Baru kali ini saya senang nonton film dalam penerbangan. Maklum sebelumnya nonton bareng. Kali ini dalam penerbangan Korean Airlines menuju Dallas dihadapan saya tersedia monitor individual sehingga saya bebas memilih berita CNN/BBC, film pendek-pendek documenter, atau film yang bisa saya pilih sendiri. Iseng saja saya pilih film ˜The Bucket List" yang ternyata saya terkesan.  Terus terang yang menyebabkan minat saya tertambat adalah penyebutan ˜kopi luwak" di awal episode.[tube]OltHNarHA9A[/tube]

Ceritanya ada seorang montir mobil African American bernama Carter Chambers
(diperankan oleh Morgan Freeman) dan seorang pemilik jaringan rumah yang kaya
raya bernama Edward Cole secara kebetulan dirawat dalam satu kamar, sama-sama
didiagnosa menderita penyakit kanker.  Mestinya Pak Cole dapat saja minta kamar
paling mahal, tapi sejak semula ia berpendirian tidak ingin dirawat sendirian
tanpa teman mengobrol. Dasar keduanya senang ngobrol, mereka cepat akrab. Carter
ini gemar membaca buku tapi putus sekolah, tapi ceritanya tidak suka main
perempuan dan sayang isteri. Kedua pasien ini suka bercanda, dan si kaya Cole
memerintahkan anak buahnya untuk melayani Carter dan meminta pada dokternya
untuk memberikan perhatian yang sama pada Carter.

Film ini penuh dengan dialog bermutu. Cole dan Carter sama-sama tahu tentang
kopi luwak yang enak dari Jawa meskipun diambil dari kotoran luwak. Juga
terselip ucapan berasal dari penulis novel William Saroyan yang kebetulan saya
pernah baca.  Begitu pula Pak Cole menyitir ‘purgatorio’ dari ˜La Divina
Comedia" (The Divine Comedy) tulisan Dante Aligieri yang juga pernah saya
baca. Kalau Pak Carter seorang bapak yang baik, Pak Cole berkali-kali
kawin-cerai.

Pak Carter dan Pak Cole sama-sama divonnis dokter hidupnya tak lama lagi.Â
 Carter diam-diam menulis ˜Bucket List" artinya daftar keinginan apa saja
yang akan dia lakoni sebelum dia menendang buket bunga alias karangan bunga
ucapan orang berduka cita. Cole tak sengaja membaca kertas bertuliskan daftar
keinginan terakhir Carter itu yang aneh-aneh misalnya ingin terjun payung,
balapan mobil  dan jalan-jalan ke Mesir. Setuju, kata Cole, mari kita lakukan
sama-sama saya akan membayar. Pak Carter setuju, tetapi membuat isterinya
Virginia (diperankan  Beverly Todd) membenci Pak Cole.

Begitulah, kemudian Pak Cole dan Pak Carter jalan-jalan keluar negeri, berlomba
mobil balap, terjun paying, mendaki pyramid, dan bersafari di Kenya. Dalam
perjalanan, kedua orang saling saling menceritakan soal pribadi masing-masing.
Setelah saling curhat, diam-diam Pak Cole menyuruh seorang PSK untuk melayani
temannya, tapi Carter menolak rayuan wanita itu karena selama hidupnya dia tidak
pernah ML dengan perempuan selain isterinya. Carter malah marah, dia minta
diantar pulang saja. Tapi sebagai balas budi, dia diam-diam mengatur pertemuan
Cole dengan putrinya yang telah lama tidak saling bersapaan. Cole yang takut
bertemu anaknya menjadi marah pada Carter.  Terpaksa Cater pulang berkumpul
kembali dengan isteri dan anaknya.

Kebahagiaan Ny. Carter tidak lama, karena Pak Carter penyakitnya kambuh dan
segera dilarikan ke rumah sakit. Kanker telah menjalar ke otaknya. Mendengar
berita itu, Cole segera menjenguk Carter di rumah sakit.  Carter menceritakan
bahwa kopi berasal pertama kali dari kota Kafa di Ethiopia (cerita ini pernah
saya dengar ketika saya tinggal disana) lalu dikenal di Jazirah Arab dengan
sebutan "kopi Arabica" sebelum kopi dikenal diseluruh dunia termasuk di Jawa
dimana kopi yang diambil dari kotoran luwak adalah kopi yang paling enak di
dunia.  Mereka lantas tertawa terpingakal-pingkal dan terpenuhi salah satu
daftar keinginan "tertawa sampai menangis".  Lalu Carter mengatakan agar
Cole menyelesaikan ˜daftar keinginan" sendirian tanpa dia.  Beberapa saat
kemudian Carter dibawa ke kamar operasi.  Tapi operasinya tidak berhasil, dan
Carter meninggal dunia.

Cole sendiri berumur panjang. Dia meninggal pada umur 81. Begitu ceritanya.
Salam,
RM