SETIAP pekan, pada setiap Sabtu, di lingkungan sebuah Gereja, di bilangan Karet Belakang, Kelurahan Karet Kuningan, Jakarta Selatan itu, selalu ada dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam, yang memberikan pelayanan kesehatan kepada umum. Dengan membayar Rp 10 ribu, pasien sudah mendapatkan pemeriksaan dan obat. Sebuah pelayanan kesehatan diberikan dokter tanpa membedakan status sosial ekonomi, ras, agama. Pelayanan macam di rumah sakit besar.Sabtu, 7 Juni 2008

Saya pernah memperhatikan seorang pasien yang mengalami penyakit pinggang,
terindikasi kencing batu di kawasan itu. Bapak-bapak di usia 60 tahun. Ia
berjalan terpincang-pincang, bersandal jepit lusuh. Ia memperoleh obat mahal.

Bila berobat ke rumah sakit mewah, bapak itu akan merogoh kocek ratusan ribu,
bahkan mungkin jutaan. Sebuah biaya pengobatan yang tak bakal dapat dibayarnya.
Di Karet Belakang itu, semua pasien membayar pukul rata, cukup dengan Rp 10
ribu. Jika pasien harus mengalami operasi, mereka pun dicarikan solusi.

Biaya, mencarikan rujukan rumah sakit yang berkenan menangani, dibicarakan
antara pasien dan dokter. Ada dialok. Ada harap.

Di situasi terkadang berharap saja sudah seakan sulit bagi masyarakat marjinal,
pengalaman di Karet Balakang itu memang mencerahkan. Banyak masyarakat yang
berobat, bukan saja umat nasrani. Belakangan saya perhatikan mereka yang muslim
menjadi lebih dominan.

Saya tak paham mengapa di tengah kepahitan hidup, terutama yang dirasakan
kalangan marjinal kini, mereka yang menyebut diri cerdik cendikia, kalangan
pembela penganut kepercayaan dan agama, termasuk mereka yang menyerang agama
tertentu, keduanya seakan heboh demam panggung.

Penonton televisi sepekan ini dijejali berita dua kepompok massa yang berseteru.
Hari-hari berita penangkapan mereka, ribut urusan agama. Lebih disayangkan,
liputan media itu dominan urusan umat muslim. Umat yang lebih besar jumlahnya di
negeri ini.

Ada yang menduga bahwa hal ini sebagai pengalihan berita demo kenaikan BBM. Andi
Malarangeng, juru bicara Presiden SBY membantah isu pengalihan topik. Dari
berkaca ke pengalaman di zaman rezim Orde baru, acap kali bantahan terbukti
menyatakan kebalikan premis. Dan rezim yang telah berganti memang belum berpihak
kepada rakyat, bahkan terindikasi kian keji “membunuh” kalangan marjinal.

Aksi demo saling membela dan menghujat, menyakiti sesama kini seakan menggelora.

Saya belum melihat ada laskar ini dan itu, misalnya, melakukan pelayanan
kesehatan, memberikan subsidi makanan sehat dan murah kini, membagi susu-susu
untuk balita kekurangan asupan gizi bagi daerah-daerah di kawasan terpinggirkan
di balik-balik gedung-gedung jangkung di Jakarta? Apalagi untuk daerah terpencil
di penjuru nusantara kini?

Banyak sekali orang-orang terpandang. Banyak sekali mereka penulis ternama.
Banyak sekali wartawan berlomba menulis. Banyak sekali ustad berulama. Banyak
sekali mereka orang berduit yang menambun uang. Banyak sekali mereka abdi
negara. Dari mereka semua itu, mencobalah melirik singgah ke rumah-rumah sakit
kini! Singgah ke kediaman kalangan marjinal.

Anda semua akan mendapat jawab, bahwa “pembunuhan” kalangan marjinal terindikasi
memang terjadi. Lihat tulisan saya Adin Mati Kurang Makan, 4 Juni 2008 :
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=123

SEBALIKNYA, kata “pembunuh” itu hanya akan menjadi cemoohan belaka, bila Anda
menyimak data yang disampaikan oleh Cyrillus Harinowo, penggiat bursa, dosen
ABFI Isntitut, Perbanas, di wartekonomi.com. Ia menyebutkan kini kelas menengah
Indonesia tumbuh. Buktinya dapat dilihat dari mall-mall yang terus tumbuh di
berbagai kota, terutama Jakarta, disesaki kalangan kelas menengah.

Siapa kelas menengah itu? Ini kutipan dari tulisan Cyrillus:

Pada 2007 lalu, pendapatan per kepala penduduk Indonesia mencapai US$1.946.
Jumlah ini jauh melampaui pendapatan per kapita tertinggi Indonesia sebelum
krisis yang bahkan belum mencapai US$1.100. Dan, sebagaimana terjadi di
negara-negara lain, distribusi pendapatan di Indonesia memungkinkan terjadinya
kelas menengah tersebut.

Sekitar 10% dari penduduk Indonesia dewasa ini menerima 30% dari pendapatan
nasional. Ini berarti ada sekitar 22,5 juta penduduk Indonesia yang menerima
pendapatan per kapita hampir US$6.000. Jumlah ini sungguh tidak main-main.
Malaysia, yang jumlah penduduknya sekitar 25 juta orang, pada 2006 lalu menerima
pendapatan per kapita sekitar US$5.450. Artinya, sekitar 22,5 juta penduduk
Indonesia, yang hampir sama dengan jumlah penduduk Malaysia, berpendapatan lebih
besar dari pendapatan per kapita Malaysia tahun 2006. Jumlah ini jelas merupakan
kaum kelas menengah yang paling kuat.

Sementara itu, 10% penduduk berikutnya menerima 15% dari pendapatan nasional.
Ini berarti ada sekitar 22,5 juta penduduk Indonesia yang menerima pendapatan
hampir US$3.000 per kapita. Dengan jumlah ini, berarti ada hampir 50 juta orang
Indonesia yang menerima pendapatan per kapita US$3.000 ke atas. Jika ditambah
10% berikutnya, yang menerima 10% dari pendapatan, maka ada hampir 70 juta
penduduk Indonesia yang pendapatan per kapitanya sekitar US$2.000 atau lebih.
Berbagai lapis tersebut pada akhirnya merupakan lapisan kelas menengah dengan
berbagai gradasinya.

Jumlah penduduk tersebut dalam tiga tahun mendatang akan makin meningkat
kemakmurannya sejalan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sekitar
23 juta penduduk yang merupakan lapisan pertama (naik karena jumlah penduduk
Indonesia juga akan mencapai 230 juta orang pada tahun 2010), akan mengalami
pendapatan per kapita sekitar US$9.000. Sementara itu, sekitar 70 juta penduduk
akan menerima lebih dari US$3.000. Inilah yang akhirnya membentuk diri menjadi
suatu pasar yang sangat kuat bagi berbagai produk yang dihasilkan industri dalam
negeri maupun yang diimpor.

NAH angka-angka itu pula kiranya yang menjadi acuan oleh pemerintah kini untuk
menyebutkan bahwa ekonomi tumbuh. Dan angka-angka itu pulalah kiranya yang
bermain di bursa saham kita – – mengacu pertumbuhan makro ekonomi terus
didengungkan.

Saya tidak akan membantah angka-angka itu. Jika memang demikian keadaannya,
tentu sebuah rahmah.

Rahmat yang harus disyukuri bahwa kian banyak kalangan menengah di Indonesia.
Persoalan pentingnya adalah, bila kalangan menengah itu hidup berbaur dengan
lebih dari separuh penduduk kalangan marjinal, yang buat makan sehari-hari saja
kian sulit. Mereka terindikasi akan bergelimpangan mati secara alami meninggi.
Dan bila pun bisa bertahan hidup, mereka mengalami kekurangan gizi. Pendidikan
anak-anak mereka tak kunjung membaik.

Di lingkungan yang berbaurnya kalangan atas dan bawah yang begitu timpang, ke
depan jelas tidak sehat. Saya selalu menyebutnya laksana berbaurnya hitam dan
putih, menjadi abu-abu. Begitu pulalah hidup. Bagaimana masyarakat kelas
menengah atas bisa nyaman, bila kehidupan bermasyarakat serba keruh. Apakah
mereka bisa hidup di menara gading?

DARI Jaribu.or.id, saya mendapatkan data; di dunia saat ini setiap 5 detik,
seorang anak usia 10 tahun ke bawah mati kelaparan. Lebih dari 2 miliar penduduk
dunia mengalami “kelaparan tersembunyi”, atau disebut juga kekurangan gizi
mikro. Indonesia nomor tiga terbesar penduduknya. Otomatis angka kelaparan
tersembunyinya ranking tiga besar.

Balita 0-6 tahun di Indonesia yang rawan gizi mencapai 1,4 juta. Data lain
menyodorkan tak kurang 5 juta jiwa. Jika data BPS yang dipakai, bahwa 19 juta
penduduk Indonesia miskin, dan Bank Dunia menyebutkan 49 juta miskin, bahkan
dengan kenaikan harga BBM ini membuat lebih dari 70 juta rakyat miskin. Dan
kemiskinan mengakibatkan kalanngan marjinal tak lagi bisa memenuhi gizi
keluarga.

Kekuarangan gizi berpotensi menghilangkan IQ antara 10 hingga 13 point.
Anak-anak dan orang dewasa terhambat perkembangannya secara fisik dan mental,
cacat atau buta, tidak tumbuh sebagaimana mestinya.

KENAIKAN BBM memang telah membuat kalangan marjinal kian terpuruk. Harga-harga
pangan, susu balita melonjak tajam. Kesehatan mahal. Pedagang untuk survive
mengoplos minyak goreng bercampur oli. Penjual gorengan singkong, mencampur
minyak panas dengan plastik agar dagangan segar, renyah, awet.

Berita pemakaian formalin, pengawet makanan lain, menimbun daging busuk,
meneteskan darah segar, menjualnya kembali ke masyarakat, bukan lagi basa basi.

Pedagang bakso menangkap tikus got. Lalu mencampur dengan tetelan daging sapi,
agar berorama sapi, menjual keliling dan di makan kanak-kanak.

Seorang pedagang yang mangkal di SD di Karet Belakang, Karet Kuningan, Jakarta
Selatan, menggoreng tepung kanji bergaram, berpenyedap bumbu masak, mebulatkan
seukuran ibu jari. Anak-anak membeli Rp 500 lima buah bakso goreng kanji. Bisa
Anda hitung apa gizi di situ?

Kini mereka yang ber- IQ kurang, bisa membodohi pemimpin negara, dengan membuat
proposal macam Blue Energy, dan proposal ke-piar-an lain, yang seakan-akan
mengangkat harkat di mata masyarakat.

Bantuan Tunai Langsung (BLT), yang kekeh dilakukan sebagai program yang mulia
oleh pemerintah, tidak membuat keadaan masyarakat marjinal membaik. Keras kepala
penguasa hanya berhenti ibarat menunggu laknatullah.

Toh hasilnya dalam 10-15 tahun ke depan setidaknya 70 juta penduduk (bahkan
lebih, mebcapai separuh penduduk) Indonesia ber IQ jongkok, karena gizinya kian
dol. Ini yang tidak terpikirkan.

Kekuasaan berumur singkat. Sebaliknya umur seseorang tak cuma lima atau sepuluh
tahun. Makanya saya pun paham, banyak sekali sosok orang tua jongkok yang saya
temui, menyesali berbagai keputusan di kala berkuasa dulu, baru setelah di
ambang maut.

Mungkin itu pulalah yang diingini oleh semua yang ada di trias politika kita
kini. Mereka menunggu di saat malaikat maut datang, baru membayang di wajahnya
bahwa keputusannya di masa lalu memang menyengsarakan umat. Sebelum hal itu
datang, mereka semua mengaku pintar-pintar, seakan hanya tahu kelompoknya,
dirinya, bahkan hanya agamanya.

Mereka semua seakan lupa untuk apa mereka terlahirkan ke dunia?

Iwan Piliang, presstalk.info