Rabu, 14 Mei 2008 DI FITH Avenue, New York, AS. Menengadah menatap ke ujung gedung jangkung menjulang langit, membuat leher sakit, ujung bangunan tak kunjung tampak. Gedung-gedung tinggi laksana beton memagari penglihatan, membuat tatapan fokus ke lingkup datar.

Di salah satu butik di bilangan jalan itu, Anda bisa menemukan produk tas
bermerk The Sak. Kendati branded luar negeri, sebagian buatan Jogyakarta, Pulau
Jawa, Indonesia. Di sana tas buatan Jogya itu dijual berkisar US 35 hingga US $
105.

Saya menjadi teringat momentum di New York itu, sebagai sebuah “penyesalan”
terhadap reformasi yang telah berjalan sepuluh tahun di Indonesia. “Penyesalan”
akan kehidupan yang tak kunjung lebih baik; jumlah sarjana yang lahir tiap tahun
mencapai 780.000 orang, hanya untuk menganggur.

Jumlah enterprener hanya 0,8% saja dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta
orang. Semangat melahirkan berbagai produk dan jasa yang masuk ke pasaran,
animonya terindikasi menyusut. Apalagi di daerah kini, yang tersosialisasikan
jika ingin kaya, ya, berpolitiklah!

Setelah memperhatikan demo memprotes kenaikan Bahan Bakar Minyak, juga menyimak
siaran televisi yang memberitakan pendaftaran partai politik pada 12 Mei 2008
lalu, melalui TV One, saya menyaksikan gerak, langkah, aktifitas partai politik
menyiapkan diri, mengikuti verifikasi, mendaftar di KPU Pusat. Mencengangkan.

Berlemari-lemari, bekoli-koli dokumen di berbagai dus, box plastik, berjejalan.
Manca warna.

Melihat tumpukan bahan, melihat desak-desakkan rombongan pengantar berkas
mengejar tenggat, laksana orang hendak kebelet ke belakang, semuanya buru-buru,
untuk tampil dahulu.

Di adegan itu, luar biasa etos dan kegigihan yang tampak. Sayangnya etos itu
bukan dipusatkan melahirkan sebuah produk dan atau jasa tertentu. Sebaliknya
animo berpolitik di berbagai lini kini, terutama di daerah kini, kian meninggi.

Saya sempat mengamati persiapan sebuah partai baru. Mulai dari menyiapkan berkas
untuk pendaftaran Depkumham, lalu kini ke KPU, mulai dari tingkat desa di
pelesok daerah, hingga kelurahan, camat, kabupaten, propinsi, berlapis-lapis.
Untuk memfotokopi data perkabupaten saja, seorang kawan di Kupang, Nusa Tenggara
Timur menghabiskan Rp 5 juta, sebuah angka yang ironis bila dibandingkan keadaan
dengan masih banyaknya balita kurang gizi di sana.

Menjelang pemilu tahun depan, kehebohan perpolitikan memang manjadi-jadi. Ada
partai-partai baru yang membagi Mobil untuk tingkat propinsi, membagikan
komputer untuk tiap kabupaten. Juga membagi uang, mulai dari Rp 300 juta
propinsi dan Rp 50 juta untuk kabupaten. Luar biasa heboh tampaknya.Inilah yang
bisa disebut salah satu hikmah Reformasi?

EMPAT tahun silam, di sebuah hotel di Jogya. Seorang wanita menyetir mobil
Jaguarnya seorang diri. Saya tak mengira. Berhenti di lobby hotel, ia menjemput
saya. Usia kami sama. Ia mengajak ngobrol di sebuah café di sebuah mall di kota
gudek itu.

Dialah, Delia Murwihartini. Ia sosok wanita pembuat tas yang dijual di Fith
Avenue, New York, AS, itu. The Sak, mengorder khusus kepada Dolly – – begitu ia
akrab disapa – – untuk dijual di butik-butik mahal dunia.

Bukan saja The Sak. Beberapa produk fashion lain, seperti Gian Franco Ferre,
juga mengorder tas padanya. Keunikan tas produksi Dolly, berbahan alami. Ia
memadukan bahan enceng gondok dengan rotan. Atau kombinasi kulit, dan rotan.
Kombinasi ramin dan kulit. Pokoknya serba ada bahan alaminya.

Saya teringat menuliskan kembali Dolly di saat perayaan sepuluh tahun reformasi,
demo-demo mulai lagi terjadi.

Di petang di sebuah mall di Jogya itu, saya begitu bangga ketika Dolly
mengucapkan, ekspornya kala itu sudah US $ 7 juta setahun. Untuk pembayar pajak
ukuran usaha UKM, dia menempati yang terbesar sedaerah istemewa Jogyakarta. Lalu
jika banyak pengusaha lain begitu bergantung kepada proyek pemerintah, Dolly
sama sekali tak menjamah.

Bahkan Sultan pun sering mengajaknya berbisnis. Dolly lebih banyak menampik. Hal
itu telah membuat langkahnya ringan: dalam setiap seminar jika ia diundang,
Dolly bisa bicara apa adanya, misalnya, tentang isu rencana pembangunan airport
baru di Jogya, kala itu. Dolly tampil kritis.

Terbayangkankah oleh Anda, jika reformasi yang ada, melahirkan orang-orang
seperti Dolly? Ia menciptakan lapangan kerja. Untuk pasar lokal ia memilki merek
sendiri dengan label Reads Bag.

DOLLY seorang sarjana komunikasi lulusan Universitas Gadjah Mada. Lantaran ogah
bekerja kantoran seperti teman-temannya, selepas kuliah Delia malah kursus
menjahit. Buntutnya, sejak 1989 ia menjahit tas yang ia titipkan di berbagai
penginapan yang banyak mendapat tamu asing, di Prawirotaman, Yogyakarta.

Setiap minggu, tak lebih dari 15 buah tas berhasil ia produksi. “Saya
nenteng-nenteng anak pertama saya ikut ngasong,” kenang Delia. Modalnya hanya
gunting, jarum dan sebuah mesin jahit merek Butterfly.

Menjajakan tas dari satu guest house ke guest house lainnya, Delia berkeliling
mengendarai sepeda motor bututnya. Selain di guest house, ia juga menitipkan tas
di Tourist Information Center, di bilangan Malioboro.

Meski satu-dua bule terlihat membeli tas buatannya sebagai buah tangan dari
Indonesia. Saat itu tas buatannya tidak punya label merek. Harganya cuma US$ 3 –
US$ 5.

Di saat betrkeliling mejajakan tas itu, tanpa malu Dolly menceritakan pula
pengalamannya “ditawar” oleh pria hidung belang. Ia tentu menolak, karena
dagangannya adalah: tas!

Mujur tak dapat ditampik. Kurang dari setahun mengasong tas, Delia bertemu bule
Swedia yang langsung memesan tas senilai US$ 6.000. Ia harus mengirim pesanan
itu dalam waktu satu bulan. Bermodal nekat, ia menyanggupi pesanan itu.

Sayang, pinjaman bank tak juga mengucur ke kantongnya. Padahal, ia harus segera
menggarap pesanan tas dalam jumlah ribuan unit. Tak kehabisan akal, Delia lalu
menyambangi toko-toko yang menjual bahan baku. Pada mereka, Delia bilang bahwa
ia sedang mendapat order namun tak punya uang untuk membeli bahan baku.
Karenanya, ia mengajak kerja sama untuk memberikan barang-barang yang
dibutuhkan, dan akan dibayar kemudian. “Dan itu berjalan!” ujarnya.

Dengan bahan baku “utangan”, Delia merangkul lima orang perajin lokal untuk
menggarap pesanan itu. Para perajin itu memproduksi tas di rumah mereka sendiri
lantaran Dolly tak punya lahan yang cukup untuk menampung mereka.

Makanya, ia rela setiap hari menyambangi para perajin dari satu desa ke desa
lain demi mengontrol kualitas tas sesuai standarnya.

Maret 1990, ekspor pertama tas Delly berangkat ke Swedia. Inilah pengalaman
pertamanya membuat tas dalam jumlah ribuan dan harus mengatur pengerjaan,
mengontrol kualitas, serta mengirimnya dengan rapi. “Dari situ saya punya
keberanian, bahwa ternyata barang ini bisa terjual dengan bagus,” ungkapnya.

Sejak itu Dolly lebih berani berhadapan dengan calon-calon pemesannya. Pesanan
senilai US$ 3.000-US$ 4.000 kemudian masuk dalam daftar order yang biasa ia
garap. Salah satu cara menggaet pembeli dari mancanegara itu, ia mendatangi
kantor Departemen Perdagangan dan minta daftar perusahaan-perusahaan di Eropa
yang membutuhkan tas dari Indonesia.

Setelah nama dan alamat ada di tangan, ia mengirimkan katalog tas produksinya.
Tak hanya itu, ia berkorespondensi dengan calon pembeli dan berniat menyambangi
mereka satu per satu di Eropa.

Akhirnya niat itu kesampaian. Tahun 1991 Dolly menyeret satu koper besar berisi
contoh tas ke Eropa. Ia menuju Italia, Belanda, Belgia, dan berakhir di Paris.
Di negara-negara itu ia menggelar dagangannya di depan calon pembeli dan
berpromosi menjajakan tas buatannya. “Wah, saya seperti bakul. Buka koper,
dagang sampel tas di sana,” kenangnya.

Pulang ke Indonesia, ia membawa setumpuk order. Ia pun menggandeng sekitar 100
orang perajin lokal untuk menyelesaikan pesanan itu. Terpaksa, ia juga mengubah
rumah orang tuanya menjadi pabrik tas dadakan.
Berikutnya, Dolly juga menyambangi Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)
untuk mencari tahu jadwal pameran yang kerap digelar di Eropa.

Ia bertekad harus mampu menembus pasar Eropa. Lantaran tabungannya masih tipis,
ia mendapat bantuan Dewan Penunjang Ekspor terbang ke Paris untuk menggelar
pameran di sana. Pameran ini merupakan awal ia berhubungan dengan dunia
internasional untuk perdagangan tas. “Setelah itu saya ketagihan untuk pameran
di luar negeri,” tukasnya.

Kerja kerasnya berbuah manis. Pada 1994 ia sudah mampu membangun pabrik di lahan
seluas 2.000 m2, di kawasan Parangtritis. Kini pabrik ini luasnya sudah menjadi
1 ha. Delia pun mengibarkan bendera bisnis dengan nama PT Rumindo Pratama.

Tak puas dengan menembus pasar Eropa, Delia terus merangsek ke pasar Amerika.
Berikutnya, ia malah mandek mengirimkan tas untuk pasar Eropa yang bermerek
Russel and Brownly, Missoni, dan Massini. Ia ingin berkonsentrasi penuh
membangun pasar Amerika.

Tahun 1998 ia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 6.000 meter persegi di
Sleman. Ia juga meladeni kembali pasar Eropa yang sempat ia hentikan.
Karyawannya bertambah hingga 600 orang dengan kapasitas produksi tak kurang dari
100.000 unit tas per bulan.

Jika sedang peak season, antara Agustus-September, produksinya mencapai 150.000
unit per bulan. Di tahun yang sama, ia mematenkan merek Read’s yang kualitas dan
desainnya mirip dengan tas-tas yang ia produksi sebelumnya. Merek ini ada di
pasar Indonesia, Australia dan Swis.

Kini Delia sudah menjadi pemain besar. Salah satu indikasinya, produk-produknya
sudah menjadi sasaran pembajak, terutama dari China. The Sak dijiplak dengan
menggunakan bahan baku yang berkualitas lebih rendah. “Kalau punya saya harganya
US$ 10, mereka jual jiplakannya US$ 3.”

Di saat mengantar saya kembali ke hotel, Dolly menceritakan perhatian yang besar
terhadap pendidikan. Saya pun begitu memprihatinkan konten pengajaran anak-anak
kini. Dengan adanya pengusaha yang mandiri, memang seharusnya mampu menggerakkan
masyarakat menjadi madani.

Ketika melihat demo-demo di hari ini mulai membuncah lagi, kenangan saya lebih
tertuju kepada Dolly, yang memiliki produk merambah pasar dunia dibanding
melirik sosok politikus muda macam Budiman Sujatmiko, misalnya.

Di saat lapangan kerja kian berkurang, Dolly-Dolly baru dibutuhkan bangsa kini.
Premis saya, di era reformasi, berproduklah! Dan berjasalah. Tetapi jangan pula
jasa penyelenggara demonstrasi.

Iwan Piliang