Tanpa disadari sekian lama berlalu, Indonesia setelah Reformasi menjadi jalan di tempat, disaat maju pun menjadi maju selangkah mundur setengah langkah.

Dengan total akhir maju setengah langkah, secara tidak langsung menjadi
jalan di tempat karena tergerus oleh segala macam sandungan yang bisa
dilihat tidak bisa di hindari.

Salah satu falsafah Tao yang cukup populer adalah mengikuti aliran air
mengalir, sehingga segalanya menjadi serba selaras.

Selaras dan bergerak sesuai aliran air yang mengalir dari tempat tinggi ke
tempat rendah dipastikan sesuai dengan hukum alam.
Bila ada aliran air mengalir keatas, maka bisa dipastikan air tersebut
mengalir karena dibantu baik oleh pompa, kincir maupun diangkut oleh
manusia.

Bila diumpamakan manusia yang mengikuti aliran air secara tidak langsung
sesuai dengan falsafah Tao, sedang yang memaksa melawan arus, jelas
melanggar falsafah Tao, dan untuk yang melawan arus tentunya tidak mungkin
dilakukan oleh banyak orang sebanyak manusia yang mengikuti aliran air,
didalam kehidupan nyata bisa dibilang pemberontak, ber otak revolusioner dan
segala jenis julukan lagi.

Sejak Reformasi bisa disebut berjalan di tempat karena masyarakat
menjalankan falsafah Tao tanpa masyarakat itu menyadari bahwa apa yang sudah
di laku kannya adalah mengikuti falsafah tersebut.

Karena falsafah tersebut berjalan sesuai dengan aturan umum, maka yang
melakukannya pun bisa dibilang secara banyak orang, bilamana ada yang tidak
mau mengikuti aturan umum tersebut dan tidak mau melawan arus, maka dianggap
sebagai daun di dalam aliran air yang sedang tertahan oleh halangan,
sehingga berputar di tempat.

Bangsa Indonesia penganut falsafah Tao yang patuh bisa dilihat

– Segalanya dilakukan secara berjamaah, apapun yang dilakukannya semisal
korupsi berjamaah, menghujat berjamaah, membaca berita yang sama ber jamaah,
apa yang beda dengan pengikut Taoisme ?.

– Disaat media massa menulis kasus Lapindo, sekian bulan media massa dan
masyarakat dengan tekun membahas Lapindo.
– Disaat terjadi bencana alam, semua ikut berpartisipasi baik langsung
maupun tidak dan sekian bulan pula terlampau, dan menjadi mandeg ketika
bencana datang secara berjamaah.
– Disaat issue terror merebak maka sekian bulan terlampau
– Disaat korupsi berjamaah merebak maka sekian bulanpun berlalu dengan topik
yang sama.

Dengan kata lain menjadi berjalan di tempat karena semua hanya dilewati tak
banyak peristiwa dituntaskan sampai selesai.

Bencana alam sekian bulan masyarakat sekitar mendapat bantuan, dan setelah
itu dilepas, tanpa mau tahu lagi masyarakat yang terkena bencana sudah bisa
mandiri dan tidaknya.
Korupsi idem ditto, demikian juga lainnya, jadi tidaklah salah karena bangsa
Indonesia penganut falsafah Tao yang taat.

Untuk merubah ini, apakah masih mau mengikuti falsafah Tao yang selaras
dengan alam ?, apa mau melawan arus ?, apa mengganti falsafah ?, kemana
Pancasila nya ?

sur.