"Berapa jarak… darimu ya rasul…"  Entah anda beragama Islam, Kristen, Budha, Konghucu, atau Baha'i sekalipun, kalau anda warga Indonesia, pastilah anda cukup hapal dengan lagu Bimbo yang penggalan syairnya saya kutipkan.

Dalam kehidupan keberagamaan, orang memang akrab dengan pertanyaan kontemplatif
berapa jarak dengan Tuhan, atau dengan rasul, nabi, atau siapa saja tokoh pemula
ajaran agamanya masing-masing. Apapun agamanya, kalimat "mendekatkan diri
pada…" selalu menjadi pendekatan dalam ritual-ritual keberagamaan. Tuhan
selalu didekati, pola perilaku nabi, rasul atau pemula agamanya selalu dijadikan
panutan dan sedapatnya ditiru dalam kehidupan pribadi sehari-hari.

Tentang kedekatan ini, ada sebuah ankedot dari Gus Dur, sosok kontroversial yang
oleh sebagian ummat seagamanya, kerap dianggap "menghina"agamanya sendiri.

Dikisahkan ada tiga pemuka berlainan agama yang berkumpul dan berdiskusi
tentang berapa kedekatan ummatnya dengan Tuhan mereka. Pendeta mengatakan, "Kami
dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapa."

Tak mau kalah, Pedande, pemuka agama Hindu dari Bali, menimpali, "Kami
juga dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om."

Kemudian keduanya bertanya pada rekan ketiga, seorang Kyai yang terlihat
ndak nafsu turut serta dalam diskusi itu. "Lha bagaimana dengan Anda, pak kyai?"

Sang Kyai menjawab, "Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti pake
menara…”

* * *

Buat beberapa orang mungkin anekdot ini dimaknai sebagai penghinaan kepada pola
masyarakat tertentu (Islam) dalam menjalankan ritual agamanya. Tapi dari anekdot
itu, kiranya ada point-point penting yang menarik untuk dikaji.

Pertama, sebetulnya sudah menjadi kesadaran umum, bahwa kedekatan dengan Tuhan
bukanlah dalam bentuk fisik. Anda bisa membangun menara yang tingginya mencapai
langit ke tujuh, namun tetap tidak akan menjamin kedekatan anda dengan Tuhan.

Dari point itu akan membawa pada pemahaman, bahwa kedekatan dengan Tuhan
tentunya bicara dalam dimensi yang bukan fisik, melainkan lebih pada pendekatan
citra keTuhanan dalam diri masing-masing pribadi. Kelekatan citra Ketuhanan
dalam diri yang akhirnya terbaca dari manifestasi pola perilaku sehari-hari.

* * *

Point yang kedua, saya kira bicara soal ritual. Kedekatan dengan Tuhan tidak
diukur dan dimanifestasikan semata-mata dengan ritual. Seseorang bisa manggil
Tuhan dengan sebutan seakrab apapun, namun itu tidak menjamin adanya kedekatan
dengan Tuhannya.

Bagi ummat muslim, masalahnya menjadi lebih rumit, ketika pendekatan citra Tuhan
juga dihadapkan pada pelaksanaan syariat-syariat agama. Ada dimensi kosmetik
yang melingkupi erat dalam kehidupan ritual keberagamaan pribadi seorang muslim,
ketika shalat, puasa, dan beragam jenis pelaksanaan ritual yang memuncak pada
penerapan hukum (syariat) islam sebagai dasar dalam kehidupan.

Muslim dihadapkan pada doktrin bahwa pelaksanaan syariat agama akan menjadi
salah satu syarat dari terbukanya kedekatan dengan Tuhan. Tanpa shalat, tanpa
puasa dan tanpa melaksanakan ritual syariat lainya, seseorang "dipastikan" akan
jauh dari Tuhannya.
Di kalangan masyarakat tertentu, dendang lullaby penidur anak pun menyiratkan
doktrin semacam itu.

Indung-indung Siti Aisyah, mandi di kali rambutnya basah,
Tidak sembahyang, tidak puasa,
di dalam kubur mendapat siksa…

Saya tidak menolak doktrin semacam itu. Dan memang tidak ada yang salah
dengannya. Seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa, dalam konteks kedekatan
dengan citra Tuhan, ritual adalah salah satu cara dasar untuk mencapai tingkat
pemahaman akan citra ketuhanan. Tapi dalam ajaran agama islam pun sebenarnya
kita dituntut untuk melngkah lebih jauh dari sekadar pendekatan ritual yang
kosmetik.

Muslim manapun akan setuju, bahwa shalat lima kali sehari tidak menunjukkan
kedekatan diri seorang muslim dengan Tuhannya, ketika shalat itu nyata tidak
berimbas pada pola perilakunya sehari-hari. Rajin shalat tapi masih korupsi,
rajin puasa senin kemis tapi masih suka mencela orang, atau apalagi ngemplangin
anak buah di kantor misalnya.

Artinya, kedekatan dengan Tuhan akhirnya tidaklah diukur semata dengan berapa
kerap seseorang atau berapa lengkap seseorang menjalankan ritualnya, melainkan
harus pula diukur dengan instrumen yang lain, yaitu seberapa jauh pola perilaku
dalam tindak-tanduknya sehari-hari mencitrakan citra Ketuhanan yang diyakininya.

* * *

Sebetulnya sampai di sini, ada hal rumit lain yang menghadang. Ketika kitab suci
juga menunjukkan Tuhan mempunyai citra pemurka, pembenci, pembalas, dan ketika
tokoh panutan (pemula) agama juga menunjukkan pola perilaku tertentu, seorang
bisa menganggap perilaku tertentu yang sesuai (atau mirip-mirip) dengan konteks
yang diriwayatkan kitab suci atau contoh dari sang panutan, sebagai manifestasi
pula dari citra Ketuhanan.

Memerangi orang yang dianggap musuh agama, akan dianggap sebagai manifestasi
dari citra Ketuhanan dan kenabian, karena riwayat agama menceritakan hal yang
sama. Dus, menjalankan perilaku yang nantinya terkesan negatif bagi orang lain
tetap dianggap sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Dalam hal ini, saya hanya berpendapat, kita memang tidak bisa mengubah sejarah
yang telah lalu. Kita tak bisa mengusik kenyataan bahwa sosok Tuhan dalam kitab
suci tertentu pun memang menggambarkan citra-citra yang berlawanan dengan sosok
"Maha baik" yang diinginkan banyak orang. Nabi pun melaksanakan hal tertentu dan
menggariskan hukum tertentu yang berpotensi mengarahkan pengikutnya pada
perilaku yang negatif.

Tapi di sisi lain, ajaran juga menunjukkan adanya konteks-konteks tertentu. Ada
situasi dan kondisi tertentu dimana perilaku tertentu dari Tuhan atau Nabi
muncul dalam citra yang berbeda dengan keinginan ideal manusia. Dan selain
perihal konteks, yang tetap tidak boleh dilupakan ajaran dan riwayat agama juga
menceritakan begitu banyak contoh perilaku dan semangat untuk memprioritaskan
kebaikan di atas perilaku yang berlawanan dengan kebaikan (negatif).

* * *

Prioritas akhirnya menjadi kata kunci dalam telaah ini. Berkaitan dengan
prioritas pula kita mempunyai pemahaman yang umum, bahwa dalam konteks manusia
yang berpikir dan bergerak mencapai kemajuan, semakin meningkatnya pemahaman
kita tentang ilmu pengetahuan, tentang teknik-teknik baru, atau dalam konteks
perilaku misalnya, tentang dampak dan akibat sosial-psikologis, akan menyebabkan
pergeseran dalam prioritas-prioritas kita, khususnya dalam memilih cara untuk
bertindak dan berperilaku.

Mendidik seorang anak yang nakal, bisa dilakukan (dan dibenarkan) dengan dipukul
pantatnya, tetapi dalam pemahaman yang lebih maju, pengetahuan menawarkan kepada
kita bahwa ada cara-cara yang lebih baik, tidak berdampak buruk dan akhirnya
lebih maksimal dalam pencapaian hasil yang diinginkan.

Dalam hal keberagamaan dan pelaksanaan syariat, memprioritaskan kebaikan,
cara-cara yang baik, pada masa kini sudah jauh lebih dimungkinkan dengan
tambahan pengetahuan yang lebih luas. Kita tidak harus mengorbakan syariat atau
hukum-hukum agama, tetapi kita bisa memperjuangkannya dengan cara yang berbeda
dengan apa yang dilakukan pendahulu kita. Karena kondisi dan situasi juga telah
jauh berbeda. Pengetahuan telah demikian maju dan menawarkan begitu banyak tools
(instrumen) yang dapat kita gunakan untuk menjalankan syariat tanpa melalui
cara-cara yang negatif.

* * *

Sebagai sebuah kesimpulan, ketika kita bertanya,"Berapa jarak kita dengan
Tuhan?", saya kira ukuran yang paling nyata akhirnya bicara soal berapa jarak
anda dengan kebaikan.

Sejauh mana seseorang memanifestasikan ajaran dan keyakinan agama anda dalam
bentuk-bentuk perilaku kebaikan, akan menunjukkan sejauh mana kedekatan orang
itu dengan citra Ketuhanan yang dipercayainya.

Memang cara-cara yang baik akan seringkali lebih sulit dibanding cara yang
"tidak baik" tetapi instan-gampang dan cepat. Tapi justru di situlah kualitas
sebagai manusia, sebagai orang yang mengaku "beragama" akan muncul. Pengorbanan
terhadap "agama" terhadap Tuhan dan terhadap keyakinan justru akan terlihat
sejauh mana orang mau berkorban menempuh cara yang sulit untuk memaksimalkan
sejauh-jauhnya citra Kebaikan dalam perilaku beragamanya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.
Semoga anda menjadi pemenang.

Sentaby,
DBaonk, 2008

sumber : http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/228