PADA 1981, saya mengenal sosok Chairul Tanjung, ketika ia ikut sebagai salah satu peserta Perkemahan Ilmiah Remaja, Kelompok Ilmiah Remaja Jakarta Raya – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di desa Candi Kuning, Baturiti, Bedugul, Bali.

 

Saya wakil dari SMA Negeri 3, Setiabudi, Jakarta. Kala itu, Chairul, wakil dari SMA Negeri 1 Budi Utomo. Tidak banyak obrolan kami. Yang paling membekas di kepala saya adalah, kami pernah sama-sama berselonjor di kereta api ekonomi dari Surabaya ke Jakarta, setelah sebelumnya naik bis dari Bali.

Sejak itu saya tak pernah lagi bersua CT — begitu ia akrab disapa. Ketika pernah mewawancarai Almarhum Rudini, tentang usahanya mendukung PT Bermis Saranawisma – – dulu memproduksi batu apung atau pamis, untuk batako – – yang berhenti berproduksi, Rudini pernah menyebut-nyebut nama Chairul Tanjung, dalam orobolannya di telepon. Rudini adalah salah satu pendiri kelompok usaha PARA. PT Para Inti Holdindo sebagai holding company, yang membawahkan beberapa subholding: Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi), dan Para Inti Propertindo (properti), pemilik Bandung Super Mall. Di lain kesempatan saya pun mendengar cerita bahwa CT pernah menjadi menajer klub Zanzibar, bar di sebuah gedung yang kini ditempati oleh biro iklan Lowe itu, sebelum kemudian bergabung ke PARA. Dari jauh saya mengamati sosok CT melesat menjadi pengusaha muda kakap, memiliki dua stasiun televisi, dan menjadi Chairman Bank Mega, yang kini sudah masuk salah satu bank papan atas. Ada dua anak muda yang langsung tampil cemerlang di bidang usaha. Pertama, Sandiaga S. Uno, yang dua belas tahun lebih muda dari CT. Sandi, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) itu, setelah pulang bersekolah dari AS, menjalankan kelompok usaha yang di belakang layar dimiliki oleh Edwin Suryajaya, putera tertua Willem Suryajaya, pendiri Kelompok Astra, yang karena krisis Bank Summa, menjual saham untuk menutupi kerugian bank yang dikendalikan oleh Edward Suryajaya itu. Sosok muda yang cemerlang berikutnya, ya CT. Usahanya melambung, antara lain berkat dukungan kelompok usaha Salim, khususnya untuk usaha di bidang keuangan dan perbankan. Pada penghujung Maret 2008 lalu diadakan acara syukuran sekaligus selamatan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Mahammad SAW di kediaman CT. Menurut seorang kawan yang hadir di rumah CT di bilangan Menteng itu, banyak tokoh yang datang. Bahkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden, menyampaikan pidato menarik.

Kalla menceritakan pengalamannya menghadiri Kemerdekaan Malaysia yang ke-50, 31 Agustus 2007 lalu. Ada parade yang menampilkan lambang-lambang kebesaran dan keberhasilan kepemimpinan masing-masing perdana menteri terdahulu, hingga kini. Dimulai dari era Tunku Abdul Rahman, 1957 – 1970. Simbol-simbol kebesaran masa lalu itu diparadekan dengan berbagai atribut di depan panggung kehormatan upacara di bilangan jalan Kemerdekaan, dekat Masjid Raya, Kuala Lumpur.

“Hadirin menyambut dengan sangat antusias, tepuk tangan luar biasa,” tutur Kalla

Selanjutnya simbol-simbol kepemimpinan di bawah Tun Abdul Razak, 1970 -1976.

“Penonton juga sangat meriah,” ujar Kalla mengisahkan.

Parade itu diteruskan ke era Tun Hussein Onn, 1976 – 1981, tepuk tangan hadirin yang menghadiri upacara tetap gemuruh. Lanjut ke masa Tun Dr. Mahathir Mohamad, 1981 – 2003, ribuan hadirin sangat antusias. Sambutan hangat.

Diteruskann dengan pemerintahan yang berkuasa kini, Dato Seri Abdullah Badawi, tepuk tangan panjang. Semua pemimpin ini memang dalam satu mashab kepemimpinan di dalam partai UMNO, yang selama lima puluh tahun berkuasa.

Jusuf Kalla menceritakan kepada seluruh tamu yang hadir di kediaman CT itu. Ia sempat menceritakan pengalaman di Kuala Lumpur, Malaysia, itu kepada presiden SBY.

“Jika kita buat acara macam di Malaysia itu di Indonesia, apa yang terjadi ya Pak SBY?” Kalla seakan bertanya.

“Lewat barisan, parade, yang memaparkan kebesaran era Soekarno. Penonton kita huuu.”

“Berikutnya di era Soeharto, penonton huuu.”

“Era Habiebie, penonton juga huuu.”

“Gus Dur, tetap huuu.”

“Megawati, huuu”

“Nah Pak SBY, kala era kita nanti, penonton bagaimana ya,” kata Kala menuturkan obrolan dengan SBY itu, “Jangan sampai huuu pula.”

Hadirin tertawa riuh. Tentulah tak ada yang berani mengatakan bahwa pastilah akan kena huuu.

Tetapi jika saya ada di rumah CT hari itu, pastilah dengan jujur saya katakan huuu.

Mengapa huuu?

Pertumbuhan ekonomi makro yang diagungkan pemerintahan SBY; mengacu ke stabilitas mata uang rupiah terhdap US $, perdagangan saham di bursa efek meningkat, cadangan devisa bertambah. Namun di balik itu, sektor riil jalan di tempat, bahkan mundur. Jumlah lapangan kerja baru tidak tumbuh. Kondisi pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat di pelbagai daerah, kini banyak memprihatinkan. Pemberantasan korupsi yang diagungkan, masih terasa tebang pilih. Bersama kita bisa, kalimat sakti yang dulu dikampanyekan SBY-Kalla, belum nyata berwujud bisa membawa perubahan yang memberikan kemaslahatan bagi rakyat kebanyakan.

Ciputra – – Chairman Kelompok Usaha Ciputra itu – – ketika menerima Enterpreuneur of The Year dari Ernst & Young pada 2007, lalu mengatakan bahwa 750.000 sarjana baru lahir setiap tahun di Indonesia, hanya untuk menganggur. Jumlah pengusaha hanya 0,8% dari total jumlah penduduk. Hingga kini belum ada terobosan berarti penyerapan tenga kerja baru.

Jika pun dibalik, tepuk tangan meriah harus diberikan kepada pemerintahan SBY-JK, hal itu karena keamanan terkendali, laku terorisme, yang di masa presiden sebelumnya seakan sering terjadi, kini sudah tak muncul lagi. Pemerintahan khusus di Aceh, telah menyelesaikan konflik berkepanjangan di propinsi yang dijuluki Serambi Mekah itu.

Namun jika membandingkan demokrasi di Malaysia dan Indonesia kini, jelas Indonesia jauh lebih maju. Reformasi sudah terjadi. Di Malaysia, awal April 2008 ini masih terjadi pemberdelan harian yang banyak dilanggani komunitas keturunan India. Entah mengapa laku bredel bisa menjadi senjata penguasa Malaysia.

Dan jika membandingkan pengusaha muda macam CT dengan generasi selevel, kemajuan pesat yang dialaminya, adalah mustahil bisa terjadi, jika tak bermain dukungan tangan-tangan di belakang layar, yang sudah duluan tambun, sebutlah dukungan Salim Group, melalui Anthony Salim, misalnya.

PADA medio 2006, saya baru turun dari lantai 29 Menara Kadin, Kantor Pusat Kadin Indonesia. Sembari menunggu seorang kawan, di lantai dasar di sebelah kanan pintu ke luar ada sebuah caffe shop mini. Saya memesan hot cappucino.

Sambil menyeruput minuman panas, mata saya tertumbuk ke poster yang dipajang di cabang Bank Mega yang ada di sebelah kiri. Di sana disebutkan, buka tabungan di Bank Mega dengan setoran Rp 100 ribu, dapatkan hadiah satu dus Indomie. Saya tertawa sendiri.

Bank jelas-jelas sebuah lembaga konservatif, sebagai sebuah produk, citra yang dibangun, sesuatu yang high. Jelas laku Bank Mega itu, ke luar dari pakem. Analogi yang sama, bisa disejajarkan ketika Mantan Presiden Habiebie menukarkan pesawat produk PT Dirgantara – – dulu IPTN – – dengan sejumlah beras ketan dari Thailand. Dan Bank Mega mengadopnya dengan analogi “mirip-mirip”; menabung Rp 100 ribu, dapat sedus Indomie di harga Rp 25 ribu lebih, kala itu.

Jika saja tidak ada hubungan apa-apa dengan kelompok usaha Salim kala itu, tentulah Bank Mega tidak melakukan pola promosi macam itu. Sehingga ketika duduk sendirian di lantai dasar Menara Kadin itu, dalam hati saya berujar, jika hati hendak tertawa, banyak hal jenaka yang bisa membuat tawa, tanpa harus menunggui seorang wakil presiden menceritakan pengalamannya dari bermuhibah ke negeri jiran.

Khususnya saya. Saya menertawakan diri sendiri, CT sudah memimpin kelompok usaha yang membawahi lebih 5.000 karyawan. Saya, kalaupun pernah mengenalnya, belum bisa memberi gaji untuk lima orang pun karyawan.

Makanya kepada beberapa sahabat saya katakan, kemuliaan hidup di dunia, bisa ditakar dari banyaknya orang yang dia nafkahi setiap hari. Jika CT menggaji lebih 5.000 orang, rata-rata orang itu menghidupi dua orang, maka ada 15.000 tangan yang berdoa agar usahanya tumbuh, agar usahanya berkembang.

Jika saja SBY-JK, berbuat untuk kalangan marjinal kebanyakan, sektor riil, menumbuhkan ekonomi lokal, tegas mengembalikan penguasaan bahan tambang untuk kemaslahatan rakyat banyak, contohnya, saya jamin pastilah ratusan juta tangan mendoakannya pula. Juga jika mau, SBY-JK bisa memotivasi munculnya wirausahawan baru, baik kecil, menengah dan besar yang memiliki produk dan jasa yang jelas, masuk ke pasaran. Alangkah bergeraknya dunia usaha. Alangkah tertampungnya 750.000 sarjana baru yang lahir tiap tahun itu. Dan alangkah lainnya…

Tapi sebaliknya kini, di lubuk hati Kalla yang dalam, saya yakin dia sudah mafhum keadaan apa yang mereka hasilkan selama kepemimpinan mereka kini. Tanpa perlu saya tegaskan lagi, tentu!

Iwan Piliang