Tanggal 21 April 2008, saya tidak meliat apa-apa di sini yang beda dari keseharian penghidupan. Di Indonesia saya selalu diingatkan dengan ada banyaknya wanita karena berbusana lain pada hari ini: Hari RA Kartini.

Saya ingat pada Jaman awal Orde Baru terasa gerakan-gerakan yang selalu berusaha mengingatkan masyarakat mengenai sesuatu yang asal Jawa Tengah: Enam Jam di Yogya, Peristiwa Ambarawa, Napak Tilas Gerilya Jenderal Soedirman, sampai perayaan Hari R A Kartini yang meriah lebih dari porsi biasanya seperti telah dikenal sebelumnya. Ibu Hartini datang menggunakan Helicopter ke Blora, dan kejadian seperti itu adalah luar biasa sekali.

Bahkan pertempuran-pertempuran sporadis kecil-kecil dimunculkan dengan sedikit mencolok di media, dan pada salah satu tanggal 10 Nopember pernah ada upaya untuk merayakan peristiwa Hari Pahlawan tidak lagi di kota Surabaya, tetapi di salah satu tempat di Jawa Tengah. Saya ingat bahwa upaya itu tidak berhasil dilaksanakan, entah bagaimana terjadinya.

Ada salah seorang Direktur Jenderal (?) di Dept. P dan K yang mencuatkan sebuah pemikiran dan kesimpulan yang mengagetkan semua pihak. Ini semua saya tulis dari ingatan saya saja, pemicu pembicaraan adalah Prof. Harsja
Bachtiar. Beliau bilang bahwa R.A Kartini bukanlah baik dianggap sebagai panutan wanita karena:

1. R.A. Kartini adalah istri ke sekian dari seorang Bupati yang terkenal mempunyai selir-selir lain istri-istrinya yang ada

2. Banyak yang dikemukakannya di dalam isi surat-suratnya, bahwa isinya akan sangat bertentangan dengan kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.

Masyarakat mengangguk berarti setuju dengan pendapat pak Professor, mengangkat bahu berarti tidak peduli dan menggeleng- gelengkan kepalanya berarti: kok berani ya pak Professor ini mengemukakannya?

Ah, benar saja: tidak lama setelah ada polemik di media maka Presiden Suharto selaku Kepala Negara mengeluarkan komentar, sebagai DISCUSSION STOPPER berbunyi: Status RA Kartini sudah dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional, jadi tidak seharusnya ada diskusi lagi mengenai masalah ini. Sebagai discussion stopper, maka itu amat effective untuk masa pemerintahan pada waktu itu.

Saya kemukakan hal ini hanya untuk sikap kita setelah kita melihat sekian puluh tahun lamanya, bagaimana sebuah rezim menyukai sesuatu atau
tidak menyukai sesuatu dan minta di lakukan oleh seluruh bangsa seperti itu untuk seterusnya.

Saya tidak ingin mengungkit masalah ini dengan maksud lain, selain saya sendiri asal Jawa Timur, saya amat merasa menjadi seorang nasionalis tulen Indonesia dan selalu menyebut diri saya orang Indonesia.

Seperti kita ketahui, maka masih banyak yang belum jelas bagi saya dan banyak orang Indonesia lain:

A. Meskipun tidak diakui resmi, apakah benar bahwa Mr. Assat dan Mr. Syafruddin Prawiranegara, tidak bisa di akui sebagai bekas/mantan Presiden Indonesia. Meskipun bukan Presiden RI (tetapi Presiden Republik Indonesia Serikat dan Presiden Pemerintahan Sementara NKRI di Bukittinggi) apakah mereka bukan mata rantai sejarah Republik Indonesia??

B. Masih banyak yang belum jelas atau memang dibawa untuk tidak menjadi jelas, misalnya soal autheticity dari Supersemar? Apa yang terjadi sesungguhnya pada tanggal sekitar 30 September 1965? Dan sebagainya, dan sebagainya, etcetera, etcetera.

Marilah kita kembalikan yang benar yang mana, yang tidak benar yang mana, dan biarlah anak-anak dan cucu-cucu kita bisa mendapatkan informasi yang utuh dan benar.

Kita tidak ingin dikenang sebagai manusia-manusia pendahulu yang banyak berbohong kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya sendiri.

Sekian dan salam saya,

*Anwari Doel Arnowo – Singapura – 21 April 2008*