Ada 2 hal penting yang saya rasa perlu diulas tentang pasar bebas. Dua hal tersebut terkait erat dengan beberapa keping artikel yang pernah diterbitkan di Jurnal ini.

 

Hal pertama adalah tentang kekuatiran sebagian orang tentang berlakunya
hukum rimba, yang sepertinya lengket melekat dalam imajinasi kita
tentang pasar bebas. Yang kedua, dan juga tidak kalah penting, adalah
paranioa akan mitos kegagalan pasar.

Tulisan kali ini berfokus pada isu pertama, yaitu tentang kekuatiran
mengenai kekacauan, berlakunya hukum rimba, di mana yang besar akan
memakan yang kecil, si kuat menindas si lemah, dan yang semacam itu.
(Tentang kegagalan pasar sebagai mitos dapatlah kami sajikan kemudian
dalam edisi-edisi mendatang.)

Mari langsung ke hutan rimba. Pandangan sejumlah orang yang pakar dan
yang awam tentang berlakunya hukum rimba di pasar bebas, di mana yang
kuat menggontok yang lemah dan si kaya memerah si miskin, kiranya timbul
akibat misinterpretasi terhadap tilikan ilmu alam. Misinterpretasi ini
adalah aplikasi pragmatis yang keliru (ke ranah sosial) terhadap teori
biologi tentang evolusi dan seleksi alam, yang digagas seorang ilmuwan
Inggris, Charles Darwin. Aplikasinya di bidang sosial ini sering disebut
sebagai Darwinisme Sosial. Dengan penerapannya, pihak yang
"nekad" mengadvokasikan pasar bebas tidak jarang diberikan label
gratis, yaitu sebagai Darwinis sosial.

Benar dan patutkah demikian?

Kesimpulan penting yang ingin dicapai lewat penulisan ini langsung saja
saya suguhkan, yaitu bahwa: retorika tentang Darwinisme sosial di dalam
pasar bebas adalah isapan jempol belaka. Lebih dari itu, bukan sekadar
keliru, pandangan tersebut justru bertolak seratusdelapanpuluhderajat
dengan kenyataan sesungguhnya.

Jika di rimba raya berlaku hukum "survival of the fittest", maka
pasar bebas justru akan membuat semakin banyak orang "fit".

Bagi sebagian pembaca, kesimpulan di atas mungkin cukup mengejutkan.
Persis yang mau saya lakukan sekarang adalah sekadar menyatakan kembali
darimana datangnya kesimpulan di atas. Kesimpulan tersebut sebenarnya
bukanlah hal yang baru ataupun orisinil. Cukup banyak pemikir terdahulu
yang telah menuliskannya dalam sejumlah literatur. Yang terutama saya
rujuk di sini adalah buku Mises (Human Action, hal. 169-176); Rothbard
(Power and Market); makalah George Reisman (Some Fundamental Insights
into the Benevolent Nature of Capitalism <http://mises.org/story/1079>
). Belum terlalu lama berselang, seorang profesor ekonomi di Universitas
Pepperdine, Gary Galles, juga mempermudah tugas saya dengan satu
artikelnya <http://blog.mises.org/archives/007995.asp> yang merangkum
pandangan ketiga tokoh di atas. Saya memutuskan tidak perlu menciptakan
kembali roda-roda argumentasi di artikel ini.

Seperti dinyatakan Galles, kekeliruan yang paling jelas dari pandangan
terhadap mekanisme pasar sebagai medan "survival of the fittest"
adalah bahwa bahkan di dalam pasar-pasar yang selama ini telah
terkendala oleh berbagai peraturan dan perpajakan dll. sebagaimana yang
kita saksikan dewasa ini, semakin banyak orang yang berhasil
diselamatkan!

Kemakmuran dan teknologi yang tercipta lewat kapitalisme menunjukkan
bahwa manfaatnya tidak cuma terbatas bagi yang paling fit saja. Meski
terkendala luar biasa oleh intervensi pemerintah, kapitalisme tidak
tertandingi dalam hal penyediaan berbagai barang dan jasa dalam skala
massal dan harga yang lebih murah bagi semua orang. Semakin terbebas
pasar dari kendala, semakin besar dia memproduksi-dan tanpa mencederai
kebebasan atau merampas hak dari satupun individu! Bandingkan ini dengan
cara subsidi si Budi dengan merampok si Badu. (Seperti pernah diucapkan
seseorang, mudah sekali menjadi terkesan melakukan hal moral, apalagi
dengan mengambil sumberdaya orang lain!)

Kapitalisme memperkaya siapa saja yang berani menjadi produktif. Sistem
ini telah menyelamatkan nyawa miliaran orang yang barangkali tidak akan
dapat bertahan hidup tanpanya. Pada kenyataannya kapitalisme memberi
semua orang-yang paling lemah sekalipun, kesempatan terbaik bukan cuma
untuk sekadar selamat, tetapi juga untuk berjaya. (Tentu ini bisa
disetujui: siapa saja yang kaya tapi sembrono hari ini dapat jatuh
miskin besok pagi; sebaliknya, siapa yang miskin saat ini, tidak
tertutup kemungkinannya untuk menjadi sukses.) Salah satu petunjuk
terhadap hal ini adalah semakin meningkatkanya waktu luang yang telah
terjadi seiring dengan meningkatnya pasar. Bill Gates, yang tidak
selesai sekolah, berhasil muncul menjadi orang terkaya di dunia, dan
akan memberi ceramahnya Jumat ini di Balai Sidang. Yayasannya, yang
mulai menjadi kekuatan sosial yang patut diperhitungkan dalam menolong
kaum papa di dunia, mungkinkah terjadi dalam konteks hukum rimba?

Sebab di alam perjuangan yang Darwinian, satu orang diasumsikan
memandang yang lain sebagai lawan atau musuhnya. Sebaliknya, di pasar
bebas, bahkan seseorang yang berpotensi menjadi tiran bengis sekalipun
tetap harus tunduk dan memusatkan usahanya dengan menawarkan nilai
kepada konsumen, lewat cara damai transaksi tanpa paksaan. Satu
kesimpulan yang saya nilai jenial dari Galles, pasar bebas bahkan
menyalurkan dorongan kekuasaan menjadi pemberian layanan (service)!

Tentunya kita tertarik pada pemikiran yang benar atau setidaknya
berdasar. Maka, akal kita menuntut jawaban atas pertanyaan ini: apa
dasar bagi semua ini?

Landasannya adalah hak kepemilikan oleh individu-individu. Pengakuan
terhadapnya adalah pencegah meletusnya perang di hukum rimba. Hukum
kepemilikan mencegah invasi fisik terhadap segala nyawa, terhadap semua
kebebasan, dan terhadap apapun hak milik seseorang kecuali jika orang
tersebut memperkenankan terjadinya hal tersebut. Dengan tercegahnya
invasi-invasi semacam itu, hak kepemilikan individu menjadi benteng
pertahanan terhadap agresi yang memang amat mungkin dilakukan oleh yang
kuat terhadap yang lemah. Hak kepemilikan mencegah perekayasaan
kebenaran di atas kekuatan.

Kompetisi bisnis adalah faktor lain yang amat krusial tapi sering gagal
kita pahami. Pandangan kita tentang faktor yang satu ini sarat dengan
berbagai mitos-lihat mis. monopoli, keserakahan pengusaha, dll., dan
sejauh tidak direcoki intervensi. Padahal tidak sulit melihat bagaimana
persaingan adalah cara jaminan alamiah yang inheren. Tidak boleh
dilupakan bahwa pengusaha yang sukses memperluas "kekuasaannya"
adalah dia yang paling banyak dilanggani "konstituennya" oleh
karena produktivitas atau nilai tambah yang dirasakan nyata. Kompetisi
secara bebas berarti bahwa hanya dia yang dapat memberi nilai tambah
kepada konsumenlah yang akan menawan hati konsumen. Soal produksi dan
konsumsi, pada analisis terakhir hanya berpulang kepada konsumen.
Persaingan usahalah yang memungkinkan semakin banyak orang, misalnya,
dapat membaca tulisan online ini dengan biaya yang semakin terjangkau.

Andai saja kita menangkap inti filsafat kerjasama dari David Ricardo
(lihat artikel terkait di Jurnal ini), tentu semua paparan ini akan
menjadi sesuatu yang lewah/mubazir (redundant). Berabad yang lalu ekonom
ini telah memperlihatkan betapa lebih superiornya kerjasama sosial dan
sistem pembagian kerja antarmanusia itu-bahkan di antara mereka yang
lebih unggul di segala bidang dari mereka yang lebih lemah–dalam
mencapai kesejahteraan bersama ketimbang cara-cara agresi dan koersif.
Justru melalui kerjasama dalam kedamaian pasarlah semua pihak memeroleh
keuntungan melalui perkembangan sistem pembagian kerja dan investasi
modal.

Kata Rothbard (dalam PM, hal. 1325), pihak-pihak yang menyamaratakan
penerapan konsep "survival of the fittest" di medan hutan rimba
dan di medan pasar telah melupakan satu pertanyaan yang paling mendasar:
Fitness for what? Fit untuk apa?

Mereka yang disebut "fit" di hutan rimba adalah
binatang-binatang yang paling mahir menggunakan kekuatan/paksaan.
Sedangkan dalam konteks pasar? Adalah mereka yang paling piawai dalam
melayani masyarakat. Hutan rimba adalah tempat yang keras tiada ampun di
mana yang satu merampas dari yang lain dan yang lemah dan kebetulan
hidup akan hidup dalam tingkat setara kelaparan. Pasar adalah tempat
yang damai dan produktif di mana para pelakunya melayani diri
masing-masing, bertindak demi keuntungan sendiri-sendiri, di dalam suatu
proses suka rela yang pada akhirnya, mau tidak mau dan sadar atau tidak
sadar, membuat kita saling melayani satu sama lain secara bersamaan dan
hidup dalam tingkat konsumsi yang semakin meningkat. ?

(Terbit hari ini: Akal & Kehendak: Jurnal Kebebasan, Edisi 28, 5 Mei,
2008, online dengan tampilan baru di http://akaldankehendak.com
<http://akaldankehendak.com/> .)