Sabtu, 24 Mei 2008  DI BEBERAPA pojok jalan, perempatan, tempat strategis kini, ada papan iklan (billboard)besar iklan Marlboro. Ada grafis rona kuning, oranye kecoklatan. Tagline-nya: Marlboro Dengan Kretek Terbaik Indonesia, Persembahan Sampoerna. Ada gambar beberapa butir cengkeh kering. Tampaknya cengkeh yang tidak keriput, keras berisi. Cengkeh pilihan.

Setiap melihat iklan itu, saya lantas teringat masa kecil dulu. Sepulang
sekolah, kami mengikatkan kain sarung di bagian bawah ke lingkaran perut, bagian
atas ke leher. Maka jadilah semacam kantung di gendongan. Lalu kami memanjat
pohon-pohon cengkeh. Melekat dalam ingatan, bagaimana, petes, suara tampuk
cengkeh dipisahkan dari ujung-ujung ranting.

Tak membutuhkan waktu lama. Tumpukan cengkeh laksana anak Kangguru mengelayut di
gendongan perut, harus ditumpahkan ke keranjang pengumpul. Kami berlari lagi
memanjat pohon, begitu seterusnya. Aroma cengkeh, wangi menyengat.

Pekerjaan berikutnya, memupur; memisahkan butiran cengkeh dari tampuknya yang
masih hijau. Setelah itu kami menjemur di hamparan tikar pandan. Seingat saya,
jika matahari bersinar terik, maka perlu sekitar lima hari mengeringkan cengkeh,
lalu tetap dianginkan, diulang penjemuran, sehingga mendapatkan warna coklat
kehitam-hitaman, kekeringan yang baik.

Untuk menguji cengkeh dengan kekeringan yang oke punya itu , orang kampung
berkiat, cukup mengambil sebutir sampel, lalu mematahkannya. Jika patah, tidak
meliuk, nah, itulah cengkeh terbaik. Kala itu, saya hanya paham bahwa cengkeh
sebagai bumbu sop nenek memasak. Dijual ke pasaran katanya buat obat, kosmetik,
dijual ke seberang lautan.

Melihat iklan Marlboro di hati saya bergelora dua. Pertama, bangga juga rasanya,
bahwa Philip Morris, produsen Marlboro menyebut kata Indonesia di iklannya. Ada
kata terbaik pula. Kendati hal itu tidak terlepas menjadi bagian pengembangan
strategis dari mengambil Sampoerna sebagai asset.

Kedua, rasa keprihatinan mendalam bahwa jumlah perokok di Indonesia kian hari
kian meningkat. Dan lebih celaka, perempuan perokok kini dominan. Iming-iming
membuat perempuan kian dihargai merokok, kemasan rokok berasa mint, dari
berbagai produsen, kini dibuat kotak segi empat laksana kemasan gincu bibir.

Promosinya pun menggila. Kian banyak gadis-gadis semampai ber-rok pendek
menjajakan rokok ke berbagai tempat. Ketika dua pekan lalu usai shalat Jumat di
Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, ketika menyantap sate Padang, di
kawasan parkir yang padat, dua gadis cantik merayu-rayu membeli rokoknya. Bila
Anda perokok, plus rayuan genit, sebagai lelaki kebanykan, pastilah tak tahan
akhirnya merogoh kocek. Untung saya tak paham apa enak rasa rokok. Setiap
mencoba, hanya pahit di rasa.

Di sebuah café di Plaza Senayan, Jakarta, belakangan saya amati, memang
gadis-gadis cantik, ibu-ibu muda menjadikan rokok kini sebagai laku gaul, juga
“gengsi”. Trend baru! Ini bertolak belakang dari pesan dan citra perempuan yang
diajarkan nenek saya dulu. Kata nenek saya, perempuan merokok, maaf, itu lonte.
Jika kalimat itu dipakai kini, para gadis nan cantik-cantik aduhai itu pastilah
mengatakan saya kolot, kuno.

Setiap ada pemulung yang lewat di depan rumah, saya selalu bertanya, berapa uang
membeli rokok sehari; rata-rata mereka menjawab dari kisaran Rp 6 ribu sampai Rp
18 ribu perhari. Padahal penghasilan rata-rata perhari mereka Rp 30 ribu. Bila
dibelanjakan rokok lebih separuhnya, menjadi tidak logis lagi.

Begitulah rokok, memang membuat orang tak “normal”. Jika normal, dan sangat
paham bahwa ratusan racun, hinga radio aktif yang menambun di rokok, tetap saja
diisap. Bahkan di bawah billboard iklan rokok, gede-gede ditulis, Rokok
menganggu kesehatan, mengakibatkan kanker serangan jantung, dan seterusnya.
Tetapi perokok toh tetap bertambah.

Karenanya saya lebih tepat menyebut rokok sebagai candu. Dan rokok itu, dalam
sebuah riset narkoba di kalangan remaja yang dilakukan oleh sebuah NGO di
Jakarta Selatan, menyebutkan sebagai jendela masuk narkoba: 98 % pemakai narkoba
adalah perokok. Indikasi naiknya pengkonsumsi narkoba di Indonesia dalam dua
tahun terkhir menggila. Indonesia sudah masuk ke dalam tiga besar pemakai
narkoba dunia.

Bila kita belajar dari sejarah Cina – – perang candu – – dua daerahnya menjadi
tergadai; Hongkong dan Makao. Sehingga bukan berlebihanlah bila saya mengatakan,
bila negara maju kini yang lebih beradab telah mampu mengurangi masayarakatnya
mengepulkan rokok, kita sebaliknya bertambah, lebih drastis narkoba menggila.

Pada tulisan berjudul Bandar Bandara, 16 Maret 2008:
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=22
Anda akan dapat membaca bagaimana narkoba memang gampang beredar, kendati di
pintu masuk diskotik itu ada oknum aparat berbaju preman.

Sehingga, bukanlah suatu yang omong kosong, bila bangsa ini menjadi bengak – –
tiga kali di atas bodoh – – baik karena lakunya sendiri, maupun ulah laku
industri, mungkin pula strategi peguasaan pasar serta asset yang dijalankan
berbagai business intelligent yang berkepentingan terhadap Indonesia.

Di saat harga BBM sudah naik kini, menghentikan merokok, bagi kalangan marjinal,
sebuah solusi jitu. Uang rokok bisa untuk membeli susu anak, meningkatkan gizi
anak.

SEPEKAN lalu saya bertemu dengan seorang ahli gizi. Ia bilang, jika harga Bahan
Bakar Minyak (BBM) belum naik, maka diperlukan dana setidaknya Rp 1,25
juta/bulan untuk memenuhi gizi balita mendekati baik. Dana itu untuk membeli
makanan sehat, bergizi, mendekati empat sehat lima sempurna, termasuk untuk
membeli buah macam pisang dan susu. Dengan diumumkannya kenaikan BBM mencapai
30% oleh pemerintah tadi malam, maka perlu tambahan sekitar Rp 375 ribu lagi – –
artinya angka menyehatkan gizi sesosok balita menjadi Rp 1,625
juta/orang/perbulan.

Bagaimana gizi balita dan anak-anak akan membaik, fakta di lapangan, daya beli
kalangan menengah ke bawah justeru mengalami penurunan tajam. Upah Minimum
Regional (UMR), yang di Jakarta di kisaran Rp 800 ribu, menjadi angka yang tak
dapat memenuhi kadar minimum gizi sesosok anak-anak.

Akibat yang terjadi, makanan yang kian terjangkau oleh mereka adalah mie instant
yang di pasaran berharga Rp 1.000/bungkus. Bila dalam sehari, sesosok anak
mendapatkan makanan mie instant dua bungkus sehari, bisa Anda bayangkan gizi apa
yang masuk ke dalam tubuh balita, ke dalam tubuh anak-anak, generasi penerus
bangsa.

Sudah sejak lama mie instant terindikasi mengandung racun berbahaya. Proses
mem-booster gandum menjadi mie, mengeraskan kembali melalui pemanasan tingi,
memberi bahan kimia yang mengandung unsur lilin – – agar mie tidak lengket di
saat direbus – – plus bahan kimia penyedap rasa, menabalkan kenyataan bahwa mie
instan jika dimakan terus-terusan memang menjadi tidak menyehatkan. Saya
misalnya, memaksa anak-anak agar memakan sebungkus sekali sebulan saja. Kami di
rumah memang seakan berkelahi melawan ransangan rasa bumbu penyedap di mie
instan plus iklannya yang menggelora.

Iklan sebuah produk mie instan yang digarap dengan baik, dinyanyikan berdendang
berbau nasionalis yang enak dilantunkan dan ditayangkan di program prime time di
di televisi di harga spot iklan Rp 20-an juta lebih per spot per 30 detik,
memperkuat keyakinan bahwa di dalam industri, di dalam bisnis, nurani memang
tidak dikenal lagi. Nurani menjadi seakan tergadai di mana-mana.

Hati nurani hanya seakan-akan cuma perlu mengisi bak sampah kumuh, bau, yang
tidak perlu pula diurus, tidak perlu dilirik. Hujan, panas, kelembapan seakan
dibiarkan membuatnya punah, rapuh, busuk sendirinya menjadi tanah. Demikian
pulalah analogi sikap kita berbangsa memperlakukan gizi balita, kanak-kanak.
Sejarah ke depan akan mencatat di semua lini berbangsa kini memberi andil besar
mengakibatkan berkurangnya gizi generasi, generasi bangsa ini!

Gizi yang rendah jelas membuat generasi ke depan lemah kemampuan kesehatan
fisiknya. Kelemahan fisik berkorelasi kepada kecerdasan otak, kemampuan nalar
dan pikir yang cekak.

Dengan lain kata, yang tidak terpikirkan oleh pemerintah dalam menaikkan harga
BBM adalah, menghancurkan kesempatan generasi meningkatkan gizinya menjadi
sirna.

Jika demikian logika pikir, memang tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa
pemerintah kehilangan akal pikir, kehilangan budinya sebagai pemimpin bangsa.
Yang ada di dalam benak mereka, ekonomi harus diselamatkan. Saya heran
penjabaran ekonomi yang mana: ekonomi kelas makro, yang berorientasi pasar
modal, yang hanya berorientasi membela kepentingan multinanasional company (MNC)
dalam menempatkan Indonesia semata sebagai pasar?

Bila indikasi membela MNC, banyak MNC di negeri ini seakan “dikeroyok” dalam
menjalankan proyek; mulai dari urusan pengadaan mobil, penyewaan rumah,
pengadaan ransum makanan, jasa iklan, dan seterusnya diperebutkan oleh
orang-orang Indonesia yang beredar di kalangan elit, yang kekayaannya lebih
untuk tujuh turunan.

Sehingga terkadang menyalahkan MNC “merampok” negeri ini, bukan pula sebuah kata
tepat. Toh yang “menyamun” adalah bangsa sendiri.

Kehilangan budi aparat itu tercermin pula dari laku mengelola dana bantuan tunai
langsung (BLT). Biaya mengurus penyaluran BLT mencapai Rp 800 miliar. Dana
sebesar itu dibagi ke beberapa Departemen, mulai dari Bappenas, Kominfo, Setneg,
Sosial dan seterusnya. Dari sebagian dana itulah yang dipakai pula oleh para
pejabat itu untuk berbunyi, menampang, melalui iklan layanan masyarakat, yang
memparadekan diri mereka sendiri di televisi. Mereka tampil seakan memberi
petuah, seakan berpihak kepada warga kebanyakan. Saya tak paham laku apa judul
yang tepat diberikan terhadap pengusa yang demikian? Mungkin Anda bisa membantu
menjawabnya!

SUDAH menjadi rahasia umum, bahwa sebuah situs Presiden SBY, kini telah ditutup,
berganti bertuliskan under construction. Sebelumnya di situs resmi Presiden SBY
itu ada artikel mengaskan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan BBM, karena
masih ada solusi lainnya. Setelah ada iklan Wiranto di koran-koran yang
mempersoalkan janji itu, situs situ berubah judul dan seorang Andi Malarangeng –
– yang juga nampang tampil di iklan layanan masyarakat dengan uang iklan dari
uang rakyat – – membantah habis sinyalemen itu di berita televisi.

Untungnya media menguasai ruang dan waktu. Media on line kini tak bisa lagi cuma
dilirik sebelah mata. Setidaknya adalah Drajat Wibowo, anggota Komisi XI DPR
yang telah sempat mencetak berita ihwal SBY tidak akan menaikkan BBM itu,
sebagai sebuah bukti, bahwa pemerintah memang menelan ludahnya sendiri.

Bila menempatkan diri sebagai pemerintah, dalam keadaan seperti hari ini, memang
dilingkupi oleh para menteri yang pro ke neoliberalisme. Budiono Gubernur Bank
Indonesia, Sri Mulyani, Menteri Keuangan, jelas orientasinya berpihak ke
penerusan paham yang digariskan oleh Washington Consensus – – yang sudah sejak
lama ditinggal beberapa negara Amerika Latin, karena tidak terbukti memulihkan
eknomi.

Hingga hari ini indikasi korupsi, sesuai dengan audit yang dilakuklan BPK pada
2006 terhadap cost recovery (biaya yang dipikul kembali oleh negara) eksplorasi
migas yang ditemukan sebesar Rp 18,07 triliun, tidak jelas tindak lanjutnya.
Padahal melalui penemuan ini pemerintah punya senjata untuk merenegiosiasakan
pola pembagian keuantungannya dengan perusahan migas asing di negeri ini.
Agaknya, karena “elit” mengeroyok mereka dengan berbagai kepentingan, termasuk
komisi, maka sulit pemimpin itu memperjuangkan kepentingan rakyatnya.

Sumber pendapatan negara lainnya, terutama pajak juga terindikasi mengalami
kebocoran tinggi.

Naif memang setiap ada masalah kenaikan harga BBM dunia, negeri yang kaya dengan
sumber daya alam, sumber energi alam ini, seakan harus mengikis lagi tulang
belulang rakyatnya sendiri.

Kikisan tulang itu dijadikan bubur yang harus disantap lagi oleh manusia,
rakyatnya – – karena daging pelapis tulang pun sudah seakan sirna. Kira-kira
begitulah perumpamaan tepat yang dapat saya lukiskan.

Maka saya sepaham dengan kalimat Sultan Jogya, Hamengkubuwono X, “Alasan
menaikkan BBM oleh penguasa, sangat tidak logis.”

Saya lalu tertawa, mendengar kabar bahwa Menteri Negara BUMN, Sofjan Djalil
tanggal 31 Mei 2008 mendatang akan menggalakkan kegiatan bersepeda ke sekolah.
Saya indikasikan dana eventnya,diperoleh dari bagian biaya BLT yang Rp 800
miliar itu.

Bagus!

Tetapi langkah signifikan lain, macam, pemimpin memberi contoh hidup sederhana,
tak kunjung ada.

Kenyataan sebaliknya, mereka di trias politika kian berfoya-foya.

Sofjan Djalil, yang bagi kami di Persatuan Pelajar Islam (PII) di Jalan Menteng
Raya, Jakarta Pusat, yang mengenal menyapanya dengan Pak James (singkatan jaga
mesjid), menjadi heran bahwa kini ingin menjual PT Krakatau Steel ke Mittal. Ia
tampak pula menselebriti, merencanakan event-event PR yang tak lagi membumi, di
tengah kepahitan hidup menjadi-jadi.

Sebaliknya jika Pak James mungkin bertanya, “Apa yang kamu buat untuk negeri
ini?”

Selemah-lemahnya iman, mendoakan pemimpinnya berubah pikiran, berubah menjadi
pro rakyat.

Sedangkan saya tak hanya berdoa diam. Saya mencoba menuliskan tulisan tajam,
coba deh baca kumpulan Tajuk ini. Beberapa pihak sudah mulai mengancam-ancam.
Dan bagi saya yang sudah sering diancam, baik melalui telepon, saya hanya ingin
mengatakan, alamat saya jelas, ada di blog di internet, mudah menelusuri saya.
Saya juga tak punya pistol. Ke mana-mana seorang diri, tidak punya body guard.

Alhamdulillah, Puji Tuhan, ada pembaca tulisan-tulisan saya ini yang mengajak
dalam waktu tak lama lagi membuat warung-warung murah di keramaian Jakarta,
dengan makanan sehat. Paling tidak itulah yang paling minim bisa. Selain terus
berupaya, mengembangkan industri konten dan aplikasi yang sesungguhnya
menjanjikan bagi negeri ini. Industri yang tak ada venture capital-nya di negeri
ini. Toh pebankan yang bagian MNC itu hanya berkredit kartu kredit, KPR, mobil
dan motor.

Toh ekonomi kita, hanya Ekonomi Mengayuh Sepeda. Baca deh ekonomi mengayuh
sepeda di: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=94
tulisan 3 Mei 2008 lalu. Jadi bukan anak sekolah bersepeda sekolah: ekonomi
mengayuh sepeda!

Iwan Piliang, presstalk.info