Ketika layar di kabin penumpang menunjuk ketinggian 10,160 meter (33,333 feet) dan suhu luar -60 derajat Celcius, pernahkah membayangkan Anda dapat bertahan hidup seandainya Anda berada diluar sana? Suhu teramat rendah dapat membunuh kita, belum lagi tekana udara yang rendah dan kurangnya oksigen. Itu kalau kita memakai parasut. Tak mungkin selamat. Apalagi kalau kita jatuh bebas tanpa aparasut. Maut kwadrat barangkali.

 

Itulah yang dialami Vesna Vulovic (ucapkan 'vulovits'). Sampai sekarang wanita ini masih hidup. Tiga puluh enam tahun yang lalu, jadi tahun 1972, pramugari DC-9 Yugoslav Airlines ini terbang diatas hutan yang ditutupi salju di wilayah Czechoslovakia ketika pesawatnya meledak oleh bom yang dipasang terroris aliran fascist Croatia. Hanya Yang Maha Kuasa mengapa Vesna selamat, tentu saja yang lain tewas.

Kalau 30 tahun yang lalu, Vesna bertahan hidup jatuh bebas setinggi itu, kini pada umur 58 tahun dia takut mati karena situasi politik di Serbia.  Justru sekarang Vesna takut pada kebringasan Partai Radikal ultra-kanan yang sedang naik daun. Mereka memanfaatkan kemarahan rakyat Serbia pada Amerika dan Uni Eropa yang mendukung pernyataan kemerdekaan Kosovo. Vesna mengatakan: "Kalau Serbia kembali ke masa gelap Milosevic, kita menuju bencana besar".  Sekalipun umurnya sudah agak uzur, Vesna Vulovic masih memancarkan keceriaan seorang pramugari, dan dimata orang Serbia dia dipandang sebagai ikon sejajar dengan bintang tennis Djukovic, Ana Ivanocevic dan Jelena Jankovic. Pada tahun 1985, dia tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai orang selamat jatuh paling tinggi tanpa mengenakan parasut: 10,160 meter atau 33,333 feet.

Sekalipun Vesna sendiri tidak mencalonkan diri dalam pemilu untuk menjadi anggota parlemen, dia memanfaatkan popularitasnya untuk berkampanye mendukung calon Partai Demokrat Boris Tadic, yang agenda besarnya adalah bekerjasama dengan Uni Eropa dan Amerika. Tanpa kenal lelah Vesna pergi dari rumah ke rumah di Beograd minta agar mereka memilih Boris Tadic seraya memperingatkan orang pada bahaya jika Serbia dikucilkan dunia.

"Misi saya adalah mencegah jangan sampai Serbia terjerumus dikuasai pemimpin yang menghancurkan negaranya pada dasawarsa 1990an." ujar Vesna Vukovic. Pada masa itu Vesna bukannya mencari selamat asal aman. Dia ikut demo besar-besaran sehingga Milosevic jatuh.  "Bangsa Serbia senantiasa lulus dari ujian besar. Kami lulus dari cengkeraman komunisme, Tito, kemiskinan, pemboman udara NATO, sanksi ekonomi, dan dari Milosevic. Kami hanya ingin bisa hidup normal. Saya ingin hidup normal," kata Vesna.
Ujian yang dihadap Vesna Vokovic pribadi sama beratnya ujian yang dihadapi Serbia.  Kehidupan wanita muda ini berubah total ketika ia bertugas di nomor penerbangan 367 antara Copenhagen-Beograd. Sebenarnya bukan Vesna Vukovic yang ditugasi melainkan seorang Vesna lain. Setelah satu jam diudara, sebuah ledakan bom menyebabkan cockpit pesawat terpisah dari bagian lainnya. Vesna Vukovic ditemukan oleh bekas anggota pasukan Nazi Jerman bernama Bruno Honke setelah mendengar suara orang menjerit.  Vesna diketemukan hampir mati karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Pakaian seragamnya belum terlepas. Begitu pula sepatu masih melekat dikakinya meskipun soalnya lepas.  

Dalam Perang Dunia II, Nazi menduduki Yugoslavia dan memelihara Gerakan Revolusioner Croatia atau Ustasa.  Para pejabat Yugoslavia menduga ledakan di pesawat berasal dari bom yang ditaruh dalam bagasi oleh para anggota Ustasa.
Segera Vesna Vukovic dibawa ke rumah sakit.  Selama 3 hari dia berada dalam keadaan coma. Tulang tengkoraknya retak, tulang punggungnya patah di 3 titik, kedua kakinya patah, dan tulang pinggulnya retak.  Sampai sekarang tulang punggungnya tidak lurus. Menilik keadaannya, tak seorangpun menyangka Vesna dapat bertahan bahkan hidup aktif kembali di hari tuanya.
 
Sampai sekarang Vesna tidak ingat lagi apa yang terjadi pada  saat bencana itu terjadi. Tapi dia ingat saat dia menyapa para penumpang di Copenhagen. Sudah itu …. blank.  Sampai dia siuman setelah lama di rumah sakit. Pertama dia ingat adalah ayah dan ibunya yang melihat dia dengan khawatir. Yang dia ucapkan pertama kali setelah dia siuman adalah minta sebatang rokok dari dokter. Kemudian dia tanya ibunya bagaimana keadaan kucing dan anjingnya. Tidak ada yang sampai hati menceritakan apa yang terjadi, tapi setelah Vesna membaca surat kabar dan membaca apa yang terjadi, dia menangis sejadi-jadinya dan hampir mati karena shock.
Vesna selama 10 bulan menderita lumpuh dari pinggul ke bawah.  Setelah itu anehnya dia mampu berjalan. Menurut Vesna, ketahanan fisik luar biasa itu disebabkan kebiasaannya makan coklat, makan bayam dan sejak kecil tiap hari mengkonsumsi minyak ikan dan keras kepalanya seorang Serbia.

Sekembalinya Vesna Vukovic ke Yugoslavia, dia dijamu Presiden Josip Broz Tito. Segera dia menjadi ikon seluruh bangsa Yugo.  Dia melamar kembali ke Yugoslav Airlines untuk menjadi pramugari, tapi dia hanya diberi pekerjaan kantoran. Sampai sekarang Vesna jalannya masih pincang. Dia masih mengenakan lencana emas Yugoslav Airlines di kerah bajunya.
 
Mengenang masa lalunya, Vesna Vukovic merasa mendapat isyarat dia akan selamat dari mara bahaya.  Malam sebelum pesawat jatuh, dia dan awak pesawat lain mendapat akomodasi di Hotel Sheraton di Copenhagen.  Tap hanya Vesna sendiri yang kamarnya kecil dan tak ada pemandangan kemana-mana. Semua rekannya mendapat upgrade ke kamar suite mewah.  Dia ingat para awak pesawat cerita tak hentinya tentang keluarga mereka yang akan mereka beri oleh-oleh mantel bulu hewan dan barang-barang lain yang serba mahal. Seakan itulah hari terakhir hidup didunia ini.  Sedang Vesna cukup mendapat jatah kamar kecil, mungkin karena dia ditakdirkan selamat.
Setelah bencana udara itu, lama Vesna Vukovic menyendiri menyesali mengapa hanya dia sendiri yang selamat. Dia merasa bersalah. Dia menolak menjalani terapi, tapi dia kembali ke agama Kristen Ortodoks Serbia.  Lantas dia merasa hidup kembali tepat pada tanggal 27 Januari kebetulan hari kelahiran Santo Sava. "Tragedi itu hikmahnya membawa saya kembali ke Tuhan," kata Vesna.  "Peristiwa itu juga membuat saya menjadi seorang yang optimistis, karena kalau Anda selamat dari kejadian yang saya alami, Anda akan selamat dari musibah apapun juga."

Vesna Vulovic mengatakan bahwa dia tidak takut terbang, karena kejadian itu terhapus dari ingatannya. Hanya saja para penumpang Serbia terkejut melihat dia terbang ke Perancis, Yunani atau Inggris. Mereka berebutan ingin duduk disampingnya.  Dia tidak pernah merasa khawatir terbang. Yang dia khawatirkan justru masa depan Serbia.
Vesna Vukovic sering merasa putus asa menyaksikan bagaimana kaum ultra-nasionalis Serbia menunggangi kemarahan bangsanya kehilangan Kosovo yang bulan Februari lalu menyatakan merdeka melepaskan diri dari Serbia.  Vesna dapat merasakan nasib minoritas Serbia di Kosovo yang sebentar lagi hidup di negara asing yang didominasi etnis Albania.  Bagi Vesna, bangsa Serbia harus merelakan lepasnya wilayah yang mereka anggap pusat budaya Serbia pada Jaman Pertengahan. Kita harus menatap kedepan bukan kebelakang, katanya.  Dia bosan orang bertanya tentang kecelakaan yang dialaminya.  Tapi dia pergi juga ke London menghadiri pertemuan sesama pemenang Guinness Book of World Record, termasuk Paul McCartney, Billy Jean King dan seseorang yang mampu perbicara lancar dalam 32 bahasa. "Jarang kecelakaan itu terlintas di pikiran saya. Saya seorang yang tabah. Tapi situasi perpolitikan negara saya membikin saya merasa muak. Saya betul-betul merasa muak.  Saya tidak
 ingin mendengar lebih banyak lagi," katanya.
Salam,
RM
(Tinggal di Beograd Maret 1983 – Juli 1985)

      __________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html