Selasa, 27 Mei 2008   OLOK-olok menurut kamus bahasa Indonesia adalah: perkataan yang mengandung sindiran, (ejekan, lelucon) atau perkataan untuk menunjukan bermain-main saja: kelakar, senda gurau, berolak-olok, bermain-main (dengan maksud menyindir, mengejek) dengan perkataan. Hari ini di KOMPAS, ada tulisan ihwal Jusuf Kalla, Wakil Presiden, mengingatkan "jangan mengolok-olok diri sendiri. Bila kalimat ini diartikan sebagai sebuah kebajikan tinggi, bukan suatu yang negatif, maka seseorang yang berguru ke "rimba" persilatan yang kemudian mampu mengolok diri sendiri, akan menjadi murid sakti.

Sehingga, logika mengolok diri sendiri, belum tentu berkonotasi negatif.

Yang dimaksud Jusuf Kalla, sebagaimana KOMPAS:

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan bangsa Indonesia agar tidak terlalu
sering mengolok-olok diri sendiri. Menurut dia, tidak ada negara yang bisa maju
jika pemimpin dan warga negaranya selalu mengolok-olok kemampuan bangsanya
sendiri.

”Negeri ini bisa maju, dan memang kita masih ada kekurangan. Tetapi income kita
jauh lebih baik, yakinlah kita bisa maju. Dan, kalau kita maju, tidak ada negeri
yang bisa maju seperti kita,” ujar Kalla ketika membuka Rapat Kerja Nasional II
Himpunan Pengusaha Pribumi di Jakarta, Senin (26/5).

”Tujuh tahun terakhir kita terus mengejek ketikmampuan kita, mulai dari pidato
sampai doa, semua mengolok-olok,” ujar Kalla yang menyesalkan hal itu karena
hampir tidak ada yang berpikir untuk jangka panjang.

Menurut Kalla, bangsa Indonesia mempunyai beban masa lalu yang sangat berat
dalam masalah anggaran. Salah satu penyebabnya adalah beban subsidi bahan bakar
minyak (BBM) dan listrik yang terlampau besar.

Dari komnetar JK di KOMPAS di atas, subsidi yang besar untuk BBM dan Listrik,
jika ingin dibedah, bisa jadi akibat biaya tinggi, karena laku para pejabat yang
terindikasi berkolusi, korupsi, dalam setiap proyek Migas, dalam setiap
pengadaan proyek PLN. High cost economi itulah kemudian yang dipikul oleh rakyat
kebanyakan. Jika demikian adanya fakta, adalah naif kata, untuk tidak boleh
mengolok-olok kenyataan.

Deretan panjang peristiwa, memang mengolok-olok seakan begitu saja mengalir:
logika terbalik-balik dalam menjalankan pemerintahan, terutama sejak reformasi
1998 – – di mana semua pihak dapat bersuara merdeka – – tidak bisa dihindari.
Cemooh kemudian muncul ibarat pepatah mengatakan, tiada api tanpa asap. Ada olok
karena ada musababnya. Dan pastinya: yang memancing olok-olok adalah akibat laku
pejabat publik itu sendiri.

Bayangkan, jika di youtube.com ada 3 orang anggota DPR, yang bugil, sehingga,
maaf burungnya, ditonton jagad. Belum pula olokan yang menggunjingkan gadis di
samping mereka. Bisakah Anda menjawab, “Mengapa anggota parlemen Indonesia
begitu?"

Jadi olok-olok terjadi, menurut saya akibat ulah trias politika yang memang
belakangan melawan terus-terusan hati nurani. Mereka melawan-terus-terusan
keberpihakan kepada rakyat. Selagi hal ini terus terjadi, Anda pejabat publik
jangan memerintah untuk tidak diolok.

Lihat saja, bagaimana olok-olok tak terjadi. Di situs resmi Presiden SBY
mengatakan tidak akan menaikkan BBM, faktanya menaikkan. Rakyat dihimbau
berhemat, hemat memakai listrik dan seterusnya. Cobalah berpikir pakai logika
yang waras, bukankah mengajak orang lain dengan memberi contoh terlebih dahulu?
Artinya adakah pejabat yang benar-benar sudah menghemat segala fasilitas yang
dimilikinya kini? Jika fakta mereka semua kian tidak berhemat, justeru
sebaliknya, bagaimana melarang orang untuk tidak mengoloknya?

Lihat saja baner iklan Pancasila PDIP, ada gambar Bung Karno mengacungkan tangan
kanan, sementara Megawati mengacungkan tangan kiri. Mega tertawa. Coba Anda
perhatikan foto Mega itu, saya akan yakin Anda pasti akan mengoloknya.

Di Jakarta Pemda, menegaskan akan membongkar 1.700 tower BTS perusahaan selular,
karena dari dua ribu lebih tower itu lebih separuhnya tak memenuhi legalitas.
Lihat apa ini tidak bahan olokan "cantik" jadinya? Semua orang tahu sebelum
tower diberdirikan, harus memperoleh izin mulai dari RT, hingga camat, dan kota.

Sangat-sangat panjang list yang bisa dijejerkan bahwa logika menghimbau
seseorang untuk tidak berolok-olok, menjadi logika yang akhirnya juga harus
diolok-olokan. Sehingga sesosok JK menghimbau orang berhenti megolok, sama saja
dia mengolok-olok dirinya sendiri.

Di dalam kancah IPTEK, hanya logika gendenglah kemudian menutup IPTN, menjual
Indosat, menjual Kapal Tanker Besar Pertamina, menjual Bank-Bank sehat dengan
murah, seperti yang terjadi pada kasus mengobral saham Bank BCA. Toh sejarah dan
waktu juga membuktikan, bahwa setelah SDM IPTN di-PHK, misalnya, hampir semua
sarjana Indonesia yang hebat alumni IPTN itu kini bekerja di pusat-pusat
dirgantara handal dunia. Artinya mereka semua adalah aset mumpuni. Aset bangsa.

Investasi awal bagi sebuah kemungkinan industri pesawat yang dibutuhkan
Indonesia, terutama yang berbadan kecil, menjadi belum terpenuhi. Membeli ke
luar negeri, selain membuang devisa, tidak memberi nilai tambah lokal. Dulu
ekonom yang katanya berpihak ke rakyat, tetapi sesungguhnya terindikasi
dibonceng kepentingan “asing” yang tak rela negeri ini maju, memainkan peran
agar bangsa sendiri "membunuh" credential assetnya sendiri.

Sehingga jika dikatakan orang Indonesia sangat berbudaya, ramah tamah, baik,
pada faktanya mereka seakan menjadi manusia yang amat kejam terhadap sesama,
terhadap bangsanya sendiri.

Kini PT Krakatau Steel sedang siap-siap pula “dikerjai”. Bagaimana untuk tidak
mengolok? Apalagi kini ada indikasi, sudah ada dana yang sempat “ditanam”
Mittal, sebelum saham perusahaan dilego.

Indosat, Telkomsel, Bank, BCA, Permata, Lippo, Niaga, lihat kebijakan
terhadapnya, apa yang dilakukan perbankan itu terhadap perekonomian bangsa?
Menyuruh orang untuk tidak mengolok, sama saja menyuruh masyarakat pura-pura
buta dan tuli.

Mana ada perbankan kini yang mengenjot pertumbuhan pertanian jagung, pisang,
padi, dan industri pertanian lain yang akan membuat negeri ini mampu memenuhi
kebutuhan pangan, kebutuhan gizi negerinya sendiri.

Lima puluh persen lebih loan perbankan kembali ke sektor properti, yang digenjot
tumbuh, digenjot macam mengayuh sepeda di jalan datar. Begitu diberhentikan
kreditnya, semua pada colaps, termasuk bank. Bank masuk ke cengkeraman "penjara"

JIKA bicara sisi positif, sebagai pejabat, JK layak diacungi jempol dalam
menyelesaikan kasus Ambon, Poso, terlebih Aceh. Saya baru sebagian kecil membaca
buku yang baru diterbitkan Hamid Awaludin, mantan Menteri Hukum dan HAM,
berjudul Damai di Aceh.

Hamid menulis cukup deskriptif, sehingga ketika pernah pada 2004 bertemu tokoh
GAM ke Singapura, mereka naik pesawat pribadi JK, yang diberi nama Athira. Dari
perundingan itu, sehingga mengantarkan Aceh bisa damai macam hari ini.

Sejarah memang harus memberikan apresiasi luar biasa untuk JK. Apalagi, jika
Hamid benar, hampir Rp 3 miliar dana yang yang dihabiskan selama negosiasi,
bulak-balik Helsinki, Singapura dan membuahkan keadaan damai hari ini, adalah
dari uang pribadi JK.

Hamid di pengantar bukunya di halaman 15, dua alinea akhir mmenulis: Setahun
setelah MoU damai, saya bersama Malik Machmud, Zaini Abdullah dan Marthi
Ahtisaari, berkunjung ke sebuah kabupaten terpencil Aceh. Usai acara seremoni,
seorang ibu dan ayah bersama putrinya, tiba-tiba menghampiri saya. Mereka
memeluk saya erat-erat sembari mengis tersedu. “Pak Hamid, saya sudah keluar
dari lembaga pemasyarakatan setelah meringkuk di dalam lebih enam tahun, Ini
putrinya saya, yang baru saya lihat, sudah duduk di kelas dua SD. Isteri saya
hamil tatkala saya ditangkap dan dibawa ke Jawa, mendekam dalam lembaga. Sejak
itu saya tak pernah lagi melihat mereka, hingga hari pembebasan saya, ujar sang
ayah.
Mereka menangis sejadi-jadinya.

Air mata mereka adalah airmata sejati. Airmata kegembiraan dan kelegaan. Bukan
airmata kesedihan. Mereka menangis lantaran terharu: mimpi buruk mereka telah
terkubur sudah. Mereka sejati karena mereka bukan aktor dan artis yang mampu
mengeluarkan auirmata di depan kamera.

Mengakhiri membaca pengantar Hamid, saya masih mengingat bagaimana setelah
perjanjian RI-GAM ditandatangni di Helsinki. Sebelum kembali ke tanah air di BBC
London, saya menyimak di kanal teve BBC, dalam program Hard-Talk, Hamid bicara
dengan bahasa Ingris lidah melayu, lidah Bugis, dengan mantap. Bangga punya
menteri, yang menjawab taktis.

Melalui paparan ihwal Aceh ini, saya ingin mengatakan bahwa sesuatu yang positif
dihasilkan pemimpin, tentulah tak akan diolok. Malahan saya secara pribadi ingin
turut menanyakan kepada negara, apakah uang pribadi JK yang Rp 3 miliar sudah
diganti negara?

Dan sudah seharusnya prestasi JK itu, lebih tinggi nilainya dari Rp 3 miliar,
sebuah damai di Aceh kini, masyarakat bisa tenang hatinya, riang bekerja, anak
bersekolah dengan ceria.

Itulah fakta, olok-olok dan pujian, bukan sesuatu yang harus dilarang, terkadang
memang bisa tumbuh sendirinya, spontan. Hanya kemahiran pemimpinlah yang dapat
memotivasi, melalui karya-karyanya bagi masyarakat, bahwa ia harus dialok atau
harus dipuji. Pilihan ada di tangan pemimpin sendiri.

BERBEDA sekali olok-olok dengan optimisme. Ketika heboh penemuan Blue Energy
oleh Joko Suprapto, media internet detik.com, hingga hari ini masih gencar
menuliskan berita-berita pendeknya. Saya sejak awal tidak ingin terlibat menulis
panjang.
Secara logika hidrogen memang bisa menjadi bahan bakar. Namun bagaimana
teknologi dari H2O (air) kemudian bisa didestilasi menjadi energi, menggerakkan
mesin inilah pekerjaan rumah.

Saya orang yang optimis air bisa menjadi energi.

Tetapi saya juga sangat yakin, harapan berlebihan terhadap Joko Suprappto telah
dilakukan SBY. Agaknya, telah terjadi semacam penugasan, agar pada peringatan
100 tahun kebangkitan Nasional, Blue Energy diluncurkan. Apa lacur, Joko
Suprapto belum bisa menampilkan penemuannya secara utuh kepada publik. Inilah
poin jernihnya. Tekanan batin telah membuat Joko sakit-sakitan.

Sebaliknya apakah Joko harus diolok-olok, menurut saya tidak. Mengolok memberi
pendidikan tidak baik terhadap anak-anak. Sehingga jika dibaca generasi muda,
maka di dalam batinnya akan tersemai "ketakutan" jika berbuat sesuatu riset
yang tidak mungkin, akan dilok sepanjang zaman. Pada tatanan ini, http://www.detik.com,
gagal mengemban misi pencerahan. Padahal yang paling mungkin di jagad ini adalah
kemungkinan itu sendiri.

Bahkan penemu paten air untuk menjadi bahan bakar, di Inggris, Meyer, yang
kemudian mati msiterius itu, juga tak harus diolok. Joko belum menemukan
penelitian tuntas. Sedangkan orang Inggris yang membuat paten lengkap dengan
skema itu, bisa jadi sudah mendekati penemuannya, toh paten diberikan.

Saya mengindikasikan bahwa penemu paten air sebagai BBM di Inggris itu dibunuh,
berkaitan akan nasib ribuan miliar dollar deposit BBM di bunker-bunker negara
kaya – – yang jika air ditemukan, bunker BBM itu seketika menjadi nol: membuat
dunia “kiamat”.

Sehingga dalam ilmu pengetahun, sebuah riset untuk menemukan celah bahwa air
bisa menjadi bahan bakar, bukan olokan terus-terusan yang harus dilayangkan.
Sebaliknya optimisme, yang harus terus digalakkan. Sehingga peneliti punya
pengharapan. Sehingga anak-anak muda kian giat beriset.

OPTIMISME bangsa Amerika Serikat mencari air di planet Mars, kini bisa jadi
mendekati nyata. Pada 26 Mei 2008 lalu penduduk bumi dapat melihat secara real
time melalui situs NASA di internet, gambar-gambar yang dikirim Phoenix dari
palnet Mars.

Berikut beri penggalan tulisan KOMPAS:

Setelah melanglang semesta sejauh hampir 700.000.000 kilometer, wahana antariksa
Phoenix, yang diluncurkan 4 Agustus 2007, Senin (26/5) pagi WIB mendarat di
Planet Mars. Phoenix—dari nama burung perkasa dalam mitologi—mendarat di kutub
utara Mars untuk menguji satu lokasi yang diduga menyimpan air beku yang bisa
dijangkau oleh lengan robotnya.

Inilah prestasi antariksa yang kembali ditorehkan AS. Meski misi ke Mars bukan
yang pertama, misi kali ini memiliki kerumitan tersendiri. Phoenix lolos setelah
harus melalui fase akhir sebelum mendarat (descent) yang tidak mudah.
Phoenix segera mengirimkan berita melalui sinyal radio ke Bumi. Sinyal
berkecepatan cahaya 300.000 kilometer per detik perlu sekitar 15 menit untuk
menempuh jarak dari Mars ke Bumi setelah direlai via wahana orbit Mars Odyssey.
Di Bumi, sinyal diterima di stasiun antena Deep Space Network, Goldstone,
California.

Inilah pertama kalinya dalam 32 tahun, juga ketiga kalinya dalam sejarah, tim
dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) yang berpusat di Pasadena, Californa,
berhasil mendaratkan secara mulus wahana antariksa di Mars, kata Administratur
NASA Michael Griffin.

Pendaratan terakhir adalah Viking 2 pada tahun 1976. Selain JPL yang dikelola
NASA, pihak lain di AS yang ambil bagian dalam misi kali ini adalah Lockheed
Martin Space Systems di Denver dan University of Arizona di Tucson.

Selama penerbangan ratusan juta kilometer dari Bumi, Phoenix mengandalkan
kebutuhan listrik pada tingkat (roket) jelajah. Roket ini dilepaskan tujuh menit
sebelum wahana pendarat Phoenix yang dibungkus dalam selubung pelindung panas
memasuki atmosfer Mars. Sejak itu kebutuhan listrik ditanggung baterai sampai
sepasang panel surya milik Phoenix direntangkan.

”Pendaratan yang menggetarkan!,” kata Peter Smith, penanggung jawab utama misi
Phoenix dari University of Arizona. Namun, setelah pendaratan masih harus
dipastikan bahwa lengan robot sepanjang 2,5 meter yang dibutuhkan untuk
mengambil contoh tanah dan es untuk diteliti bisa dioperasikan.

Phoenix dan penjelajahan luar angkas AS, telah memberikan optimisme, kebanggaan
Amerika Serikat. Miliaran dollar dibelanjakan untuk proyek antariksa yang
intangible itu.

Bandingkan dengan negeri ini, bahkan pemimpinnya sendiri seakan “menjual”
seluruh asset vital bangsanya, mempersyarakatkan ini dan itu melalui departemen
keuangan, Bank Indonesia, agar uang tak berputar ke sektor riil, agar
terus-terusan mencuekkan kesejahteraan rakyat.

Jangankan optimisme yang diberikan para pemimpin kepada rakyat, harapan untuk
mendapatkan pendidikan lebih baik terhadap anak-anak sendiri, pun kini seakan
tiada lagi? Harapan mendapatkan pelayanan kesehatan baik dan murah? Cobalah
mampir hari ini ke rumah-rumah sakit, mampir ke gawat darurat, saksikan sendiri
apa yang terjadi?

Nah jika demikian kedaannya, olok-olok yang dipersoalkan Wapres JK, hanya akan
menjadi olok-olok baru saja. Lain tidak. Dan JK lupa pula, bahwa olok-olok pun
butuh kecerdasan.

Iwan Piliang