Senin, 02 Juni 2008   Mari kita tinjau yang dicuri dan tercuri itu barang apa? Ternyata bukan barang akan tetapi perangkat lunak bidang pendidikan!!

Saya terkejut ketika cucu saya tidak mengikuti acara Keluarga Basar saya, karena ternyata dia ini sedang menyiapkan dirinya  sendiri belajar lebih tekun jauh-jauh hari sebelumnya untuk ujian masuk sebuah SMP. Saya berpikir: kalau Ujian Nasional belum dilaksanakan, cucu saya ini kan sedang belajar di Sekolah Dasar kelas enam, apakah benar kalau dia menempuh test ujian masuk ke sebuah SMP ? Saya masih berpikir dengan pola orang yang tidak / belum memahami pergerakan pola dalam bidang didik-mendidik anak murid, pada masa kini. Saya tanya ke kiri dan kanan, tidak berhasil mendapat informasi lengkap. Baru setelah ibunya, yang adalah anak saya sendiri menerangkan, jelaslah bagi saya duduk soalnya.

Ujian Nasional memang akan diikuti pada waktunya dan untuk menghemat waktu maka SMP yang dituju, diimpikan dan dijadikan favourite-idaman itu, mendahului membuat sebuah test / ujian masuk bagi siswa yang siap dengan kemampuannya. Oleh karena mereka berasal dari SD-SD yang berlainan yang telah

 menyiapkan diri untuk masuk ke sebuah SMP yang diminati oleh banyak anak Sekolah Dasar jauh-jauh hari sebelum menempuh ujian Nasonal yang sesungguhnya. Lalu apa yang menarik dari SMP yang satu ini, sehingga dijadikan ikon, dijadikan pilihan oleh sekian banyak murid dan orang tuanya? Tentuya ada sesuatu yang istimewa.

Seperti mudah kita tengarai pada beberapa tahun dalam masa sepuluh tahun terakhir ini, hampir semua bidang kehidupan, orang merasakan kerinduan untuk menikmati sebasar-besarnya rasa bebas dalam segala segmen kehidupan.

Semua berlomba mecapai sesuatu yang belum pernah dirasakannya selama ini dalam tempo dan periode sebelumnya.

Bebas dan bebas, tanpa terlalu memperdulikan apa sebenarnya bebas itu dalam akal dan lingkup pikiran yang sehat.  Bebas yang baik adalah bebas tetapi bertanggung jawab.

Dalam bidang pendidikan banyak kebebasan yang mungkin agak kebablasan. Mudah dilihat dan diamati, terutama di kota-kota besar bagaimana masyarakat lalu memandang segala sesuatu yang wah, seperti halnya mereka memandang tata cara pendidikan yang datang dari dunia Barat itu mempuyai tingkat dengan memberi nilai yang selalu lebih dari yang kita punyai sendiri. Sebenarnya harus ada pengetahuan cukup bahwa apa yang baik di negara-negara Barat itu belum tentu akan sesuai bagi negara kita, Republik Indonesia. Mudah dilihat dari iklan promosi dan sikap masyarakat pada umumnya yang seringkali mengunggulkan sekolah internasional anu dan itu serta ini, yang seluruh ruangan belajarnya  menggunakan mesin pengontrol udara yang nyaman. Semua muridnya pilihan dan guru-gurunyapun ada yang berkulit putih yang bergelar begini begitu. Pelajaran disampaikan sebagian besar dalam bahasa Inggris. Saya terkejut dan terpesona, karena saya belum pernah menyaksikan kebenarannya secara langsung. Para ibu sudah menggosipkan bahwa uang setelah diterima sebagai murid sekian juta Rupiah, dan uang bulanan sekolahnya sudah sekian juta Rupiah setiap bulan dan kemajuan yang dicapai murid-murid disana juga sudah amat mengagumkan. Sekali lagi saya katakan bahwa saya belum menyaksikan bagaimana yang sesungguhnya, tetapi saya sudah mendengar berkali-kali percakapan para orang tua murid yang mengalaminya. Kadang-kadang di dalam hati saya, saya justru mencurigai seperti berikut: para orang tua ini amat kagum kepada hasil belajar anak mereka karena tidak mengalami pelajaran bahasa Inggris yang memberi kesan sudah menjadi orang pintar. Mungkin ditambah dengan ilmu yang didapat anaknya juga sesuatu yang belum pernah didengar mereka selama ini. Tambah lebih pintar lagi kesannya dan makin kagumlah mereka ini terhadap anaknya.

Maka dengan pasrah mereka akan mempercayai guru-gurunya, berikut sekolah yang mahal dan mewah seperti ini.

Namun demikian halnya, saya menaruh rasa khawatir, entah karena saya belum pernah terlibat dalam masalah itu, atau karena saya memang terbentuk karena mempunyai pandangan tersendiri berdasarkan data yang ada di dalam kepala saya.

Rasa khawatir saya adalah:

1.    Sejauh bagaimana pemeritah kita telah menyetujui materi yang diajarkan disekolah-sekolah"istimewa" seperti itu?

2.    Apakah sekolah seperti itu telah lulus dari semua persyaratan pemerintah yang mengatur bidang pendidikan?

3.    Apakah pemerintah memang sudah membiarkan masalah ini berlalu tanpa pembenahan dan memang membebaskannya dengan cara sesuka-sukanya dan sebebas-bebasnya?

4.    Apakah sekolah tersebut pada dasarnya memang dibangun dan dikelola dengan tujuan komersil semata-mata?

5.    Saya meragukan bahwa produk berupa lulusan murid-murid yang belajar di dalam sekolah-sekolah "istimewa" akan benar berguna bagi Republik Indonesia. Saya juga meragukan bahwa mereka yang belajar di sekolah-sekolah istimewa ini akan sanggup bekerja di dalam lingkungan lapangan kerja yang tersedia di negara Republik Indonesia.

Saya tidak ingin kalau tingkat kekhawatiran saya ini dinilai sebagai sesuatu yang over reacting-bereaksi yang berlebihan. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa tidak semua kebebasan akan selalu membuahkan hasil yang baik, seperti diharapkan rakyat Indonesia. Patut diingatkan dengan berulang-ulang bahwasanya kebebasan tanpa tanggung jawab adalah chaotic-rawan ricuh.

Pemikiran bahwa yang ada dahulu adalah lebih baik dari yang sekarang, adalah tidak benar, mungkin sekali saya setujui. Akan tetapi yang ada dahulu juga tidak boleh dikatakan semuanya jelek, itu pendapat saya pribadi. Nilai-nilai yang baik tentu saja ada baik di jaman dahulu maupun pada jaman sekarang.

Saya sadar bahwa bahasa Inggris itu juga penting dan ilmu dari negara-negara Barat juga banyak yang baik untuk ditiru.

Juga untuk diresapi dan diterapkan di negara kita. Tetapi bukankah lebih baik diusahakan memperbaiki yang ada daripada menerapkan sesuatu yang seluruhnya baru, yang belum tentu bagaimana hasil akhirnya. Saya akan lebih merasa nyaman apabila pengajaran di sekolah-sekolah di Indonesia, tetap dibawah kendali pemerintah kita dalam segala detil cara-cara pengelolaan dan pengaturannya, tetapi DITAMBAH PERBAIKAN YANG SIGNIFIKAN. Apa saja? Ya, hal ini harus disepakati secara menyeluruh, bukan saja oleh Menteri dan para aparatnya yang menangani pendidikan saja. Carilah sistem yang bisa dicapai dengan kata mufakat oleh segala unsur yang tekait, terlibat dan elemen-elemen lain di dalam bidang pendidikan. Hal ini akan memakan waktu dan mungkin memakan biaya, akan tetapi untuk pandangan jangka panjang, tentu akan meghasilkan manfaat yang memuaskan untuk rakyat Indonesia.

Saya sudah melihat bagaimana hasilnya para lulusan dari Luar Negeri bahkan yang telah bertitel PhD, Master segala macam bidang, merasa tidak mampu bekerja di Perusahaan-Perusahaan besar di Jakarta dan daerah-daerah lain, karena tidak mampu mengubah pola pikir yang didapatkannya dari tempat dia dulu pernah belajar dan mengadaptasikan ke tempat dia sekarang bekerja. Mereka gagal, pindah tempat kerja berkali-kali, dan tetap tidak mempunyai rasa aman dengan keadaan sekelilingnya.Tidak mampu menyatukan diri dan beradaptasi. Sehubungan dengan hal inilah, saya ingin memberitaukan bahwa saya mengkhawatirkan para lulusan sekolah "istimewa" ini, mungkin saja akan terisolasi dalam dunia yang lain dari keadaan yang nyata ada di dalam lingkungannya. Bukankah sejak awal mereka sudah di"beri tau" bahwa mereka akan menuntut ilmu di sebuah ligkungan yang istimewa: baik di dalam masalah pembiayaan, di dalam fasilitas yang sengaja diadakan, dan di dalam lingkungan yang juga sengaja diciptakan. Semua itu jelas menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekelilingnya.

Di atas segala yang telah disebutkan di atas, saya juga meragukan apakah "PAKET PELAJARAN" istimewa yang diajarkan di sekolah-sekolah ini akan membuahkan hasil seperti yang selama ini kita dambakan?

Bukankah kita amat mengharapkan mereka akan menjadi generasi pengganti semua aparat, yang sekarang sedang dicaci dan dimaki oleh seluruh lapisan masyarakat pada umumnya, karena menimbulkan kebobrokan dan keterpurukan lain seperti korupsi dan perampokan hak-hak rakyat jelata? Mereka adalah generasi yang akan memenuhi harapan kita untuk menggantikan para pejabat tertentu, yang di dalam salah satu tulisan yang saya baca, telah dipatok dan  diumpamakan tidak lebih dan tidak kurang sebagai pengganti para rezim penjajah asing pada jaman dulu?

Menurut pandangan saya sekolah istimewa, bisa dibolehkan, meskipun tetap harus mempunyai standard tertentu yang diijinkan oleh pemerintah, dan memenuhi kriteria tertentu seperti:

1.    Memerlukan pendidikan khusus karena murid-muridnya  mempunyai sifat yang secara menyeluruh memang istimewa: mereka yang cacat mental, anak-anak yang mempunyai kecerdasan diatas normal dan sebaliknya

2.    Hasil lulusannya memang dipatok mencapai sesuatu yang istimewa: petugas intellijen, ilmu khusus menguasai kemampuan dan kecerdasan istimewa, seperti membaui bau Cengkeh untuk Pabrik Rokok, atau yang menguasai sebagai ahli benang-benang untuk membuat bahan dasar kain

Biasaya sekolah semacam ini tidak dibuka untuk umum dan mungkin hanya berlangsung untuk sementara waktu saja.

Mari kita waspada demi masa depan negara kita dan tidak lengah sepanjang jaman.