Senin, 23 Juni 2008 DI MEDIO April 2008 lalu, dari arah perempatan Cililitan, Jakarta Timur, saya menelusuri pinggir jalan arah ke Pasar Kramat Jati. Menjelang Pasar, saya menghitung ada tujuh pedagang barang keperluan perdukunan, klenik, di kios tenda kecil di kiri jalan, berjarak tak sampai seratus meter satu sama lain.

Minggu kemarin saya melalui jalan itu lagi.

Bila di April itu saya sempat berteduh di pojok perempatan, karena hujan, lihat
Tajuk Rakyat berjudul Pakis:
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=79, Tetapi Minggu, 22 juni 2008 itu ,
saya hanya menatap dari balik jendela di atas Busway.

Bila saya tak salah hitung, penjual pernik keperluan perdukunan itu kini kian
bertambah jumlahnya. Agaknya, karena kesulitan hidup kian menekan, animo orang
untuk mencari peruntungan, meminta berkah dan bantuan rezeki melalui dukun, agar
hidup bisa lebih survive, kian banyak saja. Ada permintaan, ada suplai, maka
hukum ekonomi pun berlaku di situ. Sehingga saya menduga, dukun-dukun kini kian
laris manis.

Mancaragam pernak-pernik dijual. Dari kelompok rempah; ada pala, jahe merah,
lengkuas, lada hitam dan bawang putih tunggal. Dari kelompok buah; jeruk purut
besar, kelapa hijau, pinang muda berikut tandan pucuk pohonnya, labu air panjang
berwarna hijau dengan kulit laksana berbedak putih. Bunga tujuh rupa; termasuk
melati dan kenanga berikut rajangan daun pandan. Juga tersedia tebu hitam, yang
diberdirikan di samping kedai tenda itu. Tampak pula bergelayutan, kendi-kendi
kecil bagian peralatan klenik yang siap dibeli.

Pada April lalu itu, saya bertanya ke pemilik tenda bernama Thamrin. Apa saja
yang banyak dibeli orang?

“Macam-macam. Mulai dari keperluan jodoh, rezeki dan peruntungan.”

Di bagian belakang Thamrin saya perhatikan ada deretan botol-botol kecil sejari
kelingking berwarna kuning bening, semacam wewangian. Di situ berderet pula
bongkahan kemenyan.

Thamrin enggan menyebut berapa omzetnya sehari. Tetapi dengan yakin ia
menyampaikan kepada saya di atas Rp 200 ribu. Jika saja ia mematok untung 100%,
maka ia sudah mengantungi net Rp 100 ribu/hari.

Sesungguhnya produk yang dijual adalah bahan-bahan alam biasa, yang harga
pasarnya rata-rata, namun karena ada beberapa barang yang langka, harganya
menjadi mahal. Plus hal ini juga menjadi alasan: karena khusus untuk perdukunan,
pembeli tidak banyak menawar. Mungkin mereka takut jika banyak tawar lalu
menjadi tidak manjur – – kiat inilah rupanya dimainkan pedagang, sehingga mereka
bukan makin berkurang, tapi sebaliknya, kian bertambah.

Kepada Thamrin, misalnya, pembeli sudah biasa mengorder, rempah-rempah untuk
pesugihan. Ia dengan cespleng menyebutkan harga, mengambilkan beragam order
laksana tukang jamu seduh mengambilkan sedikit demi sedikit bagian rempah yang
diperlukan. Bahkan Thamrin memiliki pula beberapa nama dukun, yang menurut
pelanggannya cukup sakti dalam melakukan perjampian, sesuai dengan kebutuhan
costumer. Alamak!

Setahun lalu, saya kebetulan diajak oleh seorang kawan yang kehilangan mobil
satu-satunya. Selain melapor kepada polisi, ia berusaha mencari kiri kanan,
termasuk bertanya kepada paranormal. Harta satu-satunya digondol maling.

Kawan itu mengajak saya ke bilangan Kampung Melayu, Jakarta Timur, mencari
barang yang harus dibeli sesuai petunjuk dukun. Barang dagangan tersebut bukan
rempah macam di Kramat Jati, di sana justeru tersedia aneka macam wewangian,
aneka macam bahan yang bisa dibakar, banyak dijual di beberapa kios.

Sebatang “kuningan” bergambar kepala ular, harganya tergantung jumlah kepala
ular yang ada di kulitnya – – makin banyak ularnya makin mahal harga – – itu
diimpor dari Turki. Ada tulisan Arabnya. Saya tak paham membacanya, karena huruf
Arab gundul. Harganya ada yang mencapai Rp 350 ribu sebatang.

Satu batang pernik sepanjang sejengkal dan lebar sejempol kaki itu di tempat
paranormal setelah dishalatkan, lalu dibakar dengan sebuah telur ayam kampung.
Telur meletup-letup, pecah dibakar. Batangan berwana kuning macam tembaga itu,
rupanya berisi timah dan wewangian. Timah meleleh. Aroma wangi menyengat,
laksana kemenyan dengan berhawa lain.

Sang paranormal, mengatakan, dalam dua pekan, mobil itu akan dikembalikan
pencoleng. “Pokoknya pencuri akan mengembalikan, entah dengan meninggalkan di
jalan, “ katanyan pula, “Makanya jangan bosan-bosan untuk mencek ke Polda,
tempat mobil-mobil hilang yang ditangkap polisi.”

Hingga kini mobil kawan yang hilang itu tetap belum ketemu. Saya perkirakan
sudah tak mungkin lagi ditemukan, bisa jadi sudah dilego di luar Jawa, atau
dipreteli, dijual di junk yard.

Kendati saya sangat yakin bahwa kemungkinan adalah hal yang paling mungkin di
jagad ini, tetapi sulit pula menghubungkan nalar antara membakar sebatang logam,
dengan menggiring pencuri, menggugah hatinya untuk mengembalikan mobil, kecuali
memang yang bersangkutan ketangkap polisi.

Sebaliknya, jika mengacu ke agama, kebetulan agama saya mengajarkan untuk
percaya kepada yang gaib. Logika saya yang belum tentu betul, sesuatu yang gaib
itu adalah tentang keesaan Tuhan. Sedangkan kegaiban dunia perklenikan, inilah
ranah yang berbeda. Setiap orang tentu sah saja mempercayai dan
mempergunakannya.

Cuma menjadi pertanyaan, di ranah agama, manusia lahir diminta untuk membaca,
untuk berpikir, cerdas. Dengan melihat hewan, seperti lebah, mereka hidup
harmonis dengan tatanan yang sudah teratur; ada pekerja, ada ratu petelur. Hidup
lebah menghasilkan madu, yang bermanfaat bagi kehidupan. Ada filosofi di sana
agar hidup manusia untuk berguru kepada lebah.

Sebaliknya, bila manusia berguru berpikir kepada lalat, maka akan tragislah
nasibnya. Lalat, serangga yang menyebalkan dan hidup di alam kumuh itu, jika
diminta belajar dan berpikir, maka dia akan mati lebih cepat dari batas umurnya
hidup.

Lalat jika pintar, dia tak berumur panjang. Tedeust Kawecki, pakar biologi
evolusi di Universitas Fribourg, Swiss, mendapatkan fakta dari hasil riset yang
dikerjakannya bersama Joep Burger dari Universitas Laussane. Di jurnal EVOLUTION
edisi Juni 2008, keduanya menyatakan menjadi pintar bisa berdampak buruk bagi
lalat, menjadi cepat mati. “Berkorelasi negatif antara perbaikan mental seekor
lalat dan panjang usianya, “ kesimpulan Kawecki dan Burger.

Awalnya keduanya hanya ingin mencari tahu kenapa ada proses belajar dalam dunia
hewan. Sebagian di antaranya bahkan berhasil berevolusi dengan menunjukkan
kemampuan belajar yang lebih baik daripada yang lain.

Manusia cerdas!

“Jika sangat baik untuk menjadi pintar mengapa kebanyakan hewan menjadi bodoh?”

Pertanyaan itulah digiring periset itu dalam memulai penelitiannya. Hasilnya,
lalat-lalat yang bodoh hidup 80-85 hari. Lalat yang cerdas hanya bertahan hidup
50-60 hari. “Dengan kata lain, semakin tinggi intelegensi lalat semakian pendek
umurnya.” Begitu kesimpulan kedua peneliti itu.

KETIKA berkesempatan ke Florida, AS, pada 1992 silam, saya menyempatkan diri
mampirkan ke markas NASA. Masuk dari pintu lobby utama, gedung utama, tampak
logo NASA, lingkaran bola dunia biru dengan bintik-bintik putih melambangkan
planet, serta lingkaran oval garis putih miring ke kiri, tulisan NASA di tengah,
plus garis segitiga merah seakan simbol pesawat terbang, laksana menuju langit
ke kanan atas.

Ketika saya membalikkan badan, di bagian atas gerbang pintu masuk itu dipajang
beberapa produk budaya dari berbagai negara. Bangga hati saya, ketika di bagian
kanan atas ada sebuah wayang kulit Gatot Kaca, tokoh pewayangan yang bisa
terbang itu. Saya perhatikan wayang kulit itu memang pilihan dari buatan
terbaik, asal Indonesia. Ada caption di situ menuliskan ihwal Gatot Kaca.

Dalam hubungan kerjasama dengan AS khususnya NASA, Indonesia pernah tercatat
merencanakan Pratiwi Sudarmono, sebagai calon astronot Indonesia – – termasuk
kala itu Bambang Harimurti sebagai kandidat, kini Pemred TEMPO – – untuk
diberangkatkan mengorbit. Tetapi sayang hingga kini belum juga ada astronot kita
mengangkasa.

Sebaliknya pesawat tidak berawak NASA, berjudul Phoenix sudah mendarat di Planet
Mars, bulan lalu. Ia sudah pula melakukan pengambilan foto, memotret permukaan
Mars yang diduga mengandung es. Logikanya, jika di Mars ada es, kemungkinan ada
kehidupan di sana.

Manusia ditakdirkan untuk berpikir. BJ. Habibie, Mantan Presiden RI itu, pernah
menyebutkan jika jaringan syaraf otak manusia direntangkan sambung-menyambung
tak putus-putus, maka panjangnya bisa mencapai delapan kali diameter bumi.

Kithah manusia memang ditakdirkan menggunakan akal, menggunakan otaknya untuk
berpikir. Kendati saya belum menemukan riset bahwa manusia yang berpikir akan
lebih panjang dan sehat badannya, saya pastikan demikianlah adanya.

Sebab manusia bukanlah lalat.

Saya hanya heran, mengapa belum tumbuh sebuah perusahaan yang memproduksi
wewangian dari rempah-rempah, buah-buahan tropis yang seksi, macam aroma labu
hijau panjang yang seakan berbedak putih, macam dijual di kedai di pinggir jalan
di Karamat Jati itu?

Sulit untuk menjawabnya.

Dari jaman penjajah dulu, kebanyakan masyarakat memang dibodohi, diadu domba,
diasyikkan dengan urusan ritual, termasuk klenik. Di zaman modern kini,
anak-anak negeri yang beride, yang kreatif, yang mengolah kemampuan otaknya
hingga langit ketujuh, juga tak akan terfasilitasi oleh negara.

Mengapa?

Lembaga pembiayaan tak satu pun berpihak ke rakyatnya. Cobalah baca
Undang-Undang BI dan Perbankan Nasional. Apalagi untuk usaha pemula, walaupun
berproduk berpasar, tidak pernah ada yang namanya venture capital untuk
berkreasi.

Akibatnya, kini, klenik meningkat, politik pun sudah dijadikan produk dan jasa,
tempat semua rakyat mencari makan, wahana menimbun uang. Alangkah naifnya, hanya
karena laku beberapa orang di trias politika, membuat rakyatnya kini laksana
lalat, mati cepat, karena kurang gizi, akibat kenaikan harga berbagai-bagai.

Iwan Piliang, presstalk.org