Tag

 Setiap menjelang lebaran (2008), saya selalu mengalami semacam obses dan kecemburuan dengan manusia manusia yang tinggal di Indonesia.Walaupun saya telah beranjak meninggalkan identitas sebagai seorang muslim, tidak pernah sekalipun saya melupakan begitu banyak memori indah tentang puasa dan tradisi lebaran di tanah air sana. Ramadan dan lebaran…ah saya sudah lupa berapa lusin kali saya tidak merayakan itu di tengah keluarga. Bahkan saya juga sudah lupa apa rasanya mendengar riuh rendah orang  melakukan takbiran-semalam sebelum lebaran

. Yang saya ingat saat saya masih di SMP dan SMA, idul fitri adalah hari ketika semua orang bermuka begitu cerah dan ramah. Dan semua pintu terbuka lebar untuk dikunjungi oleh siapa saja. Jutaan manusia dengan gentle saling bersalaman saling maaf memaafkan.Hari itu orang Islam secara monumental memamerkan sisi humanis yang luar biasa. Tetangga kristen kami yang miskin di Jakarta selalu dijamin bagian sedekahnya oleh kepala pengurus mesjid  Al Mujahidin di Karet Kubur sana. Dan saya selalu menemukan wajah Tuhan di ketupat dan kacang lebaran.

Mungkin secara materi saya beruntung dibandingkan dengan jutaan manusia di Indonesia. Tapi secara keutuhan psikis, saya merasa ada sesuatu yang tidak lengkap. Ada beberapa fragmen penting yang hilang dari segmen kehidupan saya. Tadinya saya kira ini cuma semacam emosi romantis tentang masa masa dimana hidup kelihatan begitu merdeka. Masa dimana hidup muda begitu indah tanpa dibebani tanggung jawab. Masa dimana pacaran lebih penting dari masa depan.Tapi setelah menghabiskan lebih dari setengah umur di seberang benua dan setiap kali menjelang lebaran didera pertanyaan yang sama.Saya akhirnya mengerti bahwa yang membuat obsesi dan kecemburuan ini timbul adalah lantaran sebuah kesadaran-akar saya sebagai seorang muslim tidak bisa begitu saja gampang dihilangkan. Bagaimanapun kuatnya saya menerjang, kecintaan saya pada keluarga keluarga, teman dan tetangga dengan ornamen ritual keimanan mereka selalu meruntuhkan keinginan saya hidup sendirian di pulau kebenaran yang saya ciptakan sendiri. Saya bukanlah seorang Robinson Crusoe. Kegagahan saya lenyap setiap kali Ramadan dan Lebaran tiba. Suara azan jummat yang saya cerca di jakarta lantaran tingkat kebisingannya, di subuh hari di Cisarua suara azan yang sama justru melantun indah, menyentuh pucuk teh dan atap rumah. Menyapa halimun dan menyelinap di antara tiap celah pintu dan jendela-tidak pernah gagal untuk membuat hati saya bergetar lalu saya ingin rmerebahkan tubuh ke bumi dan tunduk menyembah entah kepada siapa.

Lalu akhirnya sayapun siuman…

Muslim muslim kultural di Indonesia mungkin bukan sasaran yang tepat untuk saya tuntut dan hujat.Muslim kultural yang tidak pada tempatnya saya paksa untuk mencabut keimanan mereka. Muslim yang santun yang merayakan lebaran dengan santun. Yang memberi sedekah buat orang papa. Yang menolong non muslim dalam kesusahannya. Muslim yang dalam kepenatan dan kesederhanaan hidupnya seperti mentertawakan kelucuan saya berakting menjadi Robinson Crusoe dalam kesendirian yang begini menyiksa. Menjelang lebaran tiba, di sini dari kejauhan saya akan mendoakan anda dalam kecemburuan.


Semoga keindahan Islam kultural di Indonesia tidak dinodai radikalisme wahabi selamanya. Semoga tampil di antara mereka sang spritual giant yang mampu memamerkan sisi cerah Islam bukan makin naiknya para fake Messiah yang selalu berusaha menipu mereka. Semoga menu lebaran selalu ketupat dan bukan pita bread dan susu onta. Dan semoga saja tahun depan saya bisa merayakan puasa dan lebaran bersama anda.

Habe