Rabu, 4 Mei 2008  INGATAN saya melayang ke masa ke kepahitan hidup ketika pernah menetap di Pekanbaru, Riau, di penggalan 1971 -1979. Ingin sesungguhnya membawa kenangan itu ke alam kubur, tetapi ketika seorang kawan mem-forward sebuah artikel di harian Pos Kota, Rabu, 3 Juni 2008, berjudul: Penyapu Jalan Tewas Kelaparan, bayangan pernah memakan singkong dan air putih untuk sekadar bertahan hidup muncul mendadak di benak.
Syahdan, bagi banyak perantau, apalagi dalam usia kanak-kanak, kemandirian hidup
mesti dilalui. Tiada lain, bersekolah dan mencari biaya makan sehari-hari,
menjadi tuntutan.

Saya teringat kala itu, 1974, dengan Rp 5, bisa membeli goreng singkong yang
tidak dipotong – – digoreng utuh – – dengan ukuran cukup besar. Kala itu,
singkong goreng saya nikmati laksana hari ini memakan daging steak di restoran
Angus, di top floor Chase Plaza, Jl. Sudirman, Jakarta Pusat.

Dengan uang Rp 25, saya bertahan tiga hari. Sepuluh rupiah hari pertama, sepuluh
rupiah hari kedua. Lima rupiah hari ketiga.

Di hari ketiga, saya sudah menjadi kacung bola tenis, di lapangan tenis dekat
asrama Brimob, Sukajadi, Pekanbaru. Hal hasil, baru di hari ketiga itu perut
kembali terisi nasi. Dua hari sebelumnya hanya singkong dan air putih saja
menari-nari bersama cacing di perut bergemerincing.

Ada petuah mengatakan, jika ingin merasakan bagaimana pahitnya hidup masyarakat
kebanyakan, maka berlakulah macam kehidupan mereka sehari-hari.

Sehingga ketika membaca berita penyapu jalan yang tewas karena kurang makan,
demi mepertahankan hidup, hanya meminum air putih dan singkong, bukan lagi
sebuah romantisme biasa bagi saya.

Rasa, pengalaman hidup yang pernah berlalu, bukan lagi menjadi sekadar kata yang
terucap.Kenyataan, empirik, yang saya lalui itulah kiranya menjadi salah satu
angle tajuk-tajuk ini.

Di malam sebelum tewasnya Adin – – penyapu jalan itu – – isterinya tak sempat
lagi memintakan singkong ke tetangga. Sebelum berangkat kerja, Adin hanya
meminum air putih. Adin berujar kepada isterinya perutnya sedikit sakit. Ia
melangkah bekerja menyapu jalan.

Di dalam tugas Adin berpulang.

Ajal memang di tangan Yang Maha Kuasa.

Namun di tahun 2008, 35 tahun setelah saya pernah merasakan makan singkong dan
air putih untuk mengganjal perut itu, kini pun terjadi pada orang lain, di kota
yang sejuk Bogor, Jabotabek, area yang konon lebih dari 60% uang beredar, saya
menjadi betul-betul menjadi tidak habis pikir: Mengapa hal ini bisa terjadi?
Selera saya seakan patah ketika duduk bersama keluarga di meja makan, yang
menghidangkan makanan paling tidak mengandung empat sehat.

Saya kutipkan untuk Anda, berita di Pos Kota, Rabu, 4 Juni 2008

Penyapu Jalan Tewas Kelaparan

BOGOR (Pos Kota) – Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring
kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang
penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6)
siang.

Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya
makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.

Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat jasad
sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.

Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga
kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang
hanya Rp750 ribu.

Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan
dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. "Biaya hidup dengan tiga anak
sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan," kata Neglasari
saat berada di ruang forensik rumah sakit.

Cuma Minum Air Putih

Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini
mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka
makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk
semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.

"Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya,
sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan
sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya
minta dari warga," paparnya.

Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak
makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga
anaknya yang mengaku sedang lapar.

Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian
perutnya.

"Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam," ujar
sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta singkong ke
tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam. (yopi/ok)

SUARA rakyat suara Tuhan. Rakyat giat bekerja, walaupun keadaan memang tidak
berpihak di tanah bernama Indonesia kini, tidak pula harus mengecilkan harap.
Semoga surganya Tuhan menerima jasad Adin. Amin!

SESUAI janji siang ini saya bertemu dengan Zahara, sosok kakak seorang kawan
yang puterinya baru saja menyelesaikan sekolah S2 di Jerman.

Kami akan mengunjungi Ary Suta Centre di jam makan siang Rabu ini. Sang puteri,
yang juga pernah menjadi atlit menembak nasional, saya sarankan untuk membuat
saja sebuah program televisi bertajuk German Talk, talk show di televisi
berbahasa Jerman – – dapat menampung komunitas Jerman yang ada di Indonesia.
Dukungan sponsor bisa didapat dari beberapa perusahaan Jerman yang ada di
indonesia.

Zahara mengatakan bahwa sponsor awal mungkin bisa ia mintakan kepada I Gde Ary
Suta, mantan kepala Badan Penyehatan Perbankan (BPPN) itu. Ary Suta kini memang
memiliki lembaga think-thank, Ary Suta Centre, dan siang itu rupanya ada acara
mengundang Wiranto, dari Partai Hati Nurani Rakyat (HANURA), tampil sebagai
pembicara tunggal dalam diskusi rutin bulanan lembaga itu.

Lokasi kantor Ary Suta Center di bilangan Prapanca III, Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Ia menempati sebuah rumah berukuran besar, khas Kebayoran. Begitu
memasuki halaman, dua buah mobil VW Caravelle Transporter diparkir. Satu
berwarna putih dan sebuah lagi hitam. Yang putih di bawah tenda putih, di
sampingnya ada meja yang ditempati bagian promosi kendaraan itu. Begitu masuk,
sosok pria muda memberikan kartu nama, dan menawarkan untuk test drive mobil
berbahan bakar diesel itu.

Menurut saya inilah cara memasarkan mobil yang unik. Untuk kalangan terbatas, di
event-event terbatas berkelas.

Di sampaing rumah sudah tersedia tenda yang menaungi makanan. Ada nasi Bali,
lontong cap go meh, ada es puter. Acara makan siang dilanjutkan dengan
presentasi Wiranto.

Begitu masuk dua buah lukisan di dinding menyambut. Sebuah lukisan di kanan
menampilkan mobil jeep dalam susana off road. Lukisan di kiri, juga susana off
road, tapi mobil yang di kanvas itu: VW Safari berwarna kaki di tengah padang
pasir dan lumpur.

Di bagian depan tempat Wiranto bicara. Latarnya lukisan besar panorama yang
lain, seakan bertutur alam yang tandus, sehingga pigura lukisan pun beraksen
tua, bintik-bintik, coklat kusam, bolong-bolong, memberikan kesan tersendiri.

Di antara hadirin, tampak Christianto Wibisono, sosok pemilik Pusat Data Bisnis,
yang usai kerusuhan Mei 1998 menetap di Amerika Serikat. Ada kalangan pengusaha,
kebanyakan pelaku bursa. Ada anggota DPR asal Bali, seperti Gde Sumarjaya
Linggih, anggota Komisi IV. Juga ada Syirikitsyah, tokoh pers dari Surabaya.
Marissa Haque, artis yang menatan anggota DPR itu tampak datang terlambat.

Tidak ada hal baru yang dipaparkan Wiranto. Ia bertutur tentang peran-peran
hebatnya masa lalu. Juga soal alasannya mencalonkan diri menjadi presiden ke
depan. Sempat pula terucap bahwa yang menyarankan SBY menjadi Menteri
Pertambangan dan Energi ke Gus Dur dulunya Wiranto.

Tanya jawab dibuka. Sebagaimana lazim di pertemuan macam begini, orang sering
syur bicara tentang “kehebatannya” di depan forum, bukan bertanya.

Bahkan seorang Christianto Wibisono pun seakan demam panggung ketika diberi
kesempatan bertanya, malah menyerocos untuk membuka mata. “Dulu IMF menolong
Asia di saat krisis, kini IMF justeru mengalami masalah, mengurangi tenaga
kerja, apa yang kita lakukan?” tutur Christianto. Ia mengingatkan bahwa ke depan
tidak bisa lagi menghujat negara asing, lembaga asing. “Kita harus membuka mata
lebar-lebar di tananan global,” ujarnya seakan menasehati.

Kejadian kecil mengganggu suasana yang tak sampai di hadiri 100 orang peserta
itu. Hand Phone saya kendati sudah dibuat silent, eh, ternyata belum benar-benar
diam. Begitu ada telepon masuk, suaranya belum berubah dari ring tone di lagu
yang di volume paling kencang pula. Hal itu mendapat tanggapan sindiran oleh
Wiranto. Tidak enak betul rasanya saya. Tapi mau apa. Keringat sempat mengalir
di wajah saya.

Marissa Haque yang duduk dua kursi di kiri saya diberi kesempatan bertanya.
Seperti biasa ia justeru tak bertanya. Marissa bicara tentang teori sekolahnya,
yang sedang mengambil S3 di IPB, Bogor.

Ingin pula saya bertanya, mengapa Wiranto tidak memberi kesempatan atau mencari
sosok muda yang sesungguhnya banyak dan layak jadi pemimpin di Indonesia kini?

Sejujurnya dari paparan Wiranto, tampak sekali segalanya sudah masa lalu. Tiga
sosok mantan TNI akan beradu merebut kursi Presiden – – Soetiyoso, Prabowo,
selain yang ke empat incumbent SBY – – kesemuanya saya asumsikan sulit menjadi
pemenang.

Sosok berjilbab di belakang kiri saya, Syirikitsyah tampil berdiri. Mengawali
pertanyaannya, tak dipungkiri adanya punjiannya terhadap Wiranto. Syirikit
adalah nama yang selalu saya baca di lingkup media. Postingnya sering saya baca
di milis di internet. Ketika saya memberikan kartu nama kepadanya, ia
terperanjat.

“Oh ini toh …Iwan. Saya jangan ditulis ya.”

Syirikit ada memberi pengantar di buku yang diterbitkan oleh Ary Suta Centre.

Acara usai.

Bersama Zahara, saya menunggu untuk bisa bertemu Ary Suta. Wiranto datang
menyalami peserta ke arah belakang, ke arah saya. Entah marah atau tidak, yang
jelas orang lain disalami, saya berusaha mengulurkan tangan, seakan dilewatkan.
Jika perkara hand phone berbunyi mengganjal hati Wiranto, wah betapa berdosa
saya.

Untung pula saya tak jadi bertanya di forum itu, dan memang pertanyaan yang
sedianya ingin saya tanyakan, tiada seorang pun yang menanyakan.

Obrolan justeru kemudian hangat bersama Sri Rachma Chandrawati, Ketua Umum
Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT), yang juga Ketua Umum Perempuan
Hanura. Agaknya karena ada Zahara di samping saya. Tak lama kami sambil berdiri
berbicara dengan Ary Suta. Ia sibuk sekali. Ary Suta mengantarkan ke pintu
tamu-tamu lain yang ingin pulang. Kami pun berlalu.

Rupanya hand phone saya yang berbunyi siang di diskusi itu, memang sesuatu yang
urgent. Setelah acara itu, kawan saya mengajak bertemu di Cilandak Town Square
(Citos). Rupanya siang itu telah terjadi bacok-membacok di Crew & Co, Citos,
Jakarta Selatan. Salah seorang yang kena bacok membuncah darah. Susana Citos
tegang. Kawan saya ingin bicara langsung, mengingatkan jangan ke Citos.

Di media online saya membaca, bahwa ada dua kubu kelompok Ambon, yang umumnya
bekerja sebagai debt collector berseteru. Amat disayangkan sebuah kawasan mall,
senjata macam samurai bisa lolos dibawa pengunjung. Perkelahian mengakibatkan
nyawa meradang.

Ada nyawa sekarat memperebutkan uang, ada mantan pejabat yang jor-joran
membelanjakan uang beriklan berseminar, ada rakyat mati kelaparan tak punya
uang.

Keyakinan saya, Indonesia ke depan memang harus berubah, dan perubahan itu
hampir tak mungkin lagi ditumpukan kepada mereka yang hidup di masa lalu.
Termasuk dari sosok-sosok yang menjual mimpi masa lalu, walaupun dengan
ketambunan uang, segalanya bisa mereka beli, termasuk nyawa seseorang. Faktanya
kini waktu sudah berlalu. Keinginan terhadap Indonesia baru, memerlukan sosok
dan nafas baru.

Hari ini dan ke depan, Indonesia perlu perubahan mendasar, merubah haluan
keberpihakannya kepada warga, kepada rakyat kebanyakan. Saya berdoa takzim agar
tidak ada lagi berita penduduk mati kurang makan. Adin yang mati tidak makan.

Iwan Piliang, presstalk.info