Sabtu, 10 Mei 2008 USAI mengikuti kuliah Bill Gates di Balai Sidang, Jakarta, 9 Mei 2008, pukul 10.00. saya mampir ke sebuah ruang di kanan pintu ke luar. Di situ rupanya Bank BNI sebagai salah satu sponsor event yang diselenggarakan pemerintah dan Kadin Indonesia itu, menyediakan kopi, teh dan makanan kecil; gratis untuk undangan baik ketika datang maupun usai acara. Ada kue sus panjang, berasa coklat.

Di dalam ruangan masih banyak tampak kawan-kawan dari Kadin Indonesia dan
kalangan media. Dari media, saya melihat ada kolega saya dulu di SWA, Kemal
Efendi Gani, kini Pemimpin Umum. Ada Praginanto, mantan wartawan Tempo, kini
Pemimpin Redaksi http://www.inilah.com. Ada pula Hersubeno Arief, wartawan Metro TV
yang pindah ke ANTV, kini tidak lagi bekerja sebagai wartawan, tetapi sudah
menjalankan usaha sendiri di bidang jasa komunikasi. Pengusaha yang kini
berbisnis televisi, Eric Tohir dan Anindya Bakrie, juga tampak larut menenggak
kopi.

Dari Hersubeno Arief, saya mendapatkan kabar, bahwa Soetrisno Bachir, Ketua Umum
Partai Amanat Nasional (PAN) yang melakukan kampanye dirinya dalam rangka
memperingati seabad kebangkitan nasional, membelanjakan uang Rp 30 miliar.

Perusahaan jasa yang mengelola dana tersebut, konon, bernama Fox, yang
dikomandani oleh Rizal Malarangeng. Hasilnya, kini dapat dilihat di televisi,
spot iklan Soetrisno Bachir, masing-masing berdurasi 30 detik, menghiasi layar
kaca. Dalam salah satu spot iklan, isteri Sutrisno Bachir ikut serta tampil.

Jika saja angka Rp 30 miliar itu dibelanjakan untuk memperbaiki bangunan sekolah
SD, yang kini banyak yang rusak di seluruh Indonesia, masing-masing Rp 100 juta
saja, maka 300 sekolah bisa dapat direnovasi. Jika dana itu dibelikan satu unit
komputer seharga Rp 5 juta, sebagai bantuan bagi sekolah-sekolah yang tak
memiliki komputer, maka 6.000 sekolah berkomputer baru.

Jika pilihan melakukan kampanye dengan jalur berbuat sesuatu yang kongkrit,
bukan sebatas membeli slot iklan, akan lain cerita. Bisa jadi hal itu akan
memberikan citra positif berbeda. Apalagi Soetrisno Bachir, menempatkan
menterinya, Bambang Soedibyo, kader PAN, sebagai Menteri Pendidikan Nasional.
Sehingga berbuat bagi pendidikan, menjadi sebuah alur “meningkatkan” citra yang
selanggam seirama.

Faktanya lain. Kenyataan Soetrisno Bachir tidak mengambil jalan berkegiatan
kehumasan melalui langkah nyata di masyarakat. Ia memilih menebarkan iklan dalam
bentuk promo ke televisi, beriklan di koran dan majalah, juga ke: billboard
seukuran lapangan basket yang dipasang di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Apakah langkah ini salah? Tidak! Agaknya hanya urusan kepatutan, sesuatu yang
bisa jadi subjektif adanya.

Saya menganal Soetrisno Bachir sejak 1985, kala ia menjadi pemimpin kelompok
usaha Ika Muda. Ia sempat masuk ke dunia penerbitan; menerbitkan majalah Anda
Barometer Orang Sukses (BOS), di mana kolega saya kala itu menjadi Pemrednya,
Mukhlis Gumilang. Ia pun menerbitkan majalah Prospek, Harian Berita Buana,
majalah Aneka. Di media Trisno – – begitu ia akrab disapa – – mengalami kerugian
signifikan, puluhan miliar, awal 1990-an.

Ika Muda juga pernah terjun ke bisnis tambak udang. Kini Trisno telah membangun
kelompok usaha baru, Sabhira. Ia konon salah satu pemegang saham PT Bumi
Resources TBk, perusahaan tambang batubara, di dalam kelompok usaha Bakrie.

Di saat bisnis ekspor batubara kini sedang berkibar, uang Ro 30 miliar, bisa
jadi relatif kecil – – bagi pelaku eksportir batubara. Sebaliknya bagi rakyat
kebanyakan, angka itu menjadi sebuah mimpi yang cuma ada di awang-awang.
Karenanya melalui SMS saya menkonfirmasi kepada Trisno: Apakah benar belanja
iklannya Rp 30 miliar? Jika benar bagaimana di saat banyak rakyat susah
berbelanja iklan media?

Trisno tidak menjawab subtansi pertanyaan saya. Melalui SMS balik ia menjawab,
“Kenapa bangsa kita nggak maju? Karena pikiran yang ada dalam kepala kita: iri,
dengki, su’udhon (berburuk sangka), curiga, tidak suka melihat orang lain
berhasil, dll … Marilah kita rubah cara berpikir kita yang positif, menggunakan
mindset berkembang, dll untuk menuju Indonesia baru yang adil berkemakmuran,
makmur berkeadilan …Salam.”

Saya mengirim SMS balik: Sip, sepakat. Secara pribadi jika dana Rp 30 miliar
dibuat untuk membantu masing-masing SD yang rusak akan sangat berarti tentu.
Pertanyaan tadi berkait ke pilihan PR (public relation). Bukan urusan iri dan
dengki?

“Marilah kita ber ‘fastabiqul khoiroot’ untuk rakyat dan bangsa Indonesia,”
balas Trisno di-SMS-nya. Lagi-lagi ia tak menjawab subtansi pertanyaan saya.

Jika saja Trisno berpikir jenaka, plus karena saya sebagai penanya adalah sosok
yang dikenalnya, bisa sesungguhnya dia menjawab begini: “Ah, iya nih, bagus,
terima kasih masukan Anda, kapan ya kita ngobrol, kongkow, ngopi bareng?”

Trisno tak demikian.

Bila kemudian nada sumbang yang ada di pikirannya dalam membalas SMS, bila
masyarakat marjinal kebanyakan menilai miring iklan Trisno, menjadi sah-sah saja
adanya. Begitu juga terhadap sosok lain yang mengahmbur-hamburkan dana promosi
di televisi.

Jika saya teruskan kalkulasi angka, ihwal iklan tiga sosok yang kencang
berpromosi kini – – ditambah dengan Prabowo, Partai Gerindra (Gerakan Indonesia
Raya) dan Wiranto, Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Misalkan dua nama ini
berbelanja iklann sama dengan dana awal promo Trisno, maka sudah berjumlah Rp 90
miliar. Itu artinya setara 18 ribu komputer berharga masing-masing Rp 5 juta
yang dapat diberikan ke sekolah yang membutuhkan.

Jika 18.000 komputer itu tersalurkan ke media internet, tentulah memberi arti
signifikan. Masing-masing sekolah bersiswa 200 orang saja, seharusnya 3.600.000
siswa menjadi melek internet.

Dan jika tidak berkenan membelikan komputer, maka Rp 30 miliar lainnya itu bisa
saja dibelikan kepada susu yang berkualitas baik dengan harga Rp 100 ribu
perkaleng, maka 300.000 balita – – terutama di NTT kini terindikasi lebih 17.000
orang bergizi buruk – – maka akan menjadi sebuah upaya yang begitu memberi arti.

Tetapi sebaliknya, uang besar hanya dibelikan untuk mengenalkan figur. Kembali,
jika ditanyakan ke Trisno, misalnya, bisa jadi dia dengan ketus menjawab di mana
salahnya, atau ia akan mengirim SMS dengan bahasa normatif macam kalimat di atas
tadi.

Sekali lagi tidak salah beriklan di televisi tentu. Apalagi uang yang
dibelanjakan adalah dana si tokoh sendiri. Bahkan bagi kalangan pelaku binis
media akan menjadi rahmat menggembirakan.

Saya mengutip berita Kompas, 25 April 2008 lalu:

Belanja iklan partai politik pada masa kampanye Pemilihan Umum 2009 diyakini
akan melonjak dibandingkan dengan belanja iklan politik menjelang Pemilu 2004.
Peningkatan belanja iklan organisasi politik bahkan sudah mulai terlihat sejak
triwulan pertama 2008.

Ketua Dewan Pertimbangan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) RTS
Masli di Jakarta, Kamis (24/4), mengatakan, lonjakan belanja iklan menjelang
Pemilu 2009 didorong oleh pengalaman parpol pada kampanye menjelang Pemilu 2004.

”Pada Pemilu 2004, partai- partai yang paling banyak beriklan mendapatkan suara
terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif. Dari pengalaman itu, menjelang
Pemilu 2009 bisa dipastikan belanja iklan partai politik akan lebih melonjak,”
ujar Masli.

Survei Nielsen Media Research seperti dikutip pada buku Iklan dan Politik (2008)
menunjukkan, selama masa kampanye Pemilu 2004, PDI-P dan Partai Golkar paling
banyak beriklan. PDI-P mengeluarkan dana Rp 39,25 miliar untuk satu bulan
kampanye, sedangkan Partai Golkar membelanjakan Rp 21,75 miliar. Kedua parpol
meraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif 2004. Sejumlah kalangan menduga,
dana kampanye parpol melalui iklan di media massa tidak termasuk iklan media
luar ruang, bahkan lebih besar dari dana kampanye yang dilaporkan.

Masli memperkirakan, total belanja iklan pada kampanye Pemilu 2004 menembus Rp 3
triliun atau melonjak hampir 10 kali lipat dibandingkan dengan realisasi belanja
iklan pada kampanye Pemilu 1999. Belanja iklan pada masa kampanye Pemilu 1999
diperkirakan hanya berkisar Rp 35,69 miliar.
Lonjakan belanja iklan menjelang Pemilu 2009 juga akan dipicu oleh masa kampanye
yang jauh lebih panjang dibandingkan dengan masa kampanye pada pemilu-pemilu
sebelumnya.

Komisi Pemilihan Umum menetapkan, masa kampanye parpol Pemilu 2009 akan
berlangsung selama sembilan bulan, dari 8 Juli 2008 sampai 1 April 2009 (Kompas,
19/4). Padahal, pada Pemilu 2004, masa kampanye hanya satu bulan. Saat ini, jauh
sebelum kampanye Pemilu 2009, belanja iklan politik bahkan sudah meningkat
pesat.

Iklan politik di luar masa kampanye pemilu antara lain didominasi iklan untuk
pemilihan kepala daerah (pilkada).
Survei Nielsen Media Research Indonesia menunjukkan, pada Januari-Maret 2008,
belanja iklan pemerintah dan parpol meningkat 62 persen dibandingkan dengan
periode yang sama 2007.belanja iklan pemerintah dan parpol meningkat 62 persen
dibandingkan dengan periode yang sama 2007.

JIKA kenaikan belanja iklan partai dan tokoh politik pada Pemilu 2004 menjadi 10
kali lipat dibanding Pemilu 1999, sesuai dengan analisa RTS Masli tadi – – jika
angka sepuluh kali lipat jadi acuan – – maka saya mengasumsikan belanja iklan
partai dan tokoh politik akan lebih dari Rp 50 triliun pada 2008-2009. Lebih
sepuluh kali lipat dari Rp 3 triliun belanja iklan pada Pemilu 2004

Saya tentu tak ingin mengajak Anda menghitung jika uang itu dibelikan susu. Atau
digelontorkan membiayai usaha mikro di masing-masing usaha Rp 100 juta,
misalnya. Saya hanya ingin mengajak Anda semua, jurnalis terutama, untuk
memverifikasinya. Dari mana sumber dana didapat, lalu setelah berbelanja kelak,
besar dugaan masing-masing partai atau pejabat yang terpilih menang menjadi
penguasa, berusaha mengembalikan modalnya?

Dalam kerangka begini, saya pikir menjadi wajar saja jawaban Soetrisno Bachir
yang normatif, yang seakan mengambang. Bila sudah begitu, rakyat yang harusnya
berpikir jernih memilih partai, memilih pemimpinnya ke depan. Dan kejernihan itu
hakkul yakin masih ada di rakyat kebanyakan.

Sambil melangkah pulang meninggalkan Balai Sidang Senayan, seusai mengikuti
kuliah Bill gates dan SBY, saya membayangkan, bahwa event kehadiran Bill Gates
di Indonesia bagus untuk citra positif liputan Indonesia oleh media di luar
negeri: Bill Gates saja datang ke Indonesia.

Sebaliknya, tak bisa dipungkiri, kahadiran Bill Gates sebagai "kampanye" SBY
menjelang 2009. Apalagi kini Ny. Ani Yudhoyono, sudah pula gencar tampil di
media urusan pemberian buku gratis. Seluruh kegiatan "promosi" itu perkara
menggelontorkan uang yang berpamrih. Tidak gratis. Anda semua, termasuk saya,
kelak akan membayarnya.

Sama dengan apa yang kita bayar hari ini, sebuah "kesabaran", menikmati saja
hidup, menikmatai saja bahwa sektor riil tidak tumbuh, dan menikmati laku
pemimpin yang tidak pro poor, termasuk media yang selanggam seirama tidak
berpihak ke warga, walaupun mereka tambun bergelimang uang iklan.

Iwan Piliang