Gonjang-ganjing kasus penyuapan jaksa membuat saya teringat satu pokok soal : salah kaprah pemaknaan "untouchables" dalam konteks penegakan hukum.

Mungkin bukan salah kaprah, tapi ada semacam pelencengan. Bisa jadi karena
ketidaktahuan, pengambilan kesimpulan yang tergesa-gesa, atau memang karena
kesengajaan pencaplokan kata "untouchables" dan menggeser maknanya.

Banyak orang mengira untouchables itu justru menunjuk pada orang-orang pelaku
tindak kejahatan (kriminal) yang kebal hukum.

Tidak salah kalau anda menebak istilah ini penggunaannya meluas di masyarakat
karena dipopulerkan secara "nge-pop" melalui film hollywood The Untouchables
(1987, dibintangi antara lain Kevin Costner, Robert De Niro, Sean Connery, dan
Andy Garcia).

Dan tidak salah pula, kalau anda menduga gejala pengidentikan para kriminal yang
tak tersentuh hukum dengan frasa "the untouchables" ini, juga berasal dari film
yang pusat ceritanya berpusar pada (salah satunya) sosok Al Capone sebagai
gembong Mafia di Chicago, Amerika.

* * *

Nah, yang mungkin tidak anda ketahui, sebetulnya istilah The Untouchables
sendiri bukan merujuk pada sosok Al Capone dan kerajaan Mafia-nya, melainkan
justru pada sosok penegak hukum, Elliot Ness dan sepuluh rekannya.

Istilah ini bukan lahir dari sembarang pihak, melainkan justru dari Elliot Ness
sendiri yang nanti akan menggunakan kata itu sebagai judul dari autobiografi
yang ditulisnya.

Berawal dari mulai terganggunya bisnis minuman keras illegal Al Capone akibat
penggerebekan dan penutupan gudang minuman keras yang dilakukan Elliot dan
kawan-kawan, Al Capone berusaha menyuap Elliot Ness dengan menawarkan uang
$2,000 per minggu.

Elliot Ness mencampakkan uang suap yang disodorkan, dan membawa peristiwa itu ke
media massa. Dalam sebuah konperensi pers yang khusus diadakan Ness untuk
mempublikasikan usaha penyuapan itu, Ness mengatakan,

"Possibly it wasn’t too important for the world to know that we couldn’t be
bought, but I did want Al Capone and every gangster in the city to realize that
there were still a few law enforcement agents who couldn’t be swerved from their
duty." (sumber : crimelibrary.com
(http://www.crimelibrary.com/gangsters_outlaws/cops_others/ness/3.html))

Dari peristiwa inilah media massa seluruh penjuru Amerika ramai memberitakan
sosok Elliot Ness dan sepuluh rekannya yang kemudian melahirkan frasa "The
Untouchables" yang merujuk pada sosok Elliot Ness yang "tidak tersentuh" oleh
uang suap kaum Mafia.

* * *

Ironisnya, frasa "The Untouchables" sekarang ini malah lazim digunakan untuk
merujuk pada sosok kriminal. Padahal sesungguhnya the Untouchables itu merujuk
pada sosok penegak hukum yang murni, tak terbeli oleh suap, dan tidak bekerja
semata karena landasan kepentingan politik belaka. Walaupun untuk yang terakhir,
aspek kepentingan politis presiden yang baru naik, Hoover, untuk membeli
kiepercayaan masyarakat Amerika dengan memberangus Al Capone juga tidak bisa
dilepaskan, tetapi kejujuran dan dedikasi Elliot Ness dkk untuk menegakkan hukum
rasanya tidak layak kalau dituduhkan bermuatan politis.

Kembali ke soal ironisnya penggunaan kata Untouchables yang malah berlawanan
makna dengan asal muasal historisnya, kalaupun sekarang kita mau memberikan
makna baru, mungkin mestinya dikenal "Bad Untouchables" & "Good Untouchables"
yang merujuk pada Bad Guy & Good Guy.

Tapi hal yang paling ironis, rasanya seperti yang terjadi di Indonesia ini. Para
kriminal menjadi sosok The Untouchables dalam pengertian "bad untouchables",
sementara para penegak hukumnya malah menjadi sosok yang Touchables, dalam makna
yang juga "bad touchables" alias mudah tersentuh uang suap.

Anda, baik yang sudah mengetahui asal-usul sebenarnya frasa "the Untouchables"
ataupun yang belum, bisa jadi bingung melihat ironi "the untouchables" dan "the
touchables" di negeri ini.

Tapi nggak usah anda, kalau Al Capone masih hidup, tanggung dia juga bakal
nyengir bingung.

Sentaby,
DBaonk 2008