Jakarta, 7 Juni 2008 Banyak sekali analisa mengapa setelah 10 tahun reformasi kita masih belum juga bangkit! 100 tahun yang lalu kebangkitan nasional telah kita canangkan, tetapi sampai kini kita belum juga bangkit juga!

Dari semua itu sebenarnya penyebab yang mendasari semua keterpurukan di negara tercinta kita ini adalah kita telah kehilangan banyak nilai, saat ini  kita hampir tidak memiliki lagi tata nilai yang dapat mengangkat nama dan harkat bangsa Indonesia, bangsa besar di Asia Negara.

Malahan beberapa rekan kita mengatakan kita malu sebagai bangsa Indonesia.

Suatu negara, seperti halnya  korporat raksasa, perlu dan harus memiliki Misi dan Visi yang jelas.

Dengan adanya misi dan visi yang jelas, sasaran dapat ditetapkan dengan jelas.

Untuk mencapai sasaran, setiap karyawan, di dalam konteks negara adalah rakyat harus memiliki tata nilai yang disepakati bersama antara lain,

   1. Disiplin, artinya kita harus disiplin di dalam menjalankan kegiatan, disiplin dalam waktu, kapan kegiatan dimulai, kapan harus berhenti
   2. Integritas, menjadi dasar agar kita memiliki kredibilitas, artinya orang lain mempercayai kita
   3. Tanggung jawab,  berarti menggunakan sumber daya yang tersedia dengan baik, tanggung jawab berarti kita memberi contoh yang baik kepada orang lain.
   4. Keterbukaan, antara pemimpin dan yang dipimpin, memungkinkan adanya saling percaya
   5. Keberanian, keberanian untuk bertindak, keberanian untuk berubah yang dapat membuka peluang untuk masa depan kita.

Masih banyak lagi nilai-nilai lain yang harus dimiliki bangsa ini, tetapi sayangnya  kelima nilai utama di ataspun belum dijalankan dengan baik oleh para pemimpin kita!

Kalau kita runut sejarah, sesudah tahun 1965 pintu ekonomi Indonesia dibuka selebar-lebarnya dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sayangnya pembangunan yang serba cepat itu tidak diimbangi dengan perubahan kultur sehingga tata nilai masyarakat berubah.

Keberhasilan seseorang dinilai dari kekayaan yang ekivalen dengan uang. Orang statusnya di mata masyarakat akan meningkat apabila dia berhasil secara finansial, tanpa peduli apakah itu dari hasil spekulasi, mendapatkan proyek besar hanya karena koneksi atau berbuat curang, bukan merupakan hasil kerja profesional.

Hanya mereka yang berkesempatan bermain dengan kalangan ataslah yang berhasil menikmati ‘boom’/kekayaan. Sebagian besar rakyat Indonesia hanya mendapatkan sisanya.

Akibatnya ‘wong cilik’ sampai detik ini juga, nasibnya belum terjamah.

Spekulan ingin mendapatkan hasil yang besar secara instan. Pola pemikiran masyarakat berubah, maunya semua serba instan, sampai gelarpun maunya didapat secara instan!

Akibat yang paling akut adalah hilangnya rasa tanggung jawab.

Bagaimana seseorang bisa bertanggung jawab atas tugasnya, kalau ijazahnya saja didapat secara instan?

Jadi tugas negara sekarang ini menjadi berat karena harus mengubah paradigma (cara berfikir) instan menjadi mentalitas yang berorientasi pada kerja keras, integritas yang tinggi, disiplin serta bertanggung jawab.

Kapan kesemrawutan ini bisa kita atasi?

Kita harus tetap optimistis, ibaratnya walaupun kita hanya punya celah mini di akhir lorong yang gelap. Kita lalui lorong yang gelap ini, dimulai dengan disiplin, disiplin dalam waktu, kerja dan keuangan!

Kita mulai dari membangun disiplin dari hal-hal yang kecil, sampai disiplin menjadi tata nilai yang merasuk dalam kalbu setiap insan Indonesia.

Bukankah ada pameo ‘One step is enough for me’!

Kalau kita ikut lari marathon sejauh 42,196 km, yang harus kita fikirkan adalah satu langkah ke depan  bukan garis finish. Itulah makna dari perubahan, mulailah dari yang kecil, apakah itu perubahan dalam Disiplin, Integritas, Tanggung jawab, Keterbukaan atau Keberanian.

Saya undang siapa yang punya ide dahsyat bagaimana mensosialisasi tata nilai di atas?