Rabu, 16 Juli 2008  DI penghujung 2006, di lantai 24, Menara Kadin, Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Almarhum Budoyo Basuki, akrab disapa Budi, tidak berhenti mengepulkan asap rokok di ruang ber-AC. Di hadapannya dua pria Korea, memaparkan rencana tour Asia penyanyi terkenal asal negeri ginseng: Rain. Kelompok musik dan penyanyi Rain berkenan tampil di Jakarta termasuk Surabaya, bila harga kontrak yang ditawarkan dipenuhi.

Harga paket honor pementasan Rain semalam jika dikurs dengan rupiah mencapai
lebih Rp 8 miliar. Angka itu belum termasuk biaya akomodasi, pesawat dan belasan
ton peralatan musik dan property pertunjukan yang harus diongkosi.

Budi memanggil saya, “Ada bidang dunia industri kreatif nih!” Saya pikir urusan
animasi, games atau mobile content, ternyata urusan permusikan.

Karena menyangkut menyelenggarakan pementasan musik, maka saya hanya menghimpun
data. Kabar ini lalu saya bawa ke Java Musikindo, kelompok usaha yang
dikomandani oleh Adri Subono itu. Saya juga membawa perihal ini kepada Adi
Sulisto, kini Ketua HIPMI DKI. Isteri Adi, adalah puteri Peter Gontha, rutin
menyelengarakan pementasan Jazz tahunan, Java Jazz, Jak Jazz. Dari dua pihak
itu, saya mendapatkan gambaran bahwa Rain sangat mahal.

Menjadi tanya di benak saya, mengapa Rain mahal? Ternyata penggemarnya tambun.
Fans-nya mewabah dari semenanjung Korea, Taiwan, Jepang, Cina, Jepang, Thailand,
Malaysia, Singapura, hingga ke Indonesia, terutama ke kalangan cewek-cewek
berdarah oriental.

Kendati tak jadi ke Indonesia, karena faktor harga yang tinggi itu, pada kuartal
pertama 2007, saya melihat billboard besar sosok Rain, di Jalan protokol di
Jakarta, sebagai ikon sebuah perawatan rambut. Entah berapa PT Unilever
Indonesia Tbk., membayar Rain, untuk sekadar foto model itu.

Dalam diskusi informal dengan kawan-kawan pengurus Kadin Indonesia, saya
sampaikan, mengapa penyanyi dan musisi Indonesia tidak banyak berpikir membuat
lagu dalam bahasa Inggris, dan merambah manca-negara? Bukankah US $ bisa diraih
dari musik. Apalagi lagu-lagu musisi muda Indonesia sudah lekat di hati anak
muda Malaysia, Singapura dan Brunei. Selama ini musik belum dianggap sebagai
bidang yang bisa meraih devisa besar, memang.

Bila dilihat musisi dan penyanyi muda kini, begitu banyak mereka melambung.
Tetapi hampir tak ada berpikir melakukan investasi pengembangan diri. Mereka,
misalnya, tidak berpikir untuk menetap enam bulan bahkan setahun di Inggris,
melatih lidah bercakap Inggris, lalu mengeluarkan album dunia. Sebaliknya negara
juga belum melihat kreatifitas bermusik dapat menyejahterakan, menciptakan
lapangan pekerjaan. Negara tak “mensponsori” menduniakan musisi.

Padahal musik adalah salah satu produk industri kreatif, dari manca-ragam
industri kreatif yang ada. Penyanyi dan musisi mampu menghasilkan devisa puluhan
miliar US $.

Di ajang CommunicAsia 2008, yang berlangsung 17 – 20 Juni 2008, lagu-lagu Rain,
menjadi ring tone dan ring back tone, produsen handset dan provider selular
Korea. Bahkan salah satu handset manufactur, mem-bundling video clips Rain,
sabagai konten promosi. Tidak terbantahkan, lagu dan video clips penyanyi dan
musisi kini salah satu income baru, yang tak kalah tambunnya. Sayangnya di ajang
pameran dunia IT , Penyiaran dan Multimedia Asia itu, belum tampak penyanyi atau
musisi Indonesia menjadi mobile content provider selular Asia – baru sebatas
bermain lokal mereka di sini.

Tetapi jika jeli dan cermat, di ajang tahunan yang banyak dihadiri kalangan
penyiaran dan praktisi Information, Communication dan Technology (ICT) itu, Anda
dapat menyimak stand RISE (Radio Broadcasting Integrated System), sebuah
aplikasi (konten) vital bagi otomasi penyiaran radio; penyiar dapat melakukan
tugas dari genggaman gadget (mobile phone) yang berakses internet. Seluruh
konten siaran seakan dapat di-remote dari genggaman, berbasis aplikasi open
source.

RISE buatan Indonesia, karya anak-anak muda Bandung, Zamrud Technology. Karya
mereka lainnya; e-democracy, pernah saya tulis:
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=128. Juga tentang keberadaan mereka di
tulisan: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=115

DARI website Zamrud, ada penggalan tulisan Hemat Dwi Nuryanto, penggerak IGOS
Center, Bandung, juga pimpinan di Zamrud Technology, sebagaimana saya kutip di
bawah ini:

Sejarah perkembangan stasiun radio di tanah air pada awalnya didirikan tidak
berbasis riset. Sebagai contoh RRI pada awalnya didirikan sebagai alat
perjuangan bangsa yang prasarananya sangat terbatas. Sedang embrio radio
komersial pada mulanya mengedepankan hobi lalu menjadi stasiun radio sungguhan.

Karena kemajuan teknologi telematika pada saat ini maka banyak stasiun radio
yang menemukan kesadaran profesionalnya, sehingga industri radio perlu dikelola
lebih scientific. Sayangnya kesadaran tersebut masih dihadang oleh mahalnya
perangkat impor dan kebijakan pemerintah yang belum berpihak kepada produksi
dalam negeri. Dengan banyaknya populasi stasiun radio di tanah air dibutuhkan
industri dalam negeri yang mampu mengembangkan perangkat keras maupun pengembang
software RISE (Radio Broadcasting Integrated System).

Dengan RISE maka kegairahan stasiun radio untuk mengembangkan format jurnalisme
interaktif yang banyak diminati khalayak pendengar semakin optimal. Jurnalisme
interaktif yang memerlukan personal penyiar dan gate-keeper yang tangguh dalam
melayani pendengar lewat telpon atau SMS akan menemukan cara yang lebih efisien,
praktis dan inovatif yang akhirnya berujung kepada kepuasan pendengar dan
pemasang iklan.

Kekuatan dan pesona stasiun radio pada saat ini terletak di program interaktif
yang dapat dilakukan pendengar sewaktu-waktu., begitu juga bagi reporter.
Implikasinya adalah seringnya pengelola stasiun radio menghapus blocking program
setelah mempelajari hasil riset preferensi pendengar terhadap berita.

Ternyata pendengar sangat membutuhkan aktualitas dan kecepatan berita pada
peristiwa apapun. Kecenderungan diatas bisa diatasi dengan arsitektur RISE Core
Radio yang merupakan kumpulan aplikasi untuk mendukung operasional stasiun
radio, mulai dari modul program director, production director, traffic
management, on-air, interactive messaging, logger, hingga audio streaming.

Solusi RISE memiliki kemampuan penyediaan informasi berbasiskan internet. Dengan
arsitektur Core Radio yang baik maka dengan mudah pengelola radio menentukan
prime time-nya. Karena pada saat ini banyak stasiun radio yang kurang tepat
dalam menentukan prime timenya.

SEKEPING CD interaktif tentang RISE yang dikirim Hemat kepada saya menjelaskan
secara rinci kemampuan aplikasi ini. Penyiar radio, misalnya, cukup memutarkan
lagu dari data base yang ada melalui gerakan pencet tombol di hand phone saja.
Aplikasi bekerja bukan saja menyelesaikan urusan konten siaran, tetapi juga
telah mengintegrasi ke back office, termasuk urusan administrasi keuangan.
Penjualan slot iklan, dan form penagihan, bukan lagi urusan menyulitkan.

Penjualan slot iklan bisa dicek secara real time.

Sebuah manajemen konten dan bisnis radio baku yang membuat segala lika-liku
menyiarkan dan mengelola radio terasa ringan dan berjalan professional.

Aplikasi ini menjadi begitu berarti, di tengah masih banyaknya radio siaran
swasta nasional kita yang dikelola dengan manajemen kantung. Maka tidak
berlebihan bila saya menyebutkan, bahwa inilah salah satu credential asset
lokal.

Karya demikian, kendati tak banyak difasilitasi negara, mendapatkan pengakuan
langsung dari pihak asing. Di Mei 2008, dua orang dari Belanda datang ke
Bandung. Mereka meminta RISE untuk dipasarkan di lingkup area Eropa. Ketika
mengikuti pameran CommunicAsia di Singapura, aplikasi ini dibeli pihak India,
Malaysia dan Brunei.

Urusan harga, untuk memajukan radio penyiaran di negeri ini, Hemat bahkan tidak
menyebut angka. “Mungkin kita bisa bekerjama dengan biro iklan dan stasiun
radio, mengambil fee yang sangat kecil dari iklan yang diperolah,” ujar Hemat.
Itu artinya ia membuka diri bagi terpakainya aplikasi open source buatan local,
yang memberi manfaat pengembangan.

Dari RAIN dan RISE di CommunicAsia 2008 di Singapura itu, saya mendapat konklusi
bahwa dunia kreatif menjanjikan peluang bisnis. Dunia kreatif itu, agaknya
ditabalkan untuk bergerak mandiri, termasuk menerobos pasarnya sendiri.

Padahal jika negara ikut memfasilitasi, beragam asset SDM anak negeri,
dipastikan dapat berproduksi untuk berkiprah di manca-negara dengan
karya-karyanya. Kesempatan berproduksi, masih sebuah kelangkaan. Di tengah
mencari venture capitalist laksana mencari jarum di sebuah tumpukan jerami di
negeri ini, tiada lain, berkarya dan berkarya sekuat tenaga, menyemangati diri
untuk terus berkibar.

Iwan Piliang (sketsa di presstalk.info)