Senin, 21 April 2008 PUKUL 05.30 hampir saban hari saya perhatikan gerobak pemulung yang berbeda dari pemulung lain kebanyakan itu di parkir di pojokan perempatan jalan dari arah Pasar Manggis, Guntur ke arah Malabar, Jakarta Selatan, tidak jauh dari kediaman saya. Bagian depan gerobak bercat merah, di tengah ditempelkan penggalan kepala boneka plastik. Ukuran gerobak, sebagaimana kebanyakan gerobak pemulung umumnya, tetapi bagian dinding, papan lebih tinggi dari rata-rata.

Pagi tadi tiga perempat bagian gerobak ditutup plastik tebal seperti terpal. Di dalamnya seorang bocah lelaki usia sekitar lima tahun tampak berdiri, hanya bagian rambutnya yang terlihat dari jauh. Rambut gimbal kekuning-kuningan, kulitnya hitam, saban hari disisir matahari.

Di bagian tuas dua potong kayu pendorong gerobak, sang ayah tampak masih tertidur pulas. Kepalanya ditinggikan ke bagian gerobak penutup terpal. Badannya tertekuk. Ia tak mempedulikan lalu lintas motor, mobil, bajaj yang sudah mulai berlalu-lalang.

Wanita berbaju coklat terusan kumuh, lusuh. Ia tegak di samping gerobak. Ia mengikat buntalan plastik bening yang sudah kusam.

Ia berkemas-kemas.

Sudah lama kami memperhatikan bahwa ayah, ibu dan anak itu memang tidur di dalam gerobak itu. Setiap pagi, jika hendak membeli kue-kue kecil ke Pasar Manggis, sebelum pukul 06.00 pagi, Anda pasti menemuinya.

Pagi tadi saya menggendong putra bontot kami yang masih empat belas bulan ke luar rumah. Ia suka sekali meilhat-lihat mobil, motor, bajaj yang lalu lalang. Mulut Traya, anak kami, setiap melihat mobil menirukan suara kendaraan. Ia saya gendong ke dekat gerobak pemulung yang masih mangkal itu. Ke tangan Traya saya selipkan uang Rp 50 ribu, untuk diberikan kepada ibu pemulung yang sedang mengikat buntalan plastik tadi.

Ibu yang berwajah gelap itu, saya perhatikan hanya diam. Hanya satu kata yang kurang jelas ia ucapkan, “Iya.” Saya perhatikan lamat-lamat, dia tidak mengucapkan terima kasih.

Perempuan itu sudah tidak berekspresi.

Dengan rendah hati saya ingin menguji kembali. Di kantung celana pendek saya masih ada Rp 50 ribu lagi, yang rencananya akan saya belikan kue, bekal dua kakak Traya ke sekolah di Sekolah Dasar. Uang Rp 50 ribu, saya tarik dari kantung, langsung saya berikan tanpa melalui tangan Traya.

Kembali saya lihat sikap perempuan itu.

Wajahnya sama.

Lagi-lagi tak ada ekspresi.

Tidak tampak gembira, tidak pula ada kesan apa-apa.

Saya tak paham apakah dia tahu nilai uang itu? Saya perhatikan dua lembar Rp 50 ribu itu ia genggam rapat, lalu disimpan di kantung kecil yang kumal bertali. Ia menunduk.

Kepahitan hidup membuat perempuan itu, tidak lagi bisa membedakan perasaannya; senang, sedih, ibarat hujan dan panas, yang setiap hari ia lewati begitu saja. Kehidupan berjalan rutin di atas gerobak. Mereka mengais-ngais sampah plastik, atau koran, besi dan barang bekas sedapatnya dari tumpukan sampah, dari tong-tong kumuh untuk dipilih dan dipilah lalu dijual kiloan ke pengumpul yang tak jauh di dekat Pasar Rumput, Jakarta Selatan itu.

DUA pekan lalu, saya menemani seorang kawan yang suka berkunjung ke pub. Hari itu Sabtu, pukul 15.30. Di sebuah jalan di Mangga Besar , Jakarta Pusat. Sebuah tempat minum, sambil mendengar musik tampak remang. Di beberapa meja sudah dipenuhi oleh pengunjung yang menikmati minuman, plus beberapa penjual makanan di luar tampak mengantar pesanan. Ada, sate ayam, hingga kacang rebus, yang bisa dibawa ke dalam.

Kami mengobrol ngalor-ngidul, karena sudah lama tak pernah ke tempat itu. Dulunya lokasi MM, yang kami datangi itu, terasa sumpek, tetapi kini sudah lebih lega. Seorang wanita, berdagu runcing, kulit kuning langsat, mata tajam, rambut semampai, berjeans dengan baju lengan pendek berbelahan dada agak dalam, lewat di samping kami. Lengannya ditarik kawan saya untuk menemani kami ngobrol. Perempuan itu mengaku bernama Nuri.

Ia sudah hendak pulang. Dari bercakap-cakap dengan Nuri, ketahuan ia baru saja kencan (ngamar) dengan seorang pria setengah baya. Tempat itu memang menyediakan kamar-kamar bagi para tamu yang hendak memanfaatkannya. Saya bertanya, berapa ia mendapatkan uang untuk satu jam kencan. Nuri menjawab dari Rp 250 ribu yang dibayarkan ke Mami – – yang mengatur para wanita panggilan di situ – – ia mendapatkan Rp 150 ribu.

Hari belum pukul lima petang. Tetapi Nuri sudah mau pulang.

Ia membuka hand phone Nokia E-90-nya yang berwarna mocca. Ia perlihatkan rekaman video putrinya, yang masih bersekolah play group. “ Karena ada ini, saya harus pulang cepat,” kata Nuri. Kami merasakan bahwa Nuri, bukanlah sosok wanita panggilan kebanyakan. Ia bisa diajak bicara macam-macam. Bahasa Inggrisnya juga lumayan. Ia pun menyekolahkan anaknya di Tumble Toot, di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat. Sebuah play groups yang terbilang mahal.

Kawan saya berujar berbisik perempuan seperti Nuri, pastilah sebelumnya orang yang lumayan ekonominya. Namun karena ditinggal suami, harus menghidupi seorang putri, tinggal di apartmen Kemayoran. Untuk mempertahankan level kehidupan lamanya, maka Nuri bekerja dengan jalannya.

Nuri mengaku bahwa dua bulan ia pernah bekerja di Mlbr – – tempat ini pernah saya tulis di tajuk lain sebelumnya – – di bilangan hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Ia masuk dari pukul 12.00 siang hingga pukul 24.00. Setiap hari ia melayani rata-rata empat pria hidung belang. “Tetapi di sana tarif saya Rp 800 ribu untuk sekali kencan” ujar Nuri. Separuh menjadi haknya. Artinya sehari ia mengantungi Rp 1,6 juta. Ia menerima pembayaran setiap bulan. Dan hanya kuat bekerja dua bulan, “Capek, dan di lokasi itu banyak sekali pria yang sakit.”

Saya menanyakan pria sakit yang dimaksudkan. Nuri menjawab, bahwa di tempat mahal itu, pria yang datang umumnya pria yang betul-betul merendahkan perempuan. Saya cecar dengan pertanyaan, ternyata laku berhubungans seks yang diminta tamu, macam-macam, terkadang di luar kebiasaan – – yang tabu saya tuliskan.

Ketika Nuri mendesak hendak pulang, kawan saya memberikan selembar Rp 100 ribu, persis sama jumlahnya dengan uang yang saya berikan kepada ibu-ibu di gerobak tadi pagi. Nuri menunjukkan ekspresi, senang sekali. Kawan saya mendapatkan ciuman pipi kiri dan pipi kanan, untuk Rp 100 ribu itu. Saya pun kebagian.

KETIKA mendapatkan putera pertama pada September 1999, saya meminta masuk ke dalam kamar persalinan di RS Bunda, jalan Cik Ditiro, Jakarta Pusat. Dokter Yoso, dokter kandungan isteri, memperbolehkan. Saya mengamati dengan mata kepala, bagaimana isteri saya melahirkan anak normal, tanpa operasi. Saya perhatikan di wajahnya keringat keluar bagaikan butir-butir jagung. Menjelang kepala bayi nongol sebuah peregangan hidup-mati, berjibaku.

Begitu sang bayi muncul, saya lihat wajah plong yang luar biasa di muka isteri saya yang lemah. Saya menyimak keajaiban proses kelahiran manusia, kelahiran saya, kelahiran Anda ke dunia ini.

Sejak itu, saya merasa bahwa kalimat bahwa surga di telapak kaki ibu, memang, bukan basa-basi.

DI hari Kartini 2008 ini, terenyuh sekali bila masih banyak perempuan Indonesia harus membanting tulang, demi menafkahi keluarga. Sosok pemulung yang tinggal di gerobak di bilangan dekat rumah saya, tidak lagi memiliki tawa.

Setiap bulan ada saja TKW asal Jawa Timur pulang cacad, pulang peti mati, dari bekerja di luar negeri, demi mendapatkan penghasilan, demi membantu ekonomi keluarga.

Di Departemen Tenaga Kerja RI, saya baru dapat kabar bahwa, jutaan data TKI kita, sistem komputerasisasinya dilakukan perusahaan swasta, yang di-KSO-kan. Perusahaan itu mendapatkan imbalan mencapai Rp 21.000 perkepala TKI. Setiap bulan setidaknya 30.000 TKI – – dominan perempuan – – berangkat ke luar negeri. Bukan rahasia lagi, bahwa pengiriman TKI itu, sudah menjadi bisnis tersendiri.

Negara seakan-akan telah menjeratkan lehernya, dengan menyerahkan pengolahan data data TKI ke swasta. Dan anehnya setiap tahun, Departemen Tenaga Kerja, punya pula budget pengolahan data.

Sebagian besar TKI adalah TKW, perempuan Indonesia. Bila di banyak lini kini, kita memperlakukan perempuan, bukan lagi makluk yang agung – – padahal melalui rahimnya kita dilahirkan – – lalu jika kemudian ada doa dipanjatkan: kualatlah para pemimpin yang telah membuat para perempuan hina dan menderita, maka saya pun mengamininya. Amin!

Iwan Piliang, presstalk.info