedaan pendapat dengan pendapat orang lain. Hal ini harus kita latih di dalam diri kita masing-masing, sejak semakin usia dini akan semakin baik.

Seseorang pernah memberitau kepada saya, bahwa jangan sekali kali bohong kepada siapapun. Kepada seorang anak yang masih kecil sekalipun, jangan berbohong. Kalau seorang anak umur tiga tahun menanyakan apa penyebab adanya petir dan guntur di langit (?), maka jawablah dengan sebenar-benarnya meskipun sebagai akibat dari jawaban anda nanti sang anak akan tidak bisa mampu untuk menangkap artinya. Jawablah antara lain karena ada aliran listrik yang kuat dan tiba-tiba dari dalam tanah ke arah udara dan juga sebaliknya, tidak usah terlalu detil. Jangan dijawab seperti manusia purba: bahwa ada Dewa Api sedang marah … Kalau saja anda memang tidak tau jawabannya maka katakanlah sejujurnya bahwa anda tidak tau dan akan mencari jawabannya untuk sang anak, untuk bisa dijawab pada waktu yang lain pada kemudian hari. Yang seperti ini pasti lebih ringan dari pada berbohong, karena akan menjadi beban baru bagi anda sendiri. Bukankah anak itu akan bertambah usia dan akan tau kemudian setelah sekian tahun? Kalau anda menjabat jabatan yang sifatnya memimpin, latihlah diri agar bisa mencapai kemampuan tidak berbohong biar sekecil apapun. Hidup anda akan lebih santai.

Anwari Doel Arnowo