Sabtu, 17 Mei 2008 ANGKA empat oleh banyak kalangan Tionghoa, dipercaya sebagai angka yang membawa sial. Empat berarti si (baca se) mati. Maka, jangan heran bila ada gedung perkantoran atau mall di Jakarta, yang memberi label lantai 3A untuk tingkat 4-nya. Sedangkan lantai 13 dijuduli 13A, sebab 1 dan 3, bila dijumlah tetap si, tetap mati.

Untuk sebagian bangsa Asia, khususnya di bagian utara mulai dari daratan Cina ke
timur, angka 4 memang dipercaya sebagai simbol bencana, tidak mendatangkan
keberuntungan, dan berbagai kepercayaan yang mengarah kepada kegagalan.

Itulah sebabnya, di sebagian besar lift yang ada di Hongkong atau nomor-nomor
apartemen di Taiwan, angka 4 ini jarang sekali digunakan. Seperti angka 13 yang
dipercaya membawa celaka, di berbagai negara lain, angka 4 menjadi tabu dipakai.

Kepercayaan ini dianut bukan saja oleh kalangan awam, perusahaan Canon di Jepang
pun takut oleh angka 4 ini sehingga untuk model digital cameranya, mereka tidak
berani menggunakan nama model PowerShot G4 melainkan langsung melompat dari
PowerShot G3 menjadi G5.

Hotel Marriott, Jakarta, oleh Tan Kian – – khusus ihwal Tankian pernah saya
tulis di http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=5 – – sebagai pemilik, begitu
percaya terhadap ramalan feng shui, sehingga di seluruh hotel miliknya tidak
satu pun ada angka 4, mulai dari nomor kamar hingga nomor lift. Boro-boro angka
4, angka yg bisa dijumlahkan menjadi 4 pun telah "dihilangkan" sama sekali,
seperti angka 13 (1+3) atau 22 (2+2), juga 24.

Saya tidak bersengaja menulis motor bagian ke-4 ini, berkait ke kematian, dengan
berpulangnya Sophan Sophiaan, mantan anggota DPR dari PDIP, yang juga artis film
itu pukul 09.30 hari ini yang terjatuh di jalan raya di daerah Ngawi, Jawa
Timur.

Ketika menulis ihwal Motor pertama di http://www.presstalk.info, tepat Tanggal satu
bulan empat, 2008. Saya tak akan mengira bahwa tulisan Motor IV, menyinggung
ihwal kematian.

Sama sekali tak terpikirkan.

Namun karena saya menulis rutin setidaknya menimal 1.000 kata perhari, maka
tajuk Presstalk hari ini jatuhlah kepada judul Motor IV, menjadi berkait ke
urusan meninggalnya Sophan Sophiaan, urusan kematian.

Saya menulis ihwal motor berseri-seri. Hal itu tak lain karena animo membalas
topik dari berbagai komunitas, terutama komunitas Apakabar di internet yang
begitu bergairah menanggapi.

Apalagi sosok Kibroto, pentolan milis Apakabar, yang memang penggemar motor
besar, bahkan turut serta di sebagian acara Jalur Merah Putih (JMP) 2008,
rombongan besar motor-motor besar keliling Jawa – – dimana almarhum Sophan
Sophiaan sebagai ketua pelaksana JMP, yang baru akan berakhir tepat di perayaan
seabad Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008.

JMP 2008 yang diikuti 273 Harley Davidson. Road show motor gede (moge) keliling
Pulau Jawa yang digagas Sophan dan teman-temannya berangkat dari Jakarta, 12 Mei
lalu. Rutenya dimulai dari Jakarta, Rengasdengklok, Cirebon, Pekalongan,
Semarang, Rembang, Tuban Surabaya, Kediri, Karanganyar, Solo, Yogyakarta,
Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Rombongan akan tiba di Jakarta pada 20 Mei 2008.

Rute Jakarta-Surabaya melalui jalur pantai utara Jawa. Dari Surabaya, JMP 2008
melewati jalur selatan. Jumat, rombongan 2008 tiba di Kediri dan menginap
semalam di kota markasnya Gudang Garam – – sebagai salah satu sponsor.

Sabtu, rombongan JMP 2008 berangkat meninggalkan Kediri pukul 07.00. Sophan
Sophiaan mendapat nomor urut lima. Rombongan tiba di kawasan hutan Widodaren
pukul 09.49.

Tiba-tiba, motor Sophan yang berada ditengah-tengah rombongan terjatuh. Sophan
pun juga ikut terjatuh dengan posisi tertelungkup. "Saat jatuh posisinya
tertelungkup. Tak terlihat adanya luka. Kakinya patah dan dari mulutnya keluar darah.

Sepertinya luka dalam," ujar Trui Erika, peserta JMP 2008 yang saat itu berada
di mobil pengawal, sabagaimana saya kutip dari Kompas.

"Tidak benar kalau ada tabrakan beruntun tiga motor. Pak Sophan jatuh sendiri
karena ada lubang sebesar roda motor Harley," tegas Tri.

Sophan Sophiaan jatuh dari Harley Davidson Electra Glide dengan mesin
berkapasitas 1.600 CC, berat sekitar 385 kg. Menurut taksiran, motor itu
berharga Rp 350 juta. Sopan di pagi yang cerah itu, bersama rombongan bergerak
dengan kecepatan antara 60 sampai 70 km jam.

Malang tak dapat diduga.

Saya perhatikan di Teve One, sosok reporter memberi tanda tempat jatuhnya motor
Sopan. Terlihat jelas bahwa ada bagian jalan yang legok aspalnya. Agaknya
kendaraan dengan beban berlebih telah menginjak bagian ruas jalan agak ke kanan
itu yang labil, lembek aspalnya.

Jalanan itu seakan terbenam 20 cm sepanjang empat meter. Ia seakan semacam
lorong kecil berlubang, di sekitar kawasan hutan Widodaren itu. Mungkin karena
mengingatkan kepada kawan-kawannya di belakang akan kurang bagusnya jalan, mata
Sophan kurang awas ke depan, maka ia terjatuh.

Situs detik.com, memberitakan sesuai keterangan saksi mata, bahwa setelah
terjatuh, Sopan sempat terlindas oleh pengemudi rombongan di belakangnya. Namun
pihak kepolisian menyangkal.

“Jadi lubangnya sepanjang empat meter dan dalam 20 senti meter, Sopan terseret
sejauh 25 meter oleh motornya,” kata Kepala Satuan Poliai Jalan Raya Polres
Ngawi, AKP Heriyanto, sebagaimana saya kutip dari http://www.detiksurabaya.com.

Lagi-lagi ada angka 4, empat meter panjang lubang yang membuat Sopan Sophiaan
berpulang.

Tentu tak ada hubungan antara lubang empat meter dan tulisan Motor bagian IV
ini, yang berarti si, mati, itu.

Saya pribadi mengajak Anda semua, mendoakan Sophan Sophiaan, diterima oleh Tuhan
Yang Maha Esa.

Saya membaca, di milis Forum Pembaca Kompas (FPK), sebagaimana diposting oleh
Haniwar Syarif, ada saja pihak yang menyumpahi rombongan moge itu – – karena
menutup sebuah pom bensin untuk umum demi moge, menembus jalan toll yang tidak
boleh untuk motor. Pribadi Sophan Spopiaan yang memiliki integritas di dalam
berkarir; artis film dan politikus, layak mendapatkan tempat yang layak di sisi
Tuhan.

Dan laku ajaib Pemda, setelah sosok Sophan berpulang, jalanan jelek di seputar
area kecelakaan langsung diperbauiki. Padahal di ruas jalan itu, akibat jalanan
tidak rata dan berlubang telah pula menelan kecelakaan banyak korban diantaranya
terjadi pada Jumat, 2 Mei 2008, saat bus menabrak truk. Dua orang meninggal dan
26 luka-luka dalam peristiwa.

Setelah ada kecelakaan yang menimpa artis Sophan Sophiaan, Balai Besar V
Surabaya, Departemen Pekerjaan Umum, baru unjuk gigi memperbaiki bagian-bagian
jalan yang rusak. "Malam ini , kami langsung perbaiki titik-titik jalan yang
berbahaya supaya tidak ada kejadian lagi," kata Yuzid Thoyib, Kepala Balai Besar
V Surabaya, Departemen Pekerjaan Umum, kepada Kompas.

Saya tak paham, mengapa baru dilakukan perbaikan setelah ada musibah merenggut
nyawa tokoh. Keadaan infrastruktur yang demikian, yang mengakibatkan korban
jiwa, di Negara yang lebih beradab, setahu saya pejabat terkait bisa
dipengadilankan: lalai memenuhi kewajiban pelayanan masyarakat. Di sini, entah
mengapa, seakan-akan nyawa murah, kekuasaan semena-mena dalam menjalankan amanat
jabatan.

Di Jakarta sering pula kecelakaan kini terjadi di malam hari, karena pengendara
menabrak jalur pembatas busway, yang tidak diberi kode atau spotlight, untuk
mengingatkan pengendara bahwa ada pembatas jalan, di tengah jalur.

DI JAKARTA, pada 13 Mei 2008 – – 13 (1 + 3=?) – – Polda Metro Jaya kepada pers
menyampaikan, bahwa 88 persen dari 3.522 kasus kecelakaan lalulintas di Jakarta
(2007), melibatkan sepeda motor, dengan korban tewas 719 orang.

Kepala Sub Direktorat Pendidikan dan Rekayasa Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP
Chrynanda mengatakan hal itu, di sela-sela acara jumpa pers tentang
penyelenggaraan "Kampanye Keselamatan Berlalu Lintas" di Mapolda Metro Jaya,
Jakarta Selatan.

Menurut dia, selain korban tewas, sebanyak 1.703 orang mengalami luka berat,
2.454 mengalami luka ringan.

"Jumlah kecelakaan dan korban ini baru yang terdata di kantor polisi. Masih
banyak yang belum terdata, sebab banyak juga yang jatuh dari motor dan pejalan
kaki korban lalu-lintas yang tidak diketahui oleh polisi," katanya.

Untuk mengatasi tingginya kecelakaan pengendara sepeda motor itu, Polda Metro
Jaya terus menertibkan dengan mengarahkan agar sepeda motor menggunakan jalur
kiri, menyalakan lampu dan memakai helm.

Hingga hari ini saya, misalnya, selalu memperhatikan perempatan Halimun, Sultan
Agung ke arah Menteng, Jakarta Pusat, hampir saban kesempatan, ada saja
motor-motor melabrak lampu merah. Memprihatinkan.

Jumat kemarin, seorang Bapak, naik motor Bajaj Pulsar, di perempatan Halimun
itu. Sudahlah dia menabrak lampu merah, kemudian menyalakan klakson, laksana
suara klakson PJR. Ia terhambat oleh sebuah taksi yang didepannya antri di
tengah kemacetan.

Di dalam hati saya berkata; baru berbajaj Pulsar yang 180 cc saja sudah belagu,
bagaimana pula bila orang macam itu berharley-davidson? Saya pastikan orang
macam ini lebih “mana-tahan” gayanya dibanding anggota JMP 2008 yang telah
berharley duluan.

URUSAN motor besar, khususnya setelah Sophan Sophiaan berpulang, mengingatkan
saya kepada RAJ Lumenta. Sosok mantan Dirut Garuda Indonesia itu, pernah saya
tulis untuk rubrik Pria dan Kesenggangan di majalah MATRA, pada 1985, setahun
setelah ia menjabat Dirut.

Lumenta, yang memang ahli mekanik itu, sering mendapatkan “hibah” motor besar
dari orang-orang penting. Motor itu biasanya sudah tidak dalam keadaan jalan,
setelah diberikan kepada Lumenta, dipreteli, diutak-atiknya, kemudian hari
langung tokcer dapat dibawa ngebut ke luar kota.

Sering pula ia menitipkan kepada pilot Garuda, misalnya bila terbang ke Tokyo,
untuk mampir ke sebuah junk yard (tempat barang rongsokan), membeli onderdil
motor. Terkadang ia menitipkan untuk dibelikan blok mesin motor BMW ber-cc di
atas 1.000 cc. Di luar tugas rutinnya, Lumenta merakit motor hingga jadi.

Saya perhatikan Lumenta kala itu begitu happy bila sedang mengutak-atik motor
rongsok itu. Dan bila sudah berjalan, bisa dipastikan motor-motor itu dia rawat
dengan telaten, persis setelaten Sophan Sophiaan merawat motornya sendiri.

Kedua orang ini di mata saya memang perfectionist. Lumenta, tuntutan pekerjaan
yang membuatnya harus tamil perfect, karena berangkat dari mekanik yang
mengontrol urusan teknis pesawat.

Sedangkan Sophan Sophiaan, karena kehidupan pribadi telah melatihnya bersikap
begitu – – sampai-sampai urusan menggosok baju agar tampil rapi dan necis, ia
lakoni sendiri, tidak diseterika pembantu atau Wiyawati, sang isteri.

Dari Lumenta saya menjadi paham, bahwa bermotor itu memang memberikan kenikmatan
sendiri. Lebih jauh lagi berhobbi: memberikan kegembiraan.

“Naik motor, kita yang mengendalikan. Sedangkan bermobil, kita yang
dikendalikan,” begitu petuah Lumenta kepada saya, kala itu.

Maksud dia, motor itu kita naiki, kendali penuh ada di tangan sendiri. Sedangkan
mobil, kita masuk ke dalam setir, terkurung bodi, terkurung mesin, banyak faktor
bila mengemudikan mobil, yang mebuat seseorang itu menjadi bagian saja.
Sedangkan di motor, seseorang menjadi segalanya, penentu. Kira-kira begitu
penjabaran Lumenta.

Dalam urusan menuliskan kesenggangannya bermotor, ada tiga kali saya berjumpa.
Sekali di kantor, dua kali di rumah Lumenta di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.
Di ruangan kerjanya yang sederhana di bagian depan rumahnya, Lumenta pernah
menyerahkan sebuah copy naskah buku sebuah peristiwa tragis, sangat dramatis,
kepada saya.

Peristiwa itu adalah: jatuhnya dua buah pesawat Dakota (DC 3), pada penghujung
1960-an. Pesawat itu keduanya bertujuan Palembang. Pesawat kedua berjalan 40
menit kemudian. Entah mengapa di udara kedua pesawat saling bertibanan. Jatuh.
Dan Lumenta adalah sosok yang turut mencari korban kala itu.

“Setelah saya hitung-hitung, lama pencarian korban, ternyata 13 hari baru
dihentikan. Dan di kedua pesawat, penumpang masing-masing 13 orang. Bahkan ada
salah satu penumpang yang akan menikah tanggal 13,” tutur Lumenta mengenang.

Bulu roma saya merinding.

Saya sampaikan kenapa tidak diterbitkan menjadi buku yang dijual umum kisah unik
itu?

“Jangan, saya menghormati keluarga korban. Dan nanti kalau saya sudah tak ada,
bolehlah kamu verifikasi menjadi sebuah buku,” begitu ujar Lumenta yang kini
sudah di alam baka itu, alam yang disusul pula oleh Sopan Sophiaan.

Karenanya di Motor IV, dan empat berarti si (mati), saya lebih menuturkan dua
sosok orang yang telah berpulang. Tulisan ini bukanlah sesuatu yang saya
sengaja.

Tulisan ini menjadi pesersembahan bagi mereka yang gugur di medan jalan di atas
motor, penggemar motor, pencinta motor, termasuk orang-orang yang terpaksa naik
motor, karena harus mengirit ongkos, karena harus mengakali macet di Jakarta
yang terus menjadi-jadi.

Karena jumlah motor dan laku pengendara bermotor, juga laku pejabat Negara yang
tak memikirkan angkutan umum massal di negeri yang kian unik ini, saya pastikan,
saya akan menuliskan ihwal motor lagi. Motor V, dan seterusnya.

Iwan Piliang