Jumat, 13 Juni 2008 

DARI arah Rumah Sakit Hasan Sadikin menuju tol Pasteur, Bandung, Selasa,
10 Juni 2008 lalu. Menjelang Bandung Trade Centre (BTC), tepatnya di Jl.
Djunjunan 131, ada sebuah kedai yogurt bermerek Odise. Letaknya seakan menyempil
di sebelah kedai ikan bakar Indramayu.

 

 

Ada spanduk hijau di situ bertuliskan: Odise French Yogurt. CEO Zamrud
Technology, Hemat Dwi Nuryanto, yang menemani saya membelokkan mobil berjalan ke
arah belakang BTC. Kami memasuki sebuah rumah berukuran sedang, menemui Valerie
Erawan, sosok perempuan berjilbab kelahiran Poitiers, Perancis, pembuat Odise.

Memasuki pekarangan rumah, seorang pembantu mempersilakan menuju ke samping.
Ruang samping itu berada di lantai bawah. Di area setengah lapangan volley itu
yogurt diracik Valerie. Ia sedang mengamati dua kantung plastik besar berisi
susu yang teronggok di atas meja. Di sampingnya Emilie Nuraida Erawan,
puterinya, bule cantik, menemani sambil menatap note book.

Dari tangan Valerie, di rumahnya, lahirlah Odise French Yogurt. Ia membuatnya
dari racikan asli Perancis, yogurt bertekstur lebih padat dari produk yugort
biasa di pasaran. Odise mirip puding lembut.

Odise bermacam rasa: strawberry, anggur, madu, mocca, bluberry, pisang, kopi.
Ukuran kecil Rp 3.500. Kami memilih ukuran satu liter untuk sekadar dibawa
pulang seharga Rp 24.000. Odise tahan lama, tidak cepat basi. Saya tentu tidak
ingin memancing selera Anda. Tetapi saya ingin menilisik lebih jauh usaha dan
keluarga ini.

Mengapa memilih nama Odise?

“Dari kata Odyssey,” tutur Valerie dalam bahasa Indonesia fasih melanjutkan,
“Perjalanan jauh!”

Mendengar jawaban itu di benak saya membayang mobil Honda Odyssey, berbadan
panjang macam sedan station wagon itu.

Odise, perjalanan panjang.

Perjalanan panjang telah mengantarkan Valerie ke Bandung.

Kisahnya berawal ketika Dadang Furqon Erawan mempersuntingnya. Dadang menamatkan
studi aeronatika hingga lulus S3 di Perancis. Ia mendapatkan dukungan studi dari
PT Dirgantara Indonesia. Maka kepulangan keluarga Dadang ke Indonesia, berarti
pula pulang memenuhi kewajiban sebagai kepala keluarga sekaligus mengembangkan
seluruh ilmu di Perancis, bekerja di PT Dirgantara Indonesia – – dulu Industri
Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN).

Mimpi Dadang turut berandil menjadikan negeri ini sebagai salah satu produsen
pesawat terbang handal, keburu pupus. Krisis ekonomi 1997, berujung kepada
berubahnya visi, misi dan tujuan IPTN. Ketika berganti menjadi PT Dirgantara
Indonesia (DI), Dadang termasuk rombongan SDM yang kemudian harus tersingkir
dari PT DI.

Keadaan itu seakan membuat tercampakkannya intangible asset yang susah payah
dibiayai negara. Mereka mara berlajar ke manca negara diongkosi negara, seakan
untuk sia-sia.

Namun agaknya, peradaban bangsa Eropa, yang memang mengharuskan seseorang
memiliki produk dan jasa, harus bekerja – – untuk bisa survive, untuk dapat
disebut sebagai pengusaha – – ekonomi keluarga Dadang tidak ikut kandas.

Mereka berusaha menguras energi berusaha yugort. Upaya ini cukup membuat ekonomi
keluarganya lebih dari cukup. Sebaliknya kecintaan Dadang kepada dunia pesawat,
tidaklah surut.

 

SIANG di bilangan Komplek Taman Millenium, Jl. Sukawarna, Bandung. Di sebuah
ruko di lantai dua, Dadang menyambut saya. Sosok pria berkacamata ini,
menjelaskan tentang proyek wind tunnel yang digelutinya kini dengan bendera PT
Chroma Bima Sapta. Melalui usahanya ini, mereka masih mengintip tender-tender di
berbagai belahan dunia yang membutuhkan segala urusan yang untuk menguji
kelaikan terbang sebuah rancangan bangun pesawat yang hendak dibuat.

Melalui layar komputer, Dadang lulusan Grand Ecole ENSMA, Poiter, perancis – –
daerah yang mempertemukannya dengan sang isteri , Valerie – – memperlihatkan
rancangan wind tunnel dalam bentuk 3d, computer graphic imegery, yang belum lama
berselang turut mereka sertakan dalam tender yang dilakukan Universitas Nan
Yang, Singapura.

Kampus di Singapura itu ingin membuat pesawat model tidak berawak, maka
dibutuhkan sebuah wind tunnel – – alat untuk menempatkan pesawat model dengan
skala kecil, untuk dialiri angin dalam kecepatan konstan, untuk menguji kelaikan
terbangnya.

Ada enam negara yang mengikuti tender itu; Jerman, Amerika Serikat, Italia,
Spanyol, Perancis dan perusahaan, Chroma, Dadang. Mereka masuk dua besar.
Perusahan Italia yang sudah berumur 50 tahun menang. Kendati demikian Chroma,
yang dikendalikan Dadang tetap dipercaya membuat bagian pangujian kelaikan
terbang sebuah rancang bangun pesawat di alat itu.

“Sebetulnya jika IPTN terus berproduksi, dengan jumlah pesawat yang dibeli Lion
Air untuk Boeing 737 sekarang, sudah akan menghidupi proyek pesawat jet N 1230,”
ujar Dadang penuh penyesalan. Pesawat N 2130, berkapasitas persis sama dengan
produksi Boeing 737.

Apa lacur, kritik ekonom yang banyak melecehkan kemampuan anak-anak lokal,
industri lokal, termasuk kritik para mahasiswa yang turut latah di awal
reformasi, telah menghilangkan kesempatan bahwa negeri ini mampu memenuhi
kebutuhan sendiri pesawat angkut untuk keperluan pasar dalam negerinya.

Di dalam proyek jet N 2130 yang kandas dipimpin oleh Ilham Habiebie itu, Dadang
adalah Chieft Aerodinamist.

Tidak mengherankan bila dikatakan bahwa pelapukan, perusakan, pembodohan
terhadap bangsa ini, memang terjadi dan berlangsung terus dari dalam negeri
sendiri, berjalan secara sistematis.

Lihat saja di ranah hukum nyata signifikan. Pekan ini pentas di pengadilan
Tipikor, yang yang mengungkap percakapan Jaksa Agung Muda dengan Artalyta
Suryani, ihwal kasus BLBI, Sjamsul Nursalim, menyentak relung sendi mengilu
gigi.

Pembicaraan telepon yang disadap KPK, jelas sekali menempatkan keadilan seakan
diletakkan di alas kaki, menyembilu ngilu.

Dari semua lini, mulai dari kemampuan teknologi, kancah ekonomi, sosial, budaya,
bahkan agaknya tepat disebut peradaban, proses memundurkan, atau lebih tepat
saya memakai diksi “pemerkosaan” Indonesia agar melorot di segala lini menjadi
nyata ada.

Di dalam berdemokrasi saja. Wujud Pilkada, hingga pemilihan Presiden, hanya
Indonesia-lah di jagad bumi ini membuang waktu dan uang terbesar sekaligus
“terajaib”.

TAHUN 2008-2009 ini tahun politik. Pada tahun ini ada 160 Pilkada di berbagai
daerah. Dari Januari hingga Mei 2008, baru terselenggara 18 Pilkada, berarti
masih ada 148 lagi. Faktanya, Pilkada Gubernur, Bupati, Walikota, berbiaya bisa
mencapai ratusan miliar perpilkada.

Untuk menggampangkan menghitung, ambil contoh satu Pilkada berbiaya Rp 100
miliar saja. Itu artinya Rp 16 triliun dana bergulir selama Pilkada 2008 saja.

Sedangkan berapa biaya Pemilu, angka yang beredar, saya belum mendapat data
akurat. Ada yang menyebut dari di kisaran Rp 50 triliun, juga ada yang menyebut
Rp 17 triliun. Saya mengambil saja angka dari Warta E-Gov edisi Mei 2008 yang
menyebutkan menelan biaya Rp 17,9 triliun.

Saya pun memperkirakan belanja partai dan calon presiden berpromosi wira-wiri
setidaknya Rp 50 triliun. Dari angka-angka ini saja, tampak jelas bahwa
demokrasi ala Indonesia memang jos-josan uang. Sebaliknya dari derasnya uang
yang mengalir itu, kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya muara berdemokrasi,
justeru kian lari, kian menjauh pangang dari api.

Karenanya Hemat Dwi Nugroho, CEO Zamrud Technology, yang menamatkan studi S2 di
Paul Sabatier, Toulose, Perancis – – turut menangani Project Management dan
SIDINA, system pendukung 100% Digital Product/Aircraft Definition jet N2130,
bersama Dadang – – mempunyai solusi e-voting, atau pemungutan suara melalui
lektronik, melalui software open source.

Hemat mengajak untuk melihat proses e-voting yang sudah berjalan sejak tahun
2000 di India dan Brazil, dengan jumlah penduduk besar dan tingkat kesejahteraan
rakyat tak jauh berbeda dengan Indonesia. “Bahkan penduduk pedalaman sepanjang
sungai Amazon yang daerahnya sangat luas dan terisolir ternyata tidak gagap
teknologi, “ ujar Hemat di Warta e-Gov, edisi Mei 2008.

Bila Indonesia mau dan memiliki keinginan politik menerapkan e-voting, maka
setidaknya akan dihemat biaya Rp 11 triliun. Angka ini tentu bukan isapan jempol
semata. Hemat (cocok dengan namanya) sudah pembuktikan, melalui aplikasi open
source yang digarap studionya di bilangan Salman, Bandung, pada 2004 lalu
memiliki portofolio.

Sistem Pemilu 2004, menurut Hemat, jauh lebih kompleks dibanding Sistem Pilkada
2007 DKI yang hanya melakukan pilihan 2 pasang kandidat (pilkada DKI 2007 mirip
pilpres tahap 2 tahun 2004).

Coba simak hasil perhitungan suara Pemilu 2004 DKI di alamat : www.kpujakarta.
org/tabpemilu.

Aplikasi tabpemilu (tabulasi pemilu) tersebut hanya satu dari belasan aplikasi
yg telah dibangun Zamrud Technology. Pada saat pemilu legislatif, terdapat 24
partai
peserta dengan masing-masing partai dapat mencalonkan hingga 18 caleg. Suara yg
didapat oleh setiap caleg dapat dilihat dari level TPS hingga wilayah
(kelurahan,
kecamatan, kab/kota) dan atau daerah pemilihan (gabungan spesifik kecamatan,
gabungan spesifik kab/kota).

Aplikasi tabulasi pemilu 2004 DKI dipuji oleh sejumlah pengamat karena
menyajikan hasil perhitungan suara selangkah lebih baik dari tabulasi 2004 pusat
– – yg di Hotel Borobudur. Engkos Koswara, dari kantor Ristek, antara lain sosok
yang mengapresiasi. “Bila negara ingin mengambil dan memanfaatkannya,
rekan-rekan kami tidak akan menarik biaya jutaan line code program yang telah
dibangun, “ ujar Hemat di dalam emailnya.

Saya sampaikan kepada Hemat, setelah saya memverifikasi ke Bappenas, misalnya.
Acapkali aplikasi otomasi yang impor dipilih dipakai bagi kemajuan bangsa ini
lebih berkorelasi dengan sampingannya. Ya sampingan! Berupa dana grant sebagai
ikutan masuknya proyek dari luar negeri.

Saya katakan kepada Hemat, walaupun kita membuat segalanya lebih baik, dengan
energi sendiri, dengan kompetensi lokal, pemerintah, pemimpin, tidak meliriknya,
karena kita rakyatnya yang datang tanpa uang. Di mata pemimpin – – 99% – – dan
gejalanya mewabah ke semua lini kini, di trias politika, yang dilirik uang. Uang
datang, berkorelasi komisi. Anggaran dirancang, juga berkorelasi fee.

Perihal ini saya tuliskan, setelah mensarikan keterangan staf khusus yang ada di
Bappenas. “Jadi Iwan kamu jangan berpikir cuma bisa,” tutur sosok staf khusus
Bappenas itu mengingatkan. Saya menelan ludah pahit.

Karena beranggapan uang bukanlah segalanya, kendati uang memang kudu dicari
sebanyaknya, telah mengantarkan saya berkenalan dengan dua insan Indonesia
mantan karyawan PT DI yang luar biasa: Hemat dan Dadang. Bahkan saya
berkesempatan mengenal sekilas keluarga Dadang yang mengembangkan yogurt Odise.

Mereka tetap berproduk dan berjasa. Dengan tetap memiliki produk, memiliki pasar
yang tidak bergantung ke pemerintah, memberikan pekerjaan ke masyarakat, sekecil
apapun, jelas lebih mulia. Mengutip judul buku Sukardi Rinakit: Gusti Ora Sare,
Tuhan Tidak Tidur, semoga kian banyak insan Indonesia yang mencerahkan macam
Dadang dan Hemat ke depan.

Saya hakkkul yakin – – tiga tingkat di atas yakin – – laku yang dimiliki
kalangan politisi (trias politika) negeri ini, yang cuma “memprodukkan” politik
bagi menambunkan kantungnya, pasti akan tergilas zaman. Kecuali seluruh warga
bangsa ini, memang tuli, bisu, buta dan hitam legam hatinya.

Iwan Piliang, presstalk.info