Aku bukan orang Islam yang baik. Aku bukan membenci Islam. Tapi terlalu gemes dengan dampak pengajaran Islam  Hadits, Qur’an, Kotbah mesdjid, dalam kehidupanku, kehidupan desaku, dan kehidupan keluargaku. (dari arsip Forum Apakabar 08 Jun 2004)


1. Poligami:
Entah Hadits entah Qur’an entah hanya Kotbah Jumatan, yang penting pengajaran, retorika, dan kotbah Islam telah menjustifikasi, meligitimasi bapak saya untuk kawin lagi, dan telah merusak hubungan dan kehidupankeluarga saya. Sekali lagi dampak  pengajaran Islam. Oarng pasti akanmengatakan itu pengajarannya yang salah bukan Islamnya. Bagi saya, terlalu banyak pengalaman pahit dalam observasi saya mengenai pengajaran Islam.

2. Tidak ada persamaan hak bagi perempuan.
OK, anda akan mengatakan di Islam ada persamaan hak. Sekali lagi saya tidak bisa sama sekali melihat itu. Berapa kali saya melihat penderitaan wanita termasuk ibu saya sendiri dan justifikasi pengajaran Islam.

3. Islam merusak adat desa saya.  

Saya masih ingat ketika aku masih kecil sekali awal tahun 80an, masih banyak perempuan memakai kebaya dan sedikit yang memakai jilbab. Bukan hanya itu, embah saya dulu dukun dan punya banyak keris dan banyak orang datang, sering melakukan ritual jawa asli, termasuk asah keris di bulan sura dan puasa senen kemis. Desakan para pemimpin Islam,kotbah Islam dengan loud speakernya (yang awal 80an belum ada) telahmenghapuskan adat ritual tersebut karena dianggap dosa oleh Islam. Islam telah merusak kebudayaan asli. Dan orang akan mengatakan, itu kan adat kafir  diganti dengan adat Alloh. Siapa yang hakim keadilan adat mana yang bagus. Alloh kelompok tertentu yang menakutkan orang lain.

4) Islam merusak hubungan keluarga.

Ini terutama menyangkut pembagian warisan keluarga, yang berebut bagian. Betul-betul memalukan, dan mereka yang berpegang pada hukum Islam malah bikin pembagian warisan tambah runyam.

5) Islam ikut menghilangkan kesenian daerah.

Akhir tahun 80an ada kontroversi di desa saya mengenai tayuban. Karena tayuban pake alkohol, termasuk pertunjukkan traditional yang perlu dihilangkan. Islam tidak blunt mengatakan itu, tetapi tekanannya cukup keras. Sehingga akhirnya Tayuban tidak pernah akan diadakan lagi di desaku. Pernah seorang lurah mencoba meyakinkan pak Modin bahwa alkohol akan diganti dengan limun tak
beralkhohol. Tetap saja tayuban dilarang.

6) Pengajaran Islam menebar kebencian dan mengurangi toleransi.

Tentu orangIslam nggak rela dikatakan begini. Karena memang banyak orangmuslimin/muslimah yang tidak demikian. Tapi selama saya  ngaji dan belajar alib ba ta’ dari kecil, rasa kebencian terhadap agama lain itu secara tidak langsung ditanamkan. Semasa remaja saya masih ingat, kami mendorong teman-teman laki-laki untuk ikut melempari rumah orang Kristen. Saya sendiri heran kok saya dulu begitu juga. Sadar bahwa saya dan semua teman saya sudah dibrainwash untuk membenci kelompok agama lain. Orang yang beragama lain dipandang najis.

7) Kebodohan di desa diperparah dengan ritual mistis yang makin memsikinkan mereka, termasuk naik haji dan korban.

Saya nggak mau cerita banyak, tapidulu pernah gemes memikirkan bahwa uang yang dipakai nenek  naik haji tambah slametan dan pesta foranya, cukup untuk membiayai paling tidak kuliah S1 dua keponakan saya yang sekarang nggak  pernah bisa kuliah. Saya tahu anda akanmengatakan Islam tidak menyarankan orang tak punya untuk naik haji. Tapi desa nggak berpikir seperti itu.

Saran saya:
1) Pendidikan agama Islam harus lebih logis, jangan menekankan mistisnya Mekah, ka’bah, cerita mohammad, tapi lebihlah konsentrasi pada perbuatanbaik bagi sesama tanpa pamrih pahala.
2) Pendidikan Islam harus mengajarkan toleransi pada semua kelompok agama lain tanpa pandang bulu. Adalah dosa membenci atau menganggap najis kelompok agama lain.
3) Pendidikan Islam harus mengakomodasi dan tidak boleh mengeliminir adat lokal. Termasuk cara berpakaian, kesenian, tatacara keluarga.
4) Pendidikan Islam harus menekankan bahwa bersodakoh dan berbuat baik, menolong yang tertindas lebih penting dari pada naik haji. Saya tidak melihat sedikitpun dampak positif pada kehidupan masyarakat, kecualimenguatkan sikap mirip feodalisme.
5) Pendidikan Islam harus menekankan persamaan hak laki-laki dan perempuan (tanpa IF, or When).
6) Pendidikan Islam harus menekankan bahwa merusak milik, menyakiti, dan menjahati orang lain adalah dosa terbesar, walaupun itu merupakan pembalasan.

Banyak lagi yang ingin saya sampaikan, tapi nantilah nanti pada bosan
thanks:
siti