Sabtu, 12 Juli 2008  Gender sesungguhnya adalah takdir yang mudah dan juga tidak mudah dipahami. Apa gender itu?
Gender menunjukkan perbedaan antara orang laki-laki dengan orang perempuan, boleh juga diartikan sebagai hal yang sesuai dengan konsepsi atau pemahaman masing-masing orang, dalam menggolongkan dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan, disesuaikan dengan alat kelamin biologis yang dimilikinya. Meskipun pada gender itu dapat saja terjadi pertukaran dalam fungsinya. Bagi mereka yang merasakan adanya keanehan dan keganjilan serta pengenalan diri yang kurang pas maka mereka ini pantas disebut dengan transgender. Transgender adalah mereka yang terdiri dari bermacam-ragam individu, kelompok dan perilaku yang cenderung berlawanan atau berlainan dengan mengacu kepada pengertian laki-laki atau perempuan yang normatif. Dari sini, mulailah dijumpai apa yang bisa disebut sebagai identitas gender, biasanya atas kemauan yang bersangkutan sendiri. Seorang yang biasa disebut banci adalah dia yang dilahirkan secara biologis sebagai laki-laki yang secara fisik tampak maskulin, akan tetapi jiwanya mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai mengarah ke jenis kelamin dan sikap hidup sebagai perempuan. Selain identitas maka tidak dapat dihindarkan bahwa gender itu juga menyangkut peran yang dibawakannya di dalam hidupnya. Jadi dapatlah disimpulkan kelainan gender sebagian besar disebabkan memang sudah bawaan, karena genusnya mengindikasikan demikian

Sudah pernah saya tulis di superkoran pada tanggal 25 Juni 2007, untuk membacanya silakan membuka link berikut: http://www.superkoran.info/content/view/1063/88888889/. Saya sebut-sebut mengenai genus mereka meskipun belum mendapat pengakuan yang luas, kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender) ini tidak mendapatkan kondisi seperti ini dari unsur luar, pergaulan atau virus misalnya. Pengertian ini saya dapat seperti yang telah saya tuangkan di dalam tulisan tersebut. Di situ saya tuturkan bahwa sayapun juga sudah berpendapat lain sejak saat menyaksikan yang ada di Church Street Toronto, Ontario di  Kanada itu, bahwa mereka itu memang tidak minta dilahirkan menjadi seperti itu. Menyaksikan mereka di daerah itu selama tiga hari tiga malam, beratus-ratus jumlahnya dan dari berbagai negara, meliputi banyak jenis serta ras dan kebangsaannya, saya terpana terhadap ciptaan makhluk manusia yang beragam jenis seperti itu. Agar anda juga bisa menyaksikannya, silakan melihat foto-foto mereka di kumpulan album saya dengan link: http://picasaweb.google.com/anwaridarnowo dengan nama album Church Street (151 buah foto) dan Pride Parade (261 buah foto).

Lain ladang lain pula belalangnya, lain Kanada lain pula Indonesia.

Biarpun belum semua rakyat Kanada bisa menerima hal beradanya kaum LGBT, akan tetapi di daerah di mana banyak tinggal kaum LGBT, bendera atau simbol mereka yang warna warni dan disebut sebagai Rainbow, berkibar di mana-mana, mereka kelihatan acuh saja. Di gedung-gedung apartemen tempat mereka bertempat tinggal, bendera Rainbow dikibarkan atau dibentangkan antar apartemen yang berjejer-jejer di balkon-balkonnya atau antar lantai tingkat yang satu dengan lantai tingkat yang lain. Balkon-balkon mereka dipenuhi dengan tanaman bunga warna-warni yang indah pengaturannya, meskipun penghuninya amat tampil maskulin dengan pakaian dari kulit, botak dan bercambang lebat, berkumis serta berjenggot. Dua orang yang memenuhi gambaran seperti itu sama-sama berbadan besar, mereka berjalan berpasangan dan sering berciuman di jalan di depan umum. Mereka biasanya pasangan "suami istri" yang sudah resmi menikah sesuai undang-undang yang sudah lama berlaku di Toronto. Tidak pernah saya dengar ada yang melakukan protes apapun walau secara diam-diam mereka mungkin saja tidak setuju.

LGBT banyak yang sukses dalam karirnya, di bidang masak memasak makanan, di bidang fashion dan desain, bahkan menjadi lawyer dan politikus sampai kedudukan Anggota Parlemen dan malah menjabat Menteri sekalipun. Tidak terbatas itu, mereka juga memasuki dunia seni tari, seni lukis dan segala macam jenis kesenian, dan bukan asal-asalan, tetapi bagus dan bermutu serta sukses meraih kejuaraan. Itulah kelebihan mereka!!

Memang tidak selalu, bahwa gejalanya sudah bisa terlihat sejak baru lahir, bahkan sewaktu menjalani hidupnya sampai berumur 16 tahunan atau bahkan lebih sekalipun. Saya pernah duduk sebangku di dalam kelas selama setahun lebih, dengan seorang pelajar laki-laki yang terlihat normal. Dia tidak menunjukkan kelainan apapun. Tetapi selesai kenaikan kelas dia ternyata menghilang dari sekolah kami. Karena saya mengetahui siapa orang tuanya yang memiliki sebuah toko kacamata, maka saya pergi menemui ayahnya di toko. Ayahnya yang mengetaui bahwa saya adalah teman sebangku dengan anaknya di dalam kelas, segera mengerti apa maksud kedatangan saya. Sebelum saya sempat bertanya apa-apapun, dia sudah mengeluarkan kata-kata yang mengalir seperti air. Singkat kata dia mengakui bahwa anaknya sebenarnya seorang anak perempuan dan sejak kecil memang ditampilkan dan diberi pakaian anak laki-laki, karena sang ayah yang mempunyai postur badan seperti Ade Rai, amat menghendaki mempunyai anak laki-laki. Begitulah tanpa ucapan perpisahan apapun saya kehilangan teman saya yang satu ini. Kira-kira tujuh atau delapan tahun kemudian saya mendengar bahwa dia telah berhasil berpraktek sebagai seorang dokter gigi. Saya sama sekali belum pernah bertemu dan belum pernah berusaha untuk bertemu dengan dia sampai saat ini.

Pada suatu kesempatan berlibur di Bali di villa milik teman, kami yang semuanya sudah berumur, mendapat hiburan dari seorang entertainer dan penari dan pemain alat musik piano, lengkap dengan band yang lima orang anggotanya. Nama manusia luar biasa ini adalah Willy Ham. Entah dia termasuk LGBT yang mana, akan tetapi dia kelihatan normal laki-laki kecuali kalau sedang perform sebagai entertainer, bisa seperti dasamuka.  Selama pertujukannya yang hanya diselingi dengan makan malam, dia menjadi pusat segala show yang telah dihafalnya di luar kepala, baik lagu-lagu, lelucon dan permainan pianonya, dalam segala bahasa: Madura, Batak, Jawa yang Jawa Timuran, Indonesia, Inggris dan belanda serta lain-lain bahasa Eropa. Biarpun napasnya tinggal satu-satu dan  putus-putus karena kelelahan, tetapi dengan tekad the show must go on, dia benar-benar membuat semua hadirin tertawa, tersenyum, terbahak-bahak bahkan terharu menjadikan pandangan mata menjadi redup karena mata kami digenangi airmata. Sungguh menyemarakkan suasana liburan kami.

Saya pernah hidup beberapa tahun di Jepang. Menurut pengamatan selama itu, di sana masih banyak orang Jepang yang hidup dengan tata cara seperti adat kebiasaan yang dipraktekkan pada abad-abad sebelumnya. Laki-laki itu superior. Sebagai Kepala Rumah Tangga, dia adalah setengah dewa, dengan panggilan kehormatan Dana ( diucapkan seakan-akan huruf n nya ada dua buah, yang artinya diambil dari bahasa asal India, konon berarti Dewa juga). Ada joke umum: Di Jepang Father's Day adalah EVERYDAY. Bapak Keluarga tidak bisa dikenai tuduhan melakukan kesalahan, kesalahan apapun, biarpun hampir setiap malam pulang dalam keadaan mabok berat dan bangun pagi paling lambat dibanding anggota keluarga yang lain. Dalam keadaan mabok itu, sang istri tetap dengan patuh membukakan jasnya, dasinya, bahkan sepatunya berikut kaus kakinya, dan sampai tinggal baju dalamnya. Kemudian memakaikan yukata (pakaian laki-laki tradisional Jepang untuk santai) kepada suaminya; kalau sudah tidak kuat juga masih membawa suaminya terseok-seok ke futon (dibaca futong yang artinya kasur untuk tidur) serta memastikan sang dewa ini bisa tidur dengan benar. Makin sering suaminya pulang dalam keadaan seperti itu, sang istri malah bangga, dan selalu menjadi salah satu topik pembicaraan dengan tetangga dan kaum perempuan lainnya, membanggakan kedatangan suaminya seperti pemabok begitu sering dalam satu minggunya. Bagaimana pula bisa seperti itu? Para istri itu saling membanggakan hal demikian, karena dengan demikian suami-suaminya terkesan sebagai orang-orang penting dalam businessnya, sehingga penghiburan di tempat seperti klub malam serta bar tempat minum sake dan whiskey, memang telah menjadi bagian dari dunia bisnis. Makin sering mabok, malah naik gengsinya di antara tetangga. Kalau pulang terlalu sore, para dewa ini sering malu, seakan-akan bisnisnya dalam keadaan menurun. Lalu bagaimana? Mereka tetap pergi minum, bukan berbisnis, tetapi membunuh waktu (killing time), agar pulangnya agak terlambat dan bau minuman keras. Itu yang saya alami lebih dari limapuluh tahun yang lalu. Tentunya Jepang modern sekarang sudah agak menerapkan hidup cara "modern" model kebudayaan Barat, harkat perempuan lebih condong untuk naik dan dihormati. Tentunya sekarang sudah banyak berbeda. Tetapi mungkin sekali di tempat-tempat kerja masih ada perbedaan gender perempuan dibanding laki-laki. Gaji perempuan lebih rendah dari gaji laki-laki. Di dalam sebuah ruangan kantor kalau ada sepuluh karyawan, dan kebetulan kalau hanya ada satu karyawati, maka hampir pasti yang minoritas ini tetap merangkap menjadi tea lady (wanita pembuat teh) bagi yang bekerja di dalam ruangan itu.

Oleh karena Jepang bertetangga dengan Korea, maka hal-hal seperti ini bisa saling menularkan atau memang sama sikap dan cara hidupnya. Silakan simak berita di bawah ini yang baru saja terjadi di Korea yang saya kutip dari berita koran Seputar Indonesia.

 

Dipaksa Menyajikan Teh, Guru Mengundurkan Diri

Friday, 11 July 2008

 

SEOUL(SINDO) – Seorang guru wanita di Korea Selatan (Korsel) yang dirahasiakan identitasnya belum lama ini mengundurkan diri karena setiap pagi dipaksa menyajikan teh untuk kepala sekolah.

Tidak hanya itu, dia juga menyebarluaskan penderitaannya di internet. Di luar dugaan, sang kepala sekolah malu dan akhirnya bunuh diri. Tak terima dengan perbuatan sang guru, keluarga kepala sekolah tersebut menggugatnya di pengadilan. Namun, pihak pengadilan menolak menghukum sang guru.

"Di dunia pendidikan, persamaan gender adalah hal yang sangat penting. Apa yang dia lakukan adalah untuk menggugah kepedulian masyarakat. Jadi, dia tidak melakukan perbuatan kriminal," papar Hakim Ahn Dai-Hee.

Kasus guru dipaksa menyajikan teh ini menjadi pusat perhatian sebagian besar warga Korsel. Ini tak lepas dari anggapan bahwa kesetaraan gender di Negeri Ginseng masih minim. Laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada 2007 menyebutkan, masalah gender di Korsel, terutama di lingkungan pekerjaan masih bermasalah. (AFP/imam gem)

Di India, masih banyak wanita dan istri disiksa di luar batas peri kemanusian oleh pasangannya atau suaminya sendiri, meninggalkan luka dan kerusakan tubuh yang amat sangat. Jumlah korban ini amat luarbiasa banyak sekali. Semua ini karena kesetaraan gender belum dapat disetarakan oleh manusia yang menghuni planet Bumi.

Sampai kapan?