Senin, 12 Mei 2008 SUDAH menjadi agenda rutin saya kini, menjadikan Busway sebagai pilihan berkendaraan umum. Menurut Soetiyoso, kepada TEMPO, 2003, Busway diperuntukkan bagi kalangan menengah bawah. Mantan gubernuer DKI itu, kala itu, mengaku sudah melakukan studi banding terhadap Transmillenio di Bogota, Kolombia, yang menerapkan konsep Busway. Ia tidak mengkuatirkan kalangan atas bermobil yang menjadi macet, karena akses jalan “direbut” Busway.

Kini setelah lima tahun kemudian, sudah ada satu dua saya perhatikan kalangan
kelas atas bermobil beralih naik Busway. Mereka memilih Busway demi mengejar
waktu guna menerobos macet, seperti di Jalur Mampang, arah Ragunan, Jakarta
Selatan.

Jika naik Busway dari rumah, halte yang terdekat dari kediaman saya adalah di
perempatan Halimun, Jl. Sultan Agung, Jakarta Selatan, sekitar dua ratus meter
berjalan kaki.

Dua bulan lalu, seperti biasa, saya berjalan cepat. Membayar tiket dengan cepat.
Kendati tidak pernah dengan uang pas, biasanya petugas tiket mengembalikan uang
dengan tangkas. Saking tangkasnya, ia menyerahkan tiket yang sudah terpotong
kepada saya – – bukan tiket utuh dua bagian yang belum dirobek.

Saya berujar: Maaf Mbak, coba cocokkan nomor tiket di kiri dan kanannya?

Petugas tiket Busway itu cemberut. Nomor tiket kiri dan kanan tidak cocok.
Seakan merajuk, lalu meengganti tiket utuh yang masih baru, yang belum dipotong,
dan merobeknya di depan saya. Saya tersenyum melihat perlakuan itu. Karena
buru-buru, kendati dongkol dengan kejadian yang saya alami, saya membiarkan saja
pikiran tidak melayang panjang.

Senin 12 Mei 2008 ini, saya mengalami untuk ketiga kalinya perlakuan korup di
bagian tiket Busway.

Tetapi yang paling membekas adalah kejian kedua – – sekaligus paling naïf.
Kisahnya begini: sekitar tiga pekan lalu di halte Pejaten, Jakarta Selatan. Kala
itu petugas penjualan tiket seorang gadis berkerudung. Ia memberikan tiket yang
sudah terpotong, sudah terobek, itu artinya tiket bekas yang diberikan. Saya
gemas, ingin rasanya membentak pekak.

Namun saya berusaha menginjak jempol kaki untuk tidak marah. Saya lalu
tersenyum, dan berusaha bicara santun: Mbak maaf ya, Anda berjilbab, apa yang
Anda lakukan terhadap saya, terhadap perusahaan Anda?

Tanpa ba-bi-bu, tangan petugas itu reflek mengganti dengan tiket baru. Mukanya
merah. Tetapi sepukul kata maaf pun tidak ia sampaikan. Ketika mengambil tiket
baru yang dipotongkan di depan saya, saya sampaikan kalimat kepadanya: Malu
Mbak, Anda berjilbab, tapi korup! Suara saya pelan. Petugas itu menunduk, tidak
menatap mata saya.

Hari ini, untuk ketiga kalinya, di halte yang sama di Pejaten, saya mengalaminya
lagi. Kala itu petugasnya sudah lain, tidak lagi berjilbab, tetapi kelakuannya
podo. Karena buru-buru, untuk mengejar janji , dan jam sudah mendekati pukul dua
siang, di mana kehadiran saya sudah ditunggu rapat, maka saya tak memberikan
sepatah kata pun, selain minta diganti dengan tiket baru. Dan saya biarkan fakta
itu tidak mengganggu.

Saya akhirnya berkesimpulan, bahwa di lingkup Busway ini bisa menjadi
penggambaran terhadap laku korup yang terjadi di hampir semua lini di Indonesia.
Karena baru terbilang masuk ke tahun ke empat, “keminian” Indonesia di Busway
dalam urusan korupsi, bisa jadi menjadi telaah yang menarik.

Pada titik-titik shelter di mana tidak ada petugas yang merobek tiket – –
artinya dirangkap kasir – – maka akal-akalan menjual tiket bekas dilakukan
petugas. Terpikir oleh saya kenapa tidak semua halte mengunakan tiket plastic,
lalu penumpang memasukkan tiket plastic ke pintu gawang tiga palang. Dengan alat
itu dipastikan korupsi akala-akalan menjual tiket tidak terjadi

Ternyata setelah mencari literatur di dunia online, saya menjadi tertawa-tawa
membaca tulisan Vincentliong, bahwa tiket plastik pun ternyata bisa jadi juga
dapat dikorup, sebagaimana saya kutip di bawah ini:

Cara jadi koruptor tetap di Busway

Resep korupsi di Busway ini hanya berguna jika anda berhasil lolos casting untuk
bekerja sebagai; 1.Tukang Bersih-Bersih 2.Petugas keamanan. 3.Petugas Kasir
4.Petugas pintu palang tiga (hanya berlaku untuk semua staf Busway yang
ditempatkan di halte. Tidak berlaku bagi supir, satpam dan kenek yang ada di i
dalam bis

Pertama, Anda yang telah berhasil lolos casting sebagai salah satu petugas di
halte.

Kedua katakan kepada atasan Anda/tulis laporan/dsb bahwa pintu palang tiga
rusak/macet/kepenuhan tiket plastik permanen sebagai alasan untuk membuka mesin
pintu palang tiga.

Ketiga, perihal nomor dua: tidak perlu dilakukan jika anda telah memiliki kunci
dari 'pintu palang tiga', atau jika atasan Anda tidak menanyakan.

Keempat buka mesin pintu palang tiga. Keluarkan semua atau sebagian tiket
plastik permanen dari dalamnya. Jika dapat dilakukan, matikan/reset pintu palang
tiga terlebih dahulu. Saya kira tentu ada kabel yang menghubungkan ke listrik.
Ketika Anda melakukan ini tidak akan ada penumpang yang curiga dan melaporkan
Anda karena mesin pintu palang tiga memang bisa penuh/ macet/rusak, kartu
plastik yang digunakan memang bersifat permanen(dijualbelikan berulang kali) dan
Anda adalah petugas yang bertanggung jawab atas itu.

Lima, berikan semua tiket ke petugas kasir dan jual secara normal; jangan
kurangi jumlah tiket, jangan masukkan uang yang petugas kasir peroleh atas
penjualan tiket ttersebut ke pembukuan halte. Hal terpenting adalah anda harus
bekerjasama dengan petugas kasir jika anda bukan
kasir.

Enam, bagi-bagi uang ke semua petugas yang bertugas di halte yang sama dengan
Anda supaya mereka tutup mulut.

Tujuh, belajarlah tersenyum, tertawa, memberikan pelayanan terbaik supaya anda
selama mungkin dapat berkorupsi di sana.

MINGGGU , 11 Mei 2008, saya perhatikan di terminal Blok M, Jakarta Selatan.
Pintu gawang tiga palang yang otomatis untuk memasukkan tiket plastik berjejer
delapan. Lima tampak rusak. Penumpang hanya bisa lewat di tiga jalur. Jika
tulisan yang dibuat Vincent dua tahun lalu itu berdasar pengamatan di lapangan,
saya mengindikasikan ada persekongkolan antara tiket yang dijual kasir dengan
petugas jaga, apalagi angka digital yang menghitung tiket yang dimasukkan
penumpang – – sebagai pembuka palang – – tidak berjalan.

Saya masih ingat ketika pembangunan jalan untuk Busway di bilangan jembatan
Latuharhary, ke arah Menteng, Jakarta Pusat. Saya perhatikan aspal tebal,
mencapai 30 cm, untuk mengejar tinggi jalan beton Busway yang dibangun. Saya
bertanya sendiri kala itu, mengapa harus setebal itu menutup jalanan, seakan
menimbunkan volume besar aspal dengan tak berkira?

Saya perhatikan pula ruas jalan di Sultan Agung, Jakarta Selatan yang saban hari
saya lalui, ketebalan aspal tinggi terjadi. Pernah saya tanyakan ke seorang
kawan di Pemda DKI, ia hanya tersenyum, lalu menjawab, “Kayak tidak tahu saja.”
Saya mencoba meraba-raba jawaban itu. Rupanya ada indikasi target pemakaian
volume aspal, dengan sejumlah komisi yang dibagi-bagi.

Karenanya ketika KPK menangkap panitia tender pengadaan Busway, yang pada 2007
lalu telah diputus oleh pengadilan, saya kemudian memang berkesimpulan, di
Busway laku korup terjadi hampir di semua lini, persis, sama dengan di Indonesia
dalam cakupan lebih luas.

Sehingga mengamati Busway, sangat menarik sekali bukan, melihat Indonesia mini
dalamk berkorupsi?

Pada 2006 lalu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Bidang Penindakan yang masih
dijabat Tumpak Hatorangan Pangabean mengatakan kepada TEMPO, KPK resmi menahan
tersangka kasus korupsi pengadaan busway Budi Susanto mantan Direktur Utara
Armada Usaha Bersama.

"Sebenarnya BS sudah kami tetapkan sebagai tersangka pada beberapa waktu lalu,
namun baru hari ini dilakukan penahana paksa terhadap BS," katanya kepada
wartawan di kantor KPK, Kamis (10/8).

Tersangka diperiksa di kantor KPK sejak pukul 13.30 WIB dan baru keluar untuk
dibawa ke Polda Metro Jaya pukul 20.35 WIB. Saat akan dibawa ke Polda, BS
mengenakan kemeja putih celana hitam dan menggunakan jaket hitam. Ketika
wartawan hendak mewawancarainya, BS hanya diam dan menutup muka dengan
menyilangkan tangan.

Tumpak menambahkan, modus yang digunakan BS dengan melakukan penggelembungan
dana untuk pengadaan bus pada periode 2003 dan 2004 dengan total 89 unit senilai
Rp 87,7 miliar yang terdiri dari anggaran 2003 Rp 20 miliar dan 2004 Rp 37,7
miliar. "Kasus ini telah merugikan negara Rp 14 miliar," kata Tumpak. Sebelumnya
KPK juga telah menahan mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Rustam
Effendi pada 13 Juni 2006.

Menurut Tumpak, tersangka telah menaikkan harga kontrak yang tidak sesuai dengan
Kepres 18 tahun 2004 dan Kepres 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan
dugaan melanggar pasal 2 ayat 1 atau pasal 3 jo. UU No. 31 tahun 1999 jo UU 20
tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 dan 56 KUHP. "Kasus displit (dipecah) menjadi dua
perkara," katanya.

Dia menambahkan, sejak dilakukan tender, pelaksanaan proyek busway sudah tidak
beres, yaitu pada proses desain dan pelaksanaannya dilakukan oleh BS. Selain
itu, pengadaan perusahaan pendamping juga ditangani oleh BS.

Pada Medio 2007 lalu, mantan ketua panitia pengadaan bus transjakarta, Sylvira
Ananda, dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan denda Rp 50 juta.

Vonis terhadap Sylvira lebih rendah dibandingkan dengan vonis terhadap dua
terdakwa lain untuk kasus yang sama. Mereka adalah mantan Kepala Dinas
Perhubungan DKI Jakarta Rustam Effendi Sidabutar dan rekanan Pemerintah Provinsi
DKI, yakni Direktur Utama PT Armada Usaha Bersama Budi Susanto.

Dua terdakwa dari pemerintah, yaitu Sylvira dan Rustam Effendi, dipidana badan
dan membayar denda saja. Adapun Budi Susanto, selain dihukum paling tinggi di
antara ketiganya, yaitu lima tahun penjara, juga harus membayar uang pengganti
Rp 2,124 miliar. Rustam Effendi divonis tiga tahun penjara dan denda Rp 200 juta
subsider enam bulan penjara.

Vonis terhadap Sylvira Ananda ini dibacakan dalam sidang di Pengadilan Khusus
Tindak Pidana Korupsi yang dipimpin Masrurdin Chaniago, Selasa (1/5) di Jakarta.
Sementara itu, Rustam Effendi telah dijatuhi vonis pada 8 Februari 2007 dan Budi
Susanto dijatuhi vonis pada 5 April 2007.

Jadi, sudah ada yang di dalam penjara. Namun laku korup, atau mencari-cari
kesempatan korupsidi Busway terus saja terjadi. Sehingga jika ada sebuah
penelitian bagaimana korupsi di Indonesia harus diberantas? Tak usah pusing.
Ambil saja Busway sebagai studi kasus, untuk membedah Indonesia yang lebih luas.

Yang membuat saya terperangah, bahwa laku korup itu sudah demikian parah. Ia
dilakukan mulai dari orang yang sehari-hari sujud di sajadah, hingga mereka yang
agaknya lupa akan adanya Tuhan. Mereka para koruptor – – baik kecil, apalagi
besar – – – terbiasa latah menggabungkan sajadah dengan haram jadah.

Berbaurnya sajadah dan haram jadah, seakan menjadi biasa itulah, agaknya membuat
hidup laku korupsi, ibarat tag line sebuah produk rokok: membuat hidup semakin
hidup

Nah celakanya, hidup semakin hidup berkorupsi itu, bebannya kelak harus dipikul
pula oleh rakyat kebanyakan. Sudah beberapa kali penyelenggara Busway minta
kenaikan ongkos. Apalagi BBM akan segera naik dan mereka dipastikan mendesak
Pemda DKI, menambah subsidi.

Di kala menggabungkan sajadah dan haram jadah, yang terjadi memang sebuah air
bah: kotor, bau, kumuh. Di saat abu-abu, kusam, segala sesuatu tampak tidak
jernih.

Kita hidup dalam perangkap yang tidak bisa bersih. Kendati di shelter Busway ada
tempat sampah, warga saya lihat masih membuang sampah sembarang. Kita, saya,
Anda semua, berkaca deh, walaupun buang sampah sembarangan bukan laku korup,
tetapi tabiat jorok, turut Anda ciptakan. Dan elemen "jorok" itu, memang ada
dalam laku korup.

Iwan Piliang