Bandung, 26 Mei 2008   Betapa sering kita mendengar cemoohan orang 'luar' bahwa anak bangsa kita itu bodoh, dungu dan terbelakang. Terkesiap hati mendengar celotehan seperti ini. Tersinggung, tersakiti dan akhirnya berontak. Mengapa? Saya sama sekali tidak rela bila dikatakan anak bangsa kita seperti itu. Karena saya tahu kecerdasan itu perlu diasah, diasuh dan diarahkan. Kecerdasan itu ada di setiap anak bangsa, bangsa apapun. Bahwa kecerdasan dipengaruhi oleh gizi, lingkungan dan fasilitasi lainnya, itu sudah jelas.

Di dunia kompetisi matematika, fisika dan sejenis itu, sering sekali anak-anak kita memenangkannya. Bagaimana bisa? Karena ada yang menggerakkan dan membinanya. Seorang Johannes Surya berhasil memandu bakat dan mendapatkan bibit unggul. Mengarahkannya untuk ikut pelbagai lomba di ajang internasional. Bukan saja sekedar ikut sebagai penggembira, tetapi secara mengagumkan memenangkan berbagai piala. Kita semua bangga dibuatnya. Ini hanya salah satu contoh. Tapi cukup membuktikan bahwa anak-anak kita cerdas. Namun cerdas saja tidaklah cukup. Perlu di'garap' lebih tekun dan cermat. Diperhatikan. Diarahkan. Dibina.

Sistem pendidikan kita sejak jaman Merdeka sampai hari ini masih tambal sulam melulu, kalau tidak boleh dibilang amburadul. Belum tertata dan belum terstruktur, boro-boro mampu menerapkan terobosan-terobosan jenial. Harus kita akui pemerintah penjajah Belanda dahulu sudah mempunyai sistem pendidikan yang baik. Walaupun sekolah-sekolah yang tersedia waktu itu hanya menerima kelompok warga tertentu. Para lulusan Hogere Burger School (HBS) banyak yang fasih berbicara 4 bahasa: Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis. Setidaknya secara pasif mereka mampu. Padahal HBS itu setara dengan SMP/SMA. Jaman itu memunculkan nama-nama seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Hampir semua pionir bangsa kita fasih berbahasa asing. Bukan itu saja. Mereka dididik menjadi orang yang senantiasa haus akan pengetahuan. Gemar membaca. Pandai menulis. Fasih berkomunikasi. Belajar tiada henti sepanjang hayat dikandung badan.

Seorang teman warga negara Singapura, mendirikan sebuah software production house di salah satu kota di negara kita. Seluruhnya diawaki anak-anak Indonesia . Teman saya itu mengakui, anak-anak Indonesia pandai di bidang Information Technology (IT). Mereka ini cerdas, cepat belajar dan terampil. Kekurangannya satu, yaitu bahasa Inggris. Namun, ketekunan dan kecerdasannya telah menggiring anak-anak ini untuk sampai juga ke tujuan. Saya tahu, dia telah membina dan membimbing mereka.

Teman sekota saya yang mengelola sebuah perusahaan di bidang fotografi mempunyai beberapa orang yang mengelola hardware maupun software perangkat komputernya. Ia heran, bagaimana anak buahnya, yang notabene tidak menguasai bahasa Inggris, tapi dengan ketekunannya telah mampu mengembangkan dirinya. Saya tahu, teman saya telah membimbing dan membinanya dengan  baik. Mereka diberi keleluasaan untuk belajar sendiri. Diberikan fasilitas. Diberikan atensi. Diberikan apresiasi. Bukankah itu dasar dari pendidikan yang baik?

Jadi, cerdaskah anak bangsa kita? Silakan anda menjawabnya sendiri. Semuanya terpulang kepada Pemimpinnya. Hari ini Bangsa Indonesia membutuhkan Pemimpin. Seorang Pemimpin visioner, keras, tegas dan berani bertindak. Seperti Bung Karno dan Bang Ali.

Iklan