Kalau kepicikan sudah sampai diubun-ubun, batu nisan di makam juga menjadi sasaran. Batu nisan Abdus Salam. Kata "Muslim" dihapus dari batu nisannya. Apa kesalahan Abdus Salam? Selama hidupnya Abdus Salam justru mengharumkan nama Islam dan nama Pakistan di mata dunia. Untuk karyanya mengenai fisika, Abdus Salam memperoleh Hadiah Nobel tahun 1979. Seluruh dunia menghormati Abdus Salam. Tapi orang Republik Islam Pakistan mencacinya. Kesalahan Abdus Salam hanya satu, yaitu menganut ajaran Ahmadiyah. Orang picik menganggap Abdus Salam bukan orang Islam, dan lantaran alasan itu dia tidak layak dihormati.

Selama masih hidup, Abdus Salam dicerca di negaranya
sendiri karena kepercayaan yang diyakininya. Jasanya
di bidang fisika dicemoohkan. Ketika dia meninggal
pada tanggal 21 November 1996 dan dimakamkan di
Rabwah dekat perbatasan India, orang picik menjadi
marah dan mengubah nama kota itu menjadi Chenab Nagar.
Orang picik sampai-sampai ikut menghadiri pemakaman
hanya untuk menjaga jangan sampai ada ritual
Islamnya. Hah, mereka melihat nisannya bertulisan
"Abdus Salam the First Muslim Nobel Laureate". Tanpa
menunggu lebih lama lagi, datanglah satu regu polisi
membawa senjata disertai seorang hakim yang
memerintahkan agar kata "Muslim" dihapus dari batu
nisan.

Ketika Abdus Salam terbaring sakit keras di London,
teman dekatnya di Islamabad bermaksud mengadakan acara
memperingati hari lahirnya yang ke-70. Orang picik
tidak memberi ampun kepada Abdus Salam, sekalipun dia
sudah dekat dengan ajalnya. "Segala acara untuk
memperingati Abdus Salam sama saja dengan menodai
Pakistan," begitu fatwa dari MUI atau dalam bahasa
Urdu Aalmi-i-Tahaffuz-i-Nabbuwat. Tapi teman Abdus
Salam tetap saja melangsungkan acara itu, syukur
Alhamdullillah tidak terjadi apa-apa.

Orang picik menyambut dengan cemooh ketika diumumkan
Abdus Salam menerima Hadiah Nobel fisika tahun 1979.
Dalam khotbah shalat Ied, imam Lal Masjid Islamabad
menyampaikan bahwa Abdul Salam bukan orang Islam
bahkan musuh Islam, biarkan saja orang Yahudi
menghormati dia.
Imam itu juga menuduh Abdus Salam membocorkan rahasia
nuklir Pakistan.

Setelah Abdus Salam memenangkan hadiah Nobel,
Universitas Quaid-i-Azam bermaksud mengundang dia,
tapi pemerintah Pakistan tidak mengijinkan dengan
alasan mengkhawatirkan kekacauan oleh orang picik.
Tapi akhirnya Abdus Salam menyampaikan ceramah di
tempat lain yaitu PINSTECH (Pakistan Institute of
Nuclear Science and Technology) yang tidak dapat
dijangkau orang picik. Ungkapan Islami dalam
makalahnya dihapus dari berita pers yang dikuasai
rejim Jendral Zia-ul-Haque.

Prof. Abdus Salam dengan tenang menghadapi lawan
keyakinannya. "Kalau Anda menganggap saya bukan orang
Islam, itu hal Anda," katanya, "tapi mohon saya agar
diijinkan meletakkan sebuah batu bata untuk masjid
yang hendak Anda bangun." Tapi tetap saja orang tidak
mengijinkan.

Begitu kuat keinginan Abdus Salam untuk memajukan
iptek di negaranya, sehingga dia berencana untuk
mendirikan International Center for Theoretical
Physics di Pakistan. Tapi rencana itu tidak dikabulkan
oleh presiden Ayub Khan berkat bisikan para
pembantunya. Rencana itu jauh sehelum Abdus Salam
mendapat Hadiah Nobel. Akhirnya lembaga itu didirikan
juga di Trieste, Italia, pada tahun 1964 dan kemudian
bernama Abdussalam Center for Theoretical Physics
setelah Abdus Salam meninggal.

Kecintaan Abdus Salam pada tanah airnya tidak
diragukan lagi. Setelah pengumumkan dia mendapat
Hadiah Nobel fisika, PM India Indira Gandhi mengundang
dia untuk berkunjung. Tapi undangan itu tidak
dipenuhinya karena dia ingin berkunjung ke Pakistan
terlebih dahulu. Tapi setelah itu Abdus Salam pergi
juga ke India sekedar untuk bertemu dengan bekas guru
matematika di SD yang ketika itu masih hidup. Dengan
penuh hormat, dia kalungkan medali emas Nobel ke leher
sang mantan gurunya yang ikut mengantarkan dia menjadi
ahli fisika.
Merasa senang menjadi orang Pakistan, Abdus Salam
menolak dengan halus tawaran menjadi warganegara
Inggris dan Italia.

Abdus Salam percaya bahwa hanya ada satu daya saja
yang menggerakkan alam semesta, dan suatu ketika akan
terbukti bahwa daya-daya lainnya tak lain tak bukan
adalah daya yang tunggal itu.

Ketika ditanya apa yang mengilhami Abdus Salam
sehingga dia mendapat Hadiah Nobel, dia menjawab:
"Kalau kita harus memilih beberapa teori untuk
menjelaskan satu pengamatan realita yang sama, saya
memilih teori yang punya kelebihan estetika dan itulah
teori paling benar diantara yang benar." Abdus Salam
terinspirasi Surat Malak yang berbunyi:

"Thou will see not in the creation of the All-merciful
any imperfection,

Return thy gaze; do you see any fissure?

Then return thy gaze again, and again,

And thy gaze comes back to thee dazzled and weary".