Tag

Senin, 23 Juni 2008
Reformasi & Restorasi  – INDONESIA PASCA SUHARTO <Apresiasi Atas Buku Henk Schulte Nordholt>
Seusai mendengarkan ceramah Prof Dr Ien Ang (Australia),  Kemis, 06 Juni  lalu di Amsterdam, dalam rangka Annual Wertheim Lecture, berpadu dengan  tiga hari kegiatan Werheim Centenary yang diorganisir oleh Werhteim Stichting, IISG dan Asia Platform Asia Studies UvA, dalam rangka  memperingati Seabad Prof De W.F. Wertheim, aku mampir di 'Athenaeum Boekhandel, Spui, khusus untuk membeli buku baru (2008) karangan Prof Dr Henk Schulte Nordholt.

Semula  Benny G Setiono mengajak untuk sama-sama lunch di salah satu
restoran yang tersebar di Spui. Benny juga mengajak Coen  Holtzappel
dan Liem (Ongki),  untuk sambil lunch kongko-kongko.  Benny khusus
datang ke Amsterdam memenuhi undangan Wertheim Stichting, dalam rangka
penyerahan Wertheim Award 2008 kepadanya.

Karena sudah ada komitmen lain tepaksa tawaran menarik itu tak dapat
kupenuhi.

Untung buku Henk S Nordholt masih ada di toko buku itu.  Buku baru
Henk Norhodlt  'Indonesië Na Soeharto – Reformasi en Restauratie,
adalah  terbitan Uirgeverij Bert Bakker, 2008.  Yang memperkenalkan
buku itu kepadaku adalah  Franciska Pattipilohy yang hadir dalam
ceramah Prof Ien Ang dan membawa buku tsb di tasnya.

*    *    *

Perlu juga dikemukakan disini bahwa sebelumnya, bersama Assistand
Editor Ireen Hoogenboom, Henk telah mengedit sebuah buku lainnya
menyangkut Indonesia berjudul  'INDONESIAN TRANSITIONS',  dalam bahasa
Inggris (2006). Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Mungkin dalam
tulisan lain nanti,  akan disinggung sedikit tentang buku Henk dan
Ireen tsb.

*    *    *

Sekarang ini yang akan  kusinggung sedikit  adalah  buku Henk  Schulte
Nordholt : 'Indonesië Na Soeharto',  sekadar  ikut memperkenalkan
kepada pembaca. Kiranya Henk, yang kepala  Afdeling Onderzoek KITLV
(Koninklijk Instituut vooe Taal-, Land- enVolkenkunde), Leiden, dan
Gurubesar Sejarah dan Masyarakat pada Vrije Universiteit Amsterdam,
cukup dikenal di kalangan cendekiawan  dan masyarakat pembaca buku di
Indonesia.. Buku hasil studi setebal 279 halaman itu, ditulis dalam
bahasa Belanda. Akan lebih baik tentunya bila segera terbit edisi
bahasa Inggris, lebih baik lagi edisi bahasa Indonesia, agar lebih
banyak pembaca di Indonesia yang  dengan  senang memanfaatkannya.

Banyak kalangan pakar, di Barat, khususnya di Belanda, yang dianggap
Indonesianis, berpendapat bahwa sejak jatuhnya  Presiden Suharto, Mei
1998, telah terjadi  b a n y a k  perubahan. Yang dimaksud adalah
perubahan politik dari suasana opresi terhadap oposisi, terhadap
hak-hak demokrasi, seperti bebas menyatakan pendapat, kebebasan pers,
berorganisasi, berparpol, dilangsungkannya pelbagai pemilihan
perwakilan dari pusat sampai daerah, dsb. Di sini tampak ada perbedaan
  dengan sementara analisis yang mengatakan bahwa sesudah jatuhnya Orba
secara formal, di Indonesia hakikatnya tak terdapat perubahan penting.
Sama saja seperti pada periode Orba.

Tokh judul buku Henk tsb ber-subjudul: Reformasi dan RESTORASI <huruf
besar oleh I.I.). Sehingga menjadi menarik  untuk bertanya, apa yang
direformasi dan apa pula yang mengalami restorasi. Sebagai gambaran
umum,  baik dikemukakan bahwa buku Henk meliputi tujuh bab, sbb: 1.
Orde Baru Soeharto; 2. Jatuhnya Soeharto 1996-1998; 3. Reformasi dan
Restorasi 1998-2001; 4. Otonomi dan kekerasan di daerah; 5. Islamisasi
dan Islamisme; . Angkatan bersenjata; 7. Demokratisasi 2002-2007. Lalu
pada akhir ada Penutup Kata, Indonesia dan Belanda:  Tutup buku,
ataukah suatu bab baru? Menarik kan?

Memang menarik, pada bab 3, Henk menulis periode 1998-2001 sebagai
periode Reformasi dan Restorasi; sedangkan pada bab 7, disoroti
periode demokratisasi, 2002 – 2007.

'Sejak 1997, tulis Henk dalam Kata Pengantar, 'di Indonesia telah
terjadi perubahan yang  drastis: pemerintahan Soeharto jatuh, negeri
mengalami krisis ekonomi yang bertahan dan kemudian mengalami periode
konflik berdarah religius dan etnik. Selain itu  lepasnya Timor-Timur
dalam tahun 1999 dibarengi dengan banyak kekerasan dan ditandai oleh
bom-Bali pada 12 Oktober 2002 suatu perkenalan menyakitkan dengan
terorisme Islam internasional.

'Sesudah jatuhnya Soeharto dalam bulan Mei 1998 berakhirlah rezim Orde
Baru, yang selama 32 tahun telah mencengkam Indonesia dalam suatu
kungkungan keras tetapi juga stabil. Dalam tahun 1998 dimasuki suatu
proses demokratisasi sedangkan pemerintahan daerah dari kepulauan yang
luas ini secara jauh didesentralisasi. Demokratisasi dan
desentralisasi tidak saja mengakibatkan bahwa penduduk dalam tahun
2004 untuk petama kalinya dalam sejarahnya telah dapat memilih
langsung presidennya, tetapi juga dalam politik regional sering
secara bear-besaran ditekankan identitas etnis lokal. Bersamaan dengan
itu identitas nasional sekular mengalami erosi serius dan menawarkan
aliran-aliran  modern dan radikal dalam  Islam bentuk identifikasi
alternatif. Dengan itu pada waktunya Indonesia akan menjadi kurang
pluralistis dan lebih mengarah ke Islam  yang lebh ketat'. Demikian
Henk Schulte Nordholt membuka analisisnya terhadap  situasi pegolakan
di Indonesia sesudah jatuhnya Soeharto. Tentu, untuk mendapat kesan
yang lebih mendalam harus dibaca lengkap Kata Pengantar dan seluruh
buku  Henk tsb. Di sini tak dimaksudkan untuk memasukinya secara
demikian.

Namun dari sedikit kutipan Kata Pengantar sudah dapat  'dikenyam' apa
yang dimaksudkan Henk dengan demokratisasi dan kemungkinan-kemungkinan
peranan Islamisme dengan proses demokratisasi sampai ke daerah-daerah
yang berlangsung di Indonesia sejak datuhnya Suharto.

*   *   *

Menurut penerbitnya, buku Henk tsb menggeluti kejadian-kejadian dalam
kehidupan politik dan  masyarakat yang gaduh antara 1995 dan 2007.
Henk melakukan analisa terhadap perubahan politik di Jakarta, pengaruh
otonomi daerah dan latar belakang kekerasan komunal,
perubahan-perubahan yang terjadi di kalangan Islam dan posisi tentara.
Dalam pada itu juga  ditelaah hubungan antara Nederland dan Indonesia.

Mari kita telusuri sedikit apa kata Henkdalam 'Kata penutup' bukunya.
Judulnya saja sudah memikat perhatian, lagipula sugestif?  Baca:

INDONESIA dan BELANDA:  Sudah tutup buku?  —  Ataukah Suatu Bab Baru?
Tidak  kuragukan bahwa  Henk Schulte Nordholt menggolongkan dirinya
pada pendapat bahwa hubungan Indonesia – Belanda seyogianya  memasuki
  BAB BARU. Mudah-mudahan!

Tulis Henk:
'Nederland  memerlukan enampuluhtahun untuk mengakui 17 Agustus 1945
sebagai datum kemerdekaan Indonesia. Untuk waktu panjang sekali  (oleh
fihak Belanda) dipertahankan   tanggal 27 Desember 1949, sebagai
datum resmi penyerahan kedaulatan. Datum ini menyarankan bahwa
akhirnya Nederland menghadiahkan kemerdekaan pada mereka (Indonesai),
sedangkan tanggal 17 Agustus 1945 menekankan bahwa Indonesia sendiri
yang  memperjuangkan  kemerdekaannya.'

Dapat dibaca di antara baris-baris kalimat tsb bahwa Henk menganggap
Nederland terlalu 'lamban'  atau memang  'ngotot' bertahan pada
tanggal 27 Desember 1949  sebagai tanggal penyerahan kedaultan oleh
Nederland kepada Indonesia.

Lalu, tulis Henk: 'Hingga pada penyerahan Nieuw-Guinea dalam tahun
1962, di Nederland  hampir samasekali tidak terfikir untuk
memperlakukan Indonesia sebagai  mitra yang  setara,

Dalam bukunya itu, Henk  mengecam kebijakan pemerintah  Wim Kok, yang
mengatur  sedemikian rupa agar kunjungan  kenegaaraan Ratu Beatrix dan
Pangeran Clause ke Indonesia dalam tahun 1995, jangan sampai jatuh
pada tanggal 17 Agustus. Yaitu pada Hari Peringatan Ultah Ke-50
Republik Indonesia. Celakanya,  kebijakan kebinet Kok tsb adalah
akibat  'tekanan'  golongan yang disebut  para wakil ' Indische
gemeenschap' dan para veteran (para mantan KL dan KNIL yang dulu ambil
bagian dalam pelaksanaan politik kolonial pemerinah Belanda terhadap
Republik Indonesia pada tahun-tahun 1945-1949).

'Begitulah, tampaknya masa lampau kolonial dan segi-segi tajam
dekolonisasi dengan pelan-pelan melenyap dibalik cakrawala.  Trauma
yang banyak disebut-sebut itu,  sekarang  sudah pensiun dan ribuan
migran dan keturuannnya dalam pada itu telah menemukan jalannya
sendiri didalam masyrakat Belanda. Tetapi apakah akan ada  perhatian
baru bagi Indonesia  dewasa ini.

Akhir kata, tulis Henk:

'Indonesia dan Nederland, disukai atau tidak, punya sejarah panjang
dengan banyak cabang-cabang pasca kolonial. Nederland masih punya
banyak pakar, tidak saja mengenai masa lampau kolonial teapi juga
kaitannya dengan hubungan dengan Indonesia baru. Sesudah 1998,  lewat
jatuh-bangun Indonesia telah menjadi negeri demokratis dimana terjadi
banyak perkembangan baru untuk mana dari Nederland dengan cara yang
berguna dapat disumbangkan (sesuatu).

'Pada tempatnya diajukan pertanyaan,   apakah di Indonesia masih ada
perhatian khusus terhadap Nederland? Jawabnya  dalam banyak hal
tergantung pada cara bagaimana Nederland dapat membantu Indonesia
untuk bisa melewati  pintu masuk ke Eropah. Demikian Henk.

Meskipun hati-hati, tampak bahwa Henk Schulte  Nordholt optimis
mengenai masa depan hubungan baik Nederland-Indonesia.

*   *   *

Buku Henk bertemakan  sepuluh tahun pasca Suharto, tetapi didalamnya
tersimpul harapan positif kerjasama dan saling mengerti yang lebih
baik antara para cendekiawan Nederland dan Indonesia.

Ini pasti  patut disambut! — oleh para cendekiawan dan masyarakat di
Indonesia!