Rabu, 21 Mei 2008  PUKUL 12.25 di Lobby Hotel Novotel, Bogor, bertepatan dengan tanggal 20 Mei 2008, hari seabad Kebangkitan Nasional. Sosok Pramono Anung, Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) – – konon pernah menjadi ikon partai wong cilik – – tampak berdiri. Di sebelahnya ada isteri dan anak-anaknya. Juga ada kerabat lainnya yang tidak saya kenal. Mereka bersiap-siap untuk check out, setelah berlibur di hotel resort bernuansa country itu. Tak lama saya perhatikan, ia menaiki mobil Range Rover Sport Supercharged B 2002 BS, yang masih terlihat baru.

Pramono menyetir sendiri. Mobil sport itu ketika baru keluar 2005, seingat saya
di Amerika Serikat dijual US $ 69,750. Seandainya masuk ke Indonesia dikenai
pajak barang mewah, maka bisa mencapai tiga kali lipat harganya. Paling tidak di
angka Rp 1,5 miliar.

Dari jarak sekitar sepanjang lapangan volley, saya perhatikan mobil
berpersneling otomatis itu digas agak kencang oleh Pramono. Suara mesin yang
4.200 CC, menjadi seakan mengaum. Sebuah laku agak aneh. Buat apa pula mobil
diam digas kencang? Beberapa orang yang ada di lobby hotel itu melirik.

Saya berkomentar sendiri. Isteri dan anak-anak saya yang sedang berdiri-diri di
lobby berujar, “Sst, jangan sirik. Jangan melirik.” Sering kali tanpa sengaja,
saya seakan dipertontonkan akan laku aneh para politikus, pemimpin. Laku aneh
bersikap, laku ajaib berkendara, lebih-lebih laku dalam berjamaah berkorupsi.

Sehari sebelumnya, atas kebaikan kawan lama, saya sekeluarga mendapatkan
penginapan gratis. Sudah tujuh tahun kami tak pernah ke kawasan hotel yang
berada di lingkungan Bogor Lake Site itu. Pintu keluar tol menuju lokasi dari
arah Jakarta sudah ada lebih dekat.

Hotelnya unik. Dua lantai di bagian bawah, dua lantai di bagian atas. Seluruh
lantai dari kayu. Taman dengan rumput hijau, pohon-pohon besar mendominasi. Ada
pula patung-patung besar kerbau, seukuran asli. Arsitekturnya bertema Majapahit.
Elemen estetika di dinding kamar berupa terakota, berukiran kuda-kudaan,
dibiarkan berwarna bata. Selain kolam renangnya yang berada di bagian tepian
kali kecil di bawah rimbunan pohon dan derusan suara air kali, duduk-duduk di
Balai Bengong, yang dibuat seakan menggantung di sebelah restorannya, menjadi
pengalaman tersendiri.

Ada sekitar tiga menit mobil Pramono masih diam di tempat di parkir. Tak lama
kemaudian dengan sedikit digas saja, mobil meluncur cepat. Range Rover Sport
adalah SUV mewah berperforma, high-speed SUV. Sebagai kendaraan yang dibuat
khusus untuk kesenangan mengemudi, menjadi salah satu yang terbaik pernah dibuat
Land Rover.

Bila Range Rover yang lama seri HSE menggunakan mesin 4.4 liter V8 yang
memproduksi 300 hp sementara Supercharged menggunakan mesin 4.2 liter V8
menghasilkan tenaga 390 hp. Membayangkan menunggang mobil Pramono itu, saya
menjadi teringat kembali akan nasehat almarhum Lady Di (Diana Spencer), kepada
dua orang puteranya.

Kepada pengeran Willliam dan Harry, Diana pernah mewanti-wanti agar selalu
bersyukur. “Tidak semua orang bisa berlibur setiap tahun, tidak semua orang bisa
naik Range Rover.” Artinya, Diana yang masih bersuamikan Pangeran Charles kala
itu, sudah mengambil contoh, bahwa Range Rover, keluaran Land Rover, produsen
mobil Inggris itu, menjadi contoh barang mewah. Dan di Indonesia, barang mewah
itu itu menjadi salah satu mobil yang terbanyak penjualannya – – di negara yang
puluhan ribu bangunan SD diambang rubuh, konten dan mutu pendidik mengalami
degradasi, kaum miskin bertambah banyak, akibat kebijakan menaikkan harga BBM.

Saya menjadi teringat pula kepada almarhum Soeharto, yang pernah menghimbau
kalangan konglomerat dulu, kalau pun berkelebihan, jangan mentang-mentang.
Soeharto dalam catatan saya pernah menghimbau tidak pamer di jalanan dengan
mobil-mobil mewah. Tetapi reformasi salah satunya, telah membuat banyak kalangan
tidak malu hati menunggang Bentley Arnage, bahkan Roll Royce Phantom Sport di
jalanan Jakarta kini. Sah adanya.

Seorang kawan saya Habil Marati, anggota Komisi XI DPR, salah satu yang menaiki
Bentley di Jakarta. Sebaliknya, bulan lalu ketika berada di lobby Hotel Mulia,
Jakarta, saya melihat sosok Ir. Ciputra, pengusaha properti kondang, yang mukim
di Bukit Golf, Pondok Indah, Jakarta Selatan itu, tampak naik Toyota Camry saja.

Anda yang berkelebihan uang membeli Range Rover Sport memang mendapatkan Land
Rover sejati dengan kapabilitas luarbiasa, baik di off-road maupun on-road.
Kemampuan itu berkat sistem Terrain Response yang cerdas, gesit. Sistem ini
adalah air suspension yang dikontrol secara elektronik. Juga berkat aplikasi
teknologi Dynamic Response.

Pada versi Supercharged, fitur standarnya termasuk active anti-roll system yang
dikontrol komputer. Sistem ini mendeteksi ketika mobil memasuki tikungan dan
bertindak untuk mengoptimalkan body control dan handling. Teknologi ini adalah
salah satu alasan utama mengapa Range Rover Sport memiliki kelincahan dan
handling setara dengan kendaraan yang lebih kecil.

Pada 1992, ketika di London, Inggris, saya berkesempatan naik sedan seorang
kenalan, eksekutif di GEC Marconi. Ia menyetir sendiri mobilnya. Ketika mengajak
tea time sekitar pukul 15.00 petang ke rumahnya, eksekutif itu mengajak naik
Rover, sebuah sedan yang nyaman, memiliki, cruise control. Entah mengapa sedan
Rover yang jauh lebih murah justeru tak laku di sini, sebaliknya yang SUV, Range
Rover jauh lebih mahal, malah bertebaran. Bukan rahasia lagi bahwa mobil di sini
menjadi status simbol.

KETIKA melintasi jalan tol pulang ke Jakarta, saya memperhatikan di sebuah
tempat pemberhentian, rombongan Harley Davidson yang mengikuti kegiatan Jalur
Merah Putih (JMP) 2008, tampak puluhan orang berkumpul, terlihat dari seragam
yang dipakai. Agaknya mereka dari kelompok utama, meraka yang bakal pulang ke
Bogor. Inilah bagian rombongan JMP 2008, yang sempat menewaskan Sophan Sophiaan
itu.

Di hari Kebangkitan Nasional pula, saya sengaja melihat-lihat kawasan Jembatan
Guntur ke arah Menteng, sekitar 200 meter dari rumah. Saat ini di kiri kanan
kali sedang dilakukan pelebaran. Juga ada pekerjaan pembangunan tepi kali
berbeton sedang berjalan. Lebih dari sepuluh keluarga yang pernah mukim di bawah
jembatan itu, kini kediamannya seakan menganga, menjadi terbuka – – dulunya
tertutup pepohonan dan semak-semak kali.

Salah seorang kepala rumah tangga yang masih bertahan tinggal – – kendati lorong
bawah jembatan menjadi tampak tansparan. Kini di malam hari masih menjadi
pangkalan keluarganya. Siangnya mereka masih menjala – – dalam arti harfiah – –
sampah-sampah lewat yang dialirkan Sungai Ciliwung. Jala yang saya maksud
berbentuk jaring macam penangguk buah mangga. Galah diturankan ke kali, dari
atas mereka mengangkat plastik, dan barang berharga jual lain yang hanyut lewat.

Siang menjelang sore itu, saya amati Bapak itu juga mengumpulkan kaleng. Saya
tanyakan apakah dia tahu sebuah kaleng Pediasure ukuran 5 kg, yang berada di
samping kantung plastik besar berisi macam-macam botol plastik yang telah
dikumpulkan itu.

“Tidak, saya tak tahu isinya,” jawab Bapak itu, ihwal kaleng susu yang dikenal
juga sebagai makanan tambahan – – mahal untuk ukuran kebanyakan.

Saya tanya lagi, apakah Bapak tahu bahwa hari ini Hari Kebangkitan Nasional?

“Tadinya tidak tahu, tetapi anak-anak serombongan ada yang berteriak lewat di
atas jembatan, mereka bilang hari ini seabad kebangkitan.”

Apa makna Seabad Kebangkitan?

“Hidup rasanya lebih susah. Teman saya sesama penghuni kolong jembatan, sudah
dua yang gila.”

MENJELANG petang saya mengajak anak-anak keluar rumah hendak pergi ke tempat
mencetak foto di bilangan Jl. Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat. Kami menaiki
mobil Toyota Hardtop tahun 1979. Mobil tua itu milik keluarga yang masih
terawat, dibeli sejak baru. Kami lalu mengisi bensin di Jl. Jusuf Adiwinata,
Menteng.

Saya memberikan uang Rp 100.000. Petugas pom bensin, tertawa.

Kenapa tertawa?

“Tadi barusan ada petugas kontrol dari Pertamina Pak.” jawab petugas pom bensin.

Lantas?

“Iya nih, Bapak baca sendiri, “ ia menunjukkan surat edaran Pertamina bernomor
501/…, saya tak hafal nomor berikutnya, mata saya tertuju ke isi surat itu,
“Mobil pribadi hanya boleh membeli maksimal tujuh puluh lima ribu premium.”

Lah mana mungkin orang Menteng sini sekali isi bensin hanya Rp 75.000?

“Yah itulah Pak. Kalau tak ada pemeriksaan, kami mengisi penuh saja sesuai
dengan permintaan pelanggan.”

Jika ada petugas yang mengawasi?

“Kami isi maksimum tujuh puluh lima ribu . Tetapi konsumen tak kalah pintar kan
Pak, mereka mutar lagi, antri lagi. Kami isi lagi. Jadi kalau dia ngisi tiga
ratus ribu, maka empat kali antri.”

Saya tertawa. Inilah kenyataan lain di Hari Kebangkitan Nasional.

Saya lalu teringat ketika anjangsana saya ke Eropa dan Amaerika Serikat dan
Kanada. Di negara itu umumnya masyarakat dihimbau membelanjakan uang, agar
ekonomi berputar. Di sini yang katanya negara Pancasila, yang sudah banyak
meliberasilisasi perekonomiannya, justeru melakukan himbauan penghematan. Sebuah
laku ibarat berjalan menempatkan kepala ke bawah dan kaki ke atas.

Di saat ekonomi sektor riil tidak tumbuh, himbauan penghematan, kian memperburuk
ekonomi, yang membuat keadaan kian sulit saja. Sebaliknya mereka yang di atas,
kalangan eknomi atas, pejabat, penguasa, termasuk anggota parlemen, kian
berfoya-foya. Saya menjadi teringat akan kalimat almarhum Sophan Sophiaan di
televisi, yang direkam ketika ia menjelaskan alasan mundur dari DPR, mundur dari
PDIP.

“Saya tak tahan, kita ini memperjuangkan kehidupan rakyat banyak. Tetapi mereka
yang di atas, mereka petinggi parpol hidup dengan siatuasi amat sangat
berlebihan,” tutur Sophan Sophian. Dan saya percaya Sopan tidaklah memiliki
Range Rover, Alphard, dan mobil mahal lain macam dipunyai oleh Pramono Anung,
Sekjen PDIP itu.

Lewat di bilangan Jl. Sudirman, menuju Semanggi, petang menjelang magrib, macet
tak ketulungan. Rupanya ratusan bus, banyak yang mangkal hingga ke trotoar
jalan. Bus itu rombongan yang membawa mereka unjuk kebolehan di Istora Senayan.
Acara memperingati Seabad Kebangkitan, dihadiri Presiden SBY, Wakil Presiden
Jusuf Kala, berikut jajarannya, melibatkan ribuan pementasan.

Seusai magrib, saya menyimak di televisi, bahwa acara hari Kebangkitan Nasional,
memang kolosal, begitu menggugah rasa nasionalisme. Ada slogan, “Indonesia
Bisa!” yang diuarkan SBY.

Bisa menurut kamus Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka berarti: mampu.
Tetapi, menurut kamus pula, bisa, juga berati racun yang menyebabkan luka, busuk
atau mati bagi sesuatu yang hidup.

Saya tentu tetap optimis bagi Indonesia yang seharusnya memang maju ke depan.
Tetapi yang tak terpungkiri slogan SBY itu macam pedang bermata dua.

Saya merasakan bagaimana kepiluan masyarakat bawah kini diambang kenaikan harga
BBM, harga-harga kebutuhan pokok melambung tajam. “Indonesia Bisa” yang
dicanangkan di acara akhir, senandung lagu ciptaan SBY, jika hanya dinyanyikan
dari awang-awang, keadaan riil di kepahitan masyarakat memang menjadi tidak
tampak, tidak terdengar.

Dan seorang Pramono Anung, yang “menjual” isu wong cilik, saya indikasikan tidak
pula merasakan lagi kepahitan konstituennya. Apalagi di saat menyetir Ranger
Rover Suparcharged-nya.

Rover menurut kamus Bahasa Inggris yang saya baca, bisa diartikan mutar-mutar.
Jika,mobil dijuduli Rover, menjadi kendaraan buat mutar-mutar. Yang celaka bila
dalam Seabad Kebangkitan Nasional, yang ada hanyalah menyimak laku “mutar-mutar”
pemimpin bangsa, yang tidak pernah melahirkan solusi bagi Indonesia yang
benar-benar bangkit ekonomi – – jauh dari intervensi asing dan berbagai
kepentingan – – membangkitkan kesejahteraan.

Sebaliknya kini, jumlah kalangan miskin secara riil bertambah menjadi 42 juta
orang. Jumlah angkatan kerja yang menganggur, termasuk yang terselubung sudah
pula mencapai 40 juta. Daya beli masyarakat banyak melemah drastis.

Dalam keadaan demikian, menyemangati rakyat kebanyakan dengan mengatakan: Bisa,
ditengah perut mereka kosong, susu anak-anak tidak lagi terbeli, salahkah
mengatakan “Bisa” jadi pisau bermata dua? Apalagi banyak pihak yang katanya
membela wong cilik, sudah pula ber-Rover.

Sebagai solusi bagi Seabad Kebangkitan Nasional, rakyat kebanyakan harus lebih
pintar memilih pemimpinnya ke depan. Mereka yang cuma asyik mutar-mutar untuk
kesenangan dirinya, sudah layak ditinggalkan. Termasuk mereka yang hanya
“bernyanyi” untuk dirinya sendiri, layak pula dijuluki egois, karena tidak lagi
memberikan penghiburan bagi sesama.

Iwan Piliang, presstalk.info