Rabu, 7 Mei 2008 Motor III MELALUI Forum Apakabar di internet (http://forums.superkoran.info), sosok yang menyebut dirinya Kibroto, menyampaikan bahwa obrolan soal motor menjadi salah satu top viewer dalam tiga bulan terakhir. Motor sampai tulisan ini ditulis mencapai 3.100 view dengan 55 tanggapan, dalam satu bulan.



Membicarakan motor memang tiada habisnya. Dari 55 tanggapan itu, tampaknya
Kibroto-lah yang paling banyak mengirim kabar dan menarik. Ia menyampaikan
foto-foto lucu; pengendara motor menutup kepala dengan baskom besar, memakai
helm terbalik, hingga urusan jenis dan teknik berbelok moter gede yang sulit.
Juga pernah terjadi ketegangan diskusi urusan; perjalanan jarak jauh dengan
motor gede yang mencapai lebih dari 2.000 km, tanpa capek.

Saya masih teringat akan tulisan Kibroto, soal kalimat naik Honda Gold Wing,
yang dapat membuat tertidur, sebuah motor yang memang saya idamkan.

Pada penghujung 2007, tepatnya Jumat, 30 November 200, PT ASTRA HONDA MOTOR
(AHM), produsen, distributor sepeda motor Honda di Indonesia, mencatat peristiwa
bersejarah. AHM mencapai produksi ke 20 juta. Dan pada pada 28 Maret 2008 lalu,
Museum rekor Indonesia (MURI) telah pula memberikan penghargaan akan prestasi
ini.

Di areal pabrik AHM di Cikarang, Jawa Barat, diadakan seremoni. Hadir Budhi
Dharmadhi, Dirjen Alat Angkut dan Transportasi Dasar, Departemen Perindustrian.
Satoshi Aoki, Chairman and Representative Director Honda Motor Co., Ltd.;
Michael D. Ruslim, Presiden Direktur PT Astra International Tbk; Suppliers, Main
Dealer motor Honda di Indonesia. Mereka merayakan keberhasilan.

Jika dipukul rata keuntungan penjualan sepeda motor Honda itu Rp 1 juta saja
perunit, maka diperoleh Rp 20.000.000.000.000. Melihat deretan angka nolnya
saja, menjadi bukti bahwa menjual motor di negeri ini sebuah usaha sakti yang
menguntungkan. Itu jikalau Rp 1 juta, jika lebih? Dan pada 2010, AHM menargetkan
produksi mencapai 30 juta.

Sepeda motor Honda, memang fenomenon. Sama halnya dengan fenomena mobil Kijang,
dua produk kendaraan bermotor - - dua kampiun di PT Astra Internatinal Tbk - -
itu telah mencatat sejarah dunia otomotif di dunia. Mereka sebagai produk dari
satu merek yang diproduksi terbanyak dan tertinggi penjualannya di dunia.
Sehingga bila dalam tulisan saya berjudul Yokoi dan Kijang, 29 April 2008 di
www.presstalk.info, menyebutkan; adalah Jepang yang menolak kencang gerakan
pembuatan Mobnas, Motnas, menjadi beralasan. Mereka tak ingin pasar maksi
bergengsi itu terganggu.

Produksi sepeda motor Honda di Indonesia dimulai pada 1971, dengan pabrik
pertama di Sunter I, Jakarta Utara. Itu artinya tiga puluh tujuh tahun Honda
melayani Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 250 juta, dengan
kondisi transportasi umum yang tidak kunjung baik, baik sarana dan prasarananya,
motor menjadi alternatif pilihan berkendara.

Juga menjadi alternatif transportasi yang terjangkau kocek kalangan kebanyakan.
Apalagi kini di tengah isu kenaikan BBM yang mencapai 30% dalam waktu dekat akan
diberlakukan pemerintah. Bila kenaikan harga BBM itu terjadi, maka naik motor
bukan saja urusan mengatasi kemacetan, tetapi menjadi urusan mengencangkan ikat
pingggang, pengiritan.

Pada 2007 lalu penjualan AHM sekitar 2,15 juta sepeda motor. Sedang pada 2008
ini AHM mematok penjualan di kisaran 2,4 juta sampai 2,6 juta unit dengan
penguasan pasar sepeda motor nasional sekitar 45% - - membuat AHM memang market
leader.

Indonesia peluang pasar sepeda motor besar. Tingkat kepemilikan motor di
Indonesia masih 1: 7. Karenya pasar motor pada 1998 dibuka bebas. Prodfuk
subtitusi berdatangan, terutama dari produsen Cina. Dan milailah beredar
dijalanan merek lain, selain Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki.

Pada 28 April 2008 lalu telah pula dipasarkan oleh pabrikan motor Sachs, motor
merek MadAss, buatan Jerman. Induk usaha Sach, berkerja sama dengan perakitan
motor Cina di Indonesia, Minerva, yang sudah lebih dulu masuk ke sini. Motor
khas berkerangka tebal, 125 cc, itu dibandrol dengan harga Rp 13 juta.

"Pasar sepeda motor di Eropa saat ini kurang menjanjikan. Justru kami melihai
pertumbuhan di Asia, Amerika Selatan, dan Afrika. Untuk Asia Tenggara kami
memilih Indonesia untuk dijadikan basis produksi," ungkap Harmuth Hulm, Direktur
Sachs Farhzeug Und Motorentechnic Gmbh usai peluncuran sepeda motor MadAss 125
di hotel Borobudur Jakarta Pusat.

Itulah bukti nyata, bahwa pasar motor kita yang besar memang diakui oleh
produsen motor Cina. Dan karena pasara yang besar itu pulalah kiranya, Rini
Suwandi, mantan menteri perindustrian, yang juga mantan direktur keuangan PT
Astra International Tbk, kini anteng berbisnis industri sepeda motor dengan
merek Kanzen. Dengan bekal pemahaman yang dalam di industri otomotif, Rioni
menjadi paham betul, pusaran volume uang besar ada di motor.



PENGHUJUNG Januari 2008 lalu, saya sempat makan siang di restoran Sederhana, di
Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, sederet dengan Hero Supermarket. Di
sebelahnya, ada parkir sebuah bank, dan di halamannya deretan motor tampak
berdempeten. Saya bertanya kepada tukang parkir. Puluhan motor yang berjejer di
sana, konon bekas motor yang ditarik dari penunggak kredit.

Motor-motor itu, konon, umumnya dibawa ke daerah-daerah untuk dipasarkan kembali
sebagai motor bekas. Siang tadi, saya lewat kembali di lokasi yang sama. Motor
yang berdempetan sudah tak ada. Sebagai gantinya, sebuah tenda berukuran sedang,
bertuliskan Adira Finance, melayani kredit kepemilikan motor bekas, maupun baru.
“Penjualan dalam sepekan ini agak turun, namun dibanding mobil, motor tetap jauh
lebih tinggi,” ujar petugas dari Adira.

Urusan motor yang dibawa ke daerah itu, saya menjadi teringat bukan saja urusan
motor yang legal. Motor-motor colongan di Jakarta, pasarnya adalah daerah. Dan
daerah itu bukanlah wilayah yang jauh nun di pelosok Jawa atau pulau lain.

Saya teringat pada 2004 lalu di Cisaat, arah Sukabumi, Jawa Barat. Tukang ojek
nomor pelatnya di bagian akhir bertuliskan CS. Padahal kala itu untuk daerah
Sukabumi dua haruf akhir angka pelat nomor adalah SC. Di Cisaat dibalik.

Ini ada apa?

Ternyata, dua huruf terakhir pada nomor polisi sepeda motor para pengojek
tersebut menunjukkan asal mereka, yaitu Cisaat. Hal serupa juga dapat dijumpai
di sejumlah pangkalan ojek lainnya di Sukabumi. Jadi jangan heran jika ada
sepeda motor menggunakan pelat nomor yang dua huruf terakhirnya CS alias Cisaat,
WD yang merupakan singkatan Warung Doyong, atau SB singkatan Sela Bintana.

Pencantuman singkatan daerah asal para pengojek itu, menurut Wakil Kepala
Kepolisian Resor Kota (Polresta) Sukabumi Komisaris Adrianus Tumiwang - - kala
itu, 2004 - - bertujuan mengoordinasi para pengojek itu. Polresta Sukabumi
sengaja menerbitkan pelat nomor itu untuk menandai daerah operasi para pengojek
tersebut dan menertibkan mereka.

Menurut Abdul, 29 tahun pengojek asal Desa Cisaat, Sukabumi, semua sepeda motor
bodong di Sukabumi telah diberi pelat nomor oleh kepolisian setempat. Pelat
nomor tersebut diberi inisial pada dua huruf terakhir sesuai dengan nama daerah
asal ojek tersebut.

"Kami harus memperpanjang pelat nomor itu setiap tahun seharga Rp 50.000. Selain
itu, kami harus mengurus kartu ojek dengan biaya Rp 50.000 untuk kartu baru dan
Rp 15.000 untuk perpanjangan kartu ojek," tuturnya.

Kebijakan Polres Sukabumi tersebut “terpaksa” dilakukan karena sebagian besar
tukang ojek di Sukabumi menggunakan sepeda motor bodong alias tanpa surat
kendaraan. Padahal, mengutip data Polresta Sukabumi, sekitar 25.000 pengojek
beroperasi di seluruh penjuru Sukabumi, dari daerah kawasan pusat kota sampai
daerah pelosok Sukabumi yang tidak terjamah angkutan umum.

Pengojek di Sukabumi memang telah jadi sasaran utama para pengedar sepeda motor
bodong yang disinyalir merupakan hasil curian. Hal ini membuat Sukabumi menjadi
daerah pemasaran utama sepeda motor bodong di Jawa Barat. Sepeda motor tanpa
surat kendaraan itu dipasok dari sejumlah kota besar di Pulau Jawa terutama
Jakarta, Bogor, dan Bandung.

Sejumlah pengojek di Sukabumi menuturkan, penjual sepeda motor bodong tersebut
kerap mendatangi pangkalan-pangkalan ojek di wilayah tersebut. Kepada para
tukang ojek, sepeda motor tanpa surat kendaraan itu dijual berkisar Rp 2 juta
hingga Rp 5 juta. Siapa yang tidak tergiur jika sepeda motor keluaran terbaru
hanya dihargai Rp 5 juta.

Abdul, pengojek asal Desa Cisaat yang sehari-hari mangkal di pangkalan ojek
Gelanggang Olahraga (GOR) Cisaat, Sukabumi, misalnya, mengaku baru membeli
sepeda motor bodong keluaran tahun 2002 seharga Rp 4,5 juta.

Untung perihal motor bodong itu pihak kepolisian Sukabumi tanggap. Kendati baru
setahun kemudian, pada 2005, motor-motor bodong itu ditangkapi polisi. Dan bagi
saya inilah sebuah dagelan lain dari urusan motor di negeri ini.

Sama dengan anehnya peradaban yang seakan dibuat merosot, antara salah, benar,
legal dan tak legal bercampur aduk macam gado-gado. Lah motor bodong kok
dilegalkan, sebaliknya kemudian hari ditangkipi lagi?

Bisa Anda bayangkan jikalau motor-motor bodong itu, kini ditangkapi lagi
diberbagai daerah, saya yakin seluruh kawasan polsek, polres, tak akan mampu
menampung jumlahnya. Sama dengan jumlah kata di tulisan ini, yang tak akan bisa
distop bila masih bicara soal motor.

Ranah abu-abu bukan saja urusan sogok-menyogok di DPR, Tetapi juga urusan warga
memiliki motor. Membicarakan motor, sama dengan membahas peradaban Indonesia
yang memprihatinkan kini.

Iwan Piliang (presstalk.info)