Tersebutlah satu orang dari bulim yang mengaku sebagai satu siucai (terpelajar, sastrawan), punya julukan Ce Ban Siu Cai yang mempunyai makna atawa artian si sastrawan sepuluh ribu kata.

Dikasih julukan demikian kerna itu siucai kalo menulis, paling sedikit ceban (10
ribu) kata baru boleh berhenti. Setiap hari paling sedikit itu siucai mesti
menulis ceban kata, kalu tida, maka bakal ada satu perasaan tida enak, badan
gatal2, tangan kejang2, dan mata kedap-kedip.

Siu cai ini misterius, mau disebut enghiong (pendekar), ada timbul tanda tanya
di dalam benak, perkaranya itu siucai tidak punya kebolehan yang lazimnya
dipunyai oleh para enghiong. Ce Ban Siu Cai tidak mahir lwee kang atau gwa kang.
Satu2nya jurus yang itu siu cai punyai cuman jurus menulis di udara, namanya
"menulis sepuluh ribu kata2 di udara".

Kerna itu jurus dimainkan tanpa lweekang, maka itu jurus menjadi jurus-jurus
kosong belaka. Namun kerna sekali keluar, maka ceban kata bakal terlontarkan,
tak ayal lagi yang berhadapan dengan ini siucai cukup dibuat kewalahan juga.

Sesungguhnyalah, jurus2 menulis di udara itu adalah satu ilmu yang ampuh,
seperti yang pinceng punya suhu ada bilang, pit (pena) bisa lebih tajam daripada
kiam (pedang). Maka seyogyanya, jurus2 menulis di udara harus dimainkan dengan
lweekang yang bersih, yang berasal dari ceng pay (partai / perguruan silat
aliran putih), bukan dari sia pay (aliran sesat).

Meski tanpa lweekang, itu jurus menulis kosong di udara yang dimainkan Ce Ban
Siu Cai ternyata cukup ampuh juga, perkaranya itu jurus selain dimainkan dengan
dasar2 latihan yang cukup baik, (paling sedikit ce ban kata per hari) diduga
kuat di dalam pit-nya mengandung racun2 yang sangat berbahaya di dalam tinta
yang dipergunakannya. Wahaya2!

Racun2 yang tersembunyi di dalam tinta tersebut di atas dikawatirkan bisa
menimbulkan satu rasa kedengkian di dalam dunia kangouw, sehingga bisa timbul
satu pibu besar2an di antara para enghiong hohan di dunia kangouw yang sudah
banyak bergejolak.

Siancai2, bisa jadi ini siucai tidak bermaksud jahat melontarkan jurus2 dengki,
melainkan kerna satu kebiasaan atawa pengalaman buruk masa lampau akibat ada
kekecewaan dengan dunia kangouw. Namun, kata2 bukanlah sembarang kata2. Ada
peribahasa dari pinceng punya negeri leluhur, "satu kata beratnya seribu kati,
empat ekor kuda sulit menariknya kembali".

Bagaimana dengan sepuluh ribu kata? Haiya, berat-berat.

CPT