Hari ini orang menunggu-nunggu gebrakan terbaru dari Jaksa Agung Hendarman Supanji yang diharapkan bisa jadi si manusia millenium penegak kebenaran . Baik masyarakat maupun petinggi Kejaksaan yang terlibat dan heboh diberitakan minggu-miinggu terakhir, hari ini boleh kebat-kebit hatinya menunggu siapa-siapa yang akhirnya akan terlempar dari lingkungan kejaksaan.

Tapi soal copot-mencopot, yang menarik ditunggu apakah SBY berani mencopot
kepala institusi yang berhubungan dengan intelejen di negeri ini.

Pasalnya jelas. Seperti diberitakan Kompas
(http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/25/19340294/kepala.bin.inisial.aktornya.
fy
), dalam sidang Rapat Koordinasi Terbatas bidang Polhukam dengan DPR, pihak
intelejen dengan tegas mengatakan sebulan lalu sudah mencium adanya indikasi
akan ada kerusuhan dalam aksi demontrasi.

Nah, lalu sebagai orang intelejen, apa antisipasinya?

Mosok sudah tahu sebulan, lalu tetap tidak mengusulkan langkah-langkah
pencegahan supaya ketertiban dan keamanan masyarakat tidak terganggu?

Ayolah… rakyat mestinya sudah ndak bodo lagi. Media massa juga seharusnya
jangan bodo-bodo banget. Dan yang paling nggak boleh bodo mestinya Presiden.

Ketika pihak intelejen sudah mengetahui adanya indikasi kerusuhan, kenapa tidak
ada usulan-usulan taktis yang kreatif supaya bisa meredam aksi massa sebelum
eskalasinya benar-benar mencapai titik didih?

Apa antisipasi dari pejabat intelejen (yang mestinya bisa memberi masukan) dan
pemerintah untuk menjaga keamanan dan ketertiban rakyat?

Kenapa kok seperti membiarkan saja kerusuhan melanda padahal sudah tahu sebulan
lalu bahwa akan ada aksi yang menarah pada pembakaran mobil pelat merah?

Memang sengajakah? Mau dipolitisirkah?
Dengan mengorbankan sekian orang berdarah-darah, sekian mobil dibakar, dan
sekian rakyat jadi resah gara-gara macet total dan kebat-kebit takut nggak bisa
pulang? Bagaimana kalau sampai ada yang meregang nyawa?

Siapa yang harus bertanggung jawab? Mahasiswa? Provokator?

Lalu dimana letak tanggung jawab pemerintah dan badan intelejen yang beaya
operasionil sehari-harinya dibayar pakai duit rakyat itu?

Yang sudah tahu sebulan lalu, tapi tidak mengupayakan langkah pencegahan apapun.
Yang bukan melakukan langkah antisipatif (yang sangat bisa dilakukan dalam
berbagai bentuk operasi intelejen), tapi masih melakukan kebijakan tembak kanon
air supaya suasana panas makin tambah menyala.

Kalau saja SBY berani turun ke hadapan mahasiswa dan ribuan personil polisi
dikerahkan untuk menggelandang mahasiswa menuju senayan dengan tujuan mengadakan
"rapat akbar" dengan Presiden secara langsung, mungkin tidak akan ada itu
kerusuhan.

Atau kalau dikerahkan bantuan marinir, yang dari pengalaman lalu dikenal dan
akrab dengan mahasiswa karena punya pendekatan / approach yang lebih bersahabat,
mungkin tidak akan pernah meningkat eskalasinya sampai pada kerusuhan.

Kalau saja pucuk nomor satu di pemerintahan ini menunjukkan kapabilitasnya
sebagai seorang pemimpin yang bener-bener pemimpin, berani berdialog secara
langsung walau keadaan chaos mengintai (dan inipun absurd karena tak mungkin
seluruh penghuni kodam saat itu pada pelesir ke luar negeri semua), dan
mempersiapkan dialog secara matang, mempersiapkan program-program yang menantang
mahasiwa untuk berbuat secara langsung, bisa jadi cerita kerusuhan berubah jadi
koor syahdu melantunkan "Padamu Negeri" secara bersama-sama.

Mahasiswa mesti ditantang secara positif.
Bukan cuma dihimbau dengan omong kosong belaka.

Beri mereka fasilitas dan kesempatan untuk terlibat secara langsung dalam
program pengentasan kemiskinan. PNPM yang misterius itu misalnya. Dalam rapat
akbar Presiden bisa melakukan penawaran secara langsung, mengarahkan pendataan,
dan penyaluran supaya mahasiswa bisa kembali ke asal (kampus dan daerahnya)
dengan membawa tekad dan niat serta kesadaran/pemahaman bahwa ada program –
program nyata yang dilakukan pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan, dan
sebagai intelektual bangsa mereka difasilitasi untuk terlibat secara langsung,
untuk terlibat dalam kerja yang nyata, membantu masyarakat, bangsa dan negara
ini.

Kalau saja setting-setting seperti itu direncanakan dan dipersiapkan sebulan
lalu, mungkin ndak perlu ada mobil yang dibakar, mungkin ndak perlu ada
kerusuhan, dan yang paling "mungkin ndak" adalah : mungkin ndak ada intel yang
perlu dipecat.

Tapi karena sudah terjadi, ya sudah, pecat pun tak jadi masalah-lah!

Yang penting, tolong…

Jangan bodohi rakyat terus bung!

Sentaby,
DBaonk 2008