Sejak reformasi Indonesia tak pernah sepi oleh demo, sehingga demo jadi pemandangan biasa.. Tapi hari ini saya ditakdirkan menyaksikan dua demo yang sedang menjadi berita isyu nasional yaitu demo BBM dan demo Ahmadiyah.

Saat melintasi Monas menuju Gambir dari sudirman, saya menyaksikan
demo mahasiswa depan Istana. Demo yang dihadiri ribuan mahasiswa
dari perbagai kampus, berjalan tertib dan damai. Mereka berorasi
bergantian sementara polisi sibuk mengatur lalu lintas yang macet
sambil menjaga demontran.

Para mahasiswa juga cukup dewasa. Mereka tak mau terpancing
melakukan kekerasan, meski ada provokator yang mencoba memancing.
Beberapa provokator ditangkap oleh mahasiswa langsung diserahkan
pada polisi yang menjaga tanpa kekerasan. Sebuah demo yang indah.
Polisi yang mengawasi demo juga tampak santai. Kadang ngobrol dengan
mahasiswa, bahkan sambil becanda.

Di zaman Orde Baru, ketika demo dianggap subversif, polisi ini bisa
dikenai tuduhan indispiliner dan bersengkongkol dengan musuh.
Menyaksikan demo mahasiswa kali ini saya merasa senang dan bangga.
Bangga pada mahasiswa , bangga pada polisi itu. Beginilah seharusnya
kita hidup berbangsa. Setiap orang tahu akan hak dan kewajibannya.

Selain demo anti kenaikan BBM, demo Ahmadiyah juga mendapat liputan
luas. Jika demo BBM mahasiswa bersikap sama, demo tentang ahmadiyah
terdiri dari kelompok yang anti Ahmadiyah maupun yang membela
Ahmadiyah.

Demo yang membela Ahmadiyah, beranggapan Ahmadiyah berhak untuk hidup
karena idijamin oleh konstitusi. Negara tak punya hak untuk mengadili
keyakinan seseorang. Demo ini pesertanya sedikit, diadakan di dalam
gedung atau di lapangan terbuka. Peserta demo amat beragam dari
berbagai agama dan keyakinan. Seperti juga demo BBM, demo berlangsung
tertib dan aman.. Polisi yang menjaga demo juga kalem, santai. Selain
jumlahnya sedikit, pidato kelompok demo ini biasa biasa saja, kadang
amat filosofis dan akademik sehingga sulit untuk dicerna oleh umum.
Boleh jadi polisi yang bertugas agak kebingungan kalau atasannya
meminta narasi isi pidato.

Dibanding yang membela ahmadiyah, kelompok yang anti jumlahnya lebih
banyak, lebih terorganisir, lebih militan. Demo ini dipimpin oleh
MUI dan kelompok, meminjam istilah Syafii Ma'rif, preman berjubah
putih atau diringkas PBP. Demo MUI dan PBP ini tujuannya satu;
meminta pemerintah melarang ahmadiyah karena dianggap sesat,
menyimpang dari Islam. Ahmadiyah diminta membuat dua pilihan;
bertobat dengan kembali ke Islam atau membuat agama baru Ahmadiyah,
dan tak boleh mengaku Islam. Tuntutan itu tak bisa ditawar lagi.
Kalau mahasiswa berdemo dengan jaket almamaternya masing
masing, pendemo MUI dan PPP berpakaian berjubah putih. Putih adalah
symbol kebersihan. Jadi pendemo ini adalah orang yang bersih,
minimal pakaian mereka. Kalau mereka mati dalam demo, mayatnya
langsung dikuburkan, tak perlu dikafani, karena dianggap mati syahid.
Setiap kali berdemo mereka selalu meneriakkan Allahuakbar berkali
kali, membawa pedang dan senjata tajam lainnya, kecuali pistol dan
bom. Setiap kali berdemo maka kata kata " bunuh, ganyang orang kafir,
palelu bejat, antek yahudi, antek kristen " berkumandang membelah ke
ruang angkasa. Di wajah mereka nampak kemarahan karena agama yang
mereka anut dihina dan dilecehkan oleh Ahmadiyah. Demo diakhiri
dengan pernyatan sikap menutut pemerintah segera mengeluarkan
sesuatu yang mereka tunggu dan dijanjikan pemerintah akan turun; SKB
tiga menteri. SKB tiga menteri bagi mereka artinya hanya satu hal;
pelarangan Ahmadiyah.

Mengartikan SKB tiga menteri sebagai pelarangan Ahmadiyah membuat
saya teringat Cak Nur. Sepuluh tahun lalu ketika Jakarta hancur
bergejolak akibat penjarahan, Cak Nur, di suatu malam, dijemput
dirumahnya oleh barisan panser dan pengawal presiden untuk bertemu
Pak Harto di kediamannya jalan cendana. Pak harto cuma bertanya satu
hal pada Cak Nur. " reformasi itu apa sih pak Nur, katanya dengan
muka agak letih. Dengan kalemnya Cak Nur menjawab; "reformasi itu
pak, artinya pak Harto harus mundur detik ini juga", kata Cak Nur
kalem sambil tersenyum membetulkan posisi kacamatanya. Pak harto
tertegun, terpana, tak percaya mendengar Cak Nur berkata setega itu.
Ia menatap Cak Nur tanpa ekspresi dan berkata " Tidak Cak Nur ,
saya takkan mundur, bangsa ini masih memerlukan daripada saya, saya
akan ganti kabinet". Pertemuan itupun berakhir. Tapi dua hari
kemudian Pak Harto menyatakan mundur.

Meskipun orang sabar disayang Tuhan, namun kesabaran manusia itu ada
batasnya. Karena pemerintah tak juga mengeluarkan SKB pelarangan
Ahmadiyah, kelompok anti Ahmadiyah ini lalu merubah strategi
gerakan mereka. Demo dan pernyatan sikap saja dianggap tak lagi cukup
untuk membuat presiden mengambil keputusan.

Dalam dua bulan terakhir, setelah demo dan pernyataan sikap
dibacakan, tak lama kemudian sekumpulan orang berjubah putih muncul
tiba tiba lalu menyerbu dan menghancurkan masdjid yang diklaim
sebagai milik Ahmadiyah. Dalam waktu singkat masjid itu hancur
lebur, rata dengan tanah, sementara penghuninya lari tunggang
langgang menyelamatkan diri. Para penyerang nampaknya sudah terlatih
dengan baik, masing masing sudah tahu tugasnya, sehingga waktu
serangan tak terlalu lama. Segera setelah pusat serangan hancur,
penyerbu pulang sambil meneriakkan Allahhuakbar, ibarat pahlawan
Islam pulang dari perang jihad.

Sungguh saya kagum dengan keberanian dan kecekatan kelompok iini.
Prestasinya juga layak mendapat tepuk tangan. Sejak SBY-Kalla
berkuasa, mereka bisa menutup ratusan gereja dan membumi-hanguskan
ratusan masdjid milik ahmadiyah, tapi tak satupun dari mereka yang
dihukum. Membunuh dan menjarah apalagi menghancurkan masdjid yang
dibangun diatas keringat umat, tapi tak tersentuh oleh hukum, sungguh
luar biasa. Tapi saya sungguh kuatir, jika hal ini terus berlanjut,
kelompok sangat berbahaya bagi bangsa ini.

Setiap kali kelompok ini beraksi, saya merasa takut dan gundah. Saya
berharap kelompok ini mendirikan partai dan memperjuangan ide mereka
lewat parlemen. Atau berharap minimal mereka membaca dasar dasar ilmu
politik, karangan dosen saya, Miriam Budiardjo, cetakan PT gramedia,
agar mereka faham etika dan tata cara memperjuangkan aspirasi yang
sesuai dengan etika politik modern.

Kelompok ini juga harus memanusiakan kembali dirinya. Kebencian
terhadap Ahmadiyah telah membuat mereka kehilangan akal sehat,
kendali diri dan hati-nurani. Supaya kembali jadi manusia saya
sarankan mereka membaca buku buku Cak Nur, Qurasih shibab. Cukup dua
itu. Mereka harus memahami dimensi kemanusiaan dari ajaran Islam.
Membunuh dan menjarah milik orang lain adalah perbuatan terkutuk yang
tak diampuni Allah. Karena itu bacalah Al-Qur'an, fahami isinya
secara seksama.

Tiba tiba kelompok demonstran bubar, mendengar panggilan azan sholat
Ju'mat. Kami bergegas menuju masdjid terdekat. Masdjid penuh sesak,
sebagian besar berpakaian putih. Penceramah dalam khutbah
jum'atnya menyerukan jihad dan perang melawan Ahmadiyah. Sang
mubaliggh berteriak, " mari hadirin dan hadirat..bunuh Ahmadiyah,
musuh musuh Islam..bunuh…bunuh…". Kata kata itu seakan melesat ke
angkasa, melewati langit ke tujuh, membuat kaget malaikat yang
sedang bersujut kepada Allah. Masdjid menjadi gaduh, atmosfir marah
menyelimuti setiap sudut ruang masdjid. Bulu kuduk saya bergidik
mendengarnya. Hati saya bergetar. Di sebuah masdjid, masdjid milik
Negara, di rumah Allah, teror amarah dan kebencian disebarkan.
Khutbah belum usai, saya memutuskan meninggalkan masdjid yang megah
ini dengan perasaan sedih dan galau….

Salam 12 Mei 2008

Elza Peldi taher