Sabtu, 31 Mei 2008 SABTU pekan lalu saya mampir ke Roemah Daun, sebuah tempat yang menyempil di kiri jalan arah ke Kuningan, Casablanca, dari arah Sahardjo, Jakarta Selatan. Persis di ujung pemakaman, menyempil kios menjual aneka tanaman, terutama aneka Anthurium, berikut berbagai pupuk. Lebaran tahun lalu berbagai Anthurium, mulai dari jenis gelombang cinta (wave of love), hingga cobra, yang sudah berukuran besar sempat dicuri orang. Kerugian Roemah Daun yang memiliki tag line: Relawan Hutan Indonesia, itu mencapai Rp 500 juta.
Dalam tiga tahun terakhir ini harga anthurium memang menggila. Anakan gelombang cinta, yang tergolong jenis rata-rata murah, dengan lima helai daun selebar ujung jari kelingking sudah di atas Rp 25 ribu/pot. Padahal pada 1998, gelombang cinta berdaun selebar telapak tangan, hanya saya beli Rp 15 ribu/ per pot. Kala itu saya membeli tiga pot di saat pameran flora dan fauna yang rutin diadakan setiap tahun di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Satu pot gelombang cinta setelah dua minggu di rumah mati. Dua pot hidup. Dengan teknik memotong bongkol akar, tanaman itu kemudian berbiak menjadi enam pot kini. Panjang daunnya sudah ada yang mencapai 50 cm. Ketika tanaman itu kami beli, anak pertama kami masih tujuh bulan dalam kandungan. Kepada si sulung selalu saya katakan bahwa tanaman itu, seumurannya.

Kendati sudah berumur 10 tahun, bila membandingkan dengan anthurium milik para pedagang, atau penggemar tanaman hias pada umumnya, gelombang cinta saya, termasuk tumbuh merana. Ia tidak pernah saya urus dengan telaten. Pupuk pun baru belakangan ini saja saya belikan. Tanahnya pun terkadang hanya berbekal tambahan pelepah batang pohon kelapa yang menerawang itu, lalu saya cincang, sebagai pengganti batang pakis – – medium anthurium terbaik.

Untuk menambah variasi, tiga bulan lalu saya membeli anakan anthurium batang merah berdaun selebar jempol. Harga sepot Rp 65 ribu. Ketika di Roemah Daun saya menanyakan harga anthurium cobra berdaun selebar jempol dibadrol Rp 3 juta. Luar biasa ternyata harga tanaman hias ber-marga anthurium itu kini. Saya hanya berani melihat-lihat saja, lalu membeli tiga kantung medium tumbuh berisi tanah plus batang pakis, seharga Rp 45 ribu.

Penghujung tahun lalu, di Jogya dan Jawa Tengah pada umumnya, menggila harga atnhurium gelombang cinta. Pohon yang sudah mengeluarkan bongkol macam bongkol jagung, memiliki ratusan biji yang siap disemai, untuk dibudidayakan, berharga ratusan juta rupiah.

Pernah saya membaca melalui sebuah koran di Jogya, bahwa satu keluarga karena demi melihat peluang besar berbisnis tanaman hias anthuriun, lalu menjual seluruh ternaknya, menukarkan dengan indukan tanaman ini.

Sebulan kemudian, harga gelombang cinta jatuh di pasaran. Isteri si pemilik tanaman, kecewa. Ia memotong daun gelombang cinta, dan menghidangkan makan siang suami, lalapan daun anthurium.

Membaca kisah lalapan anthurium itu, saya menjadi bersyukur untuk tidak turut latah. Tidak turut ikut-ikutan berburu anthurium, tidak pula berusaha beralih menjadi pedagang tanaman hias, misalnya. Saya menikmati daun-daun hijau massif anthurium, unik, sedap dipandang, menyegarkan hati, apalagi di saat suhu udara Jakarta yang kian panas kini.

Banyak hobbies dengan beragam kegiatan, yang memberikan kesenangan. Di tengah beragam masalah setelah kenaikan harga BBM kini, menyibukkan diri terhadap berbagai hal, termasuk dari mengunjungi majelis zikir, memberi kesan tersendiri.

JUMAT, 30 Mei 2008. Pukul 20.00 di bilangan Jl. Warakas IV, Gang 13, Jakarta Utara. Jalan gang itu beraspalkan beton. Sepanjang jalan menyemut orang menuju tempat majelis zikir Atakah Qubro. Para wanita umumnya memakai kerudung putih. Pria kebanyakan bersarung, berkopiah putih.

Saya terusik untuk mengamati pengajian di lokasi pemukiman padat itu. Alasan pertama, karena kabar dari seorang kawan bahwa kyai yang memimpin, adalah M. Syafrudin, sosok kelahiran 1972, keturunan Banten beradarah Makassar. “Masih muda, bacaan ayatnya fasih, bahasa dakwahnya mengena, jamaahnya ribuan. Tidak pernah mau masuk teve, tidak pernah mau diliput media, ” ujar Yusman. Ia sudah sejak tiga tahun sering hadir di kegiatan zikir yang diadakan setiap malam Sabtu, dua minggu sekali itu.

Alasan kedua, penuturan Yusman, yang membuat penasaran. Syahrudin sebagai kyai, awal mukim ke lingkungan kawasan Warakas, selama lima tahun pertama mengalami banyak cobaan. Ia pernah dibacok oleh preman yang mangkal di jalanan. Pernah pula Syahrudin ditabrak sengaja dengan mobil.

Kyai Syahrudin hingga saat ini sehat walafiat, jamahnya kian bertambah, ribuan. Tinggi badannya 180 cm. Wajahnya sedikit kotak, dengan lengkungan bibir atas yang khas, sosok kyai ini memang terbilang tampan.

Kawasan Warakas itu memang terkenal dengan berbagai hal miring. Mulai dari lokasi pelacuran, penyelundupan – – karena dekat dengan kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara – – perjudian. Sehingga kehadiran seorang yang mengajarkan kebajikan selalu mendapatkan tantangan. Nyawa tarohannya.

Kawasan pesantren yang saya tuju, hanya sebuah rumah, yang dihibahkan bekas warga di gang 13 itu. Ia laksana bangunan kebanyakan dua lantai yang berpilar, meniru-niru gaya bangunan baru di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Bedanya dengan rumah kebanyakan, bangunan itu dibuat terbuka. Di lantai bawah itu, sebagian diberi alas karpet, yang dikhususkan bagi tamu-tamu VIP. Konon setiap acara zikir ada saja tokoh masyarakat hinga Menteri bergabung ke situ – – terlebih saat menjelang Pemilu kini.

Seorang adik Menteri yang memimpin partai berbasis agama, mondar-mandir merangkul Pak Kyai agar masuk ke dalam partainya. Mengingat berjibunnya massa sang kyai. Syahrudin bergeming. Diliput media, siaran zikir ditevekan, ia menampik, apalagi berpartai. Ia juga menolak sponsor dari salah satu bank pemerintah yang ingin memasang berbagai atribuit di lokasi zikir.

Sang kyai tidak duduk di karpet VIP. Ia justeru duduk di seberang “rumah”, di bawah tenda yang sengaja dipasang memenuhi jalanan. Di belakang tenda bertuliskan: Ponpes Mihaajuttholibin Majelis Dzikir Atakah Qubro. Ada foto wajah sang kyai berukuran besar di tengahnya.

Sepanjang jalan di kiri dan kanan tenda penuh oleh jamaah, memanjang dari ujung ke ujung. Shalawat dipanjatkan diringi tebuhan rebana. Makanan; potongan buah semangka, kacang rebus di piring-piring, aqua, mengalir dihidangkan secara ban berjalan oleh sesama jamaah. Tak lama kemudian pembawa acara menyampaikan acara zikir akan dimulai. Shalawat dan salam serta junjungan kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW dilantunkan.

Setelah pembacaan ayat Al quran, ada ceramah dari seorang ustad, dilanjutkan oleh Kyai Sahrudin berdiri. Ia memimpin puja-puji terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui doa dengan lafaz ayat-ayat yang fasih dengan suara medu menenteramkan hati. Setelah lima belas menit berdiri, hadirin duduk bersila. Musik rebana mengalun lagi. Beberapa anak muda yang berpakain putih di kiri dan kanan kyai melantunkan shalawat. Meriah.

Acara kemudian dilanjutkan zikir yang panjang. Suasana kidmat. Tinggi rendah suara sang kyai, hingga membuat susana hening. Saat lafaz bacaan Asmaulhunah, nama-nama kebesaran Allah dilantunkan, jamaah mengikuti takzim. Begitupun ketika membaca syahadat. Banyak pengunjung yang menggerakkan kepala kiri dan kanan: La Illaha Illallah.

Saya perhatikan di depan tenda, banyak sekali jamaah menempatkan botol-botol aqua yang dibukakan tutupnya. Bahkan aqua gallon pun ada. Konon berisan minuman itu, akan dibawa oleh jamaah sesusai zikir. Mereka memang mengharap berkah melalui air yang didoakan itu.

Saya perhatikan jam sudah pukul 00.00. Beberapa doa akhir dipanjatkan dalam bahasa Indonesia dengan suara merdu sang kyai. Dua anak muda di kiri saya bercucuran air mata. Suara isak tangis, bersahutan, bukan disengaja.

Doa penutup itu mengakhiri rangkaian zikir.

Saya pikir acara usai. Ternyata tidak. Selanjutnya khotbah sang kyai. Penuturannya santun, dengan gaya khas tersendiri. Saya membayangkan AA Gym dalam format berbeda. Sang Kyai pun bisa jenaka. Bagaimana ia meledek ibu-ibu di kondisi harga-harga naik saat ini.

“Pastilah ibu-ibu kalau ke warung ngutang dulu?” ujarnya, “Alasannya ntar kalau suami pulang akhir minggu dari Tangerang baru dibayar. Tapi begitu suami yang buruh datang, muka udah kucel, tak bawa uang.”

Sang kyai medeskripskan bagaimana sang ibu sudah rapi bergincu, berdandan habis menyambut suami. Tepi begitu tahu suami tak berduit, bedaknya luntur, mengalir, “Bahkan tidur pun kemudian bercelana dua,” ujar sang kyai pula, “Tapi dasar laki kan nggak kehabisan akal. Tinggal ambil gunting, set, haaa beres kan?” Hadirin gemuruh.

Di saat tawa gemuruh itu, bulu kuduk saya berdiri. Saya membayangkan di kepahitan hidup kini, acara zikir dan membuat umat tertawa macam malam itu, bagaikan sebuah oase menyenangkan. Pemerintah sudah sepantasnya berterima kasih kepada kyai, kepada masyarakat yang masih bisa mencerahkan, masih berzikir mendoakan pemimpin di acara itu.

Puku 00.30 acara usai. Jamaah perempuan lebih dulu berdiri. Mereka duluan menyalami kyai. Rombongan pria belakangan. Banyak orang tidak langsung pulang. Rupanya barisan makanan, telah terhidang di bangunan pesantren. Semua jamaah boleh bebas turut makan. Lauknya goreng jenggol dipotong kecil-kecil, potongan cumi kering dengan kentang, ikan kering tipis laksana kerupuk, plus sop iga. Jamaah dapat mengambil sepuasnya.

Saya memperhatikan hal yang tak lazim itu. Saya bertanya siapa yang membiayai, mengingat di depan pesantren, tidak ada kotak sumbangan diletakkan. Seorang jamaah menjawab, ada saja yang memberi makanan.

Kyai tidak langsung makan. Ia masuk ke rungan kerjanya. Di luar sudah mengantri tamu. Bersama Yusman, dengan sepiring nasi bergoreng jengkol, saya masuk duluan ke ruangan sang Kyai. Kami bersalaman. Kyai Syahrudin tanpa bertanya apa-apa langsung menatap tajam. “Saya juga prihatin dengan keadaan bangsa kita,” ujarnya.

Belum sempat saya bicara, ia terus berujar, “Pemimpin itu harus amanah. Indonesia yang kaya ini, memang seharusnya mensejahterakan umatnya. Minyak apa yang tak ada di Indonesia, mulai minyak tanah hingga minyak tawon, melimpah.”

“Keberhasilna itu sama dengan memberikan kebahagiaan terhadap sesama. Bukan sebaliknya.”

Begitu kata Kyai Syahrudin yang enggan diliput media itu.

Saya pun berbulat sangka, bahwa seharusnya pemerintah berterima kasih lahir dan batin terhadap ulama yang berjamaah besar ini, yang setia memberikan pencerahan di balik kepahitan hidup kian mendera.

Pukul 03.30 saya baru tiba di rumah. Hati saya damai, laksana memperhatikan daun-dauan anthurium yang saya pelihara itu. Saya membayangkan sebagian jamaah Kyai Syahrudin yang masih sujud bertahajud. Mereka lalu shalat subuh berjamaah. Mereka pulang di saat matahari menjelang, mencerahkan, memang.

Iwan Piliang