Rabu, 18 Juni 2008 TELEPON genggam saya bergetar Rabu pukul 12.53 siang. Di layarnya muncul nama Soetrisno Bachir, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN). Belum sempat saya mengucapkan sepatah kata, di seberang sana sudah ada suara.

“Narliswandi Piliang, Anda jangan suudzon dong,” ujar Soetrisno, menyebut nama
lengkap saya.

Ndak begitu Mas, kata saya.

Belum saya bertutur lagi, sosok yang sudah saya kenal sejak 1986 itu, seakan
bertanya, “Siapa yang menyebutkan PAN minta uang hingga dua triliun ke Edwin
Soeryajaya, PT Adaro? Gila apa, partai minta uang sebesar itu?”

“Soal Alvin Lie, kalau betul dia datang meminta uang ke kantor Adaro, atas nama
partai, atas nama pribadi, saya pecat dia! Ada nggak buktinya?” Alvin Lie adalah
anggota DPR dari PAN.

Saya seling kalimat Soetrisno, lalu menjelaskan bahwa karenanya saya meng-SMS
meminta konfirmasi sehari sebelumnya. Tanpa konfirmasi, adalah naif saya
menulis. Mungkin karena kesibukan yang padat, SMS yang saya kirim Selasa pukul
20.09, baru dibalasnya siang keesokan hari.

Bunyi SMS saya: Asw., Mas Trisno: Mohon konfirmasi untuk presstalk.info, apa
betul PAN minta Rp 2 triliun ke Adaro, agar terhindar dari Hak Angket Pembatalan
IPO perusahaan ini?

UNTUK kali ini saya tidak menyebutkan nama sumber saya. Tetapi saya akan
menggambarkan sosoknya. Orangnya pernah bekerja di sebuah multinasional company
selama 32 tahun, pernah menjabat CEO di empat unit usaha joint venture. Di Jumat
malam pekan lalu di Pondok Indah, Jakarta Selatan, ia baru saja usai bermain
golf di Rancamaya, Ciawi, Bogor, Jawa barat.

Saya mengenalnya dari sebuah milis internet. Ia adalah sosok yang rutin membaca
Tajuk Rakyat yang rutin ini, saya tulis.

Sebelum menemuinya, di pukul 19.00 itu, saya terlebih dahulu mampir ke Daily
Bread, Café, di lantai 3 Mall, di mana saya suka memesan Cappucino dulu. Sudah
hampir dua tahun saya tak ke café di situ.

Maksud hati membunuh sedikit waktu menunggu janji. Eh, secara tak sengaja, saya
bersua dengan kawan lama. Hampir sepuluh tahun tak jumpa, fotografer Roy Genggam
Nusantara, kakak Gito Gilas Nusantara, artis sinetron. Saya kagum pada keluarga
Roy, kepada dua kata di belakang nama mereka. Dua kata yang seakan menjewer
mengingatkan agar berbuatlah, berprestasilah bagi nusantara.

Belum sempat melepas kangen, telepon saya sudah bergetar lagi, rupanya sosok
yang ingin saya temui sudah menunggu di dekat Bakmi Gajah Mada. Saya jadi
membuat sosok bapak ber-t-shirt merah, berkacamata itu sedikit menunggu.

Sambil melahap bakmi capcai, saya mendengar keluhan dan kekritisan sosok bapak
dua anak ini. Saya terkesima akan penjelasannya bahwa kawannya, Teddy P. Rahmat,
Direktur PT Adaro Energy Tbk, mengeluhkan tekanan-tekanan yang dilakukan anggota
DPR dengan merencanakan hak angket, mempersoalkan indikasi transfer pricing – –
mengakali pajak – – yang dilakukan Adaro.

PAN meminta uang Rp 2 triliun kepada Adaro, agar di DPR tidak dilakukan hak
angket menghambat IPO Adaro. Bahkan Alvin Lie, anggota DPR dari PAN, datang ke
kantor Adaro menemui Teddy P. Rahmat. Menurut sumber saya itu Alvin pun meminta
uang mulai dari Rp 6 miliar, terakhir Rp 1 miliar untuk dirinya,. “Edwin yakin
perusahannya sehat, solid, apalagi Dirjen Pajak sudah mengatakan tidak ada
masalah pajak di Adaro,” tutur sumber ini. Edwin tidak mempedulikan “ancaman”
hak angket DPR menolak IPO PT Adaro Energy Tbk.

Sebagai perusahaan tambang batubara kedua terbesar di Indonesia, PT Adaro Energy
Tbk mencari pembiayaan US$375 juta atau setara Rp3,45 triliun untuk menggenjot
kapasitas produksi batu bara perseroan yang ditargetkan mencapai 80 juta ton
pada 2012.

Perusahaan itu menargetkan volume produksi sebanyak 38 juta ton, 45 juta ton
tahun depan, dan secara bertahap meningkat menjadi 80 juta ton pada 2012. Untuk
itu perusahaan menawarkan 11,14 miliar saham atau 34,83% dari total saham yang
dikeluarkan di kisaran harga Rp1.050-Rp1.125 per saham dengan nilai nominal
Rp100.

Dengan harga penawaran itu, Adaro diperkirakan akan meraup dana segar Rp11,70
triliun-Rp12,53 triliun. IPO Adaro merupakan yang terbesar sejak November 1995
ketika PT Telekomunikasi Indonesia meraup dana segar US$1,6 miliar dari IPO di
dalam negeri dan Amerika Serikat.

Karenanya kelancaran IPO perusahaan ini, memang menjadi taruhan besar bagi citra
bursa saham Indonesia. Dan sumber saya sangat mengkuatirkan bila Adaro
diobok-obok, berakibat fatal bagi ekonomi Indonesia.

Terlepas dari benar atau tidaknya Adaro diobok-obok, faktanya pada 17 Juni 2008,
9 fraksi di DPR menolak melakukan hak angket ihwal Adaro. Hanya PAN sendiri
melenggang lantang.

BILA di DPR batal angket Adaro, ada bagusnya angket BBMlebih layak digulirkan,
terlebih urusan jual beli Migas, yang terindikasi bertambun berkolusi,
berkorupsi, berjamaah.

Di ranah media tak kalah wah.

Bila Adaro pada acara Reborn Kompas.com, turut mengagendakan meneken kontrak
menjadi sponsor utama portal berita kelompok Kompas Gramedia itu, maka kelompok
usaha PT Asian Agri yang dimiliki Soekanto Tanoto, menempel ke kelompok Media
Indonesia Group yang dipimpin Surya Paloh.

Rabu, pukul 19.30 saya perhatikan di Metro TV, menampilkan video profile, iklan
dokumenter PT Asian Agri. Perusahaan ini sejak tahun lalu sudah terbukti
menggelapkan pajak mencapai Rp 1,5 triliun – – di antaranya melalui laku
transfer pricing. Dan Surya Paloh, sosok yang kemudian dilobby kelompok usaha
Soekanto Tanoto, untuk membangun opini, termasuk kiranya turut mempersoalkan IPO
Adaro.

Hingga kini eksekusi pengelapan pajak PT Asian Agri belum melangkah ke tingkat
penuntutan. Dan repotnya sesuai UU Pajak Nomor 28, 2007, pasal 44B, penggelapan
pajak dapat di selesaikan melalui di luar pengadilan, dengan denda maksimum
400%. Pasal undang-undang ini menjadi begitu lentur bagi pengemplang pajak.
Apakah Soekanto Tanoto juga didatangi anggota DPR, untuk menyelesaikan
masalahnya di luar pengadilan: bisa jadi!

Seorang sumber saya mengatakan kedekatan Soekanto Tanoto dengan Jusuf Kalla.
Kendati sudah terbukti menggelapkan pajak, Soekanto kini belum juga terkena
jerat hukum.

Persoalan di media, bukan rahasia pula bahwa antara kelompok usaha Soekanto
Tanoto dan Kelompok usaha Edwin Soeryajaya (Adaro) sudah terjadi “perang”. Hal
itu menajam ketika pengadilan tingkat banding Singapura yang menolak gugatan
Beckkett Pte. Ltd., Singapura, dalam sengketa kepemilikan PT Adaro Indonesia.

Kasus itu bermula tahun 1997 ketika jaringan usaha Beckkett, PT Asminco Bara
Utama (Aminco), yang mempunyai 40% saham di PT Adaro dan PT IBT mendapat
pinjaman US$ 100 juta dari Deutsche Bank di Singapura. Asminco menjamin seluruh
saham kepemilikannya di PT Adaro kepada Deutsche Bank. Beckkett juga bertindak
sebagai penjamin atas pinjaman tersebut dan menjaminkan sahamnya.

Pada 1998, Asminco tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada Deutsche Bank
sehingga terjadi gagal bayar. Deutsche Bank kemudian menjual saham-saham
Beckkett di PT Adaro dan PT IBT – – sebelumnya dimiliki Soekanto Tanoto.

Penjualan saham oleh Deutsche Bank itu dilakukan ke kelompok usaha Edwin
Soeryajaya, kini Chairman PT Adaro Energy Tbk.

Maka menyimak kisah hak angket Adaro di DPR yang gagal itu, lobby ke media, baik
yang dilakukan oleh Adaro, maupun kelompok usaha Soekanto Tanoto, laksana
“perang” media yang memberitakan hal ihwal kedua belah pihak. Laksana pergumulan
berbagai kepentingan, berbagai tingkah-polah, termasuk lobby-lobby di dan ke
kalangan DPR yang – – sebagaimana selalu menjadi penekanan di dalam Tajuk Rakyat
ini – – berujung satu saja: uang!

Saya mencari-cari perumpamaan apa yang sesunguhnya ada? Sekelebat secara visual,
ingatan di benak saya melayang ke daerah di kampung saya di Pariaman, Sumatera
Barat: ada pesta Hoyak Tabuik (Tabot). Macam itulah kehebohan yang ada.

TABUIK adalah keranda bertingkat tiga dari kayu, rotan dan bambu dengan tinggi
mencapai 15 meter dan berat bisa setengah ton. Bagian bawahnya berbentuk badan
seekor kuda besar bersayap lebar dan berkepala “wanita” cantik berambut panjang.

Kuda gemuk itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus
hitam. Empat kakinya terdapat bergambar kalajengking menghadap ke atas.

Kuda itu simbol Bouraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat.

Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura kotak berukuran kian ke atas makin besar.
Pada gapura itu tampak motif ukiran merah, kuning dan dan hitam khas
Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan “bungo salapan”
(delapan bunga) berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau
batik.

Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias
yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati
putih.

Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20
meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan “menghoyak” (mengarak)
Tabuik yang dilakukan oleh 100 orang dewasa.

Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan
kelompok Subarang (seberang). Tabuik dikerjakan bergotong royong, melibatkan
para ahli budaya dan sejarah serta tokoh masyarakat sejak 1-9 Muharam setiap
tahun dengan biaya puluhan juta rupiah.

Dulu seingat saya, setiap ada upacara Hoyak Tabuik, selalu saja ada perkelahian.
Namun kini seiring dengan pesta budaya menjadi tontonan wisata, tidak dikenal
lagi keributan perkelahian yang terkadang membuat orang berlumuran darah.

Makna pesta Tabuik itu dimaksudkan untuk memperingati kematian dua cucu Nabi
Muhammad SAW, yakni Hasan dan Husain yang memimpin pasukan kaum muslim saat
bertempur melawan kaum Bani Umayah dalam perang Karbala di Mekkah.

Dalam pertempuran, Husain wafat secara tidak wajar. Sebagian muslim percaya
jenazah Husain diusung ke langit menggunakan “Bouraq” dengan peti jenazah yang
disebut Tabuik (Tabot).
Kendaraan Bouraq yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita
cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik.

Di penghujung hari menghoyak-hoyak, Tabuik dilarungkan ke laut. Ada prosesi
semacam menolak bala. Orang Pariaman pun berteriak-teriak

“Hoyak-hoyak Husain.”

“Hoyak Tabuik”

Kemeriahan, Tabuik yang di hoyak-hoyak, dana yang dibenamkan, pasar taruhan,
lipstik dan kecantikan, plus liputan, laksana itulah kiranya “kehebohan” PT
Adaro Energy Tbk., kini menjelang IPO. Perusahaan yang sesungguhnya dijalankan
secara profesional itu.

Setelah usai menyimak Tabuik di Pantai Pariaman, hanya hati yang bersihlah
kiranya dapat menilai. Hati nurani yang dapat berkata tontonan apatah di kancah
dunia usaha kita yang dijangkiti “penyakit” politik, laku persaingan tidak
sehat, di tengah kehidupan rakyat kebanyakan yang kian sulit membeli susu bagi
bayi?

Bila kian banyak pengusaha Indonesia yang berproduk dan berjasa, yang masuk ke
pasaran, terlebih ke pasar global, dan berperilaku mulia – – termasuk tidak
menjadikan politik sebagai ranah menimbun uang – – pastilah tidak saling-silang
menghoyak sesama.

Hoyak!

Iwan Piliang, presstalk.info