Tiga bulan yang lalu aku mendapat e-mail dari seorang teman lamabernama Gilles yang berasal dari Bretagne, sebuah kota di Perancis bagian utara. Aku mengenal Gilles di restoran Oong milik Kak Nurma di Iboih, Sabang, tahun 1996 lalu, ketika itu kami berdua masih sama-sama menjadi 'back packers'.

Dalam bayanganku, tahun 1996 itu seperti zaman 'antik' yang sudah lama
sekali tertinggal di belakang, soalnya aku ingat pada zaman itu di
Banda Aceh belum ada internet, bahkan di eropapun internet belum
populer, di Eropa waktu itu internet masih sangat eksklusif, jadi dulu
setelah Gilles pulang ke Perancis, kami masih berkomunikasi melalui
surat yang ditempeli Perangko. Cara berkomunikasi 'zaman kuno' yang
pasti akan menjadi bahan tertawaan anakku kalau aku menceritakannya
saat dia sudah berumur belasan tahun nanti.

Gilles teman lamaku ini sekarang bekerja sebagai manajer Restoran di
Cannes, sebuah kota tempat tujuan wisata yang ramai di selatan
Perancis yang tidak jauh dari Italia. Kota yang juga terkenal dengan
festival film internasionalnya.
 
Dalam e-mailnya Gilles mengatakan akan menikah bulan Mei tahun ini
yang bertepatan dengan musim semi di eropa sana, dan setelah menikah
Gillles berencana mengajak istrinya untuk berbulan madu ke Indonesia.
Tapi karena sekarang kesibukannya sudah lain dibandingkan tahun 1996
dulu ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa, Gilles meminta
tolong padaku untuk mengatur perjalanan berbulan madu buat dia dan
istrinya.

Aku menyarankan Gilles untuk memilih Bali untuk tempat berbulan
madunya, dan aku juga bilang kalau Mei ini aku bisa menemani dia
selama beberapa hari. Gilles setuju tapi Gilles juga ingin dalam bulan
madunya ini ada acara naik gunungnya, dan kalau bisa gunung berapi
katanya.Bagi Gilles gunung berapi itu sangat menarik, soalnya di Eropa
jarang ada Gunung berapi, paling-paling cuma Vesuvius, Etna dan
Santorini, itupun ketiganya tidak begitu menarik buat didaki. Rupanya
Gilles sangat berkesan ketika dulu saat di Takengon dia kuajak mendaki
gunung Burni Telong melalui Bandar Lampahan.

Hari kamis Tanggal 22 mei lalu, Gilles dan istrinya tiba di Jakarta,
aku menjemput mereka berdua di Cengkareng. Gilles datang dengan
menumpang Cathay Pacific yang dari Perancis menuju Indonesia dengan
melewati Hongkong, aku menunggu di gerbang internasional berbaur
dengan penjemput lain dari Hotel atau Biro perjalanan  yang berkerumun
di luar pintu keluar terminal internasional sambil memegang papan yang
bertuliskan nama orang yang dijemput. Menunggu penumpang yang keluar
dari terminal internasional ini sangatlah membosankan, karena setelah
pesawat mendarat, banyak jalur birokrasi keimigrasian yang harus
dilewati penumpang, terutama pengecekan paspor beserta visa kunjungan.
Setelah satu jam lebih menunggu penumpang pesawat dengan kode
penerbangan CX-745 pun akhirnya mulai keluar dan satu persatu langsung
menemukan penjemput yang memegang papan bertuliskan namanya dan
merekapun langsung berangkat.

Saat Gilles keluar dari gerbang terminal internasional Bandara
Soekarno-Hatta ini, sekilas aku tidak mengenali sosoknya yang rapih
dan bersih diapun tampaknya begitu, tidak terlalu mengenaliku.
Maklumlah  terakhir kali kami bertemu adalah 12 tahun yang lalu, saat
itu kami berdua masih sama-sama berambut gondrong dan berpenampilan
lusuh yang berpergian kemana-mana dengan menggendong tas sebesar
lemari, sosok Gilles yang melekat di pikiranku adalah sosok Gilles
yang seperti gambaran itu, rupanya diapun begitu sosok Win yang dia
ingat adalah Win yang gondrong, berkemeja flanel, bercelana kargo,
bersepatu hiking dan menggendong back pack berwarna biru.

Melihat ada seorang bule klimis kebingungan aku mulai curiga
jangan-jangan ini Gilles, kuperhatikan baik-baik dan sepertinya memang
iya…penampilannya memang lebih klimis, rambutnyapun sudah tidak
gondrong lagi dan raut wajahnya juga agak lebih tua dari Gilles yang
kukenal, tapi bentuk wajahnya masih seperti dulu, lalu aku
memanggilnya dengan suara keras di tengah kerumunan para penjemput
yang rata-rata berseragam batik dengan desain khas tempat mereka
bekerja, "Gilles",  kataku dan dia menoleh…sejenak dia memandangiku
dengan pandangan menyelidik, lalu sejurus kemudian sambil tertawa
keras dia berteriak "Win!…", Katanya….dan akupun tertawa tidak
kalah kerasnya menyaksikan 'metamorfosis' fisik yang terjadi pada diri
Gilles, kemudian kami berduapun berangkulan dan tidak bisa berhenti
tertawa, kami saling mentertawakan perubahan fisik yang terjadi pada
diri kami berdua dibandingkan 12 tahun yang lalu, perubahan fisik yang
paling mencolok pada kami berdua terutama ada di wilayah perut.

Gilles kemudian memperkenalkan istrinya Florence yang baru dia nikahi
dua hari yang lalu. Wajah Florence istri Gilles ini lebih mirip wajah
orang Rusia ketimbang orang Perancis, rambutnya pirang, wajah dan
bentuk tubuhnya tidak bisa tidak mengingatkan orang pada sosok Maria
Sharapova, petenis wanita yang baru saja menjadi petenis wanita
peringkat satu dunia versi WTA pasca mundurnya Justine Henin dari
dunia tenis profesional. Flo, begitu  nama panggilannya, bekerja
sebagai staf pemasaran di Mirabella sebuah perusahaan kosmetik yang
merupakan anak perusahaan L'oreal sebuah merek kosmetik terkenal di
Perancis, berbeda dengan L'oreal yang menggarap pasar kelas menengah,
Mirabella ini mengkhususkan diri untuk menggarap pasar kosmetik dengan
kategori 'low-end'.

Florence sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. jadi mau tidak mau
aku harus berbicara dalam bahasa Perancis, ketika kami mulai bicara
Gilles pun kaget melihat perkembangan bahasa perancisku yang jauh
lebih maju dibandingkan saat kami bertemu terakhir kali 12 tahun yang
lalu, ya iyalah…udah 12 tahun, kalo cuma sebegitu-begitu aja ya
bukan berkembang namanya. Selama ini kami berkomunikasi melalui e-mail
selalu menggunakan bahasa Inggris.

Dari Cengkareng aku langsung mengajak Gilles dan Flo, ke rumahku di
bilangan cempaka putih Jakarta Timur, istriku sudah menyiapkan makanan
buat mereka berdua di sana. Untungnya lokasi rumahku tidak terlalu
jauh dari pintu gerbang Tol jadi Gilles dan Flo tidak perlu merasakan
suntuknya macet di Jakarta yang terkenal itu, bagaimana tidak suntuk
kalau jalan Tol yang selancar ini oleh mereka masih saja disebut
'embouteillage " kata perancis untuk menyebut 'macet' belum tahu
kalian", kataku, "ntar kita coba ke Sudirman lewat Salemba via Tanah
Abang, biar kalian tahu yang namanya 'embouteillage' itu kayak gimana".

Maklumlah si Gilles ini biarpun sudah pernah ke Sabang, Takengon,
Danau Toba dan Bukit Lawang tapi sama sekali belum pernah ke Pulau
Jawa, soalnya Jalur back packers dari eropa untuk asia tenggara
lazimnya memang turun di Bangkok terus muter-muter di sekitar Laos,
Kamboja, Vietnam, terus ke Penang nyebrang ke Sumatra melalui Belawan
kemudian muter-muter di Pulau kita ini, mulai dari Sabang, Lhok nga,
lalu naik bis ke Medan kembali menginap di seputaran Mesjid Raya lalu
ke Bukit Lawang, Prapat dan paling jauh ke Bukit Tinggi. beberapa back
pakers yang lebih berjiwa petualang dari Sabang mengambil jalur ke
Takengon, nyambung ke Blang Kejeren lalu Kuta Cane baru ke Medan lagi.
Akibat dari jalur perjalanan yang seperti ini ya seperti Gilles ini
yang meskipun sudah ke Indonesia tapi masih sangat asing dengan
suasana kota Jakarta.

Gilles dan Florence menginap semalam di rumahku di Jakarta, tidak
banyak yang kami lakukan di Jakarta, malamnya aku dan istriku mengajak
Gilles makan malam di food court Mal Kelapa Gading yang tidak terlalu
jauh dari rumahku.

Besok paginya, kami berangkat ke Bali dengan menumpang pesawat Lion
air. Sebenarnya Gilles dan Flo tidak dibenarkan oleh pemerintah negara
mereka yang tergabung dalam Uni Eropa untuk berpergian di Indonesia
dengan menumpang maskapai penerbangan lokal, tapi dasar bandel mereka
berdua tidak peduli larangan itu. Uni Eropa menilai melarang warganya
menaiki pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia, karena Uni Eropa
Menganggap pemerintah Indonesia yang selalu hanya bisa menemukan
solusi instant dalam menangani setiap masalah ini (contohnya solusi
menaikkan harga BBM beberapa hari yang lalu) tidak becus dalam
menangani masalah keselamatan terbang, terbukti dari banyaknya terjadi
kecelakaan udara, ditambah lagi Uni Eropa tidak bisa menerima pesawat
komersial dijadikan sebagai tempat operasi Intelijen yang telah
menghilangkan nyawa Munir yang mantan ketua KONTRAS itu, oleh
pemerintah Indonesia penyelesaian kasus ini tidak pernah benar-benar
ditangani dengan serius sehingga kasusnya yang sudah sedemikian jelas
masih mengambang hingga sekarang.

Larangan terbang menggunakan maskapai penerbangan dalam negeri ini
sangat memukul agen-agen perjalanan wisata di Indonesia dan juga
pengusaha pariwisata di daerah di luar Bali. efek larangan terbang ini
bagi pariwisata Indonesia justru lebih parah dibandingkan efek trauma
psikologis yang ditimbulkan  Bom Bali I dan II yang tampaknya saat ini
perlahan-lahan mulai hilang, terbukti dengan melimpahnya turis asing
yang sekarang berkunjung ke Bali saat ini. Larangan  Uni Eropa kepada
warganya untuk terbang menggunakan maskapai penerbangan dalam negeri
ini, berimbas pada agen perjalanan yang tidak bisa lagi menjual paket
tur ke Sumatra, Lombok, Pulau Komodo, Toraja sampai ke Wamena.

Padahal paket Tur seperti ini adalah tambang uang bagi agen
perjalanan, dan juga menghidupkan denyut perekonomian di daerah
tujuan,  karena perjalanan seperti ini sangat menarik minat
pelanggan-pelanggan potensial dari agen-agen besar eropa seperti Tigre
Vanille, Club Med, Jet Tour, Asia Voyage dan lain sebagainya yang para
kliennya memang berlibur dengan cara menghabiskan duit, bukan seperti
back packers semacam Gilles dan saya dulu yang selalu menginginkan
perjalanan maksimal dengan dana minimal. Untuk Tur di pulau Jawa para
agen perjalanan sudah menemukan solusinya, yaitu menjual paket Tur
dengan perjalanan darat. Meskipun kadang-kadang turis yang datang
tidak mempermasalahkan larangan terbang itu, tapi agen perjalanan
mereka di Eropa sana tidak mengijinkan para kliennya melakukan
perjalanan seperti itu, karena tidak satupun perusahaan asuransi di
eropa yang mau menanggung resiko perjalananan warga eropa yang
menumpang maskapai penerbangan Indonesia. Jadi kalau Pemerintah
Indonesia tidak mampu meyakinkan Uni Eropa untuk mencabut larangan
Terbang ini, progaram Visit Indonesia Year 2008 ya cuma omong kosong
pemulas bibir.

Akibat larangan ini bukan hanya berimbas pada turis, tapi juga
merepotkan diplomat dan ekspatriat yang bekerja di Indonesia. Saya
ingat apa yang dialami teman saya Audrey beberapa waktu yang lalu,
Audrey ini adalah salah seorang staf di CCF yang sekarang bekerja di
L'Alliance Francaise Bali , ketika itu Audrey yang sekarang tinggal di
Bali perlu datang ke Jakarta untuk menghadiri sebuah acara. untuk bisa
ke Jakarta, dari Bali Audrey terpaksa naik Singapore Airlines ke
Singapura baru dari sana di naik pesawat yang sama ke Jakarta, untuk
kembali ke Bali Audrey juga terpaksa mengambil jalur yang sama .
Meskipun Audrey sendiri sebenarnya tidak begitu peduli dengan larangan
terbang itu, tapi karena dia bekerja di lembaga yang berada di bawah
naungan pemerintah Perancis, ya dia terpaksa mengikuti aturan itu.
Akibat dari larangan uni eropa ini  siapa yang untung?…jawabnya ya
Singapore.

Setelah satu setengah Jam dalam pesawat kamipun tiba di Bali, pesawat
Lion Air yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Ngurah
Rai yang sekarang sudah sangat banyak berubah dibandingkan beberapa
bulan yang lalu, di luar gedung bandara sekarang sudah banyak
toko-toko souvenir, ada KFC, ada Solaria, Starbucks bahkan Circle-K.
Di Bali kami dijemput oleh teman yang saya percayakan mengelola usaha
saya di sini, dari bandara kami langsung menuju Kuta, ke rumah yang
saya kontrak dan malam itu kami menginap di sana.

Cerita selama di Bali akan saya lanjutkan pada tulisan berikutnya…

Wassalam

Win Wan Nur
http://www.gayocare.blogspot.com