Bandung, 7 Juli 2007 Tumben, kata orang Betawi, Sekolah Kejuruan dan Sekolah Menengah Kejuruan mendapat porsi diwacanakan di media massa dalam dua minggu terakhir ini. Biasanya yang banyak diliput adalah SMP dan SMA.

Berita-beritanya dianggap lebih menarik untuk disajikan. Begitulah memang 'nasib' anak tiri ini. Sekolahnya hanya dianggap kelas dua. Apalagi siswa dan para lulusannya. Dianggap kurang mujur peruntungannya, tidak bergengsi dan cenderung dilecehkan.

Pemerintah penjajah Belanda doeloe menata sistem pendidikan jauh lebih baik
daripada yang kita lihat sedang terjadi selama 63 tahun merdeka. Tiada maksud
untuk mengagulkan pemerintah penjajah, namun tidak dapat disangkal memang
begitulah kenyataannya. Di jaman itu, rupanya sudah disadari bahwa sekolah
kejuruan sangat diperlukan guna memasok tenaga kerja terampil yang 'siap pakai'.
Ambachtschool adalah sekolah kejuruan yang menampung siswa lulusan setingkat SD.
Sedangkan Middelbare Technische School  (MTS) menampung siswa lulusan setingkat
SMP. Kedua sekolah mempunyai reputasi sebagai sekolah yang baik. Para siswanya
tidak merasa inferior berhadapan dengan siswa sekolah menengah seperti MULO,
AMS, HBS, dsb. Mereka sadar, mereka berbeda. Tapi tidak inferior. Bahkan
sebagian lagi merasa bagaikan seorang "tukang insinyur" seperti sebutan Si Doel
Anak Betawi.

Bagaimana saat ini? Oh, para alumni SK/SMK sering mendapat sebutan bersahaja
seperti: tukang batu, tukang kayu, tukang las, tukang listrik, tukang ledeng dan
sebutan tukang-tukang lainnnya. Bahkan untuk para lulusan SK/SMK ini dirasakan
kurang patut kalau disebut 'alumni'. Setahu saya, hanya sedikit alumni SK/SMK
yang tidak dipanggil tukang, tapi lebih terhormat sedikit dengan sebutan
'teknisi'. Mereka yang sudah menyelesaikan studi di jurusan komputer (IT), boleh
merasa sedikit senang dengan sebutan teknisi.

Mungkin kita perlu mengintip bagaimana gerangan di negara tetangga kita. Kita
ambil Australia, misalnya. Di sana sekolah kejuruan disebut Vocational Education
and Training. Institusi edukasi pemerintah dan swasta bersama-sama memberikan
perhatian besar di bidang ini sejak beberapa puluh tahun. Karena itu tidak heran
kalau hari ini posisi dan harkat sekolah kejuruan sungguh bermartabat. Sekolah
mengembangkan kurikulum sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.
Sektor industri yang berkepentingan terhadap pasokan tenaga terampil, ikut
mendukung program edukasi ini. Pemasok dan pengguna secara resiprokal
berkolaborasi. Kurikulum dan jurusan terus dikembangkan sesuai dinamika
permintaan pasar. By the end of the day, para alumni SK/SMK langsung bisa
memperoleh pekerjaan. Bagi yang menginginkan pun bisa melanjutkan studi super
spesialisasinya. Tidak heran mereka menjadi tenaga sangat terampil di bidangnya,
penuh dedikasi dan yang paling penting, mereka mendapat penghasilan yang cukup
besar. Kebanyakan mereka memperoleh hasil lebih besar daripada seorang manajer
kantor sekalipun. Alhasil, mereka bangga akan profesinya.
Pemerintah Australia sangat konsen dalam penataan dan pengelolaan bidang edukasi
yang satu ini. Terbukti dengan begitu banyak informasi yang dapat diperoleh
dengan mengakses websitenya. Sungguh mengagumkan.

Saya gembira mengikuti wacana di media massa belakangan ini. Rupanya sudah mulai
muncul kesadaran bahwa SK/SMK merupakan pilihan tepat bagi kebanyakan siswa
kita. Saya tidak mempunyai angkanya, namun mudah dilihat secara kasat mata bahwa
mayoritas orang tua siswa tergolong mereka yang kurang mampu, bahkan sebagian
lagi terkategorikan miskin. Kalau memang demikian, mengapa harus memaksakan diri
menyekolahkan putra-putrinya ke SMP/SMA? Menurut saya, justru mayoritas siswa
membutuhkan masa studi yang pendek, yang membekali ilmu praktis, yang
mengajarkan kiat-kiat teknis untuk bisa mandiri. Saat seperti ini sungguh
merupakan momentum yang tepat bagi insan di dunia pendidikan untuk merobah
mindset selama ini. Siapkan tenaga kerja siap pakai di berbagai bidang.

Kalau menunggu inisiatif dari pemerintah, seperti biasa, selalu bertele-tele,
dan luamaaaaaaaaa. Sebaiknya pihak swasta memprakarsainya. Bila pihak swasta
mempunyai hasrat mencari profit, karena itu memang naluri dari 'sono'nya,
sebaiknya biarkan saja. Biarkan sektor SK/SMK ini tumbuh seperti jamur. Mungkin
pada setelah itu pemerintah akan mulai mengikutinya. Jumlah yang semakin banyak
akan memperuncing persaingan dalam hal memperoleh murid. Pada akhirnya, para
siswa dan orangtuanya diuntungkan karena memperoleh pilihan sesuai dengan
kemampuannya.

Mengapa pihak swasta yang harus mulai? Karena swasta lebih mampu berpikir
pragmatis dan praktis. Kecepatan mengambil keputusan akan sangat memacu
perkembangannya. Pemikiran pragmatis membuat pengelola sekolah berinisiatif
memanfaatkan network bisnisnya dan menggalang kerjasama. Jurusan yang ada di
sekolahnya disesuaikan dengan permintaan 'pasar kerja'. Dengan demikian para
alumni segera dapat disalurkan kepada yang membutuhkannya. Tiada tertutup
kemungkinan peranserta mitra bisnis itu untuk memberikan beasiswa dan bentuk
kerjasama lainnya.

Sebagai contoh, Sekolah Menengah Teknologi Industri Kayu (SMTIK) Pendidikan
Industri Kayu Atas (PIKA) Semarang yang diikelola oleh Yayasan Kanisius. PIKA
barangkali merupakan satu-satunya pendidikan setingkat SMU yang menyiapkan
tenaga-tenaga terampil khusus bidang kayu dan permebelan. Para lulusannya hampir
tidak ada yang menganggur karena langsung terserap dunia industri kayu dan
permebelan. Ada yang menjadi desainer, supervisor, atau instruktur di sejumlah
perusahaan industri kayu di Jawa, Bali, Ketapang, Sampit, Pontianak, dan
beberapa kota lainnya. Bahkan, beberapa di antaranya mampu memantapkan diri
sebagai pengusaha bidang industri kayu, mesin-mesin pengering kayu, atau mesin
pengolah kayu. Konon, para calon lulusannya sudah banyak 'dipesan' para
industriawan.

Contoh lain, produsen komputer Zyrex bekerjasama dengan sejumlah SMK di berbagai
kota besar, antara lain Jakarta, Bandung, Medan, Padang, Solo dan Malang, dan
mematok target memproduksi sejumlah 12.000 unit PC dengan meng-outsource-kan ke
SMK.

Contoh menggembirakan lainnya. Di luar dugaan, Samarinda sudah memiliki banyak
dan bermacam sekolah kejuruan. Ada jurusan penerbangan dan maritim walau di sana
cuma ada sungai dan danau. Ada pula jurusan peternakan, keahlian (BUKAN tukang)
las, perkapalan, garmen, manajemen, desain grafika, akuntansi, teknik mekanik
otomotif, teknik pertambangan, komputer dan multimedia. Ada pula: jasa
pariwisata yang meliputi perhotelan dan tata boga, serta tata kecantikan dan
tata busana.
Opo ora hebat?

Tempointeraktif pada 6 Juni 2008 memberitakan bahwa SMK) tahun ajaran 2008/2009
menambah kursi untuk peserta didik baru sekitar 300.000 orang. Tahun ini,
ditargetkan penerimaan siswa baru sekolah kejuruan mencapai 1,5 juta orang.
Dan di Kompas hari ini, 7 Juli 2008, termuat berita berjudul Peminat SMK Terus
Bertambah. Berita yang sungguh menggembirakan. Agaknya, momennya sudah tiba.

Saya berpikir sederhana saja. Para tenaga muda Indonesia terbekali ilmu praktis
dan semangat juang untuk terjun ke masyarakat dengan lebih dini, lebih siap,
lebih mantap. Pekerjaan yang berpenghasilan akan meningkatkan martabatnya, yang
kemudian akan membuatnya lebih percayadiri. Saya bermimpi para TKI (tenaga kerja
Indonesia) diperebutkan karena ketrampilannya dan dapat dipercaya. Begitu pula,
para TKW (tenaga kerja wanita) tidak akan lagi diperlakukan semena-mena.
Barangkali ini bukan mimpi. Barangkali ini titik terang di ujung lorong gelap
ini.

Iklan