Tag

Senin 09 JUNI 2008 Diatas memang sengaja dikutip persis kalimat yang disampaikan oleh Benny G Setiono, dalam 'acceptance speech'- nya dala m bahasa Inggris, ketika menerima Wertheim Award 2008 dari Ketua Wertheim Faoundation, Dr. CJG Holtzappel, pada tanggal 04 Juni 2008, di zaal besar Universiteit Van Amsterdam, Roeterstraat 15, Amsterdam.
Buku hasil studi dan riset Benny berjudul 'TIONGHOA Dalam PUSARAN
POLITIK' telah memperoleh penghargaan tinggi dari Wertheim Foundation,
dan melalui selekasi yang dilakukan oleh sebuah komisi internasional,
kepada Benny disampaikan Wertheim Award 2008, sebagai bukti
kepeduliannya terhadap masalah etnis Tionghoa di Indoneisa. Dan bahwa
dengan bukunya itu Benny telah memberikan sumbangan penting pada
perjuangan untuk menyatakan pendapat dengan bebas dan
mempublikasikannya, serta terhadap usaha besar emansipasi bangsa Indonesia.

Yang menarik dari yang disampaikan Benny dalam 'acceptance speech'nya
ialah, bahwa kebulatan hatinya untuk sepenuh-penuh hatinya mencurahkan
tenaga dan fikiran terhadap usaha penyelesaian 'Masalah Tinghoa
Indonesia' secara tuntas, ialah sesudah ia menyaksikan 'Kerusuhan 13-14
Mei 1998 di Jakarta'. Kerusuhan tsb telah mengakibatkan ribuan rumah,
toko-toko, mall, bank, bengkel, mobil dan sepeda motor, ditambah dengan
lebih dari 1000 orang dibakar hidup-hidup ditambah dengan lebih dari 100
perempuan Indonesia-Tionghoa diperkosa, sesudah itulah ia menyadari dan
berketetapan untuk berbuat sesuatu, agar insiden tragis ini yang terus
menerus saja menimpa orang Indonesia-Tionghoa tidak akan terjadi lagi.
Pendek kata, 'Masalah-masalah Indonesia Tionghoa Indonesia harus distop
samasekali.

Tulis Benny selanjutnya: Dengan terulangnya insiden-insiden yang melibat
orang-orang Indonesia Tionghoa sebagai korban, saya menyadari bahwa
'Masalah Tionghoa Indonesia' mengandung latar belakang sejarah; itu
dimulai dengan Era Kolonial Belanda terus hingga mencapai puncaknya
selama periode REzim Baru Suharto yang Otoriter. Dengan demikian masalah
Tionghoa Indonesia adalah inheren dengan perjalanan nasion kita. Saya
mengerti bahwa masalah etnik Tionghoa Indonesia tidak bisa dipecahkan
oleh etnik Tionghoa Indonesia saja, sederhana saja, karena etnis
Tionghoa Indonesia merupakan bagian yang integral dari Indonesia sebagai
suatu nasion.

Lanjut Benny: Lalu saya tiba pada kesimpulan bahwa saya harus melakukan
dua hal:

Yang pertama yang saya harus lakukan ialah membentuk sebuah organisasi
untuk meraih sebanyak mungkin orang-orang Indonesia-Tionghoa, untuk
diintegrasikan ke dalam mainstream (arus pokok) Nasion Indnesia, tanpa
melupakan identitas kami sebagai etnik Tinghoa. Sebaliknya kami harus
bekerja keras bahu membahu membangun Nasion Indonesia yang demokratis,
bebas dari setiap bentuk diskriminasi dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme. Demikian Benny G Setiono.

Untuk lengkapnya dibawah ini dimuat diterjemahan bebas seluruh
'acceptance speech' Benny G Setiono, pada tanggal 04 Juni di Amsterdam sbb:

Benny G Setiono:

Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya,

Selamat Malam,

Izinkan saya menyatakan rasa terima kasih mendalam kepada para anggota
Pengurus Wertheim Foundation yang telah memberikan saya Wertheim Award
sebagai tanda apresiasi terhadap buku 'Tionghoa Dalam Pusaran Politik'.
Dalam tahun 2004 saya samasekali kaget menerima berita bahwa saya
dinominasi untuk Wertheim Award. Lalu saya bertanya pada diri saya,
apakah benar berita ini?

Lalu sesudah menerima sepucuk surat resmi dari Ibrahim Isa, sebagai
sekretaris Wertheim Foundation, saya sadari bahwa berita itu benar
adanya dan bahwa hal itu bukan suatu joke. Saya lalu bertanya pada diri
saya apakah saya patut menerima ini.

Dengan jalannya waktu, saya mulai lupa tentang nominasi itu, tetapi
kemudian saya dengar bahwa Wertheim Award 2005 diberikan kepada Goenawan
Mohamad dan Joesoef Isak. Dan saya katakan pada diri saya, yah, ini
keputusan tepat atas dasar kegiatan mereka, dua tokoh itu benar-benar
pantas memperolehnya.

Pada akhir 2007 dalam perjalanan saya ke Jawa Tengah, saya menerima
tilpun dari Ketua Elkasa, Gilbert Wiryadinata penerbit buku ini, ia
menyampaikan ucapan selamat saya telah dipilih untuk menerima Wertheim
Award 2008. Mula-mula, saya kira Gilbert guyon saja, tetapi berita itu
segera diikuti dengan sepucuk email dari Ibrahim Isa yang menkonfermasi
berita tsb tambah lagi surat resmi yang disampaikan oleh Jaap Erkelens.
Saya kira saya tidak bermimpi disiang bolong dan ini merupakan sesuatu
yang samasekali diluar dugaan saya. Jadi diperlukan beberapa saat untuk
benar-benar percaya berita seperti ini. Saya benar-benar gembira sekali
mengenai award itu, tetapi saya terus berulang-ulang bertanya pada diri
sendiri apakah saya benar-benar pantas menerima award ini?

Saya tanyakan ini, sederhana saja, karena buku saya itu ditulis bukan
dengan tujuan untuk memenangkan sebuah award.

Sesudah terjadinya Kerusuhan 13-14 Mei 1998 yang telah menghancurkan
ribuan rumah, toko-toko, mall, bank-bank, bengkel-bengkel, mobil dan
sepeda-motor, ditambah dengan lebih dari 1000 orang dibakar hidup-hidup
dan tambahkan lagi lebih dari 100 perempuan Indonesia Tinghoa yang
diperkosa, saya menyadari sedalam-dalamnya dan berketetapan hati untuk
berbuat sesuatu sehingga insiden-insiden tragis ini yang terus saja
menimpa orang-orang Tionghoa Indonesia, tidak akan terulang lagi.
Pendeknya 'Masalah Tionghoa Indonesia' harus distop samasekali.
Kerusuhan 13-14 ei 1998 kemudian segera diikuti dengan mundurnya
Presiden Suharto karena tuntutan oleh rakyat Indonesia dan bahwa Rezim
Baru itu kemudian selesailah, dan kemudian diganti dengan era reformasi.

Dengan terjadinya insiden-insiden tsb yang melibatkan Tionghoa Indonesia
sebagai korbannya, saya menyadari bahwa Masalah Tionghoa Indonesia punya
later belakang sejarah; yang dimulai dengan Era Kolonial Belanda terus
sampai mencapai puncaknya pada periode Pemerintah Otoriter Rezim Baru
Suharto. Demikianlah masalah Tionghoa Indonesia adalah inheren dengan
perjalanan bangsa kita. Saya fahami bahwa Masalah Tionghoa Indonesia
tidak dapat dipecahkan sendiri saja oleh etnik Tionghoa Indonesia,
sederhana saja, karena etnik Tionghoa Indonesia merupakan bagian
integral dari Indonesia sebagai suatu nasion. Lalu saya mencapai
kesimpulan bahwa saya harus melakukan dua hal berikut ini.

Yang pertama yang saya harus lakukan ialah membentuk sebuah organisasi
untuk meraih sebanyak mungkin orang-orang Indonesia-Tionghoa, untuk
diintegrasikan ke dalam mainstream (arus pokok) Nasion Indonesia, tanpa
melupakan identitas kami sebagai etnik Tinghoa. Sebaliknya kami harus
bekerja keras bahu-membahu membangun Nasion Indonesia yang demokratis,
bebas dari setiap bentuk diskriminasi dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme. Membangun Indonesia yang modern, pluralistik dan dengan
warganegara yang berkebudayaan tinggi sehingga kita dapat bersaing
dengan negeri-negeri modern lainnya di dunia. Sebelum periode otoriter
Suharto, ada organisasi yang bernama BAPERKI dipimpin oleh Siauw Giok
Tjhan, Go Gien Tjwan dan lainnhya. Mereka berjuang untuk menghapuskan
diskriminasi, tetapi mereka kemudian dituduh terlibat dalam gerakan
komunis (G30S) tanpa bukti apapun, maka pemerintah melarang organisasi
tsb. Belajar dari pengalaman dan didasarkan pada syarat kondisi dan
situasi dewasa ini, pada tanggal 10 April 1999, kami mendeklarasikan
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI).

Kedua, saya berketetapan hati menulis sebuah buku mengenai peranan etnik
Tionghoa dalam sejarah Indonesia, yang topiknya selalu disembunyikan
dari publik oleh Pemerintah teristimewa selama Pemerintah Rezim Baru
Suharto. Dan selama khusus peiode ini dibangun suatu imago seakan-akan
etnik Tionghoa itu semata-mata merupakan parasit ekonomi tanpa sumbangan
apa-apa bagi nasion. Cerita sejarah tersembunyi ini telah menimbulkan
imago merusak terhadap orang-orang Indonesia Tionghoa. Untuk mengikis
imago yang merusak ini dari masyarakat dan dengan bantuan moral dari
famili saya, teman-teman saya di Elkasa, dan dengan terima kasih khusus
kepada Daniel Lev, akhirnya saya luncurkan buku 'TIONGHOA DALAM PUSARAN
POLITIK' , Catatan penting yang harus ditambahkan ialah bahwa dengan
bantuan sahabat-sahabat itu kami mendirikan Lembaga Kajian Masalah
Kebangsaan (ELKASA), penerbit buku ini.

Merupakan suatu pengalaman yang di luar dugaan bahwa 'Tionghoa Dalam
Pusaran Politik' telah menerima kehormatan dan award dari Wertheim
Foundation di Nederland. Untuk itu, mewakili diri saya dan keluarga
saya, sahabat-sahabat saya dari Elkassa dan etnik Tionghoa di Indonesia,
saya sampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamya kepada Pengurus
Wertheim Foundation.

Kepada semua orang yang hadir di ruangan ini dan yang bersamasama
menikmati saat-saat indah ini, saya nyatakan terima kasih atas dukungan
Anda.

Terima kasih!

Amsterdam, 06 Juni 2008.