Senin, 9 Juni 2008 KETIKA masih bekerja sebagai wartawan pemula di medio 1980, seorang redaktur senior mengatakan kepada saya, “Bila perusahaan belum bisa mengirim Anda ke luar negeri, tabunglah uang, paling tidak pergi ke Singapur.” Sang redaktur menjelaskan pentingnya pengalaman mara ke luar negeri, memperkaya wawasan, memberi pengalaman batin.

Di medio 1970-an, di saat libur sekolah ketika masih di SD di Pekanbaru, Riau,
saya pernah menumpang kapal polisi (AIRUD), yang berangkat ke Tanjung Pinang,
Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Karena hanya mengikuti jalur kapal yang
kemudian merapat kembali ke Sungai Siak di Pekanbaru, hanya gedung-gedung
jangkung Singapura saja yang tampak di kejauhan.

Di malam hari tampak kerlap-kerlip lampu di ketinggian gedung. Sosok keramaian
kota yang sibuk seakan membayang di depan mata. Dari mara berlayar itu, saya pun
paham, bila tak ingin mabuk menenggak bir, maka kunyahlah beberapa butir garam.
Sehingga ketika meminum berkaleng-kaleng Tiger Beer, kala itu, kami tidak
mengenal mabuk laut.

Bulak-balik ke Singapura, baru saya alami ketika kemudian bekerja di Video Head
Quarter (HVQ), rumah paska prouksi milik Singapura yang high end. Kantor
pusatnya di bilangan Tanjong Pagar, Singapura. Di Jakarta mereka membuka
perwakilan, sebelum menutup usaha ketika peristiwa Mei 1998 – – kini buka
kembali di Darmawangsa Square, Jakarta Selatan.

Namun menikmati kota itu dalam artian santai, baru bisa saya lakukan di
penghujung 1998. Bersama isteri saya mengunjungi museum, melihat kebun binatang,
yang bila dibandingkan dengan Taman Safari Indonesia, di Cisarua, Puncak, hewan
yang ada di sana laksana bumi dan langit. Babi hutan sudah menjadi kekayaan.
Tidak banyak binatang langka.

Sejak itu ada saja momen ke Singapura, paling tidak setahun sekali, bahkan cuma
balik hari untuk sekadar membeli beberapa buku desain dan art ke Page One – –
yang jauh lebih murah bila dibanding membeli di Jakarta.

Berjalan-jalan kaki di negara pulau itu udara terasa bersih. Jalan tidak
berdebu.

Penasaran kepada minuman Singapore Sling, saya menuju Long Bar, di Hotel
Raffles. Bar yang dibangun pada 1920, terinsprasi dari suasana perkebunan melayu
itu. Lantainya memang kayu tua yang masif. Di bagian atap ada kipas pandan oval
yang dijejerkan dalam batangan besi, bergerak kiri kanan otomatis. Angin
semilir.

Di beberapa pojok kacang diletakkan di dalam goni yang bersih. Pengunjung bebas
mengambil, gratis. Bahkan Anda bebas membuang kulit kacang ke lantai. Maka kian
petang, kulit kacang yang berserakan kian meninggi.

Segelas Singapore Sling $ 25, – – setara Rp 150, jika sedolar Singapura Rp 6
ribu. Minuman campuran jus nenas, cherry brandy, grenadine syrup dan gin. Adonan
ini dikocok, lalu dihidangkan di Collins Glass – – gelas tinggi – – dengan
hiasan club soda dan sebuah cherry. Minuman dingin bersoda, asam-manis beraroma
gin.

Sejarah, suasana, dan kenangan, membuat Singapore Sling sebagai minuman
mendunia. Di Long Bar, segelas air putih $ 13, menjadi tempat yang kental
menikmati kenangan sejarah. Kurang pas buat anak gaul.

SINGAPURA bagi kebanyakan orang Indonesia, seakan sudah menjadi kampung halaman.
Warga Riau, Medan, Padang, Aceh, bahkan Sumatera umumnya, agaknya lebih memilih
wisata ke sana. Terlebih mereka yang di kepulauan Riau, lebih kenal Singapura
dari pada Jakarta. Dekat memang.

Tetapi bagi warga Jakarta, terutama kalangan birokrat di pemerintahan, BUMN,
BUMD, anggota DPR, terutama konglomerat, Singapura menjadi tujuan mendepositokan
uang. Khusus bagi konglomerat, Singapura kini merupakan kota menetap,
menghindari jeratan hukum Indonesia. Oleh beberapa warga Singapura, yang pernah
saya temui, Indonesia memang mereka lihat sebelah mata di sudut hukum. Mereka
hampir semua paham, bahwa hukum di Indonesia seakan bisa dibeli.

Anggapan demikian memang sacara purna ada. Lihat saja keberadaan Syamsul
Nursalim, bos kelompok usaha Gajah Tunggal itu. Dia memiliki gedung jangkung di
bilangan Orchad Road, Singapura. Ia memiliki rumah di kawasan mewah, menaiki
Roll Royce ke liling Singapura. Urusan hukumnya di negeri kelahirannya ini,
seakan wassalam.

Ketika menyelesaikan urusan restrukturisasi Bank BDNI, milik Syamsul Nursalim,
selain terindikasi “memainkan” bantuan BLBI, pabrik ban yang diserahkan ke BPPN,
hanya seakan simbol fisik semata. Pasar ban produksi Gajah Tunggal, baik lokal
(karena jaringan distribusi yang dibangun sejak lama di antara kerabat saja),
terutama ke global market sepenuhnya tetap dalam genggaman Syamsul, tidak pernah
lepas. Pabrik boleh dimiliki pemerintah.

Singapura sekaligus tempat investasi orang Indonesia di bidang properti.
Sepertiga properti Singapura milik orang Indonesia. Bahkan ada yang
mengindikasikan lebih dari sepertiganya.

Singapura juga tempat orang Indonesia berpesta pora. Termasuk tempat mengadakan
pesta pernikahan mewah. Lihat tulisan saya di:
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=6
Tulisan bertajuk Pesta Raja Hutan.

Sudah sejak lama orang Singapura ibarat menembak di atas kuda, menjadikan
Indonesia sumbernya sumber bagi komoditi perdagangan. Mereka mengibarkan bendera
trading ke luar negeri, lalu menjual kecap memiliki jaringan produksi, bahan
baku di Indonesia.

Sebaliknya hampir seluruh kebutuhan barang modal yang diimpor dari luar negeri,
melalui jalur dan berbagai koneksi, diageni oleh orang Singapura. Hanya dengan
urusan menelepon, mereka mendapat fee keagenan.

Singapura pula yang selalu meng-uarkan ke market global, jika ingin berbisnis
dengan Indonesia, haruslah melalui mereka, bila tidak pelanggan akan tertipu
kualitas, tertipu waktu pengiriman. Komitmen kejujuran, seakan-akan hanya milik
orang Singapura. Orang Indonesia semuanya seakan tidak tidak becus. Begitulah
kampanye tidak langsung Singapura.

Di Singapura pula hampir semua kantor keuangan dan perbankan dunia ada.
Akumulasi modal yang menimbun di sana, membuat kekuatan kapital menumpuk dan
mampu memainkan pasar modal Indonesia.

KOMPAS, Minggu 8 Juni 2008, halaman 15 pojok kanan atas menyebutkan Qatar
Telecom (Qtel) tanggal 6 Juni 2008 telah membeli seluruh saham Singapore
Technologies Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia) sebesar 40,8 persen di PT Indosat
Tbk senilai USD 1,8 miliar (Rp 16,5 triliun) dan rencananya, transaksi
pengambilalihan saham ini akan rampung pada 26 Juni 2008.

Deputy Chairman Qtel, Sheikh Mohammed bin Suhaim Al Thani, mengungkapkan Qtel
akan berinvestasi secara signifikan di Indosat untuk mendukung pertumbuhan
perusahaan, karena yakin Indonesia dengan jumlah penduduk yang amat besar adalah
pasar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi untuk industri telekomunikasi.

Qtel adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Timur Tengah dengan jaringan
yang tersebar di Asia Pasifik, Amerika dan Eropa dan memiliki 44 juta konsumen
di 16 negara.

Penjualan Saham ST Telemedia di Indosat merupakan akibat dari Putusan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada 19 November 2007 yang menyatakan bahwa
kelompok usaha Temasek telah melakukan persaingan usaha tidak sehat karena
memiliki saham secara tidak langsung di PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel)
dan PT Indosat Tbk (Indosat).

Temasek, melalui anak usahanya Singtel memiliki saham Telkomsel sebesar 35%,
sedangkan STT memiliki saham Indosat sebanyak 40,8% melalui Indonesia
Communication Limited (ICL), dalam struktur STT ICL dimiliki oleh Asia Mobile
Holding yang sahamnya 75% milik Temasek dan 25% milik Qtel.

Temasek tidak terima atas keputusan KPPU dan mengajukan banding ke Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat. Pada 9 Mei 2008, Majelis hakim pengadilan Jakarta Pusat
malah menguatkan putusan KPPU.

Selanjutnya Temasek mengajukan banding ke Mahkamah Agung (MA) pada 22 Mei 2008,
namun sebelum ada keputusan dari MA, saham Temasek di Indosat dijual kepada
Qtel. Hal ini cukup mengejutkan karena sebelumnya Temasek menyatakan tidak akan
menjual sahamnya di Indosat meski sudah diputuskan bersalah oleh KPPU.

Temasek masuk ke Indosat melalui ST Telemedia, anak perusahaannya, dengan
membeli 41,94 persen saham indosat pada 15 Desember 2002 dengan nilai Rp 5,6
triliun. Bandingkan kini berapa untung yang didapat Temasek, Singapura? Hanya
dari satu bisnis saja?

Apakah dengan langkah menjual saham di Indosat, urusan pelanggaran hukum
kelompok Temasek itu juga akan berakhir? Bisa jadi, toh, sebagaimana paparan
saya di atas, sudah melegenda pemahaman orang Singapura, bahwa hukum di
Indonesia, hanya berkorelasi saja dengan uang, uang dan uang. Tiada lain.

SUDAH sejak lama saya memiliki kenalan, bahkan kawan orang Singapura. Dari
perkenalan dan pertemanan itu, saya mengindikasikan, bahwa insan Singapura
adalah makhluk yang cuma mengenal bisnis, yang cuma mengenal untung. Hampir tak
ada kata gratis di hati mereka.

Di kancah pertemanan yang demikian, kata membangun kesejahteraan sosial, belum
pernah saya dengar dan baca di kamus mereka.

Sehingga, bila kerjasama untuk memulangkan kalangan pengemplang BLBI di negeri
Singa itu hingga kini tak jelas junterungan, itu juga tak lain karena
kepentingan miliaran dolar uang orang Indonesia yang harus diamankan di
Singapura. Lagi-lagi uang.

Di Singapura kelompok usaha Bakrie misalnya memarkir 3 buah pesawat jet pribadi
– – mungkin kini bertambah. Pesawat pribadi berjudul Atira – – yang pernah
dinaiki Hamid Awaludin dalam urusan nego damai Aceh – – milik Jusuf Kalla, juga
mangkal di Singapura.

Dengan ragam penguasa yang kita miliki di Indonesia kini, yang semata-mata juga
menambunkan kapitalnya masing-masing, penjualan kembali saham Indosat bagaikan
mengocok minuman Singapore Sling. Yang akan menikmati manis sodanya berupa
komisinya minimal 1% saja, dipastikan penguasa yang itu ke itu juga.

Toh, sebagaimana disampaikan oleh Dradjad Wibowo, dalam sebuah diskusi rencana
divestasi PT Krakatau Steel,dua pekan silam di Hotel Nikko, Jakarta Pusat,
“Success Fee itu berkisar satu sampai dua setengah persen. Dan itu normal dalam
transaksi perdagangan global.”

Jadi, Anda jangan heran, bila akan ada yang menikmati “Indosat Sling”, berupa
success fee penjualan sahamnya.

Rakyat kebanyakan yang kini kian lunglai dengan mahalnya beragam kebutuhan
hidup, cukuplah jadi penonton saja. Toh Indosat Sling, saya jamin tidak akan
pernah mengalir dalam bentuk bantuan kaleng susu anak-anak kalangan marjinal
yang gizinya kini mengkuatirkan.

Indosat Sling tidak akan pernah mengalir dalam bentuk venture capital
menumbuhkan usaha pengembang konten dan aplikasi Indonesia, yang sangat sulit
mencari modal kapital di negeri ini.

Indosat Sling juga hanya akan memberi kedudukan kepada pihak-pihak yang pro
kepentingan pereongan pejabat yang ada di negeri ini. Kendati Indosat adalah
BUMN, tetapi karena Indosat Sling adalah kepentingan, maka dia laksana
perusahaan milik keluarga saja.

Rakyat kebanyakan cukup jadi penonton saja. Kendati Indosat perusahaan terbuka,
paling top kalangan pasar modal saja yang menerima laporan ini dan itunya.
Itupun hanya tinggal diendorse saja. Sering pula komisaris independen yang ada
di BUMN, hanyalah sebuah simbol semata, yang umumnya juga tidak memihak rakyat
kebanyakan. Toh mereka semua sudah manjadi bagian "Indosat Sling".

KARENANYA sebagai solusi, saya hanya bisa menyarankan, pilihlah pemimpin ke
depan yang benar-benar memiliki kamus berpihak kepada kesejahteraan rakyat.
Termasuk memilih pemimpin yang berani mendesak Raja Thailand dan pemerintahnya,
untuk terus mengupayakan pembangunan Terusan Kra.

Dengan dibangunnya terusan itu, jalur pelabuhan utama dunia bukan lagi berkiblat
ke Singapura. Bitung di Sulawesi Utara akan mengganti Singapura.

Bila perlu, saya akan menghimbau pemerintah yang baru nanti, tentu jika
pemerintah yang memang sudah berganti, bukan sebatas ganti baju, BUMN Indonesia
layak menjadi kontraktor dan ikut membangunan terusan yang monumental dan
mengubah sejarah dunia itu.

Nah bila itu yang terjadi, pemerintah Singapura baru akan menyodorkan minuman
Singapore Sling, bahkan mengantarkannya ke tempat tidur Anda, merayu-rayu untuk
membatalkan membangun Terusan Kra.

Tapi sayang di saat rayuan itu datang minuman Indonesia Sling, sudah jauh lebih
enak, kemudian sudah lebih mendunia.

Indonesia Sling benar-benar dari bahan alami, bukan gin, bukan sekadar grenadyne
syrup. Buah-buah tropis yang eksotik sudah tumbuh terbentang luas, didukung bank
lokal, bukan bank kelompok Temasek – – yang dari sananya memang cuma berbisnis
uang, untung, untung dan untung. Itulah mimpi saya, yang bukan sebatas Singapore
Sling dan Indosat Sling.

Iwan Piliang, presstalk.info