Hari itu saya hentikan taxi di daerah Kuningan di Jakarta. Agak kaget lantaran yang jadi supirnya mengenakan pakaian haji pekat. Haji yang mirip imam bonjol saya baca namanya yang terpampang di kartu identitas: H. Muhammad Sidik. Berasal dari Jawa Timur.

Senang dan merasa aman naik taksi Haji Siddik. Apalagi
dia begitu kalem dan sopan plus taksinya "non smoking."
Tasbih terjungkai dibawah kaca spion dalam. stiker
doa doa dalam bahasa arab berentetan dekat dash board.

Haji Siddik sudah naik haji 3 kali. Dia ngomong begitu tanpa
ada rasa menyombong sama sekali. " ketagihan mas saya"
katanya kalem. Saya tanpa sadar menyindir " pak haji
bukannya naik haji cukup sekali? Kalau berlebihan namanya
mudarat kan? " Dia menggeleng " Selagi hidup dan mampu
apa salahnya mas? " Saya memberikan salvo " bukannya
ada yang lebih penting dari naik haji berkali kali? misalnya
membantu tetangga yang miskin? Atau meningkatkan
kebersihan kampung kita yang jorok supaya orang orang
bisa hidup sehat? " Lalu wajauh pak Siddik berubah dari
seorang Imam Bonjol menjadi serdadi Marsose yang siap
menangkap mata mata inlander. " Lho duit duit sendiri,
ya terserah saya mau naik haji sepuluh kali juga"
Rada menyesal saya minta maaf pada Haji Siddik. Betul
itu duit dia yang susah dicari. Buktinya lihat dia nyetir taksi
rata rata 14 jam sehari.Cuma pak duh alangkah mubazirnya
duit yang dicari dihabiskan buat kebutuhan emosional berdekat
dekatan dengan Allah yang maha selfish itu? Gitu lho pak…

Taxi Haji Siddik warnanya hijau. Saya lupa apa nama perusahaannya.
Keluar dari itu taksi saya ditampar panas Jakarta kembali. Seorang
pengendara motor hampir menyerrempet tubuh ketika hendak
menyebrang jalan. Saya liat terakhir kali Taksi Pak Haji berbelok
ditikungan di depan Bintaro Plaza. Sedih juga memikirkan kenapa
begitu acak acakan urutan prioritas manusia seperti dia. Dan sedih
juga kenapa kita orang Indonesia masih juga berlomba lomba ke
arab sana cuma ingin mengikuti jejak ritual para paganis pra Muhammad
yang muter muter Kabbah entah mencari apa.

Saya, Hasan Basri, suatu saat tetap akan naik haji.
Tapi saya muter disana terakhir kali bukan sekedar mencari kepuasan
emosi romantis kedekatan dengan ego Allah dan rasulnya. Saya cuma
ingin menjadi penjejak kebenaran. Kalau Allah ternyata membuka ini mata
hati disana, saya akan tetap Islam. Kalau ini hati tetap kosong saya akan
salah Allah atau saya malah curiga kalau dia tidak eksis. Lalu saya akan
hijrah dari Islam menjadi humanis utuh.

Hasan Basri