Minggu, 01 Juni 2008 Saya pernah mengirim beberapa surat dan di antaranya kepada empat orang Rektor Universitas Negeri beberapa tahun yang lalu, ketika sedang maraknya berita ketika kemadirian pembiayaan pendidikan di Universitas-Universitas di seluruh Indonesia dimaklumatkan oleh pemerintah. Kepada para Rektor tersebut: Universitas Indonesia, Universitas Gajahmada dan Universitas Dipenegoro serta Institute Teknologi Bandung, saya kurang bisa mengingat universitas yang mana lagi yang saya kirimi surat, isi surat-suratnya semuanya menyinggung mengenai perihal:

1. Maraknya universitas Asing yang membuat promosi di seluruh  Indonesia, yang menerangkan betapa beruntungnya untuk belajar di universitas tertentu yang melakukan promosi, baik di Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Semua promosi itu, dikemas dengan amat rapi dan teratur memamerkan produk-produknya.

2. Minat belajar dari para siswa di negara-negara tersebut sendiri mungkin juga dapat kita gugah, karena kita belum pernah berbuat seperti yang mereka perbuat dan sedang melakukannya tersebut di dalam butir 1 di atas

3. Banyak kaum muda yang berasal dari negara-negara maju yang established-mapan justru merasa jenuh untuk meneruskan hidup di negaranya sendiri dan ingin menambah pengalaman lansung dan melakukannya sendiri, meskipun letak tempatnya di negara-negara yang kurang kondisinya kalau dibandingkan dengan negara mereka sendiri yang sudah lama established.

Mereka malah banyak yang mempunyai keinginan terpendam untuk mempelajari budaya negara-negara yang berkembang atau "kurang maju", terutama sekali menaruh perhatian terhadap suatu kebudayaan tertentu. Banyak kita lihat pemuda asing yang telah mendalami kebudayaan kita yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya.

Conto: Seorang pemudi asal Jepang telah menyelidiki secara rinci  kesenian yang kita kenal dengan Gambang Kromong, setelah melakukan riset beberapa lamanya di Indonesia. Begitu telitinya sehingga bahan kayu jenis apa yang membuat gambangnyapun tidak luput dari pengamatan dan disebutkan serta tercantum di dalam hasil risetnya.

Saya telah berkesempatan untuk melihat  dua orang Kanada berkulit putih, memainkan kecapi suling, Suling Pasundan serta kesenian Gamelan Jawa yang lengkap perangkat gamelannya di Gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Toronto, Ontario, Kanada. Para penabuh gamelan ini sebagian besar adalah mereka yang berkulit putih.

4. Adanya sikap tidak puas dengan establishment yang ada dari pihak kaum muda. Di negara-negara maju, sudah agak lama telah mewabah ada banyak anak muda yang keluar dari rumah orang tuanya dan mondok atau menyewa ruangan untuk tinggal di luar lingkungan orang tuanya, meskipun biaya hidupnya akan tetap menjadi tanggungan orang tuanya. Umur mereka ini biasanya ada di sekitar 16 atau 17 tahunan. Yang jelas mereka mencari sesuatu yang baru di luar lingkungan keluarga yang selama ini mereka kenal. Jangan dikira, disamping rasa kecewa para orang tua yang mengalaminya, meskipun mereka tidak setuju dengan tindakan anak-anak mereka itu, mereka mau sukarela atau terpaksa setuju, itu menjadi kurang penting lagi, karena telah banyak terjadi, dan terjadi di mana-mana.  Sepasang orang tua tentu akan berbuat bijak karena memikir dengan cerdik, apabila mereka tidak dibiayai setelah keluar dari lingkungannya, maka mereka dikhawatirkan malah terjun ke tempat yang lebih membahayakan, hanya karena tidak mempunyai biaya hidup.

Isi surat-surat saya tersebut di atas itu sama persis isinya dan saya kirimkan pada waktu yang bersamaan meggunakan Kilat Khusus dari PT Pos Indonesia. Yang saya ingat saya mendapat jawaban singkat dari Pembantu Rektor Univeristas Indonesia yang menyatakan terimakasih dan memasukkan surat saya sebagai bahan masukan bagi Univeritas Indonesia. Titik habis.

Saya sendiri membaca suratnya tidak mempunyai harapan baik akan ditindak-lanjuti dengan positip. Hanya basa-basi saja. Sama juga dari ITB hanya kalimatnya agak panjang. Hanya satu yang panjang lebar jawabannya yang rupanya diketik sendiri oleh Rektor Gajahmada, sekitar dua halaman, yang isinya membesarkan hati saya karena kata-katanya hangat dan teratur baik.

Ada exchange of view –tukar pandangan dengan saya.

Saya bukan seorang pendidik dan pengamat, tetapi saya melihat sedikit window of positive opptunity-celah kesempatan positif yang bisa dimanfaatkan oleh universitas-universitas dan perguruan tinggi kita, dalam melakukan persis seperti dilakukan oleh Lembaga-lembaga Pendidilkan dari negara-negara lain yang berpromosi di negeri kita yang tercinta.

Kita lakukan dengan cara sama, dengan tujuan-tujuan sama, tetapi kalau kita cekatan, tekun dan keras hati serta tahan banting, maka akan menghasilkan siswa-siswa asing yang mampu membayar uang kuliah dan biaya-biaya kegiatan lain di negara kita. Uang kuliah serta biaya belajar semester yang berkisar antara 35 sampai katakanlah 50 juta Rupiah untuk tiap semesternya bukanlah sesuatu yang signifikan bagi mereka yang berasal dari sebuah negara maju. Itu biaya normal dan wajar.

Masalah bahasa bukan masalah besar; tidak akan sebesar yang saya alami sendiri ketika saya belajar bahasa Jepang di Universitas Takushoku, Tokyo  secara intensif selama hampir satu tahun lamanya hanya untuk persiapan dasar agar saya bisa belajar Ilmu bangunan Kapal Laut di negara Jepang. Bahasa Indonesia tidak sama tingkat kesukarannya seperti bahasa Jepang yang mempunyai paling sedikit 1800 huruf Kanji, yang hanya baru akan mampu dikuasai oleh murid lulusan Sekolah Menegah Umum di Jepang. Bahasa Indonesia bila belajar dengan benar, akan dapat dikuasai dalam kurun waktu kurang lebih enam bulan, agar dapat digunakan mengikuti kuliah di sebuah universitas.

Saya ingin menekankan di sini bahwa meniru sesuatu yang seperti anjuran saya di atas, bukanlah sesuatu yang istimewa, tetapi pasti  karena akan mendatangkan manfaat-manfaat.

Indonesia akan memperoleh keuntungan, meskipun tidak sepihak karena mungkin sekali akan merupakan keuntungan banyak pihak dari negara-negara terkait di kemudian hari.

Manfaat utama adalah, Indonesia melakukan sesuatu yang akan  mengglobal, bukan menggombal, berani keluar dari kandang dan mau membuka diri kepada dunia luar Indonesia.

Meskipun saya sudah bertemu dan berkawan dengan seorang asal  Jepang bernama Takai Kyouichi yang pernah belajar di Jawa Tengah, di Yogyakarta beberapa tahun dan ketika bergaul dengan saya di Tokyo pada tahun 1960an, dia bisa mengulangi beberapa kalimat bahasa satra Jawa dengan lancar, dan tentu saja lucu sekali, seperti :"Ing kolo jaman Sultan Agung ……" dan seterusnya, saya malah tidak  pandai menirukan. Kalau kita masuk kedalam sebuah tempat makan atau minum, saya yang melakukan pemesanan makanan dan minuman dalam bahasa Jepang dan dia diam seribu bahasa. Pengusaha kedai makan dan minumnya tentu saja melihat mata sipit  dan kulit kuning Takai San, sudah meyakini bahwa dia sebenar-benarnyalah yang orang Jepang, tetapi tetap saja Takai San mengaku sebagai wong Jowo, menggunakan bahasa Jawa dan menolak berbahasa Jepang. Memang kami berdua telah membuat dan menciptakan suasana yang lucu selama kami berada di situ.

Baru-baru ini saya juga bertemu dengan seorang gadis asal Rusia, yang juga lama berada di Yogyakarta dan sungguh mengejutkan intonasi dan cara berbahasa Indonesianya sempurna.

Penguasaan bahasa Indonesia, sama sekali tidak menjadi hambatan bagi orang asing untuk menguasainya.

Sambil lalu, kita akan melakukan promosi megikuti kuliah di universitas dan perguruan tinggi di Indonesia bagi orang asing, tetapi meggembirakan hati mereka karena ada kesempatan belajar budaya di Indonesia. Jangan lupa keuntungan komersil yang kita dapat raih sebagai hasil dari penyertaan para pemuda asing yang ingin sementara waktu melepaskan dirinya dari establishment negaranya sendiri.