Sekitar empat puluh tahunan yang lalu, kita pernah mabok karena  desas desus tentang kesehatan badan kita, badan manusia. Memang desas desus, karena tidak disertai dengan keterangan yang ilmiah.

Siapa saja yang bicara? Semua lapisan masyarakat. Ada yang dari  tingkatan anak-anak sekolah. Ada yang tingkatan kaum agama. Dan banyak juga kaum intelek ikut-ikutan. Mereka menyebut hal-hal yang belum mereka pahami dan belum mereka dalami, karena sifatnya masih terbatas dan masih rahasia, apapun juga sifatnya, memang masih belum menjadi pengetahuan umum. Menyebut perkataan cholesterol saja masih bisik-bisik. Apalagi tri gliserida. Hal-hal seperti itu masih menjadi kata-kata yang diucapkan dengan suara bisik-bisik serta beredar di kalangan tertentu, misalnya saja di kalangan dokter atau kalangan ahli kimia serta obat-obatan. Masyarakat termanipulasi agar dapat didapat keuntungan materi atau keuntungan lain. Ada yang mendapat ilmu sedikit saja sudah berkoar-koar seperti ilmu itu telah dipahami telah pernah didalami sendiri. Ada yang berkata bahwa ikan itu yang tidak "berbahaya" karena tidak bercholesterol. Ikan yang mana? Ikan yang durinya besar. Besar seperti apa durinya? Pokoknya yang besar, belum tahu yang sebesar apa? Apa cholesterol itu? Tidak tahu. Nah, sekianlah pengetahuan umum pada umumnya. Dari desas desus!! Cholesterol itu apa dan bagaimana malah belum tahu tetapi sudah menentukan dari ikan yang begini dan begitu. Percaya atau tidak itu adalah yang diucapkan oleh orang-orang dari tingkat lulusan Akademi termasuk yang dari luar negeri.

Mereka ikut berbincang hanya karena demi gengsi, biar terlihat dan terkesan sebagai orang yang intelekual, berpengetauan luas dan berkoneksi hebat. Sampai hari ini tahun 2008, masih banyak manusia seperti ini, padahal dia sebenarnya mampu mengakses pengetauan seperti itu, tidaklah sesukar seperti pada empat puluh tahunan yang lalu.

Waktu itu demi kesehatan orang bisa percaya untuk menelan kutu, binatang sebesar atau sekecil seekor semut, warnanya hitam dan disebut KUTU JEPANG. Saya yang waktu itu belum beberapa minggu pulang kembali dari Jepang selama beberapa tahun belajar, sempat tercengang karena di Jepang saya sendiri belum pernah mendengarnya. Kalau menelan sebaiknya dengan pisang emas atau pisang  Lampung apapun namanya pokoknya pisang kecil-kecil warna kuning sekali. Semua orang atau banyak orang,  banyak yang memelihara kutu ini yang disimpan di sebuah stoples kaca, diberi kapas atau kapuk berwarna putih serta selalu siap dengan menyediakan sesisir pisang seperti dimaksud. Banyak yang jeli menjadikannya sebagai komoditi dagangan. Dapat untung, bohong-bohong sedikit, yang membeli mendapat kesenangan karena percaya, dan yang menjual dapat keuntungan duit atau lain.  Saya merasa beruntung dan sama sekali tidak menyesali karena tidak terlibat dan mungkin muka saya sudah mengisyaratkan sinar yang sinis kalau melihat yang seperti itu. Kalau saya sinis kan tidak apa-apa, karena saya ini hanya manusia biasa.

Waktu suasana krismon, krisis moneter, baru mulai, semua tempat penjualan terutama supermarket diserbu orang yang merampoknya,  maka di dalam keluarga saya sendiri semua ikut mengkhawatirkan anak-anak yang masih membutuhkan susu. Susu habis, susu habis. Saya biarpun sedikit merasa khawatir juga. Untuk menghilangkan kekhawatiran ini, saya mengatakan secara tiba-tiba dengan kata-kata: "Jaman dahulu sebelum aku lahir, atau mungkin setelah saya lahir, saya tidak melihat ada pabrik susu. Susu hanya dikenal dari susu seekor sapi yang hidup. Yang tidak mampu membeli susu ya minum air saja. Air sumur lagi! Mau tambahan gizi (apakah yang disebut gizi itu?) , ya bikin saja.

Air dicampur dengan tepung beras, namanya tajin. Saya kira Cut Nyak Dhien, Wahidin Sosrohoesodo, Sukarno dan Mohammad Hatta ketika mereka masih kecil, juga diberi tajin untuk makanan tambahan, di luar air susu ibu. Jadi jangan terlalu amat di dalam ikut mengkhawatirkannya!!" Saya berhasil meredam nafsu untuk memborong susu dengan uang yang terbatas yang mereka punyai.

Saya tau di dalam hati mereka masih belum puas dengan apa yang saya telah terangkan, karena mereka memang sudah hidup dengan memiliki dan mempunyai pola urutan: bayi – susu – bayi sehat – dan susu adalah penyebabnya.

Biar saja lah, waktu toh memang telah membuktikannya berkali-kali bahwa ketergesa-gesaan kita mengambil keputusan, biasanya akan amat disesali di kemudian hari. Sudah sering terbukti.

Kemudian muncul phenomena: terapi air putih. Ini berkembang dari segelas sebelum tidur dan segelas lagi setelah bangun tidur. Kemudian "berlomba-lomba" menjadi multi gelas dan ada yang dengan bangga mengatakan bahwa seorang kakek telah berhasil minum enam gelas begitu bangun tidur. Hal ini saya tanyakan kepada seorang dokter yang saya kenal, apa benar yang seperti itu? Dokter itu mengatakan, apa bijaksana ya, mengisi perut kosong pada pagi hari dengan beban air putih sebanyak itu sekali gus? Jawaban memang tidak tegas, tetapi cukup terang bagi saya dan sampai hari ini tetap saya ingat pesannya yang tersembunyi: Bahwa sesuatu yang berlebihan itu biasanya tidak terlalu baik.

Tidak semua orang bisa mengelolanya. Makanan, obat-obatan, kekayaan dan kekuasaan, semuanya bisa saja tidak akan membuat bahagia, meskipun tidak dapat kita pungkiri bahwa semua sarana yang ada berupa makanan, obat-obatan, kekayaan dan kekuasaan itu memang perlu dimiliki, sesuai dengan kemampuan masing-masing orang dalam hal  pengelolaannya. Setelah air putih, maka muncul buah merah dan buah mengkudu (Pacé). Semua orang ikut-ikut  mendagangkannya dan meng(k?)onsumsinya dengan harapan untuk sembuh dari penyakit yang sedang dideritanya. Keterangan ilmiah? Ya, dibikin-bikinlah sedikit sehingga enak didengarkan oleh para peminatnya, yang terlanjur sudah percaya.

Selama hampir setengah abad yang saya lihat sendiri hal-hal itu telah berkembang sedemikian rupa, saya rasakan hampir seperti budaya masyarakat sekitar saya, untuk menerima sesuatu dari kebudayaan lisan yang dianutnya yang diletakkan lebih tinggi daripada kebudayaan tulisan. Padahal itu justru menyangkut isu yang maha penting mengenai kesehatan tubuh diri sendiri. Segala sesuatu kalau diberi keterangan lisan, selalu lebih disukai karena ada sumber langsungnya, ada yang nanti akan bisa dimintai pertanggungan dan jawaban yang berasal dari sumber yang memberitahunya. Pertanggungan dan jawaban yang berasal dari budaya tertulis dianggap merepotkan. Dari sini saya sampai kepada kesimpulan yang saya buat sendiri bahwa masyakat di sekitar saya itu MALAS MEBACA SENDIRI. Padahal nara sumber yang menjadi asal usul topik pembicaraan bisa lebih bertanggung-jawab apabila dirunut dari yang disebut budaya tulis. Itu adalah hal yang sebenarnya menurut pengamatan saya meluas kemana-mana. Rakyat belajar meneladani seseorang karena sudah  terlanjur sulit dan tidak mempercayai budaya tulis, tetapi lebih menyukai budaya lisan. Lihat saja conto berita yang termuat dibawah ini:

http://sg.news.yahoo.com/afp/20080404/tts-health-us-water-972e412.html.

(jangan lupa CTRL+ click to follow link)

Bagi yang tidak bisa membukanya, terlihat saat ini bahwa berita terbaru ini mengatakan bahwa tidak benar terapi yang menuntut agar orang mengikuti aturan yang berbunyi: dalam sehari paling tidak seseorang itu membutuhkan delapan gelas atau satu setengah liter air untuk diminum. Baik saya kutipkan asli berita itu agar bisa dipahami lebih lengkap yang saya kutip dari berita di Yahoo!

AFP – Friday, April 4

WASHINGTON (AFP) – – Drinking enough to quench your thirst is sufficient for the body's needs, and there is no evidence to support the common advice to drink eight glasses of water a day, according to a new study.

"Just drink when you are thirsty," was the advice from a study published Thursday in the Journal of the American Society of Nephrology.

Doctors from the University of Pennsylvania said "there is simply a lack of evidence in general" that everyone should drink the recommended 1.5 litres of water a day.

Researchers Dan Negoianu and Stanley Goldfarb had examined the theory that drinking more water helped the kidneys flush more toxins from the body.

"So the question is does drinking more water increase these normal important functions of the kidneys. And the answer is no," Goldfarb told NPR radio.

"In fact, drinking large amounts of water, actually and surprisingly, tends to reduce the ability of the kidney to function as a filter."

Water has also been touted as an ideal aid to those who want to lose weight. But while drinking more helps dieters feel full, no clinical study has proved that it will help keep the weight off.

"There were some studies that suggested that in fact, calorie intake was reduced when individuals were given water prior to eating. Other studies suggested that it wasn't," Goldfarb added.

Increased water intake was only really justified in extreme cases, such as for athletes, people living in hot, dry climates and those suffering from particular illnesses.

Di dalam berita ini justru disebutkan bahwasanya kalau minum lebih banyak air, akan lebih baik bagi ginjal, hal itu sama sekali tidak didapat pembuktiannya. Sesungguhnya amat mengejutkan kita, bahwa penambahan air justru mengurangi kemampuan dari ginjal dalam melakukan fungsinya sebagai alat penyaring.

Keterangan dari hasil pengamatan yang saya baca tertanggal 4 April yang lalu itu pasti sudah didalami oleh para ahli dalam bidangnya. Bukan oleh saya dan pasti bukan pula oleh para yang menyukai desas-desus.

Di dalam beberapa email dan milis sudah sering kali saya membantah bahwa serangan stroke bisa dibatalkan dengan cara menusuk ujung-ujung jari si penderita, atau ujung-ujung telinga sehingga darah mengucur.

Apalagi menurut desas-desus itu justru si penderta tidak boleh diubah dari posisi jatuhnya saat serangan. Yang benar adalah sipenderita dibaringkan dan terlentang, kemudian muka diarahkan kesamping, boleh ke kanan dan boleh ke kiri. Hal ini untuk mecegah kalau muntah tidak akan menyedak tenggorok sehingga menghambat pernapasan. Panggil ambulans atau siapkan sebuah sarana pengangkutan untuk membawa ke Rumah Sakit yang mempunyai alat yang bernama CTScan (Computerised Tomography Scan) yang sedang berfungsi baik dan setidaknya diperiksa segera oleh seorang dokter Sp.S. – Spesialis Syaraf (dalam tempo 3jam-yang disebut The Golden Period) yang akan meneliti hasil scan, dengan memberikan tindakan selanjutnya. Desas-desus seperti itu sudah ada sejak sekitar 15 tahun ini, dan ini amat membahayakan nyawa manusia, karena justru tidak menolong bagi si penderita keadaan stroke –serangan mendadak fungsi otak.

Saya sadar di negeri maju sekalipun, yang bersifat desas-desus selalu terjadi setiap hari dan setiap saat. Untuk melawannya, pasti percuma. Tetapi paling tidak kita dapat mengurangi kadarnya, yaitu kadar sifatnya agar tidak membiarkannya untuk tumbuh secara berlebih-lebihan.

Karena seperti biasanya selalu saya serukan, sekali lagi saya ulang: sebelum menyuruh orang lain untuk mengurangi sifat desas-desus mengenai sesuatu hal, mulailah dari diri sendiri. Kalau saya sudah tidak melakukannya, kalau anda sudah tidak melakukannya, maka sudah dua orang jumlahnya. Cukup dipakai sebagai modal.

Desas-desus terus tetap berlanjut. Terutama mengenai kesehatan tubuh manusia. Tetaplah waspada dan pakailah akal sehat, karena akal sehat telah dibekalkan oleh Sang Pencipta alam dan dunia serta isinya.