Kamis, 19 Juni 2008 SABTU malam Minggu, di Restoran La Bodega, bilangan Tarogong, Jakarta Selatan sebulan lalu. Saya menunggu seseorang yang selama ini hanya ber-email, khusus di milis di internet. Sosok perempuan paruh baya yang menetap di Dallas, Amerika Serikat.

Melalui dunia internet, melalui pokok-pokok diskusi, ibu yang bersuamikan
pengusaha minyak di negarai Paman Sam itu, pulang antara lain untuk melakukan
kegiatan sosial, membuat pegelaran musik menggalang dana penghujung tahun ini,
mengupayakan makan sehat murah bagi kalangan bawah.

Di beberapa tajuk, saya mendeskripsikan bagaimana di Karet Kuningan, Jakarta
Selatan, warteg menurunkan harga dari Rp 4.500, menjadi Rp 3.500, makan murah,
untuk tempe, sayur sop dan separuh telur bulat. Menu demikian yang ingin dibantu
ditingkatkan.

Di awal malam, hanya kami berdua sebagai tamu. Rupanya si ibu itu mengenal semua
karyawan La Bodega, termasuk musisi yang tampil di pentas di bar restoran itu.

Menjelang pukul 22, saya melihat malam itu Goenawan Mohammad (GM), penulis
Catatan Pinggir (Caping) TEMPO, hadir bersama Laksmi Pamuntjak. Mereka bergabung
dengan Tony Prabowo, musisi, yang sudah terlebih dulu datang bersama seorang
kawannya. Laksmi Pamuntjak, penulis buku Jakarta Food Guide, belakangan
menerjemahkan buku prosa GM ke Bahasa Inggris.

Menjelang tengah malam, setelah usai mendengarkan beberapa lagu, rombongan GM
berlalu. Ketika hendak menuruni tangga, saya melihat wajah GM menua – – agaknya
lampu remang, membuat suasana temaram, memperkuat kesan tua itu.

SELASA , 17 Juni 2008 lalu saya mendapatkan artikel Caping GM di beberapa milis
jurnalis dan media di internet. Maklum karena sudah tidak melanggani lagi media
cetak, pastilah naskah Caping ini terlambat saya baca.

Alinea pertama dan kedua Caping GM yang berjudul Indonesia, itu adalah:

Di luar sel kantor Kepolisian Daerah Jakarta Raya itu sebuah statemen
dimaklumkan pada pertengahan Juni yang panas: “SBY Pengecut!”

Yang membacakannya Abu Bakar Ba’asyir, disebut sebagai “Amir” Majelis Mujahidin
Indonesia, yang pernah dihukum karena terlibat aksi terorisme. Yang bikin
statemen Rizieq Shihab, Ketua Front Pembela Islam, yang sedang dalam tahanan
polisi dan hari itu dikunjungi sang Amir.

Anda perhatikan tulisan kalimat akhir alinea kedua, baris kedua.

Seorang anggota di milis Jurnalisme, Habe Arifin, berkomentar: “Maaf, mungkin
saya yang amnesia atau tulisan ini yang alpa. Abu Bakar Ba’asyir selama ini
tidak pernah dipenjara akibat kasus terorisme. ia diganjar hukuman di balik
jeruji besi hanya karena masalah imigrasi.”

Saya menimpali sepakat dengan Bung Habe. Saya sudah lacak di google, juga
beberapa kliping yang saya punya, Bung Habe benar. Memang ada dakwaan kepadanya,
bahwa yang bersangkutan terkait ke terorisme, bom Bali. Namun hal itu di
pengadilan tidak terbukti.

Caping adalah kolom, opini. Ia belum tentu mencerminkan pendapat majalah TEMPO.
Namun, karena GM pada dasarnya adalah pula seorang reporter – – setidaknya dulu
Fikri Jufri pernah berulang-ulang bilang, reporter profesi seumur hidup.
Karenanya menulis dengan menuding teroris, akan bisa disalah artikan pembaca.

Apalagi bila dibaca Caping GM kali ini tidak dipungkiri adanya nada marah dan
kesal.

Saya mengistilahkan langgam penulisan demikian sebagai jurnalisme keyakinan
hati. Saya pun suka melakukan hal demikian, tetapi dari hasil verifikasi, hasil
reportase. Reportase menghendaki kerendahan hati reporter, kerendahan hati
memverifikasi, untuk merumuskan bahan, dan menjahitnya men jadi tulisan.
Reporter boleh dan bisa salah, jika diimbangi pula oleh kerendahan hati
mengakui, mengoreksi dan meminta maaf atas kesalahannya itu.

Sirikitsyah, pengamat media asal Surabaya mempertanyakan soal alinea keempat
tulisan GM:

Sebab ini bukan Arab Saudi, wahai Saudara Shihab dan Ba’asyir! Ini bukan Turki
abad ke-17, bukan pula Jawa zaman Amangkurat! Ini Indonesia tahun 2007.

Sirikit mempertanyakan penulisan: "Ini Indonesia 2007". Tulisan ini dibuat tahun
berapa?”

Jelas tulisan itu dibuat GM tahun 2008.

Saya pribadi seringkali suka salah mengetik, salah mengeja. Berbalas tanggapan
di milis internet ihwal Caping GM kali ini pun terjadi. Ada yang mengatakan
lihat saja esensinya, kesalahan kecil tak mengurangi makna. Pandangan demikian
antara lain disampaikan Ging Ginanjar.

Langgam penyajian tulisan yang sebal terhadap Abu Bakar B’asyir dan Rizieq
Sihab, tidak dapat dipungkiri terasa di caping GM. Kesalahan tulis tahun,
sekaligus cerminan kelelahan GM. Lelah membayangkan aksi kekerasan agama di
negeri ini tidak kunjung berganti ke suasana beragama yang Rahmatan Lilalamin.

Sebaliknya saya mengamati agama mengkotak-kotakkan. Malalui jalur agama, jalan
yang pintas empuk mengobok-obok bangsa ini.

Ada front yang keras, ada front yang mendemo membawa pesan pluralisme. Dan GM
berada di front plural, yang memang demikian selayaknya disosialisasikan di
negara Pancasila ini.

Persoalannya, GM sudah menempatkan dirinya ke dalam salah satu kotak, yang
secara kasat mata, berdiri secara frontal turun ke lapangan, mengurus urusan
seseorang dengan Tuhannya itu. GM tidak lagi turun sebagai reporter.

Kalimat Fikri Jufri, Redaktur Senior Tempo, pernah mengatakan, “Reporter itu
profesi seumur hidup, “ menjadi seakan menjewer-jewer kuping saya mengingatkan.

Penyajian Caping GM kali ini seakan membuat GM alpa bahwa sebagai reporter,
untuk cek dan ricek, memverifikasi data, dan juga untuk lebih korek mengemas
konten bagi sebuah majalah berita yang telah mengagungkan kebesarannya.

Dengan tulisan Caping itu, melalui tajuk ini saya menyarankan kepada GM, untuk
saatnya mempertimbangkan cuti, saatnya meminta generasi yang lebih muda mengisi
Caping di TEMPO – – walapu mungkin caping sudah trade mark GM. Saya hakkkul
yakin (tiga tingkat di atas yakin) banyak yang muda-muda akan tampil, dan saya
percaya dengan sosok yang selalu mengedepankan demokrasi macam GM, pastilah
tidak akan memaksakan langgam dan gaya, jika memang ia legawa meminta yuniornya
menulis, menjadi lebih berwarna.

SIANG di Rabu 18 Juni 2008, saya melalui jalan kawasan Manggarai, Jakarta
Selatan, menuju rumah di bilangan Malabar, Guntur. Seorang ibu-ibu tua bercaping
berlapis plastik kumal, tampak mencari botol-botol plastik bekas air mineral,
persis di dekat pintu air Manggarai.

Berjalan ke arah depan Pasaraya Grande, terus ke belakang Pasar Rumut, saya
melihat masih terpasang spanduk:

"Zaman edan. Semua sekarang serba mahal. Yang murah cuma janji para pemimpin.”

Tidak ada embel-embel badan atau lembaga pemasang spanduk. Dan masyarakat
sekitar tampak mengamini takzim isinya. Tidak ada yang berminat mencopot spanduk
itu.

Jika Anda memang berkesempatan, berjalan-jalanlah ke lingkungan kelas bawah kini
di seputar Jakarta, sudah kian banyak orang yang untuk makan sekali sehari kian
sulit.

Dalam keadaan demikian, jika reporter, jurnalis, tidak bisa berpihak kepada
warga, pro poor, pro kepada laku kesewenangan macam yang terjadi secara
signifikan terhadap korban lumpur Lapindo, di Jawa Timur, saya mempertanyakan
nurani kewartawanan yang hanya sibuk dengan “mainannya” – – apatah pula mainan
agama!

Cobalah pilih, terlibat di urusan agama, dengan embel-embel plural, dengan
embel-embel mendapatkan dana grant mengkampanyekannya, lebih mulia mana Anda
tetap menjadi reporter, dan terus berpihak kepada masyarakat kebanyakan, mencoba
memaparkan berbagai kepahitan, agar para pemimpin terbuka hatinya, bahwa esok
atau lusa mereka semua akan mati, tidak akan membawa segunung hartanya, plus
egonya menimbun kekayaan untuk 70 turunan itu?

Sayangnya fungsi dan lakon di dalam hidup kini, kita campuradukkan macam
gado-gado Boplo. Sehingga kacang panjang tidak tampak utuh lagi. Kol putih
menjadi coklat bumbu kacang yang kental… hhhmmm memang enak jika dimakan di
terik yang lapar.

Bukankah agama layak diurus oleh ustad macam laku yang dilakoni Kyai Syafruddin,
di Warakas, Jakarta Utara, yang tidak pernah mau diliput media, tetapi jamaah
pengajiannya di seluruh Indonesia, mencapai tujuh juta orang. Kendati mukim dan
memiliki pengajian di daerah kumuh, ia membawa pencerahan kedamaian. Ihwal ini
saya tulis di Tajuk Rakyat, 31 Mei 2008 berjudul Oase Damai Mencerahkan, bisa
disimak di: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=120.

Hidup memang pilihan. Tetapi jika selalu yang kita tampilkan ketidak-selanggaman
kata dan perbuatan, laksana tidak sesuainya judul dengan isi, apalah jadinya?
Semoga kita tidak masuk ke kelompok orang-orang yang menggergaji angin.

Iwan Piliang, presstalk.info