Minggu, 29 Juni 2008 KATA sontoloyo kini top habis!. Adalah Syamsir Siregar, Kepala Badan Intelijen Nagara (BIN) yang mempopulerkannya. Saya melihat di berita Jumat malam TV One, bagaimana kesalnya Syamsir kepada seorang Menteri Kabinet SBY, yang di rapat kabinet, sesuai penuturan Syamsir, mendukung kenaikan BBM, tapi di DPR berkata lain, menentang. Di televisi pula saya melihat Menteri Koperasi dan UKM, menyatakan ketersinggungan. Suryadharma Ali, bahkan menjelaskan beda diksi tersinggung dan disindir.

Sudah beberapa kali saya menyoroti laku komunikasi politik pejabat publik di
Tajuk Rayat Presstalk.info ini. Mulai dari cara Aburizal Bakrie menanggapi warga
kebanjiran, yang disebutnya bisa tertawa-tawa, dan yang paling gress ya, ihwal
kata sontoloyo itu.

Saya tanya-tanya ke kawan via email di beberapa negara modern, apakah ada kepala
intelijen negara bersangkutan bertutur kepada media, publik, macam itu? Hampir
semua email yang saya kirimkan menjawab tidak ada. Mereka malah balik berkata.

“Ngarang kamu, masa kepala BIN begitu?”

Saya membuka kamus Bahasa Indonesia. Kata Sontoloyo berarti: konyol, tidak
beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian).

SABTU, 28 Juni 2008 malam pukul 19.40, saya mengalami kejadian yang memang tepat
disebut sontoloyo. Untuk yang ini saya ingin menunjukkan, terlebih kepada
Syamsir Siregar, semoga pula ia membaca Tajuk Rakyat ini, bahwa diksi sontoloyo
tepat dipakai untuk yang mana.

Kami sekeluarga menumpang taksi Blue Bird dari arah Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan, menuju rumah di bilangan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan. Dari sejak
di bundaran Senayan, Jakarta Selatan, jalanan macet. Sebuah sedan Ferrari Hitam
B 430 FS – – F 430 menunjukkan tipe Ferrari, S agaknya menyatakan jenisnya,
tepat berada di belakang kami.

Dari literatur saya baca F 430 ada beberepa jenis; Spider, Pista, GT2, GT3 dan
Scuderia. Top speed mobil ini mencapai 320 km/jam. Di AS mobil ini dijual di
kisaran US $ 168 ribu hingga US $ 227 ribu. Jika yang di belakang kami itu tipe
Spider, bukan Scuderia, di AS berharga US $ 201 ribu. Sehingga jika masuk ke
Indonesia, F 430 Spider, yang bermesin 4.300 cc itu, terkena pajak barang mewah,
maka dijual mendekati Rp 6 miliar.

Di dunia ada tipe Ferrari Enzo, menjadi mobil termahal yang pernah dikeluarkan
perusahaan otomotif itu, bahkan untuk membelinya pun seseorang harus pernah
memiliki Ferarri tipe lain terlebih dulu. Ada pula tipe Ferrari 599 GTB Forano,
Ferrari Superamerica, Ferrarri 612 Scagleti, Ferrari F430, F 450, Ferrari 360
Modena, dan Ferrari 355.

Sejak di depan Gedung Diknas, Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, Ferarri berpelat
nomor B 430 FS itu membunyikan klakson.

Di malam hari mengklakson terus menerus.

Jalanan padat, tersendat.

Kendaraan di depan kami belum bergerak.

Klakson bertubi-tubi.

Saya membuka kaca jendela depan, dan melongokkan kepala ke belakang. Klakson
tetap dibunyikan pengemudi. Saya tak paham entah untuk apa dia begitu. Entah
kebelet buang hajat, atau memang supaya dilihat orang bahwa yang bersangkutan
naik Ferarri?

Saya perhatikan di kiri kami mobil-mobil lain, para pengemudi dan penumpangnya
juga memalingkan pandang ke Ferarri itu.

Karena di bangku belakang ada anak dan isteri, saya menyabarkan hati sendiri:
kepada keluarga, saya katakan Ferari Hitam B 430 FS, itu pengemudinya sontoloyo!

Nah, diksi sontoloyo untuk pengemudi yang demikian, tepatlah nian.

Bagaimana tidak?

Alasan pertama, hari sudah malam. Alasan kedua, pastilah yang mengemudikan mobil
mewah itu orang yang matanya melihat, bukan cacad macam mata Gus Dur. Ketiga,
yang dikendarai bukan sembarang mobil, keluaran terbaru berharga sangat mahal,
sangat modern, cuma disetir macam supir angkot yang hendak mengejar setoran.

Kesontoloyoan pengemudi itu kian paripurna, begitu ada celah menyusul ia
meng-gas kencang, mobil melesat cepat, lalu begitu mendadak ia hendak mengambil
jalur lambat di depan Gedung BRI, mau tak mau me-rem mobil sontak, tarikan gas
yang semula kencang menjadi sia-sia.

Cara membawa kendaran macam begitu, memang tambah sontoloyo, memboroskan bensin,
sekaligus MPO (Menarik Perhatian Orang!).

Saya heran, entah mengapa pula saya seakan dipertontonkan laku-lakon orang-orang
berkendaraan mewah di depan hidung saya. Pada 21 Mei 2008, saya menulis Rover
Kebangkitan, ihwal laku Pramono Anung dalam meng-gas Range Rover Sport-nya,
simak: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=111

Nah jika ada pembaca Tajuk Rakyat Presstalk.info ini yang mengenal pengendara
Ferarri B 430 FS, silakan diteruskan tulisan ini kepadanya. Inilah ucapan terima
kasih kepadanya, sehingga saya bisa menunjukkan kepada khalayak dengan jernih,
diksi mana yang layak disebut sontoloyo dan mana tidak pantas.

Pengemudi Ferrari layak disebut sontoloyo. Tetapi seorang pejabat publik, lebih
pula seorang kepala intelijen negara, menuding Menteri Kabinet di kabinet di
mana dia sama-sama menjabat, amatlah tidak pas. Keadaan demikian, menunjukkan
kaparipurnaan pah-poh-nya komunikasi politik pejabat publik kita. Bila
diteruskan kalimat ini, jika sesama pejabat saja mereka bisa berkata demikian,
apalah lagi kepada rakyatnya.

Ampun! Ambo rakyat Pak!

Mengharap kebijakan kepada pemimpin untuk berpihak kepada rakyat, jika berlogika
kata saja demikian, memupuskan harapan, memang.

Bisa jadi saya menuliskan ini, kalangan intel juga tidak senang dan merasa
dikuliahi. Tapi biarlah, karena secara tak sengaja saya seakan diberi “mandat”
menuliskan. Pemberi mandat pun saya tak paham, tulisan ini mengalir dari
kejernihan hati dan momen di mana saya mendapatkan padanan mendeskripsikan.

IHWAL padanan, agar tak terjebak dengan interpretasi pembaca yang mengatakan
cemburu – – macam ada pembaca tulisan saya yang berkomentar ketika menulis Range
Rover Sport – – karena tak mampu membeli mobil super mewah, lalu beraninya
menulis macam di atas?

Tentulah tak demikian!

Saya memberi pembanding, beberapa kata sontoloyo lain yang paling layak
ditudingkan, menyangkut fakta yang masih urusan di jalanan.

Tiga pekan lalu, saya menumpang mobil seorang kawan, setelah usai makan malam
dan ngobrol ngalor ngidul di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pukul 01.30, saya
berhenti di seberang terminal bis Manggarai, Jakarta Selatan. Kawan saya yang
mukim di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, saya minta lurus saja di Jl. Saharjo.
Saya akan naik ojek, agar tak merepotkan, toh sudah dekat rumah.

Baru turun mobil saya melihat ke arah kanan, ada satu motor bebek yang dipacu
kencang. Dalam hitungan detik, motor itu nyelenong macam peluru, garis lurus,
hanya empat langkah di depan saya. Angin dingin malam mengibas kepala saya
berambut cepak. Motor menabrak trotoar yang tinggi, lalu melompat ke dinding
toko orang. Seketika saya lihat bagian depan motor patah. Ban dan velg
bergulung. Pengemudi lunglai.

Saya tak melihat darah. Tetapi ketika polisi kemudian mengangkat dan membawa ke
Rumah Sakit Sultan Agung, dekat dari lokasi kejadian, tangan pengendara itu
sudah seperti terlipat-lipat, patah-patah.

Nah kepada pengendara motor yang saya saksikan di depan hidung saya itu, diksi
sontoloyo tepatlah diucapkan. Apapun latarnya, entah mabuk, entah sakit ayan,
tetapi cara mengemudi motor demikian, jelas sontoloyo.

Jadi, tampak jelas, kan, ya, di mana kata sontoloyo tepat digunakan!

Agar lebih jelas lagi, ini fakta berikutnya.

Hingga hari ini jika mengantarkan anak berangkat pagi ke sekolah, saban hari
saya perhatikan, selalu ada orang tua membonceng anak naik motor ke sekolah di
perempatan Halimun, ke arah Menteng, Jakarat Pusat. Orang tua yang demikian
tentulah sosok yang baik.

Akan tetapi bila di belakangnya ada anak berseragam sekolah, apakah itu seragam
putih merah (SD), juga seragam putih biru (SMP), dan si orang tua itu menabrak
saja lampu merah, maka perilaku orang tua demikian, saya sebut sontoloyo. Ini
julukan sontoloyo berikutnya.

Hingga hari ini, laku orang tua membonceng anak berseragam sekolah menabrak
lampu lalu lintas itu, masih sering dan tampak terlihat di Jakarta. Begitulah
kebanyakan orang Jakarta bermotor di jalanan – – ihwal motor di Tajuk Rakyat ini
sudah masuk bagian lima – – suka sontoloyo.

Nah, jika Anda rajin mengamati, termasuk perilaku pengemudi mobil di jalan tol,
kata-kata sontoloyo, memang paling layak dihamburkan kepada mereka. Laku, saling
menyerobot, tidak menjaga jarak, tidak melihat kondisi mobil untuk dipacu; mobil
kelas angkutan barang, yang di Indonesia banyak “disulap” jadi mobil penumpang,
memang garang berlari kencang.

Teapi sangat tidak laik darat.

Mobil-mobil yang tak laik darat itulah sering kali berjumpalitan di tol. Dua
pekan lalu ketika hendak menuju Serang, Banten, saya menyaksikan sebuah minibus
ditabrak sedan dari belakang, senggolan sedikit saja, karena mobil kencang tidak
stabil, membuat minibus itu berguling-guling.

Saya kok sangat yakin, kata sontoloyo hanya layak berpanjang-panjang layak
ditujukan kepada adab kita berlalu lintas, bukan kata yang harus muncul dari
mulut seorang pejabat publik, apalagi jika hal itu ditujukan kepada sesama
pejabat di pemerintahan yang sah.

Saya jadi teringat kenyataan, jika jari teluntuk menunjuk ke depan, empat jari
lain tertuju kepada diri sendiri.

Jika saya menuding pengemudi Ferrari hitam sontoloyo, semoga empat jari
mengingatkan, agar jangan bersontoloyo, apalagi kian loyo, di tengah kesulitan
ekonomi kini. Gairah hidup harus ditambah, gas semangat harus ditancap. Tapi
bukan meng-gas macam mengemudikan Ferrari hitam, tentu!

Iwan Piliang, presstalk.info

[Non-text portions of this message have been removed]