Kalau kita lihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini seperti keluarga sedang kematian anggota keluarga, atau keluarga ditimpa musibah, jadi suasana seperti berkabung.

Tidak ada geliat ekonomi, istilah Ron negara (hampir) nganggur semua.

Mengapa bisa begini?

Ada yang menyalahkan Reformasi gagal.

Ada yang menyalahkan ini gara-gara Orde baru. Ibarat orde baru udah
lewat 10 tahun, masih dikambinghitamkan.

Apa yang salah dengan negara kita?

Negara kita ini kurang pengusaha, atau paling tidak kurang support
terhadap para pengusaha.

Pengusaha dibilang “Pedagang”.

Konotasinya jelek.

Memang kalau mengdengan komentarnya JK atau AB kesannya mereka itu
pedagang (tidak sentitif terhadap penderitaan rakyat), tapi tidak
benar bahwa mental pedagang itu jelek.

Dibanding Singapore, misalnya. Disana ada undang-udang yang mengharuskan Perusahaan dengan karyawan lebih dari 3 orang untuk membayar pajak. Di bawah itu bebas pajak.

Makanya banyak sekali pengusaha di Singapore. Rakyatnya mandiri. Bayangkan, negara dengan penduduk setengah DKI Jakarta saja
mengharuskan penduduknya untuk menjadi Pengusaha.

Mengapa?

Karena menjadi Pengusaha itu menimbulkan Multiplier effect.

Ibarat duit Rp 100 juta, di Indonesia banyak sekali yang disimpan dalam deposito, atau dalam brankas.

Ini tipikal Indonesia, kalau dihitung tingkat deposito di Indonesia tergolong tinggi, dibandingkan Singapore, semua beli saham.
Deposito? Apanya? Bunga hanya 1% per tahun…..

Di Indonesia, kalau anak lulus sekolah, paling disarankan:

1. Jadi PNS. Ini usulan paling parah, yang membuat anak cucu menjadi pemalas.

2. BUMN. Wah, ini mendingan, tapi juga tergantung BUMN apa. Kalau Bank Mandiri, bolehlah.

3. Karyawan. Gak tahu kenapa, ini favorit berat. Apa enaknya jadi Karyawan? Mungkin lebih terjamin gaji tiap bulan. Gak peduli tekor
terus.

4. TKI. Termasuk mencari kerja sambil beasiswa di Singapore. Ini mendingan, namun juga tidak menyelesaikan masalah ekonomi bangsa
kita. Akhirnya banyak sekali brain drain, orang-orang pintar dipakai oleh Singapore.

Nanti jangan heran, kalau batik diklaim sebagai budaya Singapore saking banyaknya orang Indo disana.

Menjadi Pengusaha itu bisa mendapatkan multiplier effect. Uang Rp 100 juta diputar dengan keuntungan 20% per bulan, effect nya jauh
lebih tinggi daripada dimasukkan ke safe deposit.

Masih banyak penduduk Indonesia yang menanam duitnya dalam bentuk safe deposit. Saking takutnya resiko, sewa safe deposit di
Singapore.

Seharusnya Indonesia perlu kampanya “Ayo Jadi Pengusaha”. Ini yang bisa menyembuhkan krismon ke-7, karena sudah terlalu banyak krisis moneter di Indonesia.

salam,
Goen