Jumat, 18 April 2008 SEBUAH gang. Jalannya semen selebar semeter. Di kiri dan kanan got bersih. Air mengalir. Jalanan kecil di Keluruhan Karet Kuningan itu, dikenal sebagai salah satu proyek MH Thamrin, di penghujung 1970-an. (foto: kapanlagi.com)
Pada November 1979 itu, saya pertama ke Jakarta. Kami tinggal di rumah petak di sebuah gang di Karet Kuningan.

Malam pertama di Jakarta. Tengah malam, saya mendengar teriakan tukang bakso. Kepala pedagang pikulan itu dihantam bata oleh anak-anak muda yang mangkal di mulut gang. Uang hasil jualannya yang tidak seberapa, dibawa kabur oleh rombongan pemuda itu.

Ayah saya mengintip ke luar jendela. Tetangga tak ada yang peduli. Saya hendak membuka pintu. Ayah melarangnya. Al hasil, hingga pagi mata ini enggan terpejam.

Pagi saya tanya kepada ayah, mengapa hal macam tadi malam terjadi dan tanpa seorang pun peduli? Ayah menjawab, anak-anak geng itu brutal. Mereka sering keluar masuk penjara. Jika warga melawan atau melarang, rombongan pemuda itu akan melakukan kejahatan terhadap warga.

Saya katakan kepada ayah, bila demikian terus, para pemuda itu tidak akan jera. Mereka kian berkuasa. Karenanya, ketika kejadian serupa terulang kembali, uang jualan pedagang kue putu mereka rampas. Ayah keluar dengan membawa parang. Saya pun ikutan membawa badik. Ayah berteriak kencang. Saya pun mengikuti. Ibarat pemburu mengejar mangsa, kami tak mempedulikan lagi sekitar. Kerumunan pemuda lari tunggang langang.

Keesokan harinya, rombongan pemuda itu mampir ke rumah kami. Ketua RT ikut memfasilitasi. Terjadi dialog. Terjadi kesepahaman, bahwa laku menyakiti pedagang kecil, tidak boleh lagi diulangi.

Itulah penggalan memori, yang masih saya ingat, tentang sebuah kelompok berandal yang dijuluki Genk Bodrex di bilangan Karet Kuningan, Jakarta Selatan dulu. Saya tanya ke tetangga, mengapa diberi nama kelompok Bodrex. Tetangga menjawab, karena mereka tidak berduit, modal dengkul, memperolah uang dengan meminta atau memalak.

Dalam perkembangan di Jakarta, istilah Bodrex, belakangan berevolusi menjadi Bonek, singkatan dari kata Bondo Nekat. Bondo dari langgam Jawa, untuk kata menyatakan benda. Istilah ini ditujukan bagi para supporter sepak bola. Terutama supporter Persebaya, Surabaya. Para bonek itu sering datang ke Jakarta, di saat kesebelasan kebanggannya mengikuti pertandingan, terlebih di pertandingan final di mana Persebaya salah satu calon juara. Jumlah bonek kian menggila. Mereka nekat berebutan naik kereta ekonomi, masuk stadiun pun dengan cara memaksa. Makan di pedagang asongan, suka tidak bayar, persis lakunya dengan anak-anak Bodrex dulu yang saya kenal.

Kini beberapa orang anak Genk Bodrex, Kuningan, yang saya jumpai tidak lagi bonek. Ada yang menjadi supir, bekerja sebagai satpam di kawasan pabrik, ada yang menjadi tukang ojek di kawasan Karet Depan, Jl. Sudirman, Jakarta Pusat.

Dan nama kelompok atau geng Bodrex pun kini sudah merambah ke macam-macam. Kini ada pula kelompok motor Bodrex.

Bodrex memang tidak terlepas dari judul obat sakit kepala. Obat itu ditemukan oleh dr. Fritz Bode. Ia mencoba mencari alternatif bahan obat selain aspirin, pengganti obat sakit kepala. Solusinya dr. Bode, memakai parasetamol. Obat sakit kepala saingan Aspirin itu, diproduksi oleh dr. Fritz Bode GmBH, Jerman. Di Indonesia Bodrex mulai diproduksi pada 1968, oleh PT Tempo Scan Pacific Tbk.

Sehingga jika di era 70-an orang menamakan kelompoknya dengan Bodrex, jelas berasosiasi kepada Bodrex obat. Tag line-nya memang dari dulu, jitu mengatasi sakit kepala. Bisa jadi anak-anak nongkrong, yang pada mumet kepalanya itu, berkumpul, nge-genk, lalu menjuluki kelompoknya bodrex – – sebagai sebuah solusi pening.

SUDAH lebih lima belas tahun Dede Yusuf, menjadi ikon obat sakit kepala Bodrex. Iklan Bodrex yang diperankan oleh Dede, sebagai pesilat, sebagai petarung, yang sedang melawan, sebagai analogi Bodrex menyerang sakit kepala.

Selain di televisi, Bodrex menggunakan media luar ruang, mulai dari bill board ukuran besar, hingga selebaran berukuran kecil. Iklan media luar ruang bodrex, masuk ke desa-desa, dengan wajah Dede Jusuf yang tampak tersenyum.

Hampir setiap orang, baik di kota maupun desa, kenal wajah Dede. Di mana ada Dede Yusuf, disitu ada Bodrex.

Ferhat Ali, dari GMN3 Indonesia, mengatakan kepada saya bahwa kemenangan Heryawan-Dede, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, lebih karena penduduk hingga ke pelosok Jabar sudah mengenal Dede Yusuf. “Ayok coblos Dede,” ujar Ferhat menirukan orang kampung di Jabar.

Saya menyimak di berbagai media. Di televisi kemenangan Heryawan-Dede dibahas secara agak ilmiah. Macam-macam opini. Mulai dari urusan suara mengembang, hingga kejenuhan masyarakat terhadap keadaan yang tak kunjung berubah. Mereka enggan melirik sosok lama.

Simak saja Agum Gumelar. Ia pernah menjadi menteri hingga Menko. Di TNI ia pernah jadi panglima. Apa lagi yang kurang? Namun kekuasaan memang menggiurkan. Agum Gumelar pernah tersingkir dalam pencalonan gubernur DKI. Kini ia pun berusaha di Jawa Barat, pilihan juga tak berpihak.

Seharusnya jika Agum berkaca, ia bisa bertanya ke diri sendiri, apa lagi yang kau cari?

Uang kah? Bisa jadi tidak.

Apalagi di negeri ini sistem penggajian dan terutama pensiun sudah sejak jaman awal Orde Baru, bisa diterima berlapis-lapis oleh satu sosok mantan pejabat. Jika ia pernah jadi Menteri, maka ia mendapat pensiun Menteri. Mantan Jenderal, ia juga mendapatkan pensiun Jenderal. Bila didudukkan jadi komisaris BUMN, ia juga akan dapat pensiun komisaris BUMN. Sehingga mantan pejabat kita, bisa dipastikan masih akan bermandikan uang.

Overlaping sistem penggajian, sistem pembayaran pensiun, juga overlaping penempatan fasilitas rumah dinas – – yang kemudian beberapa di antaranya tak terinventaris sebagai aset negara, bisa jadi karena untuk lapisan tertentu terjadi jabatan rangkap, yang membuat keadaan hak berlapis yang kian tak jernih.

Di dalam keadaan “keruh”, peralihan hak negara, menjadi hak pribadi, dengan mudah bisa terjadi. Adalah aneh memang baru kini Departemen Keuangan baru menginventaris seluruh aset properti pejabat, yang menjadi milik negara. Bukan mustahil selama ini telah banyak terjadi pengalihan tangan. Dan rakyat kebanyakan yang cuma menunggu upaya perbaikan taraf kehidupan, seakan-akan menjadi penonton saja.

Sehingga ketika mantan pejabat, berusaha sekuat tenaga mencalonkan diri untuk menjabat lagi, rakyat kemudian tidak memilihnya lagi. Mereka ibarat pasukan Bodrex motor, yang membuat bising kuping, macam banner iklan Agum Gumelar yang banyak saya jumpai sepuluh hari sebelum pemilihan, bertebaran seantero kota-kota di Jawa barat, terlebih di Bandung. Banner Agum gede-gede.

Agum Gumelar memang tak ubahnya telah melakukan serangn total football, menyerang bagikan pasukan bodrex. Nah dalam pertandingan the original Bodrex-lah yang menang bukan yang cuma sekadar membawa nafasnya.

“Jika segala sesuatu dilihat dengan sederhana, jernih, kemenangan Dede Jusuf, hanyalah karena Bodrex. Tak perlu berteori macam-macam,” begitu Ferhat Ali.

Iwan Piliang