Minggu, 04 Mei 2008  Bertahun tahun yang lalu waktu di pasar rata-rata harga beras pada kisaran sekitar Rp. 2000,– per kilogram, saya sudah mengatakan seperti yang berikut ini. Selama mengamati harga beras bertahun-tahun lamanya saya lihat harga gabah dan harga beras biasanya senilai pada sekitar setengahnya, artinya kalau 1 kilogram beras harganya Rp. 2000,– maka harga gabah sekitar Rp. 1000,– atau kurang.Kasihan para petani yang bebannya memang sudah berat. Harga gabah ini seharusnya adalah jumlah uang yang diterima oleh para penghasil padi, sebagai hasil penjualan gabah atau beras yang berasal dari upayanya sebagai pesawah atau petani padi. Besaran gabah yang dikelupas dibanding  beras per kilogram, berapa persen angkanya masih belum jelas bagi saya. Tetapi saya sungguh heran bahwa gabah yang didapat dengan menyiapkan lahan persawahan, menanam biji sampai siap ditanam sebagai padi, memberi pupuk dan mengairi serta memberikan kerja yang pantas sehingga dapat menghasilkan padi siap tuai, hanya menghasilkan uang sekian, yakni separuh harga beras. Padahal yang belum saya sebutkan masih terdapat kendala lain yang jumlahnya tidak terkira, yakni biaya lain: biaya siluman permainan harga pupuk, biaya-biaya birokrat di kalangan setingkat lurah, mungkin bupati, dan bahaya bencana alam serta hama  (binatang wereng dan lain-lain termasuk manusia wereng) masih belum termasuk dalam harga gabah diatas. Siapa sih, yang menikmati uang hasil penjualan kelebihan antara harga gabah dengan beras? Adakah biaya uang (cost of money) yang dipakai sebagai alat membeli gabah sampai menjual beras? Apakah biaya yang terjadi di BULOG begitu besarnya sehingga terjadi perbedaan marjin yang demikian besar? Ah, mungkin sekali karena pengetauan saya yang amat terbatas mengenai produksi komoditi yang penting ini juga teramat-amat terbatas.

Itulah sebabnya maka saya tidak dapat menjawabnya. Banyak pertanyaan di atas dan pasti masih ada pula pertanyaan lain yang malah saya belum tau, berkecamuk di dalam benak saya .

Dalam kondisi seperti itulah saya malah pernah berkata begini: "Sebenarnya selaku seorang warga negara biasa, selaku seorang rakyat biasa, saya berani "sumbar" dan mengatakan bahwa saya tidak keberatan kalau harga beras dijual di pasar dengan harga Rp. 10.000,– untuk setiap kilogramnya. Mengapa saya berani sumbar seperti itu? Saya harus mengadakan makan, bahan utamanya nasi, bagi keluarga selama saya hidup di dunia dan selama anggota keluarga tersebut masih membutuhkannya. Itu adalah kewajiban. Kalau untuk itu saya harus menjual asset saya yang lain, hal itu akan saya lakukan, meskipun itu berupa rumah di mana saya bertempat tinggal. Beras adalah utama. Saya setujui harga Rp.10.000,– per kilogram masih disertai dengan syarat berat. Syarat itu adalah: asal dalam setiap kilogramnya uang hasil lelah para penghasil dan produsen beras yang terdiri dari kaum petani, amat dimungkinkan untuk bisa  menerima sekitar Rp. 7.000,– bersih. Selebihnya boleh menjadi keuntungan BULOG dan para pedagang serta pajak-pajak yang terjadi karena kegiatan perdagangan yang terjadi oleh karenanya."

Kalau hal ini terjadi, maka saya akan melihat banyak perubahan, antara lain:

1.    Banyak petani menjadi kaya

2.    Banyak orang beralih profesi menjadi petani

3.    Urbanisasi mengalami arus balik: menjadi de-urbanisasi

4.    Banyak para petani yang bertitel sarjana pertanian, karena akan banyak lulusan Fakultas Pertanian yang akan mau dan bersedia untuk terjun langsung ke sawah.

5.    Lahan pertanian akan bertambah luas dan produksi beras akan meningkat tajam

6.    Peran Bulog tidak akan menjadi money machine lagi bagi mesin partai politik, tetapi sebagai penyeimbang jual beli beras dengan sehat.                                                             
Dengan demikian maka Kepala Bulog tidak akan ditangkap lagi karena korupsi. Bulog akan menjadi mitra bagi para petani seperti yang diharapkan selama ini oleh umum. Apalagi uang untuk keperluan import beras akan dapat digunakan untuk keperluan penggunaannya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat di bidang lainnya, terutama dalam pengawasan pertanian, pengelolaan pengadaan beras serta tata cara niaganya.
Apa sebab saya menggunakan angka Rp.10.000,– per kilogram? Ya memang sekianlah harga-harga beras di pasar-pasar negeri-negeri lain selama bertahun-tahun, mungkin sampai saat ini. Saya tidak mengerti pemerintah-pemerintah yang ada selama ini, telah membiarkan lahan pertanian menyusut sehingga produksi menurun drastis dan menjadi petani menjadi bukan pilihan yang bijaksana dan terhormat. Malah seorang  mantan menteri telah amat mabok dengan idea indutrialisasi bagi upaya utama negeri kita, sehingga bidang pertanian diabaikan dengan hampir sempurna. Bidang kelautanpun sempat mengalami nasib serupa sampai saat ini.
Sebagian tulisan dibawah ini saya kutip dari Rice around the world (excerpted from the 3rd edition of the Rice Almanac, pp. 59-235)

Produksi beras pada tahun  2007 kira-kira mencapai 645 juta ton. Setidaknya 114 negara memproduksi beras dan lebih dari 50 negara mempunyai hasil tahunan sekitar 100,000 ton atau lebih. Para petani Asia memproduksi sekitar 90% dari total produksi, dengan dua buah negara, China dan India ysng memproduksi lebih dari setengah dari seluruh produksi di dunia.

Dari setiap negara yang meproduksi beras melebihi dari angka 1.000.000,- ton beras adalah makanan utama. Di Bangladesh, Kambodia, Indonesia, Lao PDR, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, beras menyumbang 50-80% dari kalori total yang dikonsumsi oleh penduduk. Kecualinya yang boleh dicatat, adalah hanya di Mesir, Nigeria, dan  Pakistan, yang menurut data yang ada hanya 5-10% dari jumlah kalori yang dikonsumsi harian per capita (individu/orang). Petani Asia menanam padi utamanya untuk dimakan oleh keluarga sendiri dan kalau nasib baik akan bisa memenuhi kalori dari makanan lain.

Tetapi setidaknya hampir separuh dari produksi yang ada telah tersebar di pasar dan sebagian besar di pasar-pasar disekitarnya. Hanya sekitar  6% -7%  saja dari produksi dunia yang bisa didagangkan di dunia internasional.

Tercatat sebagai data 10 negara penghasil beras yang terbanyak adalah: China, India, Indonesia, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Myanmar, Jepang, Philippina, and Brazil diikuti oleh 54  negara lain penghasil beras dalam jumlah yang lumayan banyak. Seperti diketahui, saat ini China mempunyai penduduk sebanyak +/- 1 setengah miliar jiwa atau sebesar 25% dari seluruh penduduk di dunia yang seluruhnya mungkin telah mencapai lebih dari enam miliar jiwa. Ditambah dengan India (satu seperempat miliar) dan Indonesia (235 juta) maka jumlah tiga negara ini saja sudah mencapai setengah dari penduduk yang menghuni dunia, Planet Bumi kita.

Dapat dimengerti mengapa Indonesia sedang kembang kempis memenuhi selera makan penduduknya yang tidak bisa mengurangi jumlah porsi nasinya dalam dietnya setiap hari.

Sungguh mengagetkan saya apa yang saya dengar dari seseorang di Singapura minggu lalu. Pemerintah Thailand telah menganjurkan rakyatnya untuk mengurangkan makan (mengonsumsi) nasi sebab beras yang diproduksi akan bisa dijual untuk membantu mengatasi ekonomi global yang memburuk. Kapankah Indonesia bersedia meniru anjuran yang serupa dari pemerintahnya sendiri, dan melihat contoh-contoh yang baik bagaimana harus bersikap dalam hidup di masa yang akan datang. Mungkin tidak usah menunggu anjuran dari pemerintah, marilah barang siapa yang membaca ini, mau melakukannya. Saya sudah lama sekali melakukannya dan berusaha hidup tetap sehat. Mengurangi menu seperti selama ini telah saya lakukan sejak masa kanak-kanak saya dulu, sehingga ketika timbul kesadaran tadi. Saya sudah mencoba masuk ke dalam Restoran Padang dan tidak memakan nasi, tetapi hanya makan lauknya saja. Bisa kok, biarpun kenyamanan memang sedikit berkurang. Yang jelas: terbukti bisa!!

Pagi ini saya makan pagi terdiri dari menu berupa singkong yang direbus dulu dan kemudian digoreng. Minumnya, teh diberi susu kental sedikit dan gula. Saya minum Calcium sebagai tambahan sebanyak 1500 mg per hari, demi untuk membangun dan membentengi tulang-tulang dalam mengurangi kemungkinan osteoporosis. Siang ini saya makan nasi merah (brown rice) yang menurut banyak majalah kesehatan jauh lebih baik dari nasi putih biasa. Sudah sering saya lakukan sekali seminggu, dua kali seminggu atau lebih sering tergantung dimana saya berada. Di Toronto, Kanada saya bisa mudah mendapatkan beras merah dan di Singapura juga bisa didapat. Kalau perlu saya bisa makan gaya Barat berhari-hari dan saya juga doyan makan pasta atau mi dan roti atau sama sekali hanya sayuran dengan sauce-saucenya yang sesuai, tanpa nasi, tanpa pasta dan tanpa kentang. Itulah sebabnya saya bilang bahwa saya bisa, tidak bersifat rèwèl karena saya mau (willing) melakukan adaptasi dengan keadaan sekeliling. Dunia resesi, ekonomi krisis, perang dan kerusuhan apapun saya kan sudah pernah mengalaminya. Makan nasi campur jagung yang hanya sepiring kecil alas cangkir pada setiap kali makan, waktu mengungsi pada jaman gerilya dulu, pernah selama beberapa bulan lamanya mengalami. Mengungsi ke Blitar (sebelah arah Selatan di Jawa Timur) dan kembali lagi ke kota Malang, berjalan kaki sekitar sepuluh hari, tidak melalui jalan aspal yang normal, tetapi melalui jalan setapak desa-desa yang belum diduduki tentara belanda, bersama ibu dan saudara-saudara kandung saya disertai oleh rombongan lain sekitar dua puluhan orang, sudah pernah kita jalani.

Kalau saja nasi putih yang seperti selama ini kita kenal ikut naik harganya seperti Crude Olil yang US$ 120,–?? Ya, apa boleh buat, berhenti saja makan nasi, kok repot.  Ganti sama yang lain, ada jagung dan singkong, kita toh tidak akan kekurangan dan kehilangan martabat yang apapun bentuknya. Itu semua saya sebutkan dan saya nyatakan karena kalau saja beras itu menghilang dari pasar, kita tidak usah mengatakan bahwa itu adalah akhir dunia. TIDAK. Marilah kita luaskan pengetauan kita mengenai padi, beras dan nasi. Renungkan dan ambillah keputusan yang terbaik bagi anda sendiri.

Yang di bawah ini saya kutipkan dari koran Kompas hari Sabtu tanggal 3 Mei,  2008 di Bisnis & Keuangan halaman 17, yang juga secara terpisah memuat Laporan Manajerial Perum Bulog Per 2 Mei 2008. 

 

Sabtu, 3 Mei 2008 | Kompas – Pengadaan beras oleh Perum Bulog hingga akhir April mencapai 974.000 ton setara beras atau melampaui target sebesar 959.807 ton. Meski demikian, penyerapan gabah dari petani masih minim, dengan harga gabah di bawah harga pembelian pemerintah atau HPP.

 

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar di Jakarta, Jumat (2/5), menjelaskan, sebelum penetapan HPP baru beras dan gabah, penyerapan di gudang Bulog sekitar 3.000-24.000 ton setara beras per hari. Setelah penetapan HPP baru, pengadaan beras di gudang Bulog naik menjadi sekitar 35.000-39.000 ton setara beras per hari.

Meski demikian, Mustafa mengakui, penyerapan beras dan gabah dari petani setelah penetapan HPP baru masih minim.

Sekitar 90 persen penyerapan beras berasal dari mitra-mitra Bulog, meliputi usaha penggilingan, dan pedagang perantara yang membeli gabah petani. Pengadaan beras dari mitra Bulog hingga April masih di bawah nilai kontrak, yaitu 1,1 juta ton.

Menurut Mustafa, Bulog sulit menyerap gabah dari petani secara efektif karena para petani belum terhimpun dalam wadah ekonomi yang melembaga, seperti koperasi. Idealnya, Bulog bermitra dengan koperasi tersebut untuk membeli gabah.

HPP yang berlaku saat ini ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2008, yaitu untuk gabah kering panen (GKP) Rp 2.200 per kilogram, gabah kering giling (GKG) Rp 2.840 per kg, dan beras di gudang Bulog Rp 4.300 per kg.

 

Harga gabah turun

Pantauan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga gabah di tingkat petani pada April 2008 dibandingkan dengan Maret 2008 untuk kualitas GKG turun 1,63 persen. Harga rata-rata gabah kualitas GKP di tingkat petani juga turun 0,50 persen.

Pada tanggal 1-22 April, rata- rata harga GKG di tingkat penggilingan mencapai Rp 2.669 per kg atau di atas HPP yang berlaku saat itu.

Perhitungan pada 23 April dilakukan berdasarkan nilai HPP baru yang lebih tinggi, sesuai dengan Inpres No 1/2008.

Namun, pantauan BPS menunjukkan, harga rata-rata GKG justru merosot lebih rendah menjadi Rp 2.400 per kg dan harga rata-rata GKP Rp 2.142 per kg. Harga rata-rata GKG dan GKP ini lebih rendah dari HPP.

"Hal ini mungkin terjadi karena Bulog, sebagai pelaksana Inpres, belum melakukan operasi ke petani," ujar Kepala BPS Rusman Heriawan.

Stok beras Bulog saat ini 1,45 juta ton setara beras dari target total pengadaan beras 2,43 juta ton pada tahun 2008. Stok saat ini diperkirakan mencukupi kebutuhan dalam negeri, di antaranya beras untuk rakyat miskin (raskin), hingga 4,7 bulan.

Bulog menargetkan menyerap 600.000 ton beras selama Mei. Sejumlah 800.000 ton selebihnya akan dipenuhi pada panen gadu hingga November mendatang.

Realisasi penyaluran raskin hingga April adalah 928.500 ton beras atau hanya 83,4 persen dari target penyaluran sebesar 1,11 juta ton per April. Penyerapan beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP) telah terkumpul 350.000 ton. Bulog mengusulkan pengadaan beras tambahan untuk CBP sebesar 650.000 ton.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perum Bulog Mohammad Ismet mengatakan, pihaknya berencana memperkuat ketahanan pangan dengan membeli beras premium sekitar 500.000-600.000 ton dengan harga di atas HPP atau harga pasar. Pembelian itu dilakukan pada masa panen raya untuk dijual saat paceklik. (LKT/DAY)

 

 

 

LAPORAN MANAJERIAL PERUM BULOG PER 2 MEI 2008-05-04

                                                                      Minggu/               Perubahan

Uraian                                       Hari ini      Bulan lalu           (%/ton)

*Harga gabah

 – Gabah Kering Panen                 Rp.2.153       Rp.2.186                  -1,51

 – Gabah Kering Giling                 Rp.2.400       Rp.2.669                -10,07

*Pengadaan dalam negeri (ton)   

  – Prognosa s/d April 2008              959.807         959.807                      —

  – Kontrak                                    1.137.533      982.473                  156.060

  – Realisasi                                   1.004.531      860.566                  143.965

  – % Realisasi terhadap prognosa     104.66           89.66

*Harga Beras:

P I C:

– IR I                                            Rp.5.300       Rp.5.250                     0,95

– IR II                                           Rp.4.950       Rp.4.900                     1,02

– IR III                                          Rp.4.500       Rp.4.450                     1,12

 Di 45 kota (mingguan)               

 – Termurah                                   Rp.4.866       Rp.4.867                     -0,02

 – Umum tertimbang                       Rp. 6.126      Rp.6.123                       0,05

*DIVRE

 – Setara CBP                                 Rp.4.849       Rp.4.844                       0,10

 – Banyak beredar                           Rp.5.199       Rp.5,197                       0,04

*Raskin (ton)                                

 Rencana                                       1.112.863      1.023.490                   89,373

 Realisasi                                          928.551        876.624                   51,927

 % Realisasi terhadap rencana             83,44            85,65

*Persediaan

 – Gabah                                            128.695        103.243                   25.452

 – Beras                                           1.368.603      1.279.356                   89.247

 – Setara beras                                 1.450.324      1.344.915

*Stok CBP (ton)                                151.379         153.014                -1,635

 

Membaca keseluruhan berita Kompas ini maka kita tetap melihat bahwa harga gabah hanya kurang dari separuh harga beras yang termurah.

Apalagi kalau dilihat harga gabah yang menurun, rasa-rasanya pembenahan masih memerlukan kerja lebih keras.

Memang kita belum atau tidak bisa mengetahui dengan hanya menggunakan data-data di atas saja, yang bisa menambah pengetahuan masyarakat awam apa dan bagaimana cara membuat perbaikan kalau membutuhkan partisipasi masyarakat mum.Untuk mengambil kesimpulan dan kemudian mengambil tindakan, perlu analisis yang tajam dan ahli. Masyarakat membutuhkan itu dan sebenarnya pemerintah mempunyai instrumen yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya. Kalau keterangan dan penerangan diberikan dengan tuntas dan menyeluruh, maka masyarakat akan lebih mudah untuk diajak berpartisipasi.

Beberapa minggu lalu terjadi kegemparan mengenai kenaikan harga beras di pasar di mana-mana. Singapura tidak terkecuali, tetapi pers dan pemerintah bertindak amat bijaksana dengan secara cepat dan jelas terang memberikan keterangan yang mendinginkan suasana. Yang diserukan adalah masyarakat agar tidak perlu merisaukan kelangkaan beras, apalagi kalau melakukan pembelian berlebih dari yang biasanya dilakukan sebelumnya. Photo-photo gudang-gudang beras dan terlihat berisi penuh disiarkan oleh pers dan disertai iambauan yang positip. Imbauannya berbunyi, apabila membeli beras karena rasa khawatir, pastilah akan menyebabkan persediaan  berkurang, yang sebenarnya disebabkan oleh ulah masyarakat sendiri, dengan nafsu untuk memborong beras, karena khawatir akan terjadi kekurangan pasokan. P

ada akhirnya hal itu akan benar-benar menyebabkan terjadinya kekurangan pasokan.