Kamis, 24 Juli 2008 Dari mana penyataan itu terungkap?  Saya mendengar ucapan seseorang yang mendalami masalah Perusahaan Listrik (Lilin?) Negara yang diwawancarai oleh media, yang mengatakan bahwasanya bila kenaikan harga minyak mentah untuk setiap US$1 (satu Dollar US) saja, maka akan menyebabkan naiknya subsidi biaya Listrik di PLN sebesar 500 miliar Rupiah. Saya memang terkejut mendengarnya dan saya terpaksa setuju dengan seruan Pemerintah melalui aparatnya untuk menghemat listrik. Tetapi saya juga menulis sebaiknya penghematan mulai dilakukan dikalangan pemerintah sendiri, bukan hanya listrik, tetapi harus juga menghemat dengan cara mengurangi gaji para petinggi pejabat Negara dan pemakaian listrik di kantor-kantor serta fasilitas-fasilitas yang dikelola pemerintah sendiri terlebih dahulu. Hal penghematan itu sudah kurang perlu bila dikenakan kepada akyat biasa, karena mereka sudah amat hemat sebagai akibar keadaan ekonomi yang memburuk.

Baru saja saya menerima email dari seorang teman yang memberitakan tentang turunnya harga minyak mentah yang akhir-akhir ini menurun dengan cukup banyak. Hal seperti ini adalah keadaan yang sudah sering terjadi terhadap grafik naik turunnya komoditi tertentu yang sedang  didagangkan di dalam bursa saham. Pada suatu saat minyak mencapai titik optimum tertinggi (US$ 147.27 pada tanggal 11 Juli 2008) dalam kurun waktu tertentu dan sampailah kepada giliran akan turun dengan deras juga. Hal begini bagi seorang pialang yang andal, dia tidak akan segera menjual saham yang dimilikinya. Dia dengan sabar akan menunggu sehingga gejala harga akan naik lagi yang berarti grafik akan mencapai sebuah titik optimum lain, yakni yang paling rendah (Pada tanggal 23 Juli 2008 menjadi kurang dari US$125.–), dia akan membeli dalam jumlah yang banyak. Dia akan menunggu lagi lebih sabar sehingga dia akan bisa menjualnya kembali kalau harga menjadi lebih tinggi dari harga sewaktu dia baru saja melakukan pembelian. Dia akan dapat untung besar, sesuai dengan pembeliannya yang besar. Perbuatan pialang seperti ini biasanya disebut dengan istilah HEDGING dari asal kata hedge-batasi atau membatasi. Dengan membeli dalam jumlah besar seperti itu, maka mata pasar akan melihat hal ini sebagai naiknya minat beli di pasar. Jadi dari "pandangan" pasar seperti itu, maka tidak akan bisa dicegah akan terjadi pembelian lagi dari pihak pialang lain yang akan menaikkan harga minyak mentah menjadi melambung. Harga bisa saja melambung tinggi di luar kendali siapapun, apalagi kalau para pemilik minyak dalam jumlah besar ikut terjun dalam jual beli saham. Seperti misalnya para syech Arab yang sudah kaya-raya itu masih ingin harganya tinggi terus. Bisa saja akan terjadi titik optimum akan mencapai sampai angka titik tertinggi terakhir lagi. Ini adalah praktek normal di bidang kegiatan pasar bursa saham. Yang menjadi bingung adalah orang awam yang tidak mengenal "permaianan" para pialang di atas. Ingat bahwa para pialang adalah orang-orang normal yang kerjanya memang seperti itu, melakukan tindakan hedging tidak saja dalam keadaan harga sedang menuju ke arah rendah saja, tetapi juga sebaliknya ke arah tinggi.

Mari kita simak sedikit, bagian dari berita turunnya harga minyak mentah, yang merujuk segala hal termasuk kejadian mengamuknya  hurricane Holly yang sedang terjadi saat ini di Selatan Texas, seperti diberitakan dibawah ini:

 

Oil Falls Below $125 as U.S. Fuel Supplies Gain, Demand Drops

By Mark Shenk

July 23 (Bloomberg) — Crude oil futures fell below $125 a barrel for the first time in seven weeks after a U.S. government report showed that fuel stockpiles increased as consumption tumbled to the lowest in more than a year.

Gasoline supplies rose 2.85 million barrels last week, the Energy Department reported. Stockpiles of distillate fuel, a category that includes heating oil and diesel, climbed 2.42 million barrels. U.S. fuel demand averaged 19.9 million barrels a day, the lowest since January 2007.

“The inventory and demand numbers make it clear that demand is being affected by high prices and the weak economy,'' said Kyle Cooper, an analyst at IAF Advisors in Houston. “The 19.9 million barrel demand number is incredibly low and has to have the bulls worried.''

Crude oil for September delivery fell $3.98, or 3.1 percent, to settle at $124.44 a barrel at 2:59 p.m. on the New York Mercantile Exchange, the lowest close since June 4. Futures are up 66 percent from a year ago.

“Technically, we are looking for oil to settle below $121.61 and $120.75 a barrel, which were lows before the start of summer,'' said Michael Fitzpatrick, vice president for energy risk management at MF Global Ltd. in New York. “If we do, you can expect the market to break down further.''

Oil fell as low as $121.61 a barrel on June 5 and touched $120.75 on May 15.

———————————à

Hurricane Dolly

Hurricane Dolly came ashore in southern Texas today, where coastal residents sustained their first direct hit by a hurricane in almost a decade. Dolly packed winds of 100 miles (161 kilometers) per hour as its eye hit South Padre Island, about 35 miles (50 kilometers) northeast of Brownsville, at 1 p.m. local time, according to the U.S. National Hurricane Center.

Dolly is the season's first hurricane in the Gulf of Mexico, home to about a quarter of U.S. oil production. The storm has steered south of most rigs, which are off the East Texas and Louisiana shores.

Brent crude oil for September settlement dropped $4.26, or 3.3 percent, to close at $125.29 a barrel on London's ICE Futures Europe exchange, the lowest settlement since June 4.

To contact the reporter on this story: Mark Shenk in New York at mshenk1@bloomberg.net.

Last Updated: July 23, 2008 16:01 EDT

Itulah sedikit keterangan mutakhir tentang naik dan turunnya harga minyak mentah.

Jadi janganlah mengharap bahwa harga minyak mentah ini akan mantap disuatu titik seperti misalnya US$121,-, akan tetapi justru bisa saja bisa naik lagi atau malah turun lagi. Tidak ada satu orangpun yang bisa memberikan ramalan.

Kalau orang seperti itu memang ada, maka dia akan bisa saja kekayaannya akan menjadi seperti Bill Gates.

Kabinet Indonesia Bersatu secara institusi tidak mengetahui dan Menterinya yang paling jago pun tidak tahu, untuk itu mereka tidak perlu malu. Yang harus merasa untuk dimalui itu adalah lambannya bertindak pada masa sebelum ini, sehingga selama pemerintahan Kabinet ini harga minya telah naik lima kali lebih, bahkan mendekati enam kali, tindakan mengatasinya dinilai oleh para ekonom amat terlambat. Semua rakyat mengharapkan agar pemerintah lebih bergiat untuk cekatan dan meninggalkan pola berlambat-lambat seperti selama ini dirasakan semua pihak telah merugikan kita semua.