Selasa, 14 Mei 2008 SEORANG kawan mengirim email. Ia mengkritisi tulisan saya yang deskriptif memaparkan banyak kepahitan yang terjadi sehari-hari, seperti Warteg menurunkan harga, daya beli lemah, busung lapar bertambah. Juga bangunan-bangunan sekolah rubuh. Laksana Jusuf Kalla, Wakil Presiden, berkalimat, kawan itu meminta melongok ke airport. ”Lihat Bandara Soekarno-Hatta penuh. Bandara beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, sesak penumpang ” ujarnya pula, ”Itu artinya ekonomi tumbuh.”

Untuk mendapatkan tiket pesawat tujuan Balikpapan, misalnya, harus booking jauh
hari. Indikasi ini disebut kawan saya sebagai bentuk dari tumbuhnya ekonomi.
Sudah setahun terakhir ini, saya perhatikan hotel-hotel bintang lima dan empat
di Jakarta, bila di penghujung pekan diramaikan sosok penghuni yang berdatangan
dari berbagai kota. Mereka juga memenuhi mall, seperti Palaza Senayan, Plaza
Indonesia, Grand Indonesia.

Penampilan merekapun “berbeda”. Biasanya mereka tidak berjalan sendiri. Mereka
berkelompok. Setidaknya tiga orang. Jalannya lambat, leyeh-leyeh. Beberapa yang
berasal dari Sumatera, sering saya perhatikan melepas dua kancing baju bagian
atas – – saya tak paham mengapa bergaya demikian, entah untuk menunjukkan
kebidangan dada atau maksud lain. Orang yang berbadan kurus pun melakukan.
Mereka dari berbagai daerah itulah yang mengisi hotel, umumnya pejabat Pemda,
anggota DPRD. Ada saja kegiatan rutin mereka ke Jakarta.

Tadi malam saya diajak kawan, menemuai kerabatnya anggota DPRD Kabupaten Kaur,
Bengkulu, di Golden Boutiqe Hotel, Jl.Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Kerabat
teman itu duduk di anggota dewan sebagai wakil dari Partai Karya Peduli Bangsa
(PKPB) – – partai yang cuma menempatkan dua orang anggota di DPR pusat.

Selama tiga hari 12 rombongan anggota DPRD itu mengikuti workshop berkait ke
berbagai perundangan yang diperuntukkan bagi otonomi daerah dengan berbagai
implikasi dan manfaatnya. Kendati agenda acara dipatok tiga hari, sesungguhnya
setelah saya amati, materi yang dibahas bisa dituntaskan dalam sehari.

Saya lalu teringat akan tingginya Penerimaan Asli Daerah (PAD), seperti Propinsi
Riau, Riau Kepulauan, Kalimantan Timur dengan berbagai kabupaten kayanya, macam
Kutai Kartanegara. Kaltim, terkenal dengan tambang batubara dan migas. Di dalam
Pilkada Kaltim yang akan berlangsung saat ini, kita melihat di berbagai televisi
spot iklan calon gubernur. Saya heran, mengapa pula mereka sampai harus membeli
durasi iklan untuk siaran nasional? Bukankah pemilih mereka cuma untuk ukuran
daerah?

Membeli siaran iklan bisa dilakukan perwilayah, atau kini televisi demi untung
besar, "memaksakan" iklan pilkada harus dibayar harga nasional?!

Khalayak dari berbabagai daerah- – terutama pejabat Pemda dan anggota DPRD,
berikut keluarga dan kerabatnya – – itulah meramaikan Jakarta. Bahkan jika di
hari libur, terutama mereka dari Sumatera, membanjiri Singapura. Indikasi begini
yang disebut kawan saya, sebagai ekonomi yang tumbuh.

Di daerah pun, jika ada perhelatan, apakah itu pesta perkawinan, pesta ulang
tahun pernikahan, atau perayaan ulang tahun partai, umumnya, yang menggelar
adalah mereka yang itu ke itu juga, plus pengusaha yang dekat dengan kekuasaan,
yang menggantungkan proyek konstruksi, misalnya, dari pemerintah daerah. Mereka
inilah yang memenuhi balai pertemuan, hotel, retoran, ruang karaoke. Merekalah
yang berpesta.

Akibatnya, kini bergesar citra orang kaya, dari pengusaha pekerja keras
memproduksi produk dan atau jasa, beralih ke orang-orang yang sering show di
perpolitikan.

PADA 27 April lalu di International Expo Kemayoran, digelar perhelatan akbar,
reesepsi pernikahan putra Murdaya Poo-Hartati Mudaya, orang terkaya ke-13 di
Indonesia versi majalah Forbes. Ruang pesta didekorasi dominan kuning gading,
ukiran Jepara warna emas. Pelaminan, ini yang belum pernah ada, replika
Borobudur, dengan panjang hampir dua lapangan volley dan tinggi hampir seakan
sejengkal lagi menyentuh plafon Hall B1 itu.

Bisa dimaklumi keluarga Mudaya memilih ikon Borobudur. Mereka bukan saja
penganut Budha. Hartati Murdaya adalah Ketua Umum Walubi (Perwakilan Umat Buddha
Indonesia).

Sebagai pemilik Expo bersama Pemda DKI, Hartati turun langsung membuat konsep
resepsi. Teknisnya ia serahkan kepada event organizer. Untuk hidangan bagi enam
ribu undangan yang datang Hartati mendatangkan 100 koki dari berabagai hotel dan
restoran di Jakarta. Bahkan 70 orang koki diminta datang dari Thailand. Menu
yang terhidang memang berkualifikasi hotel bintang lima plus.

Maka di resepsi itu undangan dimanjakan dengan jamuan istimewa. Menu gala dinner
dimulai dengan lobster fruits salad. Kemudian disambung dengan mushroom cream
soup. Hidangan utama berupa Grilled Salmon dan Chicken Breast Piccata, lengkap
dengan kentang, paprika, dan asparagus. Selain itu di sekeliling gedung
dihidangkan aneka menu prasmanan. Mulai dari nasi bali, siomay, dinsum,
gado-gado, nasi Bali, Soto, Rawon, dan banyak lainnya – – hampir makanan favorit
kebanyakan ada.

Hiburan pun melimpah. Ada Titik Puspa, Krisdayanti, Baim, Titi D.J., Dorce
Gamalama, Darma Oratmangun. Band pengiring Dian HP. Lagu ciptaan SBY, Rinduku
Padamu, dinyanyikan Baim. Pemandu acara Tontowi Yahya.

Tamu memang orang-orang VIP dan berkelas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) dan Ny Ani Yudhoyono menjadi tamu VVIP di acara tersebut. Mereka menjadi
saksi pasangan berbahagia Prajna Murdaya, 32 tahun, dan Irene Tedja, 32 tahun,
yang telah menikah 23 April 2008 lalu secara Buddha di Vihara Buddha Metta
Arama. Prajna putera sulung pasangan Murdaya Poo-Siti Hartati Murdaya. Sedangkan
Irene adalah puteri kedua pasangan Alexander Tedja-Melinda – – bos sekaligus
pemilik Grup Pakuwon, kelompok usaha usaha properti yang berkembang pesat di
Surabaya dan Jakarta.

Sebuah perkawinan yang bukan saja fisik, tetapi perkawinan “bisnis” dan keluarga
yang bertali temali.

Presiden SBY bersama istri datang sekitar pukul 20.00 dan meninggalkan acara
pukul 21.30. Setengah jam kemudian muncul Megawati Soekarnoputri dan Taufiq
Kiemas. Selain sebagai pengusaha, Murdaya adalah salah seorang politikus. Di DPP
PDIP, dia menjadi salah seorang ketua.

Beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu pun tak ketinggalan tampil. Tampak
Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu,
Menkominfo Mohammad Nuh, Menteri Pertanian Anton Apriantono, dan Jaksa Agung
Hendarman Supanji, Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) Jimly Asshidiqie, Ketua BPK
Anwar Nasution, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, mantan Ketua DPR Akbar
Tandjung.

Di sekeliling arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) seluas 70.600 meter persegi, tempat
resepsi berlangsung, terlihat deretan bunga ucapan selamat dari berbagai
kalangan, mulai menteri, pengusaha, hingga pejabat daerah. Panjang deretan
ucapan selamat itu jika dijejerkan mencapai dua ribu menter.

Ada enam ratus meja yang disediakan untuk menjamu ribuan tamu undangan dengan
konsep gala dinner itu. Masing-masing meja memuat 10 kursi. Para tamu tidak
perlu bingung memilih meja. Begitu masuk lobi gedung, tersedia resepsionis
dengan puluhan komputer untuk meregristrasi para undangan, laksana mengunjungi
pameran besar di Balai Sidang, Senayan, Jakarta. Mereka langsung mendapatkan
nomor meja dan diantar petugas penerima tamu.

Mempelai pria, Prajna, memberi sambutan, bahwa dirinya sangat bahagia mendapat
pendamping hidup seperti Irene. ’’Ini sebuah keberuntungan,’’ kata Prajna.
Sebagai ungkapan kebahagiaannya, Prajna, menyanyikan lagu berjudul The Luckiest.

Sebagai wujud berbagi keberuntungan kepada para undangan saat pulang diberi
souvenir berupa tas make up, merk League – – produksi perusahaan yang dipimpin
Prajna.

Suasana meriah, mewah, wah.

Begitulah pesta.

Membayangkan kehebohan berbagai daerah “kaya” berpilkada kini, membayangkan
keluarga taipan kaya berpesta, termasuk pesta Raja Hutan seperti pernah saya
tulis di http://www.presstalk.info: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=6

Dan bila Anda hadir serta bergaul bergelimang kesempatan dengan mereka berpesta,
tidak terbayangkan bahwa Indonesia memang gemah ripah loh jinawi.

Namun sayangnya, fakta di lapangan, Indonesia kebanyakan tak demikian. Di depan
Bill Gate, 9 Mei 2008 anak muda yang membuat software ABC untuk belajar membaca,
mengatakan, buta huruf masih 10% dari total jumlah penduduk.

Tingkat kemiskinan di kota besar, terutama pulau Jawa, Nusa Tenggara Barat
hingga Nusa Tenggara Timur, balita bergizi buruk bertambah. Dan hingga kini 17
ribu balita bergizi buruk di NTT, belum mendapatkan evaluasi nyata.

Di saat berpesta, mata saya memang sering silau. Apalagi di arena pesta banyak
lampu berkilau, gadis yang datang wangi dan cantik-cantik. Saya seakan lupa ada
di mana. Saya tak paham apakah pejabat di berbagai lapisan kini juga terjangkit
penyakit “genit” macam saya.

Sehingga mereka tak tahu lagi bahwa hidup kini bukan makin hidup, sebaliknya
menjadi susah. Sektor usaha kecil tidak tumbuh, daya beli menurun. Kawan saya
pun sampai harus meyakinkan saya lalu menempelkan telunjuknya ke hidung, “Lihat
tuh airport penuh!”

Kendati telunjuk kawan pun mampir di jidat saya, bayangan sekolah rubuh,
anak-anak kurang gizi, pendidikan mahal dengan guru-guru tak berwawasan, biaya
pengobatan di rumah sakit mahal, bayi lahir tak tertebus meningkat, terus
menghantui saya.

Katanya, kini, menjelang seabad kebangkitan nasional?

Seminar kemiskinan yang diprakarsai Bapenas, biaya spanduknya puluhan juta,
konon pula akan dilakukan di hotel berbintang lima. Mungkin begitu perhelatan
yang ada. Saya nyengir jadinya.

Iwan Piliang